
Sudah tiga hari Brayen belum sadarkan diri, dan kini bayi mungil yang belum diberi nama itu tidur di dalam box bayi satu ruangan dengan sang ayah.
"Nak apa kamu tidak ingin melihat putramu, bangunlah istri dan anakmu membutuhkan mu." Nyonya Indri tidak sanggup membendung air matanya.
Sudah tiga hari Brayen belum membuka mata, sungguh berat cobaan yang Tuhan berikan kepada keluarganya, mereka yang sudah sangat bahagia akan menantikan cucu pertama akan lahir di tengah-tengah keluarga besar nya, tetapi Tuhan berkehendak lain. Bayi mungil yang tampan belum sama sekali dilihat oleh kedua orang tuanya.
"Sudah Ma, yang penting selalu ajak Ray berbicara, papa yakin dia mendengar suara kita."
Pak Rudi membesarkan hati istrinya agar terus memberi dukungan semangat untuk Brayen agar dirinya segera sadar dari koma.
Dokter juga menyarankan agar pasien sering diajak berbicara apa saja yang bisa memotivasi pasien agar semangat dan segera sadar dari alam bawah sadarnya.
"Betapa bahagia jika Ray dan Zaa melihat putranya setampan ini." Nyonya Indri mengendong bayi yang masih nyenyak itu.
"Hem..Mereka pasti bangga karena dia sangat kuat, kedua orang tua nya berjuang melawan maut untuk tetap bertahan." Pak Rudi memperhatikan bayi mungil yang terlelap pulas.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Seorang gadis masuk dengan masih menggunakan seragam sekolah.
"Ma,pa?" Sherin menyalami kedua orang tuanya.
"Kenapa tidak pulang kerumah dulu ganti baju?" Tanya nyonya Indri.
"Sher udah kangen sama ponakan ganteng ini." Sherin langsung mencium pipi gembul ponakan tampan nya itu.
"Bersih-bersih dulu Sher." Tegur papa Rudi.
"Iya..iya.." Sherin langsung masuk kamar mandi.
Kamar VVIP yang cukup lebar tidak seperti ruangan rumah sakit melainkan seperti apartemen.
"Papa mau lihat Zaa dulu mah." Pak Rudi berdiri dari sofa.
"Iya lah, nanti gantian kalo Sherin udah selesai."
__ADS_1
"Yasudah papa keluar dulu."
Pak Rudi keluar menuju ruang ICU tempat Zaa yang masih terbaring lemah dengan bantuan alat-alat yang terpasang dibagian nadanya.
Ibu Ratna yang ingin menjaga putrinya terpaksa harus pulang kerumah karena kondisi nenek juga kurang sehat, alhasil beliau hanya mendapat kabar dari besan melalui telpon.
"Mah.. Papa kemana?" Sherin yang sudah selesai keluar dari kamar mandi.
"Keruang kakak ipar mu." mama Indri menaruh bayi tampan itu kedalam box setelah sedikit merengek minta susu dan kembali tidur lagi.
"Kamu tunggu kakak dan ponakan kamu disini, Mama mau nyusul papa kamu."
"Oke."
Indri segera keluar untuk menyusul suaminya keruangan Zaa, meskipun mereka hanya bergantian dan sedikit waktu terbatas tetapi mereka rutin satu jam sekali bergantian masuk hanya untuk melihat menantu mereka.
Sherin duduk dikursi samping tempat tidur Brayen. "Abang kapan bangun? Abang gak kasian sama ponakan Sher yang ganteng, dia sama sekali belum mendengar suara kedua orang tuanya." Sherin menggenggam tangan Brayen dan mengelus punggung tangan Abang yang sangat ia sayangi itu.
"Abang sama kakak belum kasih nama, apa perlu Sher yang kasih nama, jika Abang gak mau bangun." Sherin berkelakar, dengan tawa kecil. Meskipun mata nya sudah berkaca-kaca tetapi dirinya harus membuat Abang nya semangat untuk kembali sadar.
"Udah tiga hari Abang tidur, apa Abang juga tidak kangen sama kakak ipar, Kalo Abang tidur terus aku yakin pasti kakak ipar akan cari pria lagi yang masih sehat dan tampan." Sherin sengaja membuat abangnya cemburu.
"Abang tau tidak, kemarin mantan kakak datang menjenguk baby sama ibunya." Ucap Sherin lagi. Di dalam tidurnya Brayen ingin sekali bangun dan memarahi adik nakalnya yang sudah mengoceh yang membuat dadanya panas.
"Jika Abang tidak bangun maka__"
"Maka apa?"
Suara berat nan pelan masuk ke indera pendengaran Sherin.
Sherin yang mendengar suara yang sangat ia kenali menaikan kepala nya hingga bisa melihat mata Brayen yang sudah terbuka dan menatapnya tajam.
"Abang bangun." Sherin hanya nyengir memperlihatkan gigi putih rapih nya.
Sherin langsung menekan tombol agar perawat dan dokter datang untuk memeriksa Brayen.
"Abang Sher gak mimpikan." Sherin langsung memeluk Brayen dengan air mata yang mengalir diwajah cantiknya.
__ADS_1
"Emm.." Brayen masih lemas hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Sherin.
Tak lama dokter dan perawat masuk untuk memeriksa keadaan Brayen.
"Mama senang kamu sadar nak." Mama Indri menangis bahagia melihat putra yang sudah sadar kembali.
Brayen kini sedang mendekap bayi mungil nan tampan itu, ia pandangi wajah tampan putranya yang sudah terlahir dengan selamat, matanya berkaca-kaca ia berikan banyak kecupan lembut diwajah bayi mungil itu.
"Dia belum punya nama Ray." Ucap pak Rudi yang berdiri disamping istrinya duduk.
"Kevin..Kevin Abraham." Ucap nya seraya tersenyum mengelus pipi merah putranya itu.
"Nama yang bagus."
"Dia adalah anugrah, dan kelak akan menjadi pria yang cerdas."
Mereka semua mengamini ucapan Brayen yang sudah memberi nama kepada putra pertamanya itu.
Brayen memberikan putranya kepada Mama Indri setelah cukup lama mendekap putra tampan nya itu.
"Ray ingin melihat Zaa pa." Ucapnya menatap pak Rudi.
"Papa akan antar." Sherin memanggil perawat untuk membawakan kursi roda.
Kini Brayen sudah duduk disamping brankar istrinya dengan menggunakan pakaian khusus. Dirinya sudah meneteskan air mata dalam diam menatap tubuh lemah yang banyak