Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD66


__ADS_3

"Papa aku mau makan sate" Suara lucu dan menggemaskan menyapa pendengaran Brayen yang tertidur diruang kerjanya, karena terlalu lelah hingga dirinya ketiduran didalam ruang kerjanya.


Brayen membuka matanya ketika merasakan baju yang ia kenakan ditarik-tarik dari bawah, disusul dengan suara khas anak kecil.


"Emh.. jagoan papa, maaf papa ketiduran." Brayen segera mengangkat tubuh kecil putranya dan ia duduk kan dipangkuan nya.


"Evin ingin sate papa." Suara yang belum Pasih berbicaranya itu membuat papanya gemas hingga tidak tahan hanya untuk mencium pipi gembul putranya itu.


"Oke boy, papa akan belikan buat jagoan tampan papa ini." Brayen mengusap dan mencium kepala Kevin beberapa kali, karena jika bersama Kevin hanya membuatnya merasa gemas saja.


Kevin Abraham bocah kecil yang kini usianya sudah menginjak tiga tahun, tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan, kepintaran dan ketampanan sang ayah menurun kepada bocah menggemaskan itu. Tingkah lucu dan kenakalan anak-anak menjadi hiburan di keluarga Abraham. Semenjak istrinya koma, orang tuanya sepakat untuk ikut tinggal dirumah Brayen agar bisa menjaga cucu semata wayang yang sangat mereka sayangi.


Dan selama tiga tahun ini banyak kejadian yang dialami keluarga Abraham, mulai dari nenek Zaa yang sudah meninggal satu tahun lalu karena usianya yang memang sudah tua. Dan Sherin yang sudah menjadi mahasiswi di salah satu universitas ternama di negara ini.


Sebenarnya gadis itu ingin melanjutkan sekolah tempat Rian berada, namun keluarganya tidak menginginkan, alasannya karena ia perempuan tidak ada yang menjaganya. Padahal kan disana ada Rian, tetapi mereka banyak alasan sehingga Sherin tidak bisa lagi membantah.


Kini perusahaan Brayen bertambah maju pesat, sehingga membuat dirinya bertambah sibuk meskipun begitu ia tidak melupakan kewajibannya menjadi seorang suami sekaligus ayah untuk putra tampan nya. Ketika lelah dengan rutinitas kantor dan diluaran, semua itu akan hilang ketika ia pulang bisa melihat anak dan istrinya membuatnya kembali bersemangat.


"Papa apa kita akan ajak Mama." Suara cedal yang selalu membuat gemas ketika berbicara dan berceloteh membuat siapa saja menjadi gemas kepada bocah berusia tiga tahun itu.


"Tidak perlu sayang, Mama sedang istirahat." Brayen menggendong tubuh mungil Kevin menuju mobilnya.


"Kenapa Mama selalu tidul papa, tidak mau bangun?" Putranya pasti akan selalu bertanya seperti itu jika sedang bersama Brayen.


"Mama masih senang tidur, jadi Kevin harus banyak berdoa agar Mama cepat bangun ya." Brayen tersenyum dengan memberikan kecupan dikepala putranya.


"Oke papa, Kevin akan banyak doa untuk Mama." Kevin tertawa lebar menampilkan giginya yang putih dan rapi.


"Anak papa pintar." Mengusap kepada putranya dengan kelembutan.

__ADS_1


Mereka kini melaju untuk mencari makanan yang diinginkan putra tersayang nya itu.


Dirumah nampak Ratna dan Indri sedang bercengkrama di ruang keluarga. " Bu, apa tidak sebaiknya nak Ray mempunyai pendamping lagi." Ratna berkata sangat hati-hati, meskipun hatinya tidak menginginkan hal itu, tetapi dirinya tidak bisa egois jika Brayen mempunyai istri lagi. Brayen adalah pria normal yang butuh menyalurkan hasrat biologisnya, sedang kan putrinya sampai saat ini belum juga membuka mata.


Sudah tiga tahun Zaa koma, meskipun begitu Brayen beserta keluarganya tidak pernah sedikpun berkurang memberi perhatian dan merawat putrinya. Ratna hanya tidak ingin putrinya menjadi beban bagi Brayen dan keluarga karena kondisi Zaa.


"Maksud kamu apa Ratna? kamu ingin melihat putrimu menjadi madu?" Tanya Indri dengan tegas, karena dirinya merasa tidak perlu melakukan itu, melihat Brayen yang sangat mencintai Zaa tidak mungkin dirinya tega mengatakan jika Brayen boleh mencari perempuan lagi.


"Saya hanya kasihan kepada Ray, tidak mungkin jika Ray tidak merindukan sosok seorang wanita yang bisa melayani semua kebutuhannya, sedang Zaa sebagai seorang istri hanya memberi beban kepada Ray tiga tahun ini." Ratna dengan air mata menetes memberanikan diri mengutarakan apa yang ia pikirkan dan membuat hatinya mengganjal. Kini ia bisa lega karena bisa mengutarakan isi hatinya yang mungkin tidak diterima oleh keluarga Brayen.


