Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD68


__ADS_3

"Papa kapan Mama bangun?"


"Mama mu masih betah tidur sayang, besok papa akan kenalkan Kevin dengan Mama baru."


Deg.


Brayen serasa meremang tubuhnya terasa kaku dan tidak percaya.


Lengan tangan nya dicengkeram kuat oleh seseorang.


Brayen mencoba melihat tangan siapa yang mencekram erat lengan nya, dan ternyata tangan istrinya.


Matanya terbelalak lebar, airmata kembali mengalir.


"Sayang kau bangun." Brayen mengecup semua wajah istrinya tanpa terlewat, dirinya sangat bahagia melihat mata indah itu kini terbuka kembali. "Sayang Mama bangun sayang, lihat Mama bangun." Balita kecil itu hanya menatap wajah tirus yang disebut Mama itu, tiba-tiba Kevin langsung memeluk Brayen dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dada sang papa.


"Sayang kenapa takut, ini Mama." Brayen mencoba mengurai pelukan Kevin tetapi tangan balita itu semakin erat mencekram bajunya.


"M-mas.." Suara lirih dan nampak lemah menyapa pendengaran Brayen yang selalu merindukan suara itu.

__ADS_1


"Ya..sayang.. tunggu sebentar aku panggil dokter." Brayen kembali mengecup tangan Zaa berkali-kali dan dia keluar untuk memberikan Kevin kepada pengasuhnya.


Brayen keluar kamar dengan wajah bahagia namun sisa air mata masih basah di pipinya.


"Nak kamu kenapa?" Indri terkejut melihat Brayen berjalan tergesa dengan wajah basah tapi bibir nya tersenyum dengan pancaran mata bahagia.


"Mah, istriku sudah bangun mah." Brayen memberikan Kevin kepada Sherin, karena Sherin yang langsung mengambil dari gendongan Brayen.


"Apa..!!" Mereka serempak berteriak karena terkejut mendengar ucapan Brayen.


........................


Yang ada kini semua nampak senyum bahagia diwajah keluarga Abraham karena menantu kesayangan mereka sudah kembali membuka mata tepat Hampir empat tahun Enam bulan.


Dokter sudah memeriksa keadaan Zaa, bahwa wanita itu kini sudah sembuh dari masa komanya, hanya saja perlu perawatan dan terapi agar sel saraf seluruh tubuhnya akan kembali normal. Dan dokter menganjurkan agar Zaa harus terapi.


"Sayang ini Mama." Meskipun suaranya masih lemah dan butuh tenaga untuk berbicara sebisa mungkin Zaa ingin menyapa anak yang telah berhasil ia lahirkan kedunia ini dengan selamat, air matanya terus mengalir melihat wajah balita yang sangat tampan dan lucu. Ia tidak percaya bahwa putranya ternyata sangat tampan seperti papanya.


"Jagoan apa kamu tidak mau memeluk Mama." Brayen mencoba berbicara pada Kevin, karena sejak melihat Zaa membuka mata balita itu hanya diam terus dan selalu menempel pada papanya.

__ADS_1


Hanya ada mereka bertiga didalam kamar, karena ibu dan mertua sekaligus Sherin sudah melihat keadaan Zaa dan mengucapkan banyak kata ucapan bahagia dari mereka.


Brayen duduk disamping istrinya yang bersandar di kepala ranjang sedangkan Kevin dipangkuan Brayen.


"Anak pintar, ayo sapa dan peluk Mama." Lagi Brayen mencoba membujuk Kevin agar mau mendekat kepada Zaa, mungkin balita itu masih syok melihat orang yang disebut Mama itu biasanya hanya diam tertidur kini bisa duduk dan berbicara.


Kevin memandang wajah Mama nya dan kembali melihat wajah papanya. Brayen hanya tersenyum dan mengangguk seakan mengisyaratkan bahwa 'ya dia itu mamamu'.


"Mama..!" Kevin langsung berdiri dan berpindah memeluk Zaa yang dia panggil Mama itu.


"Sayang,, ini Mama." Zaa menangis sesenggukan, dirinya mencium kepala Kevin berulang-ulang hingga wajah Kevin tak luput dari kecupan nya.


"Mama.." Kevin menangis seolah menggambarkan dirinya sangat senang Mama nya bisa bangun dan berbicara, bahkan memeluknya.


Brayen terharu, air matanya entah berapa kali mengalir hari ini karena rasa bahagia. Brayen memeluk mereka berdua parang yang paling berarti dalam hidupnya. 'Terima kasih tuhan, kau telah kembalikan istriku seperti semula.'


Kini hanya ada kebahagian yang Brayen rasakan, dirinya merasa sangat beruntung bisa kembali berkumpul dengan istrinya.


Istri dan anak nya adalah nyawanya, ketika istrinya koma, Kevin lah penyemangat hidupnya, dan kini penyemangat nya terasa lengkap istri dan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2