Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
40. Saran Kakak?


__ADS_3

Cahaya mulai menceritakan semua hal yang menimpa Bintang beberapa tahun silam sekaligus alasan mengapa ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya dan memilih pindah ke Amerika.


Sementara itu Rein semakin fokus menelaah cerita Cahaya, lelaki itu juga seolah tengah menerawang sesuatu dengan raut wajah serius.


"..... Sebentar Ay, Ayahnya Bintang itu Mayjen Lintang Raihan Taran?"


"Kok kakak tau? lengkap sama pangkat nya lagi." Cahaya menyipitkan mata.


"Y-yak tau aja sih, kan kakak sempet investigasi kecil kecilan orang yang lagi dekat sama kamu terkait keluarga dan latar belakangnya, hehe." Rein memutar bola matanya ke sembarang arah.


"Yang bener??" Mata gadis itu semakin menyipit lekat pada netra Rein.


"S-SERIUS!" Rein menutup mata Cahaya dengan satu lengan dan mendorongnya hingga tersudut di sela sofa.


Tentu saja Cahaya tak tinggal diam, gadis itu langsung menepis tangan Rein dengan kasar dan balik mendorong tubuh lelaki jangkung tersebut.


"Ihh sakit tau kak! Mata Aya ini tuh adalah aset berharga bagi Bintang dan calon anak anak kami!" celetuk Cahaya.


"Dih dih, so soan mau sampai nikah, sekarang aja malah ditinggal pergi tanpa pamit. Mana baru jadian beberapa jam lagi haha." Rein puas mencibir.


"Gakpapa toh Aya yakin Bintang pasti balik lagi. Daripada kakak, udah hampir kepala tiga masih belum juga kawin, gak laku Tah? hahaha." Gelak tawa Cahaya menggema di dalam kamar Rein.


Rein mendengus kasar seraya mengulum bibir.


Lelaki itu sebenarnya cukup kesal dengan pernyataan Cahaya, jika ingin dia bisa saja langsung melempar tubuh jenjang gadis tersebut keluar dari balkon lantai dua. Namun melihat tawa Cahaya setelah berjam jam di telan kesedihan sedikit menenangkan perasaan Rein.


Rein tahu bahwa adiknya tersebut adalah perempuan yang Cantik, cerdas dan tegas. Namun setiap kelebihan pasti memiliki kekurangan. Dan yang Rein sayangkan dari Cahaya adalah perasaan nya terlalu tulus dan berpotensi jadi bodoh jika mencintai seseorang.


Apalagi orang seperti Bintang, lelaki yang dimata Rein miskin prinsip.


"Nah gitu dong ketawa, kan kelihatan lebih cantik. Daripada tadi murung terus jadi kayak boneka santet, ngeri." Tukas Rein.


Tentu saja pernyataan Rein tersebut langsung menghentikan gelak tawa perempuan dihadapannya tersebut. Raut wajah Cahaya pun berubah menjadi kusut dan kesal.


"Dah lah, males ngomong sama kakak, orang mau minta pendapat malah di ejek."


"Hmm, ya udah sini dong duduk yang manis katanya mau dengerin saran kakak. Ayo dong jangan ngambek dek." Cibir Rein.

__ADS_1


"Ya udah buruan apa pendapat kakak!"


Rein terdiam sesaat, dari gayanya memegang dagu seraya bersilang tangan Sepertinya ia tengah merangkai kata kata yang tepat untuk mengutarakan pendapatnya.


"Lebih baik jauhin aja bintang. Kakak gak setuju kamu Deket Deket sama keluarga mereka."


"Loh emangnya kenapa sama keluarga Bintang?"


"Ya gitu. Mereka keluarga petinggi di TNI, persaingan jabatan di dalam sana sangat rumit dan mengerikan. Nyawa bisa jadi ancamannya." Rein bertutur dengan serius.


"Coba deh Aya pikirin kenapa mereka pas liburan di Amerika tiba tiba di serang sniper. Bisa jadi kan itu pembunuhan berencana dan sniper itu di sewa oleh orang yang menginginkan jabatan ayahnya Bintang." Sambungnya.


Sebenarnya ucapan Rein memang terdengar masuk akal. Dunia kerja memang keras apalagi perihal pangkat. Ditambah ini ranahnya TNI, siapapun bisa terancam bila berhubungan dengan mereka tanpa perhatian khusus.


"Apa karena alasan itu juga Bintang gak pernah mau main atau sekedar mampir ke rumah Aya selama ini?"


