
Mendengar pengakuan Brayen membuat Zaa membeku, hatinya terasa sakit dan ngilu, apa kah Brayen juga akan bertanggung jawab dengan kehamilan Monika? apakah Brayen akan menjadikannya madu? atau bahkan dirinya sudah menjadi perusak hubungan orang? tidak dirinya tidak mau menjadi pelakor atau perusak rumah tangga orang.
Zaa langsung menjauh dari dekapan Brayen, dirinya duduk bergeser memberi jarak dari Brayen, sampai membuat pria itu bingung dengan sikap nya.
"Sayang kau kenapa?" Brayen meraih tangan Zaa kembali agar dirinya kembali kepelukanya, tapi Zaa menolak dan membuang muka kerah jendela mobil.
Mobil berhenti diparkiran hotel tempat Brayen menginap, karena hari masih siang Brayen ingin menghabiskan waktu seharian bersama ibu dari calon anaknya.
"Sayang ayo turun?" Brayen mengulurkan tangan nya kepada Zaa, tapi wanita itu tidak bergeming. Pikirannya kacau, memikirkan apakah dirinya akan menjadi kedua setelah dirinya menerima Brayen. Dan apakah Brayen akan berlaku adil padanya. Memikirkan kemungkinan yang mungkin akan terjadi membuat Zaa merasa sesak dan sakit dihatinya, tanpa terasa matanya sudah meneteskan air mata.
"Hey, sayang!" Brayen sedikit mengeraskan suaranya karena sejak tadi dirinya tidak mendapat respon dan melihat Zaa masih diam melamun.
Zaa tersentak dan reflek menoleh. Brayen yang melihat air mata Zaa segera kembali masuk mobil dan menangkup kedua pipi Zaa.
"Sayang kamu kenapa?" Brayen panik apakah dirinya menyakiti Zaa sampai membuat nya menangis. "Sayang lihat aku,__Katakan kenapa kamu menangis hm?" Brayen mengusap air mata Zaa dengan kedua ibu jarinya. Bahkan sekarang Zaa sudah terisak. Katakanlah sekarang dirinya menjadi cengeng, Zaa sendiri bingung dengan keadaan nya yang gampang menangis dan sedih.
"Kita masuk kedalam ya, nanti kita ngobrol." Brayen segera menggendong Zaa karena melihat Zaa hanya diam dan menangis membuat dirinya tidak bisa memaksa untuk bicara. Mungkin karena faktor kehamilannya membuat ibu muda itu perasaan nya sangat sensitif dan labil.
Zaa mangalungkan kedua tangannya dileher Brayen wajahnya bersandar di dada bidang yang dibalut kemeja, sehingga membuat aroma wangi maskulin tubuh Brayen merasuk keindra penciumannya, menenangkan membuat dirinya tak sadar terlelap didalam gendongan Brayen.
Brayen yang sadar gadisnya telah tidur hanya tersenyum tipis. Dirinya segera mempercepat jalan nya ketika pintu lift sudah terbuka dan sampai pada lantai kamarnya berada.
Setelah membuka pintu dan masuk, Brayen segera merebahkan tubuh Zaa diatas tempat tidur, menarik selimut dan menatap wajah cantik dan polos wanita yang sangat dicintainya. Brayen sedikit membukukan badannya dikecup nya kening Zaa dengan lembut dan turun kebibir ranum Zaa yang sedikit menggoda dirinya untuk mencicipinya. Brayen yang awalnya hanya ingin mengecup malah dirinya tergoda sehingga membuat sedikit luma*tan dan sesapan. Zaa sedikit melenguh karena tidurnya terganggu tapi tak membuat dirinya membuka mata. Brayen yang sadar segera melepaskan diri, 'Sial' dan Dirinya merutuki tindakan nya karena tidak bisa menahan hasrat ketika melihat pemandangan yang membuatnya nap*su.
Dirinya segera berlalu berjalan menuju kamar mandi ingin mendinginkan pikiran nya dan adik kecilnya yang sudah turn on saja.
Butuh waktu 30menit untuk Brayen berada didalam kamar mandi. Dirinya keluar hanya menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada. Tangan nya memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya, setelah itu dirinya menyusul ke atas tempat tidur dan berbaring disamping Zaa, mengecup pipi Zaa dan ikut tenggelam kealam mimpi.
............................
Zaa meleguh dan mengeliat dirinya serasa sesak merasakan beban berat berada diatas tubuhnya. Mengerjapkan matanya, dirinya melihat ada sebuah tangan kekar memeluk dirinya dengan erat.
Dirinya melihat kesamping wajahnya tepat berada didepan wajah Brayen yang masih terlelap. Menatap wajah tampan yang membuat dirinya sudah jatuh cinta dan sekarang dirinya sedang mengandung darah dagingnya.
