
Disudut kamar bernuansa abu-abu, lampu kamar yang remang-remang seorang pria duduk dengan menatap kosong jendela kamar yang gelap hanya disinari cahaya rembulan dimalam hari.
Hari sudah larut tapi Brayen tidak bisa memejamkan matanya meskipun hati dan pikiran nya lelah tidak membuat matanya ingin terpejam, ingatan nya memikirkan dimana gadis yang sudah membawa separuh hidup nya pergi, sudah hampir 2bulan Sam dan anak buahnya belum menemukan dimana gadis itu tinggal.
Brayen yang prustasi selama hampir 2 bulan ia hanya menghabiskan waktu siang nya dikantor, tenggelam dalam pekerjaan hingga tengah malam ia baru akan pulang keapartemen, tidak memikirkan dirinya sendiri bahkan wajahnya sudah ditumbuhi bulu-bulu jambang, badan nya pun kian bertambah kurus.
Waktu sudah menunjukan pukul 2 dini hari tapi matanya enggan untuk dipejamkan ia hanya memandangi foto seorang gadis dilayar ponselnya, gadis yang sudah memporak porandakan kehidupan nya, tapi sekarang gadis itu memilih pergi begitu saja darinya.
Brayen merasakan perutnya bergejolak ia langsung bangkit dan berlari menuju kamar mandi.
Huek..huek.. berkali kali ia memuntahkan isi perutnya tapi hanya cairan bening yang keluar dari perutnya, kepalanya terasa berat, tubuhnya lemas. Brayen keluar setelah membasuh wajah nya, perlahan dengan tangan meraba mencari pegangan, karena merasa tubuhnya lemas tidak kuat jika harus berjalan. Brayen menjatuhkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar dengan hati yang terasa ngilu merasakan kerinduan pada gadisnya yang kian membuatnya merasakan sesak.
"Sayang aku merindukanmu, sangat." tanpa terasa cairan bening membasahi pipinya. Brayen sangat mencintai dan merindukan Zaa, ia tidak bisa jika harus menunggu lebih lama lagi untuk menemukan gadis nya. karena lelah dan merasakan tubuhnya yang tidak enak akhirnya Brayen bisa terlelap menjelang pagi.
...................
Disebuah desa kecil di pinggiran kota S. seorang gadis nampak mengembangkan senyumnya ketika melihat pemandangan sawah yang terbentang luas dan hijau, Zaa menikmati dan menghirup udara pagi dengan perasaan damai. setelah 2minggu yang lalu kalau dirinya mengetahui sedang ada malaikat kecil yang tumbuh di rahimnya ia tidak menyalahkan keadaan nya karena Zaa sudah memikirkan konsekuensi untuk masa depan nya.
Kandungan nya sudah menginjak 6minggu terhitung dari dirinya berhubungan dengan Brayen. Zaa sama sekali tidak merasa mula dan muntah dirinya beraktivitas seperti biasa membantu nenek nya berkebun dan zaa disana juga membuka orderan kue.
Mengelus perutnya yang masih rata Zaa merasakan kerinduan dengan Brayen meskipun dirinya membenci tapi hatinya masih menyimpan nama sang ayah calon bayi mereka.
"Zaa sudah lama kamu berdiri disitu, ayoo kita sarapan bersama, nenek sudah menunggu." seorang pria yang umurnya tidak jauh dari Zaa, memanggilnya untuk makan bersama.
__ADS_1
"Iya Iki, ayo..?" ucap Zaa sambil melangkah menuju kesebuah gazebo di pinggir rumah nenek.
Rizki atau biasa dipanggil Iki pemuda yang rumahnya tidak jauh dari rumah nenek Zaa, Iki selalu menemani nenek setiap hari dan membantu nenek berkebun memanen sayuran dan buah bisa dibilang Iki pegawai nenek yang dipercaya membantu nenek mengelola perkebunan sayur.
"Sarapan dulu nak." ucap sang nenek ketika Zaa sudah sampai di gazebo.
"Iya nek, maaf tadi Zaa jalan-jalan pagi, tidak sempat bantu bi Imah masak." tutur Zaa sambil mencuci tangan di keran air dekat gazebo.
"Tidak apa, kamu butuh udara segar dipagi hari."
"Iki ayo makan, kamu akan berangkat ke kebun kan?" lanjut nenek bicara kepada Rizki.
"Iya nek." Rizki segera mengambil piring dan makanan untuk dirinya, setelah nenek dan Zaa juga sudah akan menyantap makanan nya.
Mereka makan dengan canda tawa yang mereka lontarkan disela-sela mereka makan, suasana seperti ini yang Zaa inginkan sekarang sebelum dirinya yakin dan memantapkan hati untuk pulang ke kota dengan status baru nya, yaitu menjadi seorang ibu.
..............
Pagi hari matahari sudah menampakan sinarnya jam sudah menunjukan pukul delapan, dibalik selimut seorang pria nampak terganggu tidurnya merasakan sesuatu yang kembali bergejolak didalam perutnya. ia segera berlari menuju kamar mandi. untuk kedua kalinya Brayen kembali memuntahkan isi perutnya yang masih kosong dan hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya, sungguh penyakit yang menyiksa dirinya.
Setelah merasa perutnya lebih baik Brayen berjalan menuju kamar dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Sam.
"Sam, tolong datang keapartemen ku sekarang dan bawakan makanan pecel lele yang berada di bla..bla.." setelah mengatakan panjang lebar, tanpa mendengar jawaban Sam, Brayen sudah menutup sambungan telfonnya.
__ADS_1
"Kenapa aku tiba-tiba ingin makan makanan pinggir jalan yang dulu pernah aku makan dengan Zaa." pikir Brayen merasa aneh karena dirinya sangat menginginkan makanan itu, hanya membayangkan saja membuat air liurnya menetes.
Diseberang sana tepatnya Sam baru saja sampai loby kantor dibuat heran oleh pesanan bosnya. "Mana ada pagi-pagi begini ada tenda yang berjualan dipinggir jalan." Sam dibuat pusing, tapi tak urung ia pergi mencari makanan yang diinginkan bosnya.
Disepanjang jalan Sam matanya awas melihat kanan kiri jalan mencari tenda penjual pecel lele yang diinginkan bosnya. setelah sampai alamat yang dituju disana tidak ada penjual pecel lele, yang ada penjual bubur dan nasi uduk.
Sam merogoh ponsel yang ada disaku, menelfon Brayen.
"apa kamu sudah mendapatkannya Sam!"
Belum sempat Sam bicara Brayen sudah berucap duluan.
"maaf bos tendanya masih tutup, yang ada jualan bubur dan nasi uduk." ucap Sam memberi tahu.
"aku gak mau tahu, kamu harus mendapatkan makanan itu, terserah bagaimana caranya.kalau tidak gajimu aku potong 50%!"
Tut Tut Tut
Setelah mengatakan itu Brayen kembali menutup telfon tanpa mau mendengar jawaban Sam.
"Dasar bos lacnut, kalau bukan karena bos sudah aku tempeleng kepalanya." geram Sam merasa kesal karena ulah bosnya yang minta makanan dijual pada malam hari, sedangkan dirinya harus mencari dipagi hari. sungguh difinisi bos yang tidak berperasaan.
BERSAMBUNG
__ADS_1