Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
35. Sniper


__ADS_3

Bukan tanpa sebab. Bintang yang kala itu masih berusia 15 tahun naksir dengan Laila yang tidak lain sudah dijodohkan dengan Galaksi. Toh dilihat dari segi manapun Galaksi yang saat itu berumur 20 tahun dan Laila 19 tahun memang terkesan lebih serasi.


Ditambah lagi hubungan Galaksi dan Laila terkesan sudah sangat dekat karena mereka sudah di fasilitasi untuk saling mengenal sejak kecil. Dari mulai TK hingga lulus kuliah orang tua mereka menyekolahkan di tempat yang sama.


Sebegitu dekat nya Keluarga Taran dan Keluarga Manhoor hingga ingin terikat dalam hubungan pernikahan.


"Mmm, ini enak coba deh Gal...Akk..." Ucap Laila.


Gadis itu tidak malu menyuapi Galaksi dihadapan keluarga besarnya, Toh ia tahu bahwa hal ini juga yang diinginkan oleh mereka.


"Gue rasa itu terlalu pedas, La." Tukas Galaksi.


"Nggak, Coba dulu...akkk."


Tak punya pilihan lain Galaksi terpaksa membuka mulutnya lebar dan memakan sesendok pasta yang sedari tadi ditawarkan oleh Laila.


"Mmm...Not bad."


"Kan apa Gue bilang, Hehe."


Keduanya benar benar tampak seperti sepasang kekasih. Apalagi tak lama setelah itu Galaksi pun mengangkat sendoknya dan balik menyuapi Laila. Romantis, kata yang cocok untuk menggambarkan galaksi dan Laila saat ini.


Brak


Bintang memukul meja dengan kasar seraya berdiri. Tentu saja tindakan nya itu mengalihkan tatapan semua orang. "Aku ketoilet dulu."


Ucapan Bintang terdengar kaku dan penuh penekanan, ditambah tatapannya menajam lekat pada netra Laila.


Semua orang hanya diam terpaku melihat tingkah Bintang yang pergi begitu saja. Hingga tubuh pria itu mulai menghilang dari pandangan, mereka kembali melanjutkan makan dan bercengkrama.


Berbeda dari yang lain, Laila menghembus nafas kasar dan menaruh sendok nya begitu saja seraya meneguk segelas air. Ia menatap Galaksi yang juga melemparkan tatapan sama kearahnya, seolah keduanya mengerti apa yang terjadi pada Bintang.


"Permisi Om, Tante Laila ketoilet dulu." Ucap Laila dengan sopan ditanggapi anggukan dari orang tua dan calon mertua nya.


"Perlu dianter gak?" Ucap Galaksi pelan seraya menarik lembut tangan Laila.


"Gak usah Gal, gue bisa selesain masalah ini."sahut Laila ditanggapi senyuman tipis dari Galaksi.


Laila pun berlalu menuju arah toilet. Benar saja, Bintang berdiri tepat di samping toilet perempuan seolah ia tahu bahwa Laila akan datang menyusul nya.


"Kita perlu bicara, Bin." Ucap Laila.


"Gak ada yang perlu dibicarain, Gue tahu Lo sama kak Gala udah di jodohin sejak kecil. kalau Lo kesini cuma buat bujuk gue ngilagin perasaan ke Lo, percuma la, sia sia." Tukas Bintang.


"Plis stop Bin, gue mau Lo nerima gue sebagai calon kakak ipar. Bukan yang lain." Lirih laila.

__ADS_1


"Udah gue bilang gak bisa la, sia sia."


"Mau Lo apa sih? Gue putus sama Gala, jadian sama Lo dan nyakitin harapan orang tua, gitu?"


Bintang terdiam membisu, ia tahu bahwa dirinya salah. Namun mau bagaimana lagi, Bintang tak bisa membohongi perasaannya sendiri.


Mengingat Bintang sudah berulang kali menyatakan perasaannya pada Laila namun gadis itu tak pernah menggubrisnya. Laila hanya menganggap ucapan Bintang sebagai lelucon anak kecik.


Namun siapa sangka, Bintang serius dengan ucapannya.


"Nikah sama Kak Gala ataupun sama Gue kan gak ada bedanya, keluarga kita tetap bersatu. Gue bisa ngomong baik baik sama Orang tua kita." Bintang memelas.


"Lo gila ya? Perlu berapa kali gue bilang hah, Gue cuma suka sama Galaksi." tegas Laila.


"Kita liat aja nanti" ucap Bintang sembari meninggalkan Laila begitu saja di kamar mandi.