Jari telunjuk Zaa menyusuri wajah Brayen dengan pelan hingga sampai dibibir tebal dan sedikit merah itu jarinya berhenti dan mengusap pelan, ada sebuah gelayar aneh dalam hatinya ketika jarinya menyentuh bibir tebal dan cukup sexy itu. Pikiran Zaa melayang kemana-mana dirinya mengingat terakhir bibir itu menyentuh bibirnya.
"Menikmati huh." Suara berat nan serak khas bangun tidur membuat Zaa gelagapan dirinya tertangkap basah telah memikirkan hal yang mesum. Wajah Zaa merona ketika matanya bertubrukan dengan mata Brayen yang sudah terbuka.
"Kau merindukan ciumanku hm?" Brayen berucap seraya membelai wajah cantik Zaa dengan punggung tangannya. Perlahan wajahnya mendekat untuk bisa menggapai bibir mungil ranum itu untuk ia nikmati. Kini bibir keduanya telah bertemu suara kecapan dan leg*uhan kecil terdengar. Brayen menahan tengkuk Zaa untuk memperdalam ciumannya.
Lum*tan dan sesapan membuat keduanya terlena kepada hasrat yang membara.
Brayen melepas tautan bibirnya setelah merasakan Zaa sudah kehabisan napas dan tersengal-sengal dirinya menyatukan kening mereka.
"Jangan memancing diriku, jika kamu tidak ingin berakhir dengan percintaan." Brayen mengusap bibir Zaa yang masih tersisa salivanya dengan ibu jari.
"Katakan apa yang membuat bersedih hm."
Dirinya menarik tubuh Zaa kedalam dekapan nya menyadarkan kepala gadis itu didada bidang nya yang terbuka.
Zaa hanya bisa memejamkan mata dan menghirup dalam aroma segar yang menguar dari tubuh Brayen. Aroma yang menenangkan dan membuat dirinya nyaman dan betah lama-lama dalam dekapan seorang Brayen.
"Kenapa diam?" Brayen mengusap lengan Zaa dan sesekali mengecup kepala Zaa.
Zaa takut untuk berucap, dirinya takut jika kenyataan itu benar dan hanya akan membuat dirinya sakit. Tapi jika tidak ditanyakan maka dirinya akan mati penasaran.
"A-apakah Monika hamil anak Mas Ray?" Zaa bertanya seraya mengeratkan pelukannya ketubuh Brayen. Dirinya akan mencoba menerima dan siap jika hal itu benar terjadi.
Mendegar pertanyaan Zaa membuat Brayen tersenyum tipis, apa kerena itu gadisnya sampai menangis. oh sungguh Brayen senang akan hal itu.
"Mengapa kau bertanya begitu?" Brayen sengaja ingin membuat Zaa bertambah berpikir hal yang mustahil.
Zaa mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah Brayen. "Jika memang Monika hamil anak Mas, insyaallah aku rela Mas bersamanya." Zaa menahan sesak didadanya ketika mengatakan hal yang cukup membuatnya sangat terluka, ia mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
"Sungguh itu yang kamu mau hm." Brayen menatap Zaa dengan alis terangkat, ingin memastikan ucapan gadisnya.
"Aku tidak mau merenggut kebahagian orang lain Mas." Zaa berkata dengan lirih wajahnya ia sembunyikan didada bidang Brayen.
"Lalu bagaiman dengan dirimu dan Dia..?" Brayen mengelus perut Zaa.
"Aku akan merawat dan membesarkan dia sendiri, mas bisa kapan saja menemuinya, Tapi jangan pisahkan aku darinya." Ucapan Zaa terdengar serak karena menahan sesak dan tangis yang sudah merebak kewajahnya.
"Kamu itu bicara apa, bukan nya kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi, __Lalu, barusan kamu bicara apa?" Brayen masih saja menjahili Zaa, dirinya sudah tahu apa yang dipikirkan kekasihnya tantang Monika yang hamil. Melihat wajah cantik Zaa yang sedang diliputi kegundahan malah membuat Brayen senang untuk menjahili.
__ADS_1
"Tapi aku tidak mungkin datang dengan menjadi yang kedua."
Rasanya Brayen ingin sekali tertawa keras, tapi dirinya hanya bisa mengulum senyum agar tidak membuat gadisnya marah.
"Apa kau ingin melepasku demi orang lain?" Brayen menatap intens wajah Zaa. Sedangkan Zaa hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Melihat tingkah Zaa Brayen sudah tak tahan menahan tawanya, Hinga suara Brayen menggema didalam kamar hotel itu.
