
Setelah melakukan kegiatan panas di sore hari, kini Brayen dan Zaa berkunjung dikediaman ibu Ratna.
Nenek Zaa berniat untuk tinggal di desa dan Bu Ratna yang akan menemani. Tetapi karena permintaan dan rayuan Zaa pada akhirnya sang nenek yang menetap di kota, Bu Ratna juga ingin merawat dan ikut membantu mengurus cucu pertamanya yang kini sudah menginjak bulan ke lima.
Di desa semua kebun diserahkan kepada Rizki. Nenek percayakan semua kepada Rizki yang memang juga sudah nenek anggap sebagai cucunya, dikota nenek tinggal menerima hasil nya yang setiap panen akan Rizki transfer.
"Ibu, ibu masak apa?" Zaa yang mencium aroma wangi menggoda dari dapur, segera menghampiri ibunya.
"Ibu memasak sup iga kesukaan mu nak."
"Emmm bau nya harum, Zaa jadi sangat lapar." Ucapnya seraya melihat sayur sup yang sudah mendidih diatas panci.
Bu Ratna hanya tersenyum melihat tingkah putrinya, jika dilihat wajah Zaa sekarang nampak berisi dan tambah berseri lebih cantik. Itu semua berkat uang yang diberikan suaminya. Brayen tidak membatasi apapun yang diinginkan istrinya termasuk merawat tubuhnya. Karena itu juga untuk dirinya.
"Sebentar lagi matang, kamu tunggu dimeja ya." Ibu berucap sambil menyiapkan tempat menaruh sup.
"iya Bu."
Zaa pun segera pergi menemani nenek yang sedang menonton tv.
..................
Didepan teras rumah nampak dua orang pria sedang bicara serius, Brayen sengaja mengajak Rian bicara, Brayen yang mendengar jika adik iparnya mendapatkan beasiswa gratis ke Perguruan Tinggi luar dan dalam negeri, sengaja ingin bertanya langsung.
__ADS_1
"Abang dengar kamu mendapatkan beasiswa keluar negri?" Brayen bertanya setelah menyesap kopi hitam yang dibuatkan istrinya.
"Iya Bang, tapi mungkin Rian akan ambil yang didalam negri saja." Ucap Rian sambil menunduk.
"Kenapa?"
"Jika Rian sekolah disini, Rian masih tetap bisa menjaga ibu dan nenek." Jawabnya seraya menatap Brayen.
"Apa kamu tidak ingin mengambil sekolah diluar?" Tanya Brayen lagi.
"Siapa sih Bang yang tidak ingin sekolah sampai luar negri. Rian pun ingin, tapi tidak mungkin meninggalkan ibu sendiri." Rian berkata dengan lirih matanya menatap jauh kedepan. Sebenarnya dirinya sangat ingin sekolah keluar negeri tapi karena ibu dan juga nenek nya tidak ada yang menjaga jadi dirinya hanya bisa sekolah di kotanya saja. Yang kedua diluar negeri juga butuh biaya banyak, meskipun sekolahnya gratis tapi tidak dengan kehidupan disana.
"Ibu dan nenek bisa tinggal dengan kakakmu, karena Abang sedang mempersiapkan rumah baru untuk keluarga kecil kita, dan juga mereka bisa membantu merawat calon cucu mereka." Brayen berucap serius. __Jika memang kamu ingin Abang akan kirim kamu keluar, kebetulan kampus yang sekolah kamu ajukan adalah kampus Abang dulu."
Rian hanya diam dengan pikiran tak percaya jika Abang iparnya akan bersedia menyekolahkan dirinya.
"Ya, Abang akan serius jika kamu juga belajar dengan serius, karena jika kamu sudah selesai mendapat gelar, maka Abang akan menagih keseriusan kamu." Brayen ingin Rian belajar dengan serius karena dirinya akan menjadikan Rian pemimpin diperusahaan cabang baru nya yang berada di kota S.
"Maksud Abang apa?" Riang tidak mengerti apa maksud Brayen dengan menagih keseriusannya."
"Jika kamu belajar dengan benar dan serius maka Abang akan menjadikanmu pemimpin di salah satu perusahaan Abang, Tapi jika sebalik nya, Abang akan tarik semua fasilitas kamu disana." Brayen berkata dengan tegas, bermaksud agar Rian tidak main-main jika dirinya akan melanjutkan sekolah ke luar negeri.
"Rian janji Abang, Rian janji akan sungguh-sungguh." Rian berkata dengan mata yang sudah berkaca-kaca dirinya mendekati Brayen dan memeluk nya. __Terimakasih Abang mau percaya sama Rian, Rian tidak akan mengecewakan Abang." Rian meneteskan air matanya, beruntung kakaknya mendapatkan suami yang sangat baik seperti Brayen.
__ADS_1
"Buktikan janjimu, jangan bikin Abang kecewa." Brayen menepuk punggung Rian.
"iya Abang." Ucap Rian.
"Dan ingat buat ibu dan kakakmu bangga dengan keberhasilanmu nanti."
Dan mereka berbicara apa saja yang dulu Brayen lakukan di negara orang, bagaiman kehidupan dan pergaulan disana. Mereka berdua bertukar pikiran, Rian dengan senang hati mendengarkan apa yang Brayen katakan, itung-itung untuk bekal dirinya disana nanti.
.
.
.
.
.
.
.
Like
__ADS_1
komen
tinggalkan jejak kalian, bolehlah kasih kopi siang-siang beginiš¤£š¤£ malak biar gak ngantukš