"Bisa jadi, kita kan gak tau kalau Bintang punya masalah dan caranya sendiri untuk menghadapi masalah masalah seperti itu." Ujar Rein.


Mendengar saran dari Rein bukannya mendapatkan jawaban Cahaya malah semakin dibuat bingung dengan pelik nya masalah yang menimpa Bintang. Memang benar adanya jika masalah ini tidak sesederhana dipermukaan saja.


Saat ini Cahaya hanya bisa menggelengkan kepala didalam pelik lututnya. Pikiran gadis itu riuh, bingung harus melakukan apa.


"Bingung kak, Aya mau pindah aja ke Amerika."


"Ya udah sana pindah, kayak mamah sama papah ngijinin aja." Seloroh Rein.


"Lagian kan bentar lagi Aya naik kelas 12, sayang kalau pindah. Mending ntar aja nunggu lulus biar sekalian kuliah di sana." Sambungnya.


Cahaya memikirkan kata kata Rein yang terdengar cukup masuk akal. Namun disisi lain ia tidak mau LDR-an dan menunggu selama setahun dulu.


Setelah merasa cukup lebih baik, gadis itu pun hanya mengangguk dengan wajah datar dan beranjak pergi meninggalkan Rein begitu saja di kamar nya.


Langkah kaki nya tertatih meskipun hanya berjalan beberapa langkah karena kamar mereka bersebelahan. Cahaya membuka pintu kamar dengan lesu dan menguncinya. Gadis itu memilih merebahkan diri diatas kasur dan kembali menatap plafon kamar.


Cahaya terlalu lelah, tidur nya seharian sepertinya masih kurang. Ia pun memejamkan mata dan kembali terlelap dalam tidurnya.


...----------------...

__ADS_1


Keesokan harinya, seperti biasa Cahaya berangkat sekolah. Namun hari ini berbeda seperti kemarin. Wajahnya yang lesu dan kusut cukup menarik perhatian siswi lain yang berpapasan dengannya.


Cahaya tahu pasti mereka tengah menggosipkan kisah cinta nya yang sangat tidak jelas. Namun Cahaya tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menghela nafas panjang dan menghiraukan cacian para siswi tersebut.


"AYAAA! PAGII!" Suara cempreng dan kencang Vania mengalihkannya pusat perhatian Cahaya.


"Gila Lo ya, pagi pagi gini teriak gak jelas!"


"Ya sorry, gue cuma pengen membagikan positif vibe buat Lo yang dari tadi jalan kayak mayat idup."


"Udah deh gue lagi gak selera bercanda, Van." Lirih Cahaya.


Vania tak menghiraukan ucapan Cahaya dan merangkul pundak gadis tersebut dengan erat. Ia menuntun Cahaya dengan girang menuju kelas.


Dalam keadaan seperti ini, memang Cahaya sangat membutuhkannya support sistem. Betapa beruntungnya gadis tersebut memiliki Vania, meskipun kadang berkata blak blakan dan tanpa pikir panjang tetapi Vania adalah sahabat yang selalu mengerti Cahaya apa adanya.


Berkat Vania juga Cahaya bisa membentuk sebuah senyuman kecil yang sedari sebelumnya hanya guluman bibir semata.


Namun senyum Cahaya tidak bertahan lama. Langkah kakinya dan Vania terhenti saat mendengar bisikan dan cibiran dari para siswi yang tengah berkerumun di pinggir tangga.


^^^"Gak tahu diri ya, udah nolak cinta kak bintang masih so soan sedih."^^^


^^^"Iya kasian kak bintang sampai pindah sekolah. pasti gara gara cahaya."^^^


^^^"Kasian juga tuh fans nya kak bintang dari sekolah tetangga, pasti pada kecewa."^^^


^^^"Iya lagian apa sih yang diliat kak bintang dari cahaya."^^^


"Apaan maksud Lo anjir!" Lantang Vania.


Gadis itu tanpa segan menarik kerah baju salah satu siswi yang sedari tadi banyak berbicara. Para siswa lainnya juga langsung menoleh, terlihat cukup jelas bahwa mereka kaget dengan kedatangan Cahaya dan Vania yan tiba tiba ada di belakang mereka.


"Van jangan emosi, udah ayok biarin aja." Cahaya berusaha melerai.


"Lepasin baju gue! berani Lo sama kakak kelas?!"


Ujaran gadis tersebut membuat tangan Vania langsung melemah dan turun. Bodoh sekali kenapa ia tidak melihat tanda di seragam mereka yang terlihat jelas.

__ADS_1


"Mampus kita Van." Bisik Cahaya.


......................


__ADS_2