Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
50. Dari masalalu-masakini


__ADS_3

Di tempat lain Cahaya tengah meringis menahan sesak di relung dada sembari bersandar di belakang mobilnya. Pedih, kecewa, tidak menyangka, marah, kesal dan perasaan-perasaan lainnya sukses mengguncang pikiran gadis tersebut.


"Gue gak ngerti sama semua ini, Lo deketin gue, Lo ngajak gue jadian, Lo minta gue nunggu, dan Lo malah kayak gini..."


Bruk...Anj*ng


Cahaya hanya bisa melampiaskan amarahnya dengan menendang ban mobil berulang kali sembari berderai ai mata. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang sebenarnya diinginkan Bintang dari nya. Setiap kali kepercayaan nya sudah di titik tertinggi, Bintang selalu saja bisa membuatnya turun bahkan sampai tenggelam ke dasar.


Teman-teman, orangtua, dan negara kelahirannya rela Cahaya tinggalkan hanya demi mengejar Bintang. Namun apa balasannya? Kali ini Cahaya benar-benar tidak bisa mentolerir apapun lagi.


Tak lama Rein datang dan melihat adiknya tersebut tengah bersimbah air mata dipinggir mobil sembari memeluk kedua lututnya. Rein dengan cepat berjalan menghampiri Cahaya dan memberinya dekapan hangat.


"Ay, udah jangan nangis. Air mata kamu terlalu berharga buat cowok brengs*k kayak Bintang."


"Hhss..hsss...Aya capek kak." lirihnya.


"Ayo pulang, kita istirahat di rumah..."


Rein langsung memapah Cahaya berdiri dan menuntunnya masuk kedalam mobil, setelah itu ia juga bergegas masuk. Tepat sebelum tubuhnya luput sepenuhnya kedalam mobil, Rein sempat menatap tajam kearah pintu masuk basemen.


"Laila! Balasan apa yang cocok untuk perempuan jal*ng sepertmu selain kematian. Ck." Rein bergumam seraya tersenyum licik.


Tak lama berselang Rein pun menghidupkan mesin mobil dan beranjak menuju apartemen mereka yang tidak terlalu jauh tersebut. Disepanjang jalan pun Cahaya hanya menatap pemandangan dari balik kaca mobil dengan tatapan kosong namun air mata yang terus bercucuran.


Sesekali Rein mengamati tubuh adiknya itu dengan iba, tangannya mulai menggenggam erat stir mobil seraya menatap jalan dengan amarah yang kentara. Seorang kakak mana yang tidak marah melihat secara langsung kekasih adiknya berselingkuh dengan pacarnya sendiri? Rein seolah sudah bertekad akan membalaskan dendam nya yang membara.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Cahaya merebahkan tubuhnya diatas sofa sembari memandangi tubuh Rein yang berjalan mengambil air dari dapur dan menyuguhkan nya di atas meja.


"Kak, kakak udah kenal lama sama kak Laila?"


Akhirnya Cahaya mempertanyakan pertanyaan yang sedari tadi terkungkung di relung dada. Meskipun Cahaya hanya mendengar pembicaraan mereka setengah, namun Cahaya bisa memastikan bahwa Rein dan Laila memang sudah mengenal, Ia bertanya pun juga untuk memastikan.


"Kakak gak bisa bohong sama kamu. Kita memang sudah jadian selama dua tahun."


Penuturan Rein membuat mata Cahaya membulat sempurna, pandangan nya berlatih dari kosong jadi menatap Rein dengan lekat.


"Jadian? dua tahun? dan Aya baru tahu sekarang?!"


"Kakak terpaksa menyembunyikan hubungan kami karena meskipun sudah saling kenal selama 7 tahun sebelum berpacaran pun orang tua kami pasti gak akan menyetujui hal ini."


"Kenapa? apa sebenarnya yang terjadi di masalalu, kenapa rasanya Aya adalah orang yang paling tidak tahu apapun tentang orang-orang terdekat Aya!" Cahaya berucap dengan penuh penekanan seraya mata yang kembali berkaca-kaca.


"Jadi kakak selama ini udah kenal sama kakak nya galaksi yang udah meninggal?"


"Bukan cuma saling mengenal, kita udah tahu latar belakang kehidupan masing-masing sampai ke akar. pas kakak ketemu Bintang pun kakak masih ngerasa bersalah gak bisa datang ke pemakaman Galaksi untuk liat wajahnya yang terakhir." Kali ini Rein yang bertutur dengan mata berkaca-kaca.


Bukan hanya tidak menyangka kalau kakak Cahaya dan kakak Bintang sudah saling mengenal sejak lama, tetapi juga tidak menyangka bahwa pertemanan mereka akan sampai seakrab itu.


"Terus kenapa kakak nggak ngomong ke Bintang tentang hubungan kalian?"


"Untuk apa? Galaksi sudah tiada, bintang hanyalah bagian kecil kasih sayangnya yang ditinggalkan di dunia ini."

__ADS_1


Rein menghela nafas panjang seraya meneguk segelas air di meja, ia merebahkan diri bersandar ke kepala sofa sembari menatap langit langit dengan lekat.


"Galaksi adalah pria sejati. Dia tahu adiknya mencintai Laila, perempuan yang sudah terikat perjodohan dengannya sejak kecil tetapi dia tidak pernah mengadukan hal tersebut pada keluarganya. Bahkan dia selalu berpura-pura tidak tahu demi menjaga hubungan baik Laila dan Bintang." Tutur Rein sayu.


"Kamu tahu, setiap hari Galaksi selalu mengeluh bercerita tentang seluruh perasaan nya yang selalu mempertimbangkan keinginan Bintang. Saking sayangnya Galaksi bahkan sempat meminta saran untuk mencari cara mengalihkan perjodohan ini menjadi untuk Bintang. Namun apa balasan adiknya yang brengs*k itu? Dia malah membiarkan Galaksi menjadi tameng tubuhnya dari peluru..."


Seketika air mata lelaki lembut tersebut pecah, Cahaya bisa merasakan ketulusan dalam kata-kata yang terucap dari setiap helaan nafas kakaknya tersebut. Keduanya sama-sama tenggelam dalam rasa sedih yang sama, terjadi akibat sebuah kejadian di masalalu yang berdampak hingga saat ini.


"Kalau kakak tahu hubungan kak Laila dan hubungan kak Galaksi udah sangat dalam, ditambah Bintang juga suka sama Laila terus kenapa kalian bisa pacaran? bahkan dua tahun! Berarti setelah setahun kematian kak Galaksi kalian mulai menjalin status hubungan?"


Cahaya memang jeli, ia bisa menangkap semua gambaran masalalu yang telah terjadi dengan detail. Dan dari semua cerita yang dijelaskan oleh Rein, Cahaya tidak mendapatkan alasan pasti kenapa mereka bisa menjalin hubungan asmara.


Sementara itu mendengar pertanyaan Cahaya, Rein malah memutar bola matanya dengan canggung ke sembarang arah nggan menatap Cahaya.


"Saat itu kakak masih kuliah di London dan yang kakak tahu Laila pindah ke Amerika setelah kematian Galaksi. Namun ntah sebuah kebetulan atau memang takdir tuhan kami bertemu di London saat kakak sedang menikmati segelas kopi sementara dia tengah melamun di kursi pinggiran jalan."


"B-bagaimanpun kakak dan Laila sudah kenal lama, melihat dia sedih bahkan sampai sakit-sakitan setelah ditinggal galaksi tentu saja kakak tidak tega. Untuk itu kakak selalu menemani nya, dan tanpa sadar setelah setahun perasaan kami sedikit demi sedikit mulai tumbuh." imbuhnya


"Terlepas dari semua itu harusnya kakak cerita sama Aya. Aya selalu ngasih tahu apapun sama kakak tapi kakak malah nutupin semuanya dari Aya." Ketus Cahaya.


Rein beranjak dan duduk disamping cahaya, ia mengalungkan tangan pada pundak gadis tersebut sembari berkata "Maaf, kakak juga terpaksa."


Saat ini Cahaya hanya mendengus kasar, ia berusaha mengkonsumsi ratusan kalimat yang tidak pernah di sangka akan terangkai dengan dramatis seperti yang diceritakan Rein. Yang bisa Cahaya terima dari apa yang Rein jelaskan hanya satu, bahwa perasaan manusia memang mudah berubah dan takdir tuhan tidak pernah ada yang tahu akhirnya.


Disamping itu Cahaya kembali menatap lekat Rein. "Apa kakak udah tahu siapa pelaku penembakan keluarga bintang hari itu?"

__ADS_1


......................


__ADS_2