"Jika kamu menginginkan itu, silahkan kamu sendiri yang bicara dengan Brayen." Setelah mengatakan itu, Indri segera pergi dari hadapan Ratna, dirinya cukup kecewa dengan apa yang Ratna ucapkan, meskipun Zaa koma tetapi gadis itu telah berkorban demi melahirkan putranya, penerus keluarga Abraham.


"Maaf kan saya In." Ratna hanya bergumam dengan air mata mengalir melihat Indri punggung Indri yang menjauh, dan menghilang dibalik pintu kamar.


"Papa Kevin mau esklim?" Bocah kecil itu selalu meminta apapun yang ia inginkan, karena semua yang terucap dari mulutnya akan ia dapatkan.


"Jagoan papa ingin makan eskrim?" Tanya Brayen melihat kesamping dimana putranya duduk dengan tenang dikursi penumpang.


"Yes papa, Kevin ingin esklim." Ucapan disertai senyum manis dengan menampilkan wajah polos membuat bocah itu lucu.


"Tapi jangan banyak-banyak boy, kalo tidak Oma nanti akan marah."


"Siap papa."


Brayen sangat menikmati waktu kebersamaan dengan putranya, Kevin adalah semangatnya untuk menjalani kehidupan tiga tahun belakangan ini tanpa bisa berinteraksi dengan istrinya sangatlah berat, apalagi jika putranya selalu bertanya soal mamanya dirinya merasa lemah." Sayang aku merindukanmu, lihatlah anak kita tumbuh dengan baik dan pintar, terimakasih telah memberiku putra, aku sangat mencintaimu." Sorot mata Brayen berubah sendu mengingat istrinya yang masih terbaring koma.


Brayen menghentikan mobilnya di depan minimarket dekat dengan rumahnya. "Ayo boy kita sudah sampai." Ia menggendong tubuh kecil Kevin sebelum keluar dari mobil.


Pengunjung yang kebetulan minimarket agak ramai membuat dirinya menjadi pusat perhatian para kaum hawa yang melihat Brayen keluar dari dalam mobil menggendong seorang anak yang juga sangat tampan.

__ADS_1


Celana jins hitam panjang dan kaus polos abu-abu membuat nya nampak rupawan meskipun sudah mempunyai anak, Brayen adalah hot Dady yang sangat membangongkan.๐Ÿ˜‚


"Kesana papa, itu esklim nya." Kevin berseru senang ketika memasuki minimarket dirinya sudah melihat frizer eskrim.


"Ayok." Brayen menuruti arah yang ditunjuk putranya. "Pilihlah dan ingat, jangan banyak-banyak." Brayen mengusap kepala putranya dan sesekali mencium rambut hitam Kevin.


"Oke deh papa." Kevin dengan semangat memilih eskrim kesukaan nya dengan wajah bahagia.


Sebenarnya Brayen sangat risih ketika masuk dirinya menjadi objek utama tatapan para wanita di minimarket itu, tetapi dirinya mencoba cuek dan tidak perduli dengan tatapan mereka. Karena bagi Brayen semenjak dirinya kenal dengan Zaa tidak ada yang bisa menandingi semua yang istrinya miliki, katakan lah Brayen paling beruntung memiliki Zaa.


"Pak Brayen?" Suara seorang wanita menyapa Brayen.


Brayen yang merasa dipanggil nanya menoleh, menatap heran siapa wanita yang berdiri didepan nya ini. "Ya nona." Jawab Brayen terkesan cuek.


"Maaf saya kira tadi salah orang, dan ternyata benar anda." Wanita itu memandang Brayen seolah sedang mengamati, membuat Brayen risih dan tidak nyaman. Baginya hanya istrinyalah yang boleh menatapnya.


"Saya Sarah, mantan istrinya Andre." Wanita yang bernama Sarah itu memperkenalkan diri, ketika melihat raut wajah Brayen yang tidak mengenalinya.


"Oh.. maaf saya tidak tahu." balasnya seadanya.


"Papa ayo pulang." Bocah kecil itu juga tidak nyaman dengan wanita yang selalu mencuri pandang dan menatap intens kepada papanya. Meskipun masih kecil tetapi Kevin akan bersikap melindungi orang yang menyayanginya ketika sesuatu penglihatannya mencurigakan dan tidak membuatnya nyaman.


"Iya sayang kita bayar dulu ekrim nya." Brayen tersenyum kepada putranya, berbeda ketika tatapan nya beralih kepada Sarah.


"Maaf nona saya permisi." Tanpa mendengar jawaban Sarah Brayen sudah berlalu pergi, Untung baginya membawa Kevin jika tidak Brayen akan muak harus pura-pura baik didepan wanita lain.


"Sumpah, kenapa pak Brayen makin tampan dan hot ketika mempunyai anak, beruntung sekali wanita miskin itu mendapatkan nya." Sarah menatap punggung kokoh Brayen dari belakang.


Dukung karya ku yang ini ya gengs๐Ÿ˜ tinggalkan jejak kalian. like..komen...

__ADS_1


__ADS_2