"Kenapa malah tertawa." Zaa mencebikka n bibirnya kesal karena ditertawakan.
"Hahahha __Kau itu sungguh menggemaskan sayang,__Brayen masih terkekeh pelan dan menarik Zaa masuk kedalam pelukan nya lagi. __Dengar tidak akan ada jadi yang kedua dan merusak hubungan orang. Kamu adalah satu-satunya bagiku sekarang, nanti Dan selamanya." Brayen kembali mengecup kepala Zaa.
"Kamu ingin mendengar sesuatu?" Brayen bertanya seraya tersenyum menatap wajah Zaa yang masih terlihat kesal dan Binggung.
"Dengarkan."
#Flasback#
Brakk..
"M-maaf tuan wanita ini memaksa masuk." Sendy merasa kesal karena Monika tidak kapok sudah pernah diusir oleh bosnya langsung, dan sekarang wanita itu datang lagi setelah satu bulan lebih.
"Hm..keluarlah."
"Permisi tuan." Sendy pergi setelah memberi hormat.
Brayen duduk dengan menyandarkan tubuh lelahnya karena belakangan ini dirinya kurang istirahat dan tidak merawat dirinya sendiri. Semua karena kepergian Zaa yang menghilang dari pandanganya dan sampai sekarang Sam dan anak buahnya belum menemukan keberadaan kekasih hatinya.
Begitu melihat Brayen hanya diam, Monika langsung berdiri disamping kursi Brayen dan menaruh sebuah kertas berlogo rumah sakit di atas meja Brayen.
"Aku membawakan sesuatu untukmu." Wajah Monika nampak berseri dan bahagia karena dirinya yakin jika Brayen akan menjadi miliknya kali ini.
"Apalagi yang kau perbuat untuk mendapatkan ku." Suara datar dan terkesan dingin, Brayen sama sekali tidak tertarik dengan ucapan Monika.
"Bukalah, nanti kau akan tau sayang." Monika bersuara manja, dirinya tidak memperdulikan suara Brayen yang terkesan datar dan dingin.
Brayen segera membuka kertas didepan nya, keningnya berkerut mata nya memincing setelah tahu isi dari kertas berlogo rumah sakit itu.
"Kau hamil?"
"Yaa, dan ini adalah anakmu." Monika nampak sangat bahagia dan antusias menyebut bayi itu adalah anak Brayen.
Ucapan Brayen sontak langsung membuat Monika terkejut dan bahagia, ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan untuk menyakinkan Brayen. Bahkan ini terlalu mudah.
"Benarkah sayang, kamu ingin menikahiku?" Monika memekik girang bukan kepalang tangan reflek memeluk lengan Brayen.
"Lepaskan." Brayen menyentak tangan Monika agar dilepaskan.
"Baiklah, kalau begitu kapan kita akan menikah?" Tanya Monika tidak tahu malu.
"Secepatnya, __Dan sekarang mari ikut denganku." Brayen berjalan lebih dulu keluar dari ruangan diikuti Monika dibelakangnya. Meskipun bingung akan kemana Monika tetap mengikuti Brayen.
Setelah 20menit berkendara mobil yang dikendarai Brayen sampai dirumah sakit. Brayen segera turun diikuti oleh Monika.
"Kenapa kerumah sakit sayang?" Monika bertanya dengan nada cemas dan takut.
"Karena aku ingin memastikan bayiku sehat dan baik-baik saja."
Ucapan Brayen bukan membuat Monika senang melainkan malah membuatnya ketakutan.
"Kenapa hm, apa ada yang kau sembunyikan." Tanya Brayen penuh selidik.
"T-tidak sayang, tentu saja tidak." Monika terbata dan gugup, apakah rencananya akan terbongkar sebelum mendapatkan hasil.
"Bagus. Karena aku tidak suka dibohongi, maka jika itu terjadi kamu akan tau akibatnya."
Glek
Monika tersenyum dipaksakan, tubuhnya seketika lemas, melihat tatapan tajam Brayen seolah ingin menelanjanginya bulat-bulat.
Setelah menunggu antrian 15menit nama Monika dipanggil, dan mereka berdua kini duduk didepan dokter yang memeriksa Monika.
"Jadi berapa usia kandungan nya dok." Brayen tidak sabar ingin cepat-cepat pergi, dirinya sudah tahu jika bayi yang dikandung Monika bukan lah anaknya, karena dirinya ingat mengeluarkan diluar ketika mereka bercinta.
Sedangkan Monika hanya diam dengan wajah tegang dan berkeringat dingin. Karena dirinya yakin jika sebentar lagi rencananya akan terbongkar.
__ADS_1
Dokter itu tersenyum, "Kehamilan istri anda sudah memasuk usia 10minggu tuan." Jelas dokter yang memeriksa Monika.
