Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD49


__ADS_3

Brayen sampai didepan rumah nenek keadaan masih sepi, begitu keluar dari dalam mobil Bu Ratna yang kebetulan juga keluar dari rumah.


"Ibu," __Brayen menyalami Bu Ratna, __Apa Zaa dirumah Bu?"


"Nak Ray, Zaa sedang jalan pagi, mungkin belum terlalu jauh karena baru saja keluar rumah." Ucap Bu Ratna memberi tahu.


"Kalau begitu biar saya menyusulnya."


Brayen pamit dan pergi berjalan kearah yang ditunjukan Bu Ratna. Dan benar saja belum jauh dari rumah Brayen sudah melihat Zaa bersama seorang pria sedang bicara dan kemudian mereka berpelukan.


Mata Brayen menatap tajam kepada dua orang yang sedang berpelukan, rahangnya mengeras tangan nya terkepal erat. Napasnya sudah memburu melihat kekasihnya berpelukan dengan pria, membuat dadanya bergemuruh marah.


"Tahan Ray, kendalikan emosi kamu." Brayen mencoba mengatur nafasnya agar rasa marah dan cemburu tidak menguasai dirinya. Dirinya mencoba mengontrol emosi nya agar tidak meledak-ledak. Brayen tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri dengan apa yang dia lihat, meskipun membuat emosinya membumbung tinggi.


Cukup pengalaman membuat dirinya tidak ingin mengulang nya lagi dan berakhir pada pertengkaran dirinya dan Zaa.


Setelah hatinya cukup tenang dan emosinya mereda Brayen mencoba tenang dan bersikap biasa saja, berjalan menghampiri kedua orang yang sudah berjalan kembali.


"Sayang!" Brayen memanggil sedikit keras agar Zaa berhenti.


"Mas Ray," Mata Zaa berbinar dan senyumnya mengembang dirinya merasa bahagia melihat Brayen , entah mengapa semenjak bangun pagi dirinya tiba-tiba merindukan Brayen.


Rizki hanya diam menatap Brayen yang berjalan mendekat kearahnya, dirinya sudah menerima jika Zaa bukan lah jodohnya. Jadi ia bersikap biasa saja.


"Kamu jalan pagi tanpa menungguku hm?" Setelah mendekat Brayen langsung menarik pinggang Zaa posesif mendekat ketubuhnya, menunjukan kepemilikan nya. Tidak peduli dipinggir jalan dan dilihat oleh orang. Namanya juga Brayen udah bucin mah sebodo Amad😂


"Mas malu." Zaa merona ketika Brayen memeluknya dengan intens, dirinya malu tapi juga menikmati.


"Kenapa hm."


Rizki berdehem untuk menyadarkan dua manusia yang sedang asik bermesraan dirinya hanya bisa menelan ludah melihat adegan langsung.


"Eh, kenalin Mas ini Rizki tetangga nenek, dan juga yang selama ini menjaga dan merawat nenek." Zaa menjadi kikuk dan segera mengalihkan perhatian dengan memperkenalkan mereka.


"Saya Rizki tuan." Rizki mengulurkan tangan lebih dulu.


"Brayen, calon suami Zaa." Ucap Brayen datar.


Zaa dan Rizki hanya mengulas senyum, beginikah tipe seorang pria ketika cemburu dan menunjukkan sisi posesifnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan dan Zaa."


"Terimakasih Ki, untuk semua yang kamu lakukan pada keluarga kami." Ucap Zaa tulus.


"Tidak apa-apa bukan kah kita keluarga, jadi sudah semestinya saling membantu." Setelah mengatakan hal itu Rizki pun pergi meninggalkan dua sejoli yang kasmaran.


Zaa mengajak Brayen kembali berjalan menyusuri jalan kampung.


"Apa kamu tidak mau menjelaskan sesuatu, sayang?" Sepanjang mereka berjalan Brayen tidak melepaskan genggaman tangan Zaa, meskipun Zaa kurang nyaman, karena menjadi perhatian warga tapi tidak di hiraukan oleh Brayen.


"Jelasin apa Mas?" Tanya Zaa bingung.


Kini mereka berada di warung pinggir jalan yang menjual aneka makanan untuk sarapan pagi. Karena keduanya memutuskan untuk istirahat dan juga sarapan bersama.


"Pria tadi, yang peluk-peluk kamu." Brayen berkata ketus seraya membuang muka.


