
Ranti dan Hardi sontak menatap lekat Rein. Mereka saling bertukar pandangan satu sama lain selama beberapa detik seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Sepasang suami istri ini juga semakin mendekatkan tubuh pada Rein dan mengecilkan suara hingga Cahaya tak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarkan. Begitu juga Rein, ia mencondongkan tubuh dan berkata pelan.
"Mantan ketua OSIS di bully? papah gak yakin, salah info kali kamu." Seloroh Hardi.
"Yang bener kak?!" Ranti memastikan.
"Iya mah pah Rein serius. Pacarnya Aya itu superstar sekolah dan punya banyak penggemar gitu. Terus kan tiba tiba dia pindah ke Amerika, nah murid murid sana ngiranya karena lagi ada masalah sama Aya. Jadi mereka banyak yang gak suka sama Aya."
Brak
Hardi menggebrak meja dengan marah, sontak hal ini mengalihkan perhatian Cahaya yang tengah menyantap makanannya dengan lahap. "Kenapa pah?"
"Ehh nggak sayang, ini papah lagi bahas masalah partai sama Kak Rein."
"Hehe iya ay, iya.." Timpal Rein.
"Lanjutin sayang makanya." Celetuk Ratna.
Cahaya hanya mengedikkan bahu dan kembali berbalik melanjutkan aktifitasnya.
Sementara disisi lain Ratna, Hardi dan Rein menghela nafas lega. Mereka tidak mau mengganggu Cahaya yang akhirnya bisa makan dengan tenang setelah beberapa hari terakhir makan tidak teratur.
"Gak bisa! siapa mereka berani menyakiti putriku hanya karena masalah sepele! besok papah bakal nuntut sekolah atas kelalaian ini!" Tegas Hardi masih dengan suara pelannya.
"Mama setuju!"
"Papah mamah tenang aja, duduk santai di rumah. Rein udah punya rencana sendiri. Tunggu kabar baiknya aja." Sahut Rein dengan santainya.
"Rencana apa kak?" Ranti dan Hardi kompak.
"Hehe, tunggu aja." Rein menjawab dengan santai tentunya sembari menyeringai licik.
...----------------...
keesokan harinya, Seperti biasa Cahaya berangkat dengan wajah lusuh seolah baru pulang sekolah. Namun hari ini ada sesuatu yang berbeda dengan mobilnya.
"Jalan Pak Asep."
"Pagi Ayaa..."
__ADS_1
"Kakak?! Kenapa kakak yang nyetir, Pak Asep kemana?"
Cahaya terperanjat kaget saat mendapati pria yang memegang stir mobil adalah Rein. Ia menyisir sekitaran halaman rumah mencari keberadaan Pak Asep namun tak ada. Ntah kemana supir pribadinya ini pergi.
"Pak Asep tadi pagi izin mau belanjain istri jadi hari ini kakak yang anterin Aya berangkat sekolah, hehe." Ucap Rein sembari tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri.
Perasaan Cahaya mulai tidak enak saat melihat senyum kakak nya tersebut. Ia menatap lekat lelaki bersetelan polo yang menggunakan topi dan kacamata hitam itu dengan lekat. Cahaya ingat betul, Jika Kakaknya sudah berpenampilan seperti ini tidak menutup kemungkinan kejadian saat di klub malam terulang kembali.
"Plis Kak jangan ngelakuin yang aneh aneh, Aya capek." Racau gadis tersebut.
"Emang kakak mau ngapain, kan cuma nganter kamu berangkat sekolah."
"Hmm ya udah ayo keburu telat nih."
"Siap nona muda..."
Rein langsung menginjak gas dan melajukan mobil dengan cepat menuju SMA Unggulan Garuda Bangsa.
Selama diperjalanan Cahaya tak banyak berbicara, ia malah sibuk memandang layar ponsel tepatnya diruang chat Bintang. Pagi Ini Cahaya baru menyadari bahwa nomormu telah di blokir. Hal ini menambah ke setresan yang selama ini berlalu lalang dalam benaknya.
Tak lama berselang akhirnya mereka sampai di halaman lobby yang cukup ramai dengan para murid. Rein keluar dari dalam mobil sontak menjadi pusat perhatian karena ketampanannya berhasil memikat mata para siswi. Ia keluar dan membukakan pintu mobil untuk adiknya yang tersayang.