"Bintang! Seenggaknya pikirin perasaan Galaksi yang sayang banget sama Lo!" Seloroh Laila.


Mendengar ucapan Laila langkah Bintang sempat terhenti sejenak.


"Plis, jangan egois." lirih Laila.


Bintang tak menghiraukannya, Ia melanjutkan langkahnya dan kembali menghampiri keluarganya.


...----------------...


"Nanti kita bertemu lagi di apartemen ya, Lin. Kalian duluan saja, kami mau ngisi bensin dulu" Ucap Suhad-Ayah Laila.


"Yasudah kalau begitu, Ayo anak anak." Sahut Lintang-Ayah Bintang.


Keluarga Taran dan keluarga Manhoor berpisah di restoran setelah makan malam. Mereka akan kembali bertemu lagi di Apartemen, karena mereka menyewa apartemen yang saling bersebelahan.


Mobil keluarga Taran melaju lebih dulu, menembus jalanan sepi dan harus melewati Padang gurun yang cukup luas untuk sampai ke apartemen mereka di kota.


Hari ini mereka baru selesai berlibur sekedar foto foto dan bersantai di tepi Padang. Sekaligus ini menjadi destinasi terakhir mereka setelah tiga hari berlibur di Amerika.


Lintang sibuk menyetir dan mengobrol dengan Meta-istrinya di depan, sementara di barisan kedua ada Galaksi dan Bintang yang sama sama diam sibuk dengan ponsel masing masing. Sementara di belakang Malin duduk seorang diri karena ia tertidur melentangkan kaki.


Suasana mula nya aman aman saja seperti biasanya.


Dorrr


Brakk


Suara senapan menggema dikesunyian malam. Peluru besar itu menembus kaca belakang mobil sampai membangunkan Malin dari tidur nyenyak nya.

__ADS_1


"Malin merunduk!"


Galaksi segera berpindah keluar dan menutupi tubuh Malin dengan pelukannya.


Begitupun Bintang, Lintang dan Meta, ketiga nya berusaha merunduk menghindari peluru kedua yang bisa ditembak kapan saja.


"Sialan, berani sekali mereka mengganggu keluarga ku." Lintang hanya bisa mengumpat.


"Ambil dua senapan di kolong kursi kak." Imbuhnya.


Galaksi segera meraih dua senapan yang ternyata memang benar berada di kolong kursi. Bintang hanya bisa menganga, ia tidak menyangka bahwa benda seperti itu ada di dalam mobilnya.


Meskipun Ayah Bintang memang seorang perwira TNI, ia tetap tak menyangka bahwa benda berbahaya itu akan dibawa berlibur.


"Sepertinya mereka menggunakan senapan dari jarak jauh pah." Ucap Galaksi


Dorr


Brakk


Lagi lagi, satu tembakan meluncur tepat menembus kaca mobil diatas kepala Bintang yang tengah merunduk. Sepertinya penembak itu tak hanya satu.


Suasana terasa sangat tegang kala itu, Meta terus merapalkan doa doa sementara ketiga anak anaknya hanya bisa merunduk. Sekian menit berlalu tak ada serangan lagi, membuat Lintang memberanikan diri hendak membuka pintu mobil, namun baru sejengkal saja pintu itu terbuka tiba tiba


Dorr


Dorr


Dorr


Brakk


Suara Laras senapan berulang kali itu membuat Bintang langsung angkat dari tempatnya dan memeluk Meta. Bintang menutupi tubuh sang ibu dengan tubuhnya, sama seperti yang dilakukan Galaksi pada Malin.


Setelah diamati, tembakan itu bukan ditujukan pada tubuh Lintang, akan tetapi pada ban mobil yang semuanya menjadi bolong dan tak bisa berjalan lagi.


"Bangsat, sialan!" Lagi lagi Lintang hanya bisa mengumpat. Ia ingin memberikan perlawanan namun sepertinya para sniper itu tak memberikannya celah.


Setelah menunggu cukup lama dengan mata tajam menyisir setiap sudut gurun, akhirnya Lintang menemukan setitik cahaya yang keluar dari walky talky yang tak sengaja dinyalakan oleh sniper tersebut.


"Ini, galaksi tangkap! lihat disana ada sebuah titik cahaya, Sniper itu pasti ada di sana."


Lintang dan Galaksi keluar dari dalam mobil melalui pintu samping. mengendap perlahan dan berusaha membidik titik tersebut.


......................

__ADS_1


__ADS_2