
Aya terperanjat kaget, mulutnya yang menganga ia tutupi dengan telapak tangan. Sementara Bintang hanya menatap Rein dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Rein sendiri memiliki maksud lain meminta Bintang untuk membunuh tiga lelaki yang tengah bersimpuh memohon ampun tersebut.
"Ambil!" Dengan tegas Rein menyodorkan sebilah pisau ditangannya.
Bintang masih tak bergeming, ia ragu harus melakukannya atau tidak. Bagaimanapun Bintang juga manusia yang memiliki hati nurani, ia tidak akan tega membunuh orang yang kesalahannya sudah di tebus. Namun disisi lain Bintang tidak bisa menolak permintaan Rein.
"Perbuatan mereka sudah dibalas dengan setimpal kak, apa perlu kita membunuh mereka juga?" Bintang menatap Rein dengan segudang keraguan.
Rein tersenyum miring sembari tertunduk. "Sudahlah, laki laki tak berprinsip seperti mu tidak pantas mendapatkan adikku."
Ucapan Rein terasa sangat menusuk bagi Bintang. Baru kali ini ia merasa hinaan seperti itu memang pantas ditujukan untuknya.
"Aku punya caraku sendiri untuk mendapatkan Cahaya, kak." Ucapan tersebut Bintang lontarkan dengan penuh keyakinan.
Aya yang sedari tadi mendengarkan di balik punggung Bintang merasa tersentuh dengan apa yang Rein dan Bintang perdebatkan. Aya begitu bersyukur, dirinya bisa diperlakukan seistimewa ini oleh dua orang yang berharga baginya.
Perkataan Bintang memanglah terdengar manis, Rein terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengenakan kembali jam tangan, gelang dan kacamata yang sebelumnya ia lepas. Pisau ditangannya pun dilempar keatas kasur.
"Gue tunggu caramu itu." Rein berkata dengan penuh penekanan.
Perkataan yang membuat Bintang langsung termangu, pikirnya apakah ini sebuah pertanda dari Rein bila Bintang ingin mendapatkan restunya maka Bintang harus membuktikannya.
Sekilas Rein menatap kearah tiga laki yang masih bersimpuh dan mendengus kasar, tatapan tajam yang seolah memberi isyarat kepada mereka untuk tidak melakukan hal serupa lagi terhadap Aya atau perempuan manapun. Ketiga laki laki itu langsung bersujud beberapa kali, dengan wajah pasrah dan anggukan mengiyakannya maksud dari tatapan Rein.
Pada akhirnya Rein meraih tangan Aya dan menariknya keluar dari klub.
Bintang hanya memandangi kepergian Aya dari dalam klub, begitu juga Aya yang sempat meminta kakaknya untuk membawa Bintang palang bersama namun Rein tak menggubris permintaan Aya tersebut.
Dengan perasaan tidak nyaman, Aya dan Bintang berpisah di klub.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.46, dengan santainya Bintang berjalan di koridor sekolah yang sepi karena murid lain sudah masuk kedalam kelas.
Saat hendak melewati kelas 11 IPS yang merupakan kelas Aya, Bintang melihat Aya tengah dihukum berdiri di depan pintu karena datang terlambat.
Sementara Aya melihat Bintang yang baru datang langsung menghela nafas panjang, batin nya bergumam akhirnya dia memiliki teman untuk menemaninya di hukum. Meskipun sebelumnya Aya sempat berpikir kalau karena kejadian tadi pagi Bintang tidak akan berangkat sekolah.
__ADS_1
"P-pagi bin...." Aya menyapa Bintang.
Namun Bintang hanya melirik Aya sekilas dan melewatinya begitu saja, tanpa kata sapa sama sekali.
Aya mengeriyatkan dahi, kenapa lagi dengan Bintang.
Langkah kaki Bintang terus berjalan menuju kelasnya. Aya memandangi punggung Bintang, harapnya Bintang berbalik dan kembali menyapanya. Namun harapan itu hanyalah harapan, Bintang berlalu begitu saja masuk kedalam kelasnya tanpa ragu.
Beberapa saat kemudian Bintang keluar dan langsung berdiri di depan pintu. Aya terkekeh melihat superstar sekolah itu tetap di hukum karena datang terlambat. Padahal sebelumnya beredar rumor bahwa empat superstar sekolah sangat dimanjakan oleh para guru sehingga mereka bebas berbuat apa saja.
"Bintang...Bintang... Sinii." Dengan suara pelan Aya melambaikan tangan meminta Bintang berdiri disampingnya saja.
Namun lagi lagi, Bintang hanya melirik Aya sekilas dan menghiraukannya.
"Bintang kenapa?" Batin Aya.
Senyuman di wajah Aya perlahan memudar, dengan lesu ia kembali menjalankan hukumannya. Sesekali Aya melirik Bintang, namun Aya selalu mendapati Bintang yang fokus berdiri tak bergeming sama sekali.
••••••
Bintang dari kejauhan melirik Aya yang sudah kelelahan. Wajahnya pucat dan terus menggoyang goyangkan kaki. Pikiran Bintang meminta untuk diam, namun hatinya berkata lain.
Bintang berjalan menghampiri Aya seraya mendengus kasar. "Duduk, biar gue yang gantiin Lo."
Aya terperanjat kaget, menatap intens netra Bintang. "G-gak usah Bin lagian-"
"Tinggal duduk aja bawel banget!" Bintang menekan pundak Aya agar setidaknya gadis itu bisa jongkok untuk meredakan pegal di kaki.
Sementara Bintang berdiri disamping Aya seraya kembali menatap lurus kedepan dengan ekspresi datar.
Jika dikatakan, Aya sempat berpikir bahwa ucapan Rein tentang Bintang yang tak memiliki prinsip dalam bersikap memang benar adanya. Terbukti dari sikapnya yang selalu berubah ubah. Pagi begini, siang begitu, malam beda lagi. Seperti Bintang memiliki kepribadian ganda saja.
Yang bisa Aya lakukan saat ini hanya menarik nafas panjang seraya menunggu bel istirahat berbunyi.
"Hmm pengen burger....kapan sih istirahat" Aya berucap dengan lesu.
Bintang mendelik sekilas, dan kembali mengalihkan pandanganya saat seseorang membuka pintu kelas Aya.
__ADS_1
"Loh bro, Lo ngapain disini?" Dimian menutup pintu dengan pelan, ia kaget saat berbalik badan mendapati Bintang tengah berdiri di samping pintu.
"Lagi di hukum." Sahut Bintang.
Dimian mengerutkan dahi. "Kok gak nolak kaya biasanya? Kan bisa."
Bintang terdiam, ia melirik ke sembarang arah berusaha berdalih.
"Hmm... Liat cahaya gak?"
Bintang melirik ke bawah kakinya begitu juga Dimian yang ikut melirik titik tersebut. Benar saja cahaya tengah jongkok di belakang Bintang seraya mengeluarkan kepalanya untuk menyapa Dimian. "H-hallo dim"
"Ya ampun Aya, Lo pasti cape banget ya. Ayo ke kantin." Dimian menghampiri Aya dan jongkok dihadapannya.
Terlihat jelas raut ke khawatiran di wajah Dimian. Sementara Bintang hanya berdehem keras beberapa kali, membuat Dimian dan Aya mengalihkan pandangan padanya.
"Kenapa sih bro?" Ketua Dimian.
"Gakpapa, Gerah sama haus doang."
"Tapi gue lagi di hukum, Dim." Aya berucap dengan lesu.
"Gakpapa kan ada gue, udah santai aja Yo." Dimian meraih tangan Aya dan membantunya berdiri.
Aya sekilas mendelik ke arah Bintang dan mendapati lelaki itu tengah memutar bola matanya dengan kesal. Namun Aya tetap mengiyakan ajakan Dimian, mereka berdua pergi selama beberapa menit menuju kantin meninggalkan Bintang yang masih berdiri dengan kesal diambang pintu kelas.
Bintang sesekali menatap lorong arah kantin dengan gelisah, ia juga menatap jam tangan seraya berdecak kesal terus menerus. Seolah olah ia sedang menghitung waktu kepergian Aya dan Dimian.
Pandangan Bintang beralih saat seorang satpam datang sembari menyodorkan sebuah paperbag. "Bintang ya? Ini tadi ada paket datang."
"Oh iya pak makasih." Bintang meraih paperbag tersebut.
Tak lama Bintang melihat Aya dan Dimian akhirnya datang. Ia kembali menerapkan raut wajah dingin seraya menatap jam tangan nya.
"Lima belas menit, lima puluh tiga detik. Tanggung banget tinggal sejam aja disana." ketus Bintang.
......................
__ADS_1