Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
22. Yang jauh datang kembali


__ADS_3

"Kring....kring....kringg"


Dering telpon memecahkan keheningan kamar. Suasana diluar masih terlihat gelap, siapa yang menelpon Aya pagi buta seperti ini.


Dengan mata yang masih tertutup, Aya meraba raba keberadaan ponselnya. Samar samar Aya melihat nama kontak yang menelponnya pagi pagi buta. "Kak Rein?......" Mata Aya sampai membulat sempurna.


"Ha-halo kak, kenapa sih telpon Aya pagi pagi gini?" Meskipun kaget, Aya tetap berdecak kesal.


"Disini masih siang Ca." Ucap Rein _kakak kandung Aya.


"Ya disitu, disini masih pagi buta!" Tegas Aya.


Aya sudah tidak heran lagi dengan sifat kakaknya yang tak pernah melihat waktu saat menelpon. Pernah beberapa kali Rein menelpon Aya ditengah malam hanya untuk menanyakan kabar. Reinal Dafin Rahayu namanya, atau kerap disapa Rein.


Rein sedang melanjutkan studinya di London dalam bidang Bisnis dan Ekonomi. Bisa dibilang hubungan Aya dan Rein sangatlah dekat, sudah hampir 4 tahun mereka terpisah dan hanya bisa berhubungan melalui online.


Namun sudah 2 bulan Rein tidak menghubungi Aya karena sibuk persiapan wisuda. Ditambah lagi saat Rein wisuda seminggu lalu, Aya tidak bisa hadir karena urusan sekolah. Jadi saat Aya melihat nama Rein muncul menelponnya, tentu saja Aya sangat kaget.


"Gue denger Lo tenggelam, gimana keadaan Lo?" Suara Rein memang terdengar khawatir.


"Aman kak. Semalam doang rasanya badan sakit semua." Aya mengeluh, ia bertutur dengan lesu.


Rein tak menjawab. Aya hanya mendengar deruan nafas Rein yang mendengus kasar. Seolah banyak hal yang ingin ditanyakan Rein namun tak bisa dikatakan sekarang.


"Mamah papah tau?" Rein bertanya dengan penuh penekanan.


"Nggak, dan jangan sampai tau. Mamah masih di Australia, papah juga lagi Dinas sejak dua hari lalu ke Batam."  Ujar Aya.


"Jadi Lo di rumah sendirian?.....Gue lusa pulang." Rein terdengar serius.


Aya sedikit khawatir jika Rein pulang dan mengetahui kejadian sebenarnya mengenai tragedi yang baru saja Aya alami, mungkin Rein akan sangat over protective dan bisa saja memaksa Aya pindah sekolah.


"Mmm...dadakan banget kak, emang urusan disana udah selesai semua?" Aya berusaha mencari alasan agar kakaknya tidak pulang.


Disisi lain Aya tak bisa berbuat banyak jika kakaknya tetap ingin pulang, mengingat keahlian kakak nya dalam mencari informasi sangatlah cepat dan akurat. Kabar Aya tenggelam saja sudah sampai duluan pada Rein bahkan sebelum Aya memberitahunya.

__ADS_1


"Udah. Lagian kalau belum pun Gue bakal tetep balik." Tegas Rein.


Aya menghela nafas panjang.


Kali ini Aya tidak bisa berbuat apa apa karena kakak nya itu sudah membulatkan tekad. Aya hanya berharap sepulangnya Rein ke Indonesia, Rein bisa memberikan Aya kebebasan untuk tetap memilih pilihannya sendiri.


~


Ditempat lain, Bintang tengah menyeduh teh hangat sembari menatap kosong cangkir yang yang ia pegang. Dengan raut wajah datar tanpa ekspresi, Bintang membawa secangkir teh tersebut menaiki anak tangga.


Langkah Bintang terhenti dilantai dua Villa, didepan pintu putih yang samar samar Bintang dengar suara barang dibanting keras dari dalam sana. Bintang menghela nafas sebelum akhirnya membuka pintu.


Ceklek!


Mata Bintang membulat sempurna. Perempuan dengan bekas luka panjang yang menjalar dari belakang telinga kanan, ke dahi sampai ke ubun ubun itu tengah membanting Foto keluarga yang bintang sembunyikan di dalam laci.


Perempuan itu menatap kosong kearah Bintang, seakan akan tak merasa bersalah.


"Laila! Gila Lo!" Bintang menaruh teh diatas meja dengan kasar.


Rupanya perempuan dengan bekas luka di wajahnya itu adalah Laila.


Semalam Bintang dan Laila berdebat hebat disepanjang jalan. Dengan susah payah Bintang membawa Laila pulang ke villa saat tahu kalau Laila yang sudah 2 tahun menetap di Amerika tiba tiba pulang ke Indonesia tanpa mempersiapkan rumah tinggal. Ntah apa yang membuat Laila tiba tiba pulang ke Indonesia.


Laila tak suka melihat Bintang yang berusaha tenang menahan emosi, tanpa segan Laila menginjak tangan Bintang yang tengah memungut serpihan kaca. Dengan wajah pucat Bintang hanya bisa menahan sakit yang terasa merayap perlahan lahan.


Ntah kenapa juga seorang Bintang membiarkan Laila melakukan hal seperti itu padanya.


Laila terkekeh saat melihat wajah pucat Bintang yang menahan rasa sakit "Luka luar Lo ini gak ada apa apanya!"


Bintang hanya diam, menatap tangannya yang sudah bersimbah darah.


"Gue gak suka liat ekspresi datar Lo. TERIAKK!" Laila bertutur sembari menguatkan pijakan kakinya. Laila tak suka melihat Bintang hanya mengeluarkan ekspresi menahan sakit tapi tidak bersuara.


Keringat dingin mulai bercucuran membasahi kerah baju Bintang, satu persatu butiran kaca itu terasa menembus daging kulitnya. "Lo hanya perlu nahan rasa sakit ini sementara, lama kelamaan Lo akan terbiasa." Parau parau Bintang berucap dengan bijak.

__ADS_1


Jelas saja Laila semakin kesal dibuatnya. Gadis dengan dress hitam itu berjalan dengan raut wajah kecut memungut kertas foto keluarga Bintang yang terkapar di lantai.


"Srrkkk.."


"Srrkkk.."


"Srrkkk.."


Laila menyobek foto itu menjadi beberapa bagian, dan menyisakan gambar Kakak Bintang dalam keadaan utuh. "Semua orang di keluarga Taran adalah noda!" Laila berucap tanpa beban.


"Cukup La!" Kesabaran Bintang sudah habis. Kemarahannya sudah tak bisa ditahan lagi bila sudah menyangkut pautkan keluarga.


Dengan raut wajah beringas Bintang meraih tangan Laila dan mendorong tubuh perempuan itu dengan kasar keatas kasur.


Bintang mengambil sepotong beling kaca yang berukuran cukup besar dan menyodorkannya ke tangan Laila.


"Ambil...ambil La! Bunuh Gue sekarang!" Dengan tutur tegas Bintang berucap tanpa segan.


Laila tersenyum miring menatap wajah Bintang yang merah membara karena amarah sudah menguasai dirinya. "Akan, cuma belum waktunya!" Tuturnya angkuh.


"Mau Lo apa sih La? Gue gak bisa hidupin orang yang udah mati. Kalau nyawa gue bisa balikin nyawa dia, silahkan Lo ambil!" Bintang berucap penuh penekanan.


Laila memalingkan wajahnya sembari tersenyum kecut.


Bintang menarik kasar dagu Laila agar wajahnya menghadap Bintang. "Urusan Lo cuma sama Gue, kalau Lo berani melibatkan orang lain Gue gak akan segan segan lagi sama Lo!" Tegas Bintang.


"Wahh...hahaha Gue lagi ngebayangin ekspresi Galaksi diatas sana saat denger ucapan Lo barusan." Laila tertawa hambar.


"B*jing*n gak tahu diri!" Laila berucap dengan nada dirundung kebencian.


Bintang menepis dagu Laila dengan kasar dan meninggalkannya seorang diri di dalam kamar. Sepeninggal Bintang pun, Laila merebahkan dirinya di kasur dengan tangan telentang. Laila tertawa sangat keras menggema sampai langkah Bintang terhenti sesaat. Padahal kenyataannya, tawa itu Laila keluarkan bersamaan air mata yang turun dengan deras.


Bintang menghela nafas panjang dan memukul dinding disebelahnya dengan kuat. Bintang tak mampu menahan rasa sedih yang menjalar di dadanya. Laki laki itu akhirnya ambruk dalam tangis tanpa suara.


......................

__ADS_1


__ADS_2