Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD20


__ADS_3

Tin..!! tin..!! tiinn.!!!


Bunyi suara klakson panjang menyadarkan kedua insan yang sedang melakukan adegan ciuman panas di dalam mobil.


Brayen memundurkan kepalanya bahkan deru nafasnya masih memburu, kabut gairah dikedua matanya masih berkobar, sekuat tenaga ia menahannya.


"S***.! Umpat Brayen yang merasa kesal. dia kembali menjalankan laju mobilnya karna mereka melakukan adegan ciuman ketika di Persimpangan jalan lampu merah.


Zaa yang masih terengah-engah menatap Ray tajam, karna ulahnya sampai membuat jalan sedikit macet.


Brayen yang ditatap tajam Zaa hanya tersenyum,tangan nya terulur menghapus sisa salivanya dengan ibu jarinya di sekitar bibir Zaa.dia meringis, merasa bersalah karna melihat bibir tipis Zaa sedikit memerah dan bengkak karna ulahnya.


"Maaf sayang." ucapnya sambil mengelus pipi Zaa, sesekali tatapanya tetap fokus menyetir.


"Jangan diulangi lagi mas, bikin pengendara jalan lainya marah." kesal karna brayen menciumnya secara tiba-tiba.


"Berati kalo tidak dijalan boleh dong." godanya sambil menarik turunkan kedua alisnya.


Zaa yang sedang mode kesal, tidak membalas ucapan brayen. kenapa pria itu begitu mesum ketika dekat dengannya, apa mungkin kepada setiap wanita yang dekat dengannya. Zaa hanya bisa bicara dalam hati,tidak punya keberanian untuk bertanya langsung.


"Apa kamu sudah makan sayang..?"


Suara Ray cukup membuat Zaa sadar.


"Emm.. belum sempat tadi." jawab Zaa tanpa menoleh kearah Brayen.


"Apa kamu marah sayang?" melihat Zaa yang hanya menatap lurus kedepan.


huhh membuang napasnya kasar Zaa bergeser menatap Brayen, "Marah kenapa..?" Zaa malah balik tanya.


"Tidak apa-apa " Ray mengusap kepala Zaa dengan sayang. "Kamu mau makan dimana?"


"Didepan ada warung tenda yang enak, kita ke sana saja."


"Baiklah."


Setelah sampai dimana tempat makan yang ditunjukan, pria itu dibuat terdiam tidak yakin dengan makanan yang dijual ditenda-tenda pinggir jalan.


"kamu yakin sayang kita makan disini." Ray bertanya sambil berjalan menuju tenda biru itu.


"yakin, karna makanan nya enak Mas pasti suka."


Zaa yang memang sudah lama tidak mampir ke tenda pecel lele itu, mata nya berbinar karna senang.


Brayen yang melihat Zaa antusias dibuat tersenyum, bahkan Zaa tidak sadar menarik tangannya.


setelah mendapatkan tempat duduk Zaa memanggil si penjual pecel lele.


"Mang pecel lelenya dua ya,sama teh anget nya 2juga." Zaa memesan makanan.

__ADS_1


"Ehh neng Zaa tumben, udah lama neng kagak mampir kemari?" sapa penjual ramah,karna memang sudah akrab dengan Zaa.


"Iya mang baru sempet, soalnya sibuk kerja." jawab Zaa sambil nyengir.


"Neng sama siapa, pacar nya yaa?" si penjual mulai kepo.


Brayen hanya memperhatika mereka berdua, Zaa nampak akrab dengan penjual.


Zaa yang dinya hanya menggaruk kepalanya dan nyengir.


"Aduh neng pacarnya teh mani kasep pisan."


"Heee iya mang." jawabnya kikuk. Brayen yang melihat hanya tersenyum, tangan nya terulur menggenggam tangan Zaa diatas meja.


"Yasudah saya buatkan pesananya dulu..mari den."


"Kamu sering kesini Zaa?" Ray bertanya


"Dulu sering.."


"Sama siapa?" Ray mulai kepo


"Kadang sama Rian, kadang juga sama Dian." jawab Zaa jujur.


"Tidak pernah sama pacarmu dulu."


"Hemm... ngak."


"Kenapa apanya.!"


"Yakenapa gak pernah sama pacarmu yang dulu kesini."


"Iss jangan bahas mantan lah," gadis itu mulai kesal.


"Kenap--"


"Maaf pesanan nya neng,den silahkan dinikmati." suara mang Dadang menyela.


"Makasih mang." Zaa tersenyum.


"Jangan senyum begitu yang didepan pria lain." Ray bereaksi.


"Heh.. apaan si mas?" masih tidak menyadari.


"Senyum kamu cuma buat aku,jangan ditunjukin sama pria lain.!" sedikit menekan ucapanya.


Melongo mendengan ucapan Brayen barusan.


"Iss lebay dehh.. mang Dadang udah bapak-bapak kali." mendengus karna merasa aneh dengan ucapan Ray.

__ADS_1


"Meskipun bapak-bapak,kakek-kakek tetap tidak boleh." masih terus berdebat.


Zaa memicingkan matanya, menelisik wajah Brayen yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar rahang tegasnya.


"Cemburu bilang bos?" Zaa mengulum senyum.


"Ck.! udah tau,tapi gak peka." mode datar kembali.


"Mau makan, apa masih mau ngomel?" Tanya Zaa yang sudah siap untuk mencicipi pecel lele kesukaan nya.


"Ini makanya gimana yang, gak ada sendok sama garpu?" tanya Ray bingung.


"Hahahah..." Zaa malah tertawa dengan ucapan Brayen.


"Pake tangan mas, kek gini.." mempraktekan makan dengan menggunakan tangan tanpa sendok.


Brayen hanya menelan salivanya tatapan nya melirik Zaa dan tangan nya sendiri.


"Enak Mas, cobain geh.." Zaa menyodorkan tangan nya, didepan mulut Brayen bermaksud menyuapinya.


Brayen ragu-ragu untuk membuka mulutnya, tapi melihat kesungguhan Zaa yang menyuapinya dengan tangan nya langsung membuat nya bahagia.


Ray mengunyah dengan pelan meresapi suapan nasi,ikan,dan sambal yang baru dia rasakan oleh lidahnya.


"Gimana enak?"


Tanpa menjawab Brayen langsung memakan dengan lahap dengan tangan nya sendiri.


"Enak sayang..enak banget malah." dengan mulut penuh dia sempat menjawab.


Zaa hanya geleng-geleng kepala, melihat tuan dingin dan kaya raya makan dengan lahap di tenda pinggir jalan. mungkin brayen tidak pernah makan diwarung pinggir jalan, karna biasanya orang kaya hanya makan direstoran atau cafe mewah saja.


Dan mereka berdua pun menikmati makan malam dengan nikmat.


..........


"Ck! makin susah aja sih gue mau ketemu sama Ray"


disebuah kamar hotel, seorang wanita yang baru saja selesai mereguh nikmat surga dunia,menggeru kesal. karna akhir-akhir ini dia susah bertemu dengan pria yang pernah jadi mantan nya.


Berdiri dibalkon hotel, tiba-tiba sepasang tangan kekar melinkar erat dipinggang wanita itu.


"Kenapa honey hm." berbisik disamping telinga wanitanya sambil menjilati kuping teman ranjang nya itu.


"Emm.." Monika yang mendapat perlakuan yang memancing gairahnya mencoba untuk menahannya.


"Jangan ditahan honey" lagi suara yang terdengar **** dipendengaran Monika, membuat gairahnya kembali tersulut. padahal mereka baru saja selesai bercinta untuk kesekian kali.


Like

__ADS_1


komenšŸ¤—


__ADS_2