Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
39. Kabar yang tersebar


__ADS_3

Cahaya berjalan pulang dengan lesu, ia tidak peduli dengan penampilan dan tatapan orang orang yang memandanginya dengan aneh. Pada kenyataannya memang dirinya tengah berada dalam situasi yang tidak baik. Namun bagaimanapun Cahaya tak bisa berbuat banyak sebab semuanya sudah terlambat.


Andai saja ia datang lebih awal mungkin bisa bertemu dengan Bintang meskipun hanya sekilas.


Namun disamping semua perandaian itu, dengan susah payah akhirnya Cahaya sampai di depan mobil nya terparkir. Beruntung meskipun berjalan tertatih dan tatapan kosong namun kesadaran gadis itu masih normal.


"Non, kenapa non?" Pak Asep khawatir melihat kondisi nona muda nya yang tak karuan.


"Pulang pak!" lirih Cahaya.


Cahaya tak memiliki banyak tenaga lagi. Ia hanya ingin segera pulang dan merenungi kembali semua yang terjadi dengan santai di ruangan tertutup.


Diperjalanan pun Pak Asep tidak banyak bertanya, begitu juga Cahaya. Gadis malang itu hanya bersandar di kursi mobil seraya menatap kosong kearah jalan Raya. Sesekali deraian air mata berjatuhan membasahi raut wajahnya yang datar.


Benar benar seperti mayat hidup.


Tak berselang lama Cahaya sampai di rumah. Ia langsung disambut dengan pertanyaan Rein yang tengah memandangi laptop di ruang tamu.


"Ay, kok jam segini udah pulang?"


"Jangan ganggu Aya dulu kak, mau tidur sampai malem."


Cahaya menoleh pada Rein dengan mata yang sembab. Setelah itu ia kembali melangkahkan kaki nya menuju lantai dua tempat kamarnya berada.


"Loh kenapa lagi ni anak?!"


Rein hanya bisa bermonolog seraya menatap punggung Cahaya pergi menjauh, ia sedikit khawatir dengan apa yang terjadi pada adiknya tersebut. Mengingat baru saja kemarin Cahaya pulang dengan tawa dan senyum lebar, tetapi hari ini malah pulang dengan raut wajah masam dan mata sembab.


Tak mau larut terlalu lama dalam monolog nya sendiri, Rein berjalan keluar menghampiri Pak asep di garasi yang tengah sibuk mengelap mobil.


"Pak Asep tadi nganter Cahaya?"


"Eh den Rein, iya den baru aja pulang." Pak Asep menghentikan aktivitasnya.


"Pak Asep tau nggak kenapa Cahaya pulang sekolah kok kayak nangis gitu?"


"Ohh itu den, jelasnya sih saya kurang tau. Tapi tadi pas di jalan pulang setelah nganter non Cahaya sekolah tiba tiba saya di chat minta balik lagi. Pas saya balik lagi non Cahaya minta anterin ke bandara." Pak Asep berusaha menerawang.


"Ke bandara? Ngapain?" Rein mulai penasaran.


"Saya sempat nanya, kata non sih pacarannya pindah ke luar negeri tanpa pamit. Jadi non nyusul ke bandara, cuma kalau dilihat dari sikapnya kayaknya sih non Cahaya telat dan gak ketemu sama pacarnya itu." Ujar pak Asep.


"Setau saya adik saya belum punya pacar. Dia bilang nggak nama pacarnya siapa?"


"Nggak den, bilangnya cuma pacar aja." Sahut Pak Asep.


Meskipun Rein berkata demikian, namun tentu saja sempat terlintas nama seseorang di dalam benaknya. Tak lain dan tak bukan pastinya adalah Bintang. Orang yang selama ini dikenal oleh Rein sebagai lelaki yang tengah berusaha mengejar Cahaya.


Di tempat lain, Cahaya merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ia menatap kelip lampu yang terpasang rapi di plafon kamar. Untuk sesaat sempat terlintas bayang bayang wajah Bintang di pandangannya, namun bayang bayang hanyalah bayang bayang.


Ia kembali menitikkan air mata saat mengingat momen kebersamaan mereka yang singkat namun membekas. Cahaya benar benar tidak menyangka Bintang akan meninggalkannya begitu saja meskipun itu untuk kebaikan mereka sendiri.

__ADS_1


...Drt...


...Drt...


...Vania Calling...


^^^"Hallo Ay, are you ok?"^^^


"Gakpapa gimana van...hsk hsk."


^^^"Jujur gue gak nyangka Bintang pergi tanpa ngabarin Lo."^^^


^^^"Lagian kenapa Bintang tiba tiba pindah sekolah sih, satu sekolah sampai kaget tau. Apalagi crazy fans nya menuhin gerbang sejak tadi siang."^^^


"Kita punya masalah pribadi, Van."