Brayen yang mendengar ucapan dokter hanya tersenyum sinis, segera keluar dari ruangan setelah berpamitan pada dokter itu.
Monika diam dengan wajah pucat dan bibir terkatup rapat. Tamatlah riwayatnya kali ini.
"Kau masih ingin meminta pertanggung jawabanku, wanita Ja*ang."
Suara tegas Brayen mampu membuat tubuh Monika menegang dan bergetar.
"Cara murahan mu tidak dapat menjebakku, dasar wanita murahan!" Suara Brayen terdengar seperti sembilu dihati Monika, Brayen dulu tidak pernah sekasar ini jika berbicara dengan nya.
"Tapi Ray, ini memang anak kamu, darah daging mu." Monika masih saja kekeh dengan ucapan nya, meskipun rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya melihat tatapan tajam Brayen.
"Huh, kamu kira aku akan percaya, __Asal kamu tau, wanita yang berhak mengandung anakku hanyalah Zaa seorang. Karena dialah yang pantas menjadi ibu dari anak-anakku nanti." Ucapan Brayen menohok hati Monika, apakah dirinya tidak pantas lagi untuk Brayen.
"Jadi cari saja pria yang sudah kau tiduri untuk menjadi anak mu itu!"
"Ray aku mohon percaya padaku." Monika sudah menangis terisak, dirinya tidak ingin memiliki anak jika bukan dengan Brayen, maka dirinya menggunakan kehamilannya untuk menjebak Brayen Abraham.
"Mimpi saja kau wanita si*alan!"
Setelah mengatakan itu Brayen pergi meninggalkan Monika di lorong rumah sakit yang masih menangis terisak dan berulang kali berteriak memanggil namanya.
"Ray, percaya padaku Ray..!" Monika menangis dengan keras tubuhnya merosot kebawah dengan lemas. "Tidak akan yang ada memilikimu, jika buka aku maka wanita jal*ng itu juga tidak bisa memilikimu." Sorot mata Monika menajam. seiring tubuh tegap Brayen menghilang dari pandangan nya.
"Jadi Monika hamil dengan siapa?"
Setelah mendengarkan cerita Brayen membuat hati Zaa meras lega dan bahagia, ternyata selama ini pikiran negatif tentang Brayen tidak terbukti.
Dirinya sempat menyesal pernah pergi dari Brayen, tapi jika tidak begitu dirinya tidak tahu seberapa besar dan dalam cinta Brayen untuk nya.
"Entahlah, mungkin dengan Bos Cafe mu, atau bisa jadi para bandit tua, yang banyak uang nya." Jawab Ray asal, tapi memang benar jika Monika sering berganti teman ranjang.
Zaa membulatkan matanya ketika Brayen menyebut bos Cafe tempatnya bekerja dulu.
"Tidak mungkin bos Doni melakukan itu." Ucapan Zaa membuat Brayen mengernyit heran, gadisnya membela bos nya yang mesum itu.
"Kau membela pria mesum itu." Suara Brayen terdengar kesal dan marah.
"B-bukan begitu, hanya saja.." Zaa tidak melanjutkan ucapanya ketika melihat Brayen yang sudah beranjak ingin berdiri.
"Kau mau kemana Mas?"
Zaa segera meraih lengan Brayen yang hendak pergi.
"Untuk apa aku mendengarkan ocehan mu ,membela pria lain." Brayen bersungut kesal dan merajuk.
Melihat itu membuat Zaa mengulum senyum ternyata pria dingin dan arogan itu bisa merajuk juga.
"Mas marah?" Tanya Zaa menatap Brayen dengan wajah polosnya.
Brayen yang melihat tatapan wajah polos Zaa hanya bisa menghela napas, dirinya tidak bisa marah dan kesal jika diberikan wajah yang menggemaskan itu.
Brayen mendekat dan langsung mengecup bibir Zaa sekilas. __Jangan pernah membela atau memuji pria lain didepanku, karena aku sangat tidak suka." Brayen kembali mengecup bibir Zaa lagi bahkan memberi sedikit Lima*tan dan sesapan.
"Emm, sudah kamu hanya modus Mas."
Zaa memukul dada Brayen dengan tangan nya, Brayen hanya tertawa melihat wajah Zaa yang merona.
"Hm, tapi suka kan?" Brayen kembali menggoda Zaa.
"Ngak!" Zaa segera bangun dan berlari menuju kamar mandi.
"Sayang mau lagi tidak!" Brayen berseru setelah pintu kamar mandi tertutup oleh Zaa. Dirinya masih saja tergelak diatas tempat tidur melihat ulah gadisnya.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG