Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD37


__ADS_3

Disebuah Stasiun kereta api seorang gadis menunggu keberangkatan nya, duduk disebuah Peron.


Peron adalah bangunan yang terletak disamping jalur kereta api yang berfungsi untuk naik turun penumpang. Zaa menunggu kereta yang akan membawanya kesebuah kota kecil dimana disana ia akan tinggal bersama nenek dari sang ibu. di kota S Zaa ingin memulai lembaran baru dengan melupakan semua kejadian yang selama beberapa bulan belakangan membuat dirinya hancur.


Setelah Brayen keluar ruang rawatnya, ibu nya datang melihat Zaa yang menangis terisak membuat Bu Ratna tidak tahan untuk bertanya apa yang menimpa putrinya hingga berakhir di Rumah Sakit.


Zaa menceritakan semua kejadian yang menimpanya termasuk Brayen yang telah merenggut kesucian nya.


"Maafin Zaa Bu, Zaa sudah membuat ibu kecewa." Isak tangis Zaa semakin pilu, ketika melihat tatapan kecewa dari sang ibu. " Zaa tidak bisa menjaga diri Zaa dengan baik, Zaa sudah kotor Bu." tangis Zaa kian pecah, Bu Ratna yang tak tega melihat putrinya sangat terluka beliau langsung memeluk Zaa dengan erat. meskipun hatinya hancur, marah dan sangat kecewa, tapi beliau tidak bisa menyalahkan putrinya sepenuhnya. biarlah ini menjadi pembelajaran putrinya, ini sudah takdir jalanya untuk Zaa. Bu Ratna hanya bisa menangis merasa gagal mendidik putri satu-satunya ini.


"Sudah, ibu memang kecewa tapi ibu tidak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya. ibu harap semua kejadian ini ada hikmahnya dan bisa membuat kamu belajar dari musibah ini." Zaa semakin mengeratkan pelukan nya pada sang ibu. betapa baik ibu nya yang tidak memarahi nya karena membuat beliau sangat kecewa.


"maafin Zaa Bu." meskipun terasa sakit tapi perasaan nya merasa lega, karena ia sudah bercerita kepada sang ibu.


"Buu apa Zaa boleh pergi kerumah nenek?" Setelah mengatakan kejadian yang menimpa dirinya dan rencana Brayen yang akan menikahinya, tidak lupa juga Zaa menceritakan kejadian dimana Brayen juga bersama wanita lain. berharap ibunya memberi ijin untuk dirinya pergi dan memulai lembaran baru di kampung neneknya.


"Apa kamu yakin nak?" ibu bertanya dengan menatap lekat wajah putrinya, terbesit rasa tidak rela jika putrinya pergi hanya untuk menghindari seseorang.


"Zaa sudah yakin Bu, jika memang Zaa berjodoh maka kami akan dipertemukan kembali." mencoba menyakinkan sang ibu, Zaa benar-benar ingin lepas dari jangkauan pria itu.


"Baiklah ibu ijinkan, asal kamu senang dan bahagia." Zaa langsung menghambur kepelukkan sang ibu, dirinya merasa senang dan lega mendapatkan ijin dari sang ibu.


"tapi nak bagai mana jika kamu hamil?"

__ADS_1


Deg


Ucapan sang ibu membuat Zaa membeku, ia lupa jika dirinya melakukan hubungan, Brayen tidak menggunakan pengaman dan melakukannya tidak hanya sekali.


"Zaa." suara Bu Ratna menyadarkan pikiran Zaa yang masih kemana-mana.


Zaa menundukkan kepala dan tangan nya mengelus perutnya.


"Tidak apa-apa Bu, jika Zaa hamil Zaa akan merawatnya dengan baik." tersenyum meskipun menahan rasa sesak dan sakit di hati, tapi dirinya akan menerima konsekuensi yang pernah mereka lakukan.


Ibu mengelus rambut kepala Zaa dengan sayang, Bu Ratna merasa sedih jika nanti putrinya akan hamil diluar nikah dan menanggung semua sendiri.


"Ibu sebenarnya ingin ikut pulang ke kampung, tapi adik kamu masih harus Sekolah dan sebentar lagi ujian akhir." Sebenarnya Bu Ratna juga berfikir ketika Rian sudah lulus sekolah ia akan pulang ke kampung untuk mengurus ibu nya dikampung. karna di kota ini beliau tidak punya sanak saudara, Bu Ratna mengikuti suaminya yang bekerja di kota, dan ketika suaminya meninggal beliau hanya menuggu anak-anak nya lulus Sekolah.


"Ibu akan bicarakan nanti dengan Rian."


Setelah mengatakan keinginan nya Zaa yang memang sudah membaik, dokter mengijinkan Zaa untuk pulang, meskipun seharusnya masih beberapa hari untuk dirawat. tapi Zaa mencoba menyakinkan dokter agar dirinya bisa segera keluar dari rumah sakit.


Dan disinilah sekarang gadis itu berada, setelah menunggu 15menit akhirnya kereta yang akan membawanya ke kota S sudah datang.


Zaa sengaja menggunakan transportasi kereta karena ia yakin Brayen akan mencarinya dengan uang dan kekuasaan nya maka kemungkinan jika dirinya akan ditemukan jika menggunakan transportasi taksi,bus dan pesawat. Zaa juga menggunakan identitas Dian ketika melakukan transaksi, agar Brayen tidak bisa melacak kendaraan yang ia tumpangi dengan menggunakan namanya.


Di sepanjang jalan Zaa hanya memikirkan kemungkinan yang akan ia alami untuk kedepannya jika memang ia hamil. Mungkin jika Brayen tidak melakukan hubungan in*tim dengan wanita lain, kemungkinan Zaa bisa menerima lamaran Brayen jika hanya dirinya yang Brayen perlakukan seperti itu. tapi kenyataan nya ia menjadi yang kesekian dari wanita-wanita nya yang sudah Brayen tiduri.

__ADS_1


Tidak ingin larut oleh masalah dan kejadian kemarin, Zaa ingin mengubur semua kenangan tentang pahit yang ia rasakan. Mencoba mencari ketenangan yang bisa membuatnya melupakan semua.


...........................


Disebuah kamar VIP seorang pria menahan amarah dan kecewa ketika dirinya datang dan ternyata kamar itu kosong. bahkan suster mengatakan pasien sudah keluar sejak pukul 10pagi.


Brayen yang harus menghadiri rapat penting dan tidak bisa diwakilkan, terpaksa ia harus datang sendiri. meskipun dirinya enggan untuk datang tapi Sam tidak bisa mewakilinya.


Brayen datang kembali kerumah sakit pukul 4sore ketika semua pekerjaan sudah ia selesaikan untuk satu Minggu kedepan karena ia ingin fokus untuk mengurusi pernikahan nya dengan Zaa. Tapi semua itu sia-sia ketika dirinya mendatangi rumah sakit dan tempat tinggal Zaa tapi gadis itu tidak ada.


Marah,kecewa, prustasi Brayen rasakan, dirinya tidak pernah mendapat kesempatan untuk memulai sebuah hubungan dengan gadis yang benar-benar ia cintai.


"Sam kerahkan semua anak buah mu, cari Zaa sampai ketemu di manapun dirinya berada!" setelah mengatakan itu Brayen langsung menutup sambungan telpon nya tanpa mendengar balasan dari Sam.


Matanya menyorot tajam kedepan, kedua tangannya mencekram erat bundaran setir kemudi.


Setelah bertemu dengan Bu Ratna, Brayen yang dimaki habis oleh beliau meluapkan kekecewaan yang terlalu dalam dan rasa sakit hati, benci kepada dirinya yang sudah membuat putrinya mengalami perlakuan bejat yang Brayen lakukan.


Bahkan Bu Ratna sempat pingsan alhasil Brayen kembali mendapatkan bogem dari Rian kembali. padahal belas luka kemarin masih membekas lebam diwajahnya.


"Arrggghhhh s*al kenapa kau begitu keras kepala gadis nakal!" Brayen mengumpat memukul kemudi setir demi meluapkan kemarahannya yang membumbung tinggi, ketika niat untuk menikahi gadisnya gagal dan gadisnya malah pergi menghilang untuk pergi darinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2