^^^"Anjir ganteng banget woi, siapa itu?"^^^
^^^"Iya kali. Dasar keluarga Good looking."^^^
Cahaya dan Rein tak menghiraukan ucapan para siswi heboh tersebut. Setelah berpamitan, Cahaya memastikan terlebih dahulu kakaknya tersebut benar-benar keluar dari lingkungan sekolah. Setelah dirasa aman, gadis itu baru melangkahkan kaki menuju ke kelas.
Sementara disisi lain, Rein berbalik arah saat melihat Cahaya berjalan meninggalkan lobby. Ia kembali menuju parkiran sekolah dan bergegas turun menghampiri ruang kepala sekolah.
Tok
Tok
Tok
"Siang pak!" Sapa Rein sopan.
"Iya, mas ada perlu apa ya saya sedang ada urusan mohon tunggu sebentar diluar." Sahut Hendra.
Memang terlihat di dalam ruangan tersebut ada beberapa guru yang tengah berbincang dengan Hendra. Dari apa yang Rein dengar sepertinya mereka tengah membahas pelaksanaan ujian kenaikan kelas.
__ADS_1
"Pak saya Reinal Dafin Rahayu, bisa bicara sebentar!" Tegas Rein.
Hendra langsung menoleh dan menghampiri Rein dengan cepat. '"Eh maaf mas, mari duduk dulu..."
"Kalian pergi dulu nanti urusan saya sudah selesai saya panggil lagi. Sekalian bawakan Teh hangat buat Pak Rein." Sambung Hendra.
"Mari mas duduk silahkan." Ntah kenapa Hendra berubah menjadi ramah dan sopan saat mendengar nama Rein di sebut.
Rein pun duduk di sofa sembari bersilang kaki. Ia menyisir sekitaran dengan cermat dan teliti sebelum berkata. "Mana janji kamu untuk menjaga adikku dengan baik?!"
"S-saya sudah menjaga Cahaya dengan baik pak, bahkan keponakan saya sendiri pun saya rela keluarkan dari sekolah demi Cahaya." Sahut Hendra dengan gugup.
"Iya kah? lalu kenapa adikku itu kemarin pulang dengan tubuh dipenuhi luka memar. Katanya kena bully kakak kelas!"
"I-itu saya kurang tau-"
"Saya gak mau tau, Bapak hari menghukum pelakunya dengan berat. Atau saya tarik semua investasi yang telah saya tanam di SMA ini!"
Rupanya Rein adalah investor utama di SMA Unggulan Garuda Bangsa, bisa dibilang seluruh uang pembangunan dan perawatan gedung dibiayai oleh keluarga Rahayu khususnya Rein. Pantas saja jika Hendra memperlakukan nya dengan sangat baik.
Disisi lain mendengar pernyataan Rein tersebut Hendra tertegun, ia tidak bisa membayangkan berapa besar uang yang harus di kembalikan bila investasi keluarga Rahayu di tarik. Bukan hanya sekolah nya yang hancur tetapi reputasinya sebagai kepala sekolah juga akan tercoreng.
"T-tapi saya tidak tahu siapa saja yang sudah membuli Cahaya."
"Ini foto mereka, ini bukti CCTV, dan ini adalah daftar hal yang harus kamu lakukan untuk menghukum mereka. Saya mau saat saya sampai di rumah Cahaya memberikan kabar baik bahwa pelaku pembulian sudah di hukum! paham pak?!"
Rein tersenyum licik, lagi lagi ntah bagaimana hanya dalam semalam lelaki itu bisa mengumpulkan data lengkap tentang orang yang telah menyakiti Cahaya.
Hendra mengangguk paham dengan gugup seraya mengambil amplop coklat yang disodorkan oleh Rein. Tak lama setelah itu pun Rein pulang, ia bahkan sampai diantar oleh Hendra menuju parkiran.
Sementara disisi lain Cahaya duduk di kelas dengan lesu seperti biasanya. Ia disambut hangat oleh Vania dengan senyumnya yang khas. "Pagi Aya, tadi gue lihat lo berangkat dianter kak Rein ya."
"Iya Van, Pak Asep ijin hari ini."
"Ihh berarti pulang juga di jemput ya? gue boleh dong nebeng hehe."
"Terserah Lo, gue mau tidur dulu Van masih ngantuk." Ucap Cahaya sembari meletakkan tas diatas meja dan menjadikan sebagai alas kepala.
"Selamat pagi anak anak..."
"Yah telat tuh Miss killer keburu masuk hahah." Vannia puas mencibir.
__ADS_1
"Siall!"
......................