^^^"Emang SEHARUS itu ya pindah, kan bisa diselesaikan baik baik."^^^


"Lo gak akan paham, Van."


^^^"Hmm yang sabar ya beb. Lo besok berangkat gak? Kalau berangkat pake headset ya.."^^^


"Kenapa?"


^^^"Seisi sekolah lagi gencar ngomongin Lo berdua. Apalagi mulut ember nya siswi siswi kelas kita pas dengar Lo gak tau Bintang pindah. Secara kan mereka taunya Lo sama Bintang lagi deket dan-"^^^


...Calling end....


Cahaya hanya ingin untuk sekejap saja dunia ini damai. Jika bisa ia ingin kembali ke beberapa hari lalu dan berkata pada Bintang untuk tidak menyembunyikan apapun. Bahkan jika Bintang ingin pergi ke Amerika sekalipun Cahaya akan selalu bersedia ikut menemani sekaligus membantunya.


Pun setelah puas meratapi nasib dan kesedihan, ia larut dalam lamunan dan tanpa sadar terlelap dalam tidur.


"Semoga hari ini hanya mimpi." Gumam Cahaya sebelum sepenuhnya terlelap.


...----------------...


Tok


Tok


Tok


"Aya udah bangun?" Rein menggedor pintu kamar Aya berkali kali sebab khawatir karena adiknya tersebut tidak turun untuk makan siang dan makan malam.


Cahaya mengerjap kan mata, ia berusaha menutup telinga dengan bantal.


Tok


Tok


"Cahaya Dian Rahayu! Bangun!"

__ADS_1


"ARGHHHH, DIAM KAKAK! AYA MASIH NGANTUK!" gadis itu menggeliat seraya menutupi tubuh dengan selimut.


Beberapa saat suara Rein tak terdengar lagi, namun rasa kantuk Cahaya telah hilang. Dengan kesal ia menyingkap kasar selimut yang menutupi tubuhnya dan berjalan perlahan menuju ambang pintu.


Tertatih namun dipaksakan, setidaknya saat ini perasaan nya sudah jauh lebih baik. Ia berniat turun menemui Rein untuk sekedar bercerita dan mendengarkan pendapatnya.


"Sayang kenapa baru turun? mamah denger kamu gak sekolah ya, kenapa sayang?" Ranti yang tengah duduk menikmati secangkir teh di ruang makan langsung beranjak menghampiri putrinya tersebut.


"Gakpapa mah, lagi gak enak badan aja."


"Kenapa sayang? pusing atau panas?" Ranti menyentuh kening Cahaya dengan punggung telapak tangannya.


"Tapi gak panas sih." Sambungnya.


"Gakpapa mah cuma kecapekan aja. Kak Rein kemana?"


"Di kamarnya paling sayang. Makan dulu yuk, kamu belum makan dari siang ya."


"Iya ntar mah, Aya mau ke kak Rein dulu."


"Banyak banyak istirahat ya sayang."


"Hm."


Cahaya kembali berjalan menaiki anak tangga. Sebenarnya badannya terasa cukup lemas dan wajahnya juga lesu, namun ntah knapa beban di hatinya terasa lebih berat. Ia ingin segera mengutarakan semua yang ada dipikirannya.


"Tok..Tok...Kak! Aya masuk ya!" Lirih Cahaya mengetuk pintu seraya memanggil kakaknya.


"Iya masuk aja."


Cklek


"KAK....HKS HKS." Gadis itu langsung jatuh tersungkur berderai air mata kedalam pelukan kakaknya yang tengah duduk santai di sofa menatap layar ponsel.


"Aya, kenapa hey!" Rein mulai gelisah. Ia membalas pelukan Aya dan mengelus lembut rambut gadis tersebut.


"Kak, Aya pengen pindah sekolah ke Amerika." Pinta Cahaya dengan mata berbinar.


"Hah? kok tiba tiba minta pindah, Aya kenapa? ada masalah di sekolah?"


"Bintang pindah sekolah kak ke Amerika. Padahal kita baru aja jadian kemarin." Lirih Cahaya.


"Bajingan kecil ini memang sudah bisa kakak tebak gelagatnya. Laki laki tidak berprinsip seperti dia tidak seharusnya kamu pertahankan, Ay!" Ketus Rein.


"Ish dengerin dulu cerita Aya baru kakak boleh mutusin kalimat itu cocok buat Bintang atau nggak." Racau Cahaya


"Oke oke yuk cerita dulu yuk..."


"Jadi gini ceritanya-"


......................

__ADS_1


__ADS_2