Zaa yang mendengar perkataan Brayen terkejut, sedetik kemudian dirinya mengulum senyum melihat wajah Brayen yang cemberut dan masam.


"Oh, Mas melihatnya?" Zaa pura-pura bodoh ingin mengerjai Brayen.


"Jelas, pelukan dipinggir jalan semua orang juga bisa melihat bukan hanya aku." Kata Brayen sewot dengan sedikit keras.


"Emm, kami hanya pelukan biasa tidak melakukan hal lebih."


Tambah meradang saja Brayen yang mendengar 'hanya pelukan saja,tidak lebih' apakah jika tidak dipinggir jalan mereka akan melakukan hal lebih.


"Hanya kamu bilang! ingat kamu itu calon istri aku, hanya aku yang boleh sentuh kamu tidak dengan pria lain!" Brayen bertambah emosi dan kesal jika dipancing seperti ini, wkwkwk.


"Mas Cemburu." Zaa menatap Brayen yang memalingkan wajah dengan wajah polos yang menggemaskan.


"Tanpa kamu tanya, seharusnya kamu tau, tidak ada yang boleh menyentuh mu kecuali aku. __Brayen menatap Zaa dengan tangan menggenggam erat tangan Zaa. __Aku sangat mencintaimu, pasti aku akan cemburu jika wanitaku didekati pria lain." Ucap Brayen dengan sungguh-sungguh.


"Uhhhh Mas so sweet banget sih, adek meleleh bang." Malah di balas candaan. Zaa tersenyum lebar.


"Hem, puas udah ngerjain aku, seneng kamu lihat aku marah-marah karena cemburu." Brayen memalingkan wajahnya karena malu diledek oleh Zaa.


"Suka, bahagia banget malah karena begitu Mas berarti sayang dan cinta sama aku." Ucap Zaa sambil tersenyum manis.


"Hem, kamu benar aku sudah jatuh sejauh-jauhnya oleh cintamu." Brayen merangkul pundak Zaa untuk ia sandarkan ke dekapan nya.


..........................


Sore hari dikediaman nenek para penghuni sedikit sibuk dengan barang apa saja yang mereka akan bawa didalam pesawat, karena untuk pertama kali mereka semua akan dibawa terbang oleh benda berbentuk burung besi itu.


"Ibu, nenek, Kalian kenapa banyak sekali membawa barang, apa kalian akan pindahan?" Tanya Rian heran melihat ibu dan nenek nya sibuk d Ngan banyak barang bawaan.


"Kamu tidak tahu Rian di dalam pesawat ada bantal atau selimut tidak, jadi nenek akan membawanya untuk nenek tidur." Ucap nenek sambil menata bantal dan selimut didekat koper.


"Ya ampun, meskipun Rian tidak pernah naik pesawat tapi Rian tidak kelihatan kampungan kek nenek tau."


"Dasar cucu durhaka, __nenek menjewer telinga Rian, __kamu mengatai nenek kampungan iya, hah!"


"Aww aduh nek sakit, lepas nek awwss, __Rian mengusap telinganya yang terasa panas dan kebas, __nenek KDRT ini namanya." Rian menggerutu sambil mengusap telinganya.


"Ibu kenapa malah tertawa bukanya belain Rian?" Rian mengadu kepada ibu nya yang juga sibuk dengan barang bawaan nya.


"Itu akibatnya jika kamu meledek nenek mu." Bu Ratna masih saja tertawa.


"Kalian ini kalo suruh menindas anak tampan seperti ku ini senang sekali." Rian mendengus dan pergi keluar dari kamar nenek nya.


"Ibu, nenek kalian sedang apa?"


Zaa yang baru tiba dari membeli martabak dengan Brayen, heran melihat banyak koper dan barang lain nya seperti bantal dan selimut ada diruang tengah.


"Nak, kamu dari mana?" Ibu bertanya.


"Aku sama mas Ray habis beli martabak Bu." Jawab Zaa yang duduk dikursi sebelah Brayen duduk.


Melihat Zaa yang duduk disebelahnya membuat Brayen tidak menyia-nyiakan kesempatan berdekatan dengan Zaa.


"Tumben kamu ingin makan martabak?" giliran nenek yang bertanya.


"Bukan Zaa yang pengen nek, tapi Mas Ray." Jawab Zaa seraya membuka satu kotak martabak rasa coklat kacang.

__ADS_1


"Suapi sayang," Pinta Brayen manja.


Zaa yang tahu jika Brayen yang mengalami ngidam hanya menurutinya saja.


Ibu dan nenek saling pandang, apakah yang mengalami ngidam Brayen, karena memang selama hamil Zaa belum pernah ngidam atau menginginkan sesuatu secara berlebihan.


"Apa nak Ray yang ngidam?" Tanya ibu penasaran.


"Emm, sepertinya begitu Bu."


Dan Brayen pun menceritakan ketika dirinya mengalami Morning Sickness dan Sindrom Couvade.


Muntah dan mual setiap hari, hingga makan rujak asam yang tidak dirinya sukai, dan ketika menginginkan makanan yang dijual tenda pinggir jalan dipagi hari. Hingga Sam lah yang jadi korban.


"Hahaha jika seperti itu, maka kamu bisa hamil setiap tahun nak, biarkan suamimu yang mengalami ngidam nya." Ucapan nenek membuat Zaa melongo dan membuat Brayen menelan martabak yang ada di mulutnya dengan susah payah.


"Nenek, memang nya Zaa mesin bisa tiap tahun nyetak anak." Zaa sebal mendengar ucapan neneknya.


"Sayang, saran nenek boleh juga." Brayen berbisik ditelinga Zaa.


"Iss dasar mesum." Zaa mendengus mendengar bisikan Brayen.


Brayen hanya tersenyum mendengar nenek berceloteh kesana kemari, membuat dirinya nyaman berada ditengah-tengah keluarga calon istrinya.


"Nenek itu kenapa ada bantal dan selimut? Dan ibu juga itu bawa apa?" Tanya Zaa yang sedari tadi ingin membahas barang bawaan tapi malah merembet kemana-mana.


"Nenek bawa bantal selimut buat nenek tidur di pesawat." Jelas sang nenek.


"Ibu hanya membawa pakaian saja." Jelas Bu Ratna.


Zaa yang mendengar hanya bisa tepuk jidat dan menggeleng. Ternya begini jika punya orang tua yang tidak pernah naik pesawat. Benar kata Rian, mereka terlihat kampungan.


"Nenek dan Ibu tidak usah bawa barang banyak-banyak, cukup bawa keperluan yang penting saja. Sam sudah mengatur semua untuk keluarga


, Dan nenek tidak usah bawa bantal atau selimut karena di dalam pesawat sudah ada kamar untuk beristirahat." Brayen menjelaskan dengan gamblang karena kasihan juga melihat Ibu dan nenek yang membawa barang banyak. Padahal di kota Sam sudah menyiapkan semuanya.


"Kamar, di pesawat ada kamarnya?" Tanya nenek tidak percaya.


"Iya nek, nenek tidak akan duduk terlalu lama nantinya." Ucap Brayen lagi.


"Wah, __nenek membulatkan matanya, __Ratna sebenarnya sekaya apa calon menantumu itu." Nenek dengan wajah penasaran.


"Aku juga tidak tahu Bu?" Bu Ratna berkata dengan lirih.


"Yasudah nenek mau istirahat dulu, besok kan berangkat pagi."


Nenek dan Bu Ratna pergi masuk ke kamar, sedangkan Brayen dan Zaa masih duduk dikursi berdua.


"Sayang, aku udah gak sabar nunggu hari kita menikah." Ucap Brayen seraya memasukan potongan martabak dengan garpu.


"Sebentar lagi Mas?" Jawab Zaa.


"Menurutku lama sayang, coba kalau kamu di Kota gak perlu nunggu Minggu depan, udah aku halalin sayang."


"Hemm, itu mah mau nya kamu Mas." Zaa mendelik.


"Hahaha, emang kamu gak mau cepet di halalin?"


"Kalau aja aku belum hamil, mungkin aku masih ingin bekerja dan bahagia-in ibu Mas." Jawab Zaa dengan wajah sendu.


Zaa menyardarkan kepalanya didada bidang Brayen, terasa hangat dan menenangkan. "Terima kasih Mas sudah mau bertanggung jawab dan menerima keluargaku." Zaa berucap dengan suara lirih, matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku yang berterima kasih sayang, karena kamu mau memaafkan ku dan memberi aku kesempatan buat mencintai dan menyayangi mu hingga akhir hayat."


Brayen memeluk dan mengelus kepala Zaa dengan sayang, dirinya juga memberikan kecupan beberapa kali dipucuk kepala Zaa.


..................


"Kau sudah sampai Sam, bagaimana semua sudah beres?"


Brayen sudah kembali ke hotel setelah Sam menghubunginya jika dirinya sudah sampai di hotel tempat Brayen menginap.


"Sudah semua tuan." Jawab Sam.


"Bagus, gaji mu bulan depan aku naikan."


"Terimakasih tuan." Sam senang jika kerja kerasnya membuat Brayen puas, dan berakhir dirinya akan mendapatkan uang tambahan.


"Apakah papa tahu rencana kita."


Sam membeku ketika Brayen bertanya tentang hal itu. 'Mampus aku'.


"Sam kenapa diam, apa papa tau rencana kita." Brayen kembali bertanya ketika melihat Sam hanya diam, dan menundukkan wajah.


"Emm, i-itu tu.." Sam gugup untuk menjawab.


"Sudahlah melihat reaksi wajahmu, sudah menjawab pertanyaan ku. Gajimu tidak jadi naik aku potong lima puluh persen." Ucap Brayen final.


Glek.


Lemas sudah tubuh Sam, Apes bukanya naik tapi malah dipotong. Nasih jika memiliki bos yang galak dan menang sendiri.


"Sekarang pergilah." Brayen mengusir Sam.


"B-baik tuan." Sam berjalan dengan gontai keluar dari kamar Brayen. "Nasib kenapa ke keberuntungan tidak berpihak padaku. Gagal dah dapet uang tambahan." Sam mendengus sebal.


...........................


"Emm yes, faster baby.." Suara seorang wanita menggema di sebuah kamar hotel.


"Ahh.. kau sangat liar baby." Seorang pria men*de*sah nikmat.


"Emm shh..Aku sudah tidak tahan."


"Bersama baby.."


Keduanya meleguh bersama ketika mendapat pelepasan untuk yang kesekian kali.


"Kau memang hebat baby." Ucap si pria yang masih dalam keadaan polos, begitu juga dengan si wanita.


Mereka menghabiskan malam panjang dengan bercinta entah sudah berapa ronde yang mereka lakukan.


"Kau juga membuatku puas Bram."

__ADS_1


"Hem, terima kasih Monika sayang." Bram mengecup bibir Monika sekilas. Mereka tertidur karena kelelahan.


................


Pagi hari Brayen sudah bersiap dengan pakaian Cansual namun tetap rapi tidak lupa sebuah kaca mata hitam bertengger diwajah tampannya. Membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat, bahkan para wanita yang berada di Lobby hotel dibuat terpesona oleh seorang Brayen Abraham.


Mereka memandang Brayen dengan pandangan mendamba, sedangkan sang objek hanya berjalan lurus tanpa menghiraukan tatapan memuja dari kaum hawa.


Bagi Brayen hanya Zaa lah yang harus dia tatap, tidak dengan para wanita diluaran sana.


Brayen dan Sam menuju desa untuk menjemput Zaa dan keluarganya.


Brayen merogoh ponselnya disaku celana, mengirim pesan kepada Zaa.


"Sayang aku sudah dijalan, jangan lupa bersiap karena kita akan langsung berangkat😘." Isi pesan Brayen yang dikirim untuk Zaa.


Ting..


"Oke, sudah siap semua mas, Mas hati-hati🥰." Balasan dari Zaa membuat Brayen senyum sendiri.


"Dasar awas saja jika sudah halal, jangan harap bisa keluar kamar." Batin Brayen dalam hati.


Cukup memakan waktu dijalan akhirnya Brayen sampai didepan rumah nenek.


Semua keluarga surah menunggu Brayen diruang tengah.


"Assalamualaikum.." Salam Brayen.


"Waalaikumsalam.." Jawab mereka serempak.


"Mas sudah sampai." Zaa berdiri menghampiri Brayen menyuruhnya masuk.


"Sudah sayang."


Brayen masuk dan menyalami Ibu dan juga Nenek.


"Sudah siap semua, kita berangkat sekarang." Tanya Brayen.


"Sudah nak." Jawab ibu dan nenek bersamaan.


"Baiklah kita berangkat ya Nek, Bu,, Rian."


"Siap bang!" Jawab Rian antusias.


Mereka keluar bersama menuju mobil yang terparkir didepan ada Sam yang berdiri diluar.


"Selamat pagi nona, nenek, Ibu." Sam memberi salam.


"Loh Mas mobilnya ganti?" Tanya Zaa.


"Sengaja sayang, biar semua bisa naik dan nyaman, makanya aku bawa mobil yang sedikit besar." Ucap Brayen.


"Abang punya banyak mobil, lain kali ajarin Rian nyetir ya bang." Rian berkata setelah selesai membantu Sam menaruh koper di bagasi mobil.


"Rian, gak sopan tau." Tegur Zaa.


Brayen hanya tersenyum, "Boleh nanti Sam yang akan mengajarimu."


Dan mereka semua masuk kedalam mobil, Sam yang mengemudi dengan Brayen dikursi samping, Zaa dan nenek berada ditengah, Rian dan ibu duduk dibagian belakang.


Setelah menempuh perjalan kurang lebih hampir dua jam, akhirnya mereka sampai di Bandara.


Mereka Bingung ketika Mobil yang mereka naiki berhenti didekat pesawat yang sedang parkir hanya sendiri. Padahal yang mereka tahu jika di bandara akan banyak pesawat.


"Bang kenapa pesawatnya cuma satu, terus kenapa sepi tidak ada penumpang?" Tanya Rian yang tidak bisa mencegah rasa keponya. Setahunya bandara banyak penumpang dan pesawat yang parkir, tapi disini sepi dan hanya ada beberapa orang berpakaian hitam dan semua berdiri di pintu masuk kereta.


"Karena pesawatnya hanya akan membawa kita saja, tidak ada penumpang lain nya." Jelas Brayen.


Belum selesai dengan rasa terkejut dan heran, mereka sudah dibuat membelalakkan matanya ketika sampai didalam pesawat.


"Masyaallah, Ratna... ini pesawat apa hotel?" Nenek tergagum-kagum melihat yang ada didalam pesawat, bukan nenek saja melainkan Ibu dan juga Rian.


"Abang sultan bukan kaleng-kaleng." Rian berdecak kagum, dengan apa yang dilihatnya dirinya berjalan memegang interior pesawat dengan takjub.


Bu Ratna sama kagum nya, tapi beliau hanya menatap takjub tanpa berkomentar.


"Mas ini pesawat pribadi mas?" Tanya Zaa yang juga masih mengamati interior didalam pesawat itu.


"Ya, apa kamu suka sayang." Brayen merangkul pundak Zaa agar berdiri sejajar.


"Suka mas, terima kasih." Zaa memeluk pinggang Brayen.


"Hem, asal kamu dan keluarga bahagia Mas akan lekukan semampu Mas." Brayen mengelus rambut panjang Zaa.


Sam Mendapat bagian untuk menunjukan tempat istirahat bagi Nenek dan juga Bu Ratna. Sedangkan Rian masih saja takjub dengan apa yang dirinya lihat, bahkan Rian sempat mengabadikan dirinya foto didalam pesawat super mewah itu.


"Sayang ini kamar kita, jika kamu lelah kamu bisa istirahat disini." Brayen menunjukan kamar pribadinya yang berada didalam pesawat.


"Ini kamar Mas?" Tanya Zaa dengan berjalan mendekati jendela pesawat yang menampakan awan putih. Dirinya merasa senang menikmati perjalanan yang baru pertama naik pesawat.


"Ya, kita akan istirahat dulu, kasian baby pasti capek lumayan tiga jam perjalanan buat istirahat."


Brayen memeluk tubuh Zaa dari belakang, aroma manis yang Brayen rindukan ketika menghirup leher Zaa dalam-dalam.


Brayen menyusuri leher jenjang Zaa dengan hidung, rambut Zaa ia sibakkan kesamping agar tidak menghalanginya.


"Mas..?" Kulit Zaa meremang ketika mendapat sentuhan diarea lehernya.


"Hm," Brayen hanya bergumam karena dirinya fokus dengan kegiatan yang membuatnya candu.


Brayen menyusuri pipi Zaa dari samping dengan menggunakan hidung mancungnya. Zaa hanya menutup mata ketika mendapat perlakuan Brayen.


"Aku merindukanmu sayang." Suara Brayen sudah terdengar serak dan berat. Tapi dirinya tidak bisa berbuat lebih. Dirinya sudah berjanji tidak akan menyentuh Zaa kembali jika Zaa bum sah menjadi miliknya.


Brayen membalikkan tubuh Zaa, kini mereka berdua berhadapan entah siapa dulu yang memulai kini bibir mereka sudah bertemu. Me*lu*mat, menyesap, bahkan gigi gigitan kecil Brayen lakukan. Mereka menikmati benda kenyal yang sedang membuat diri mereka terbakar gairah. Rasa rindu yang menumpuk mereka curahkan memalui ciuman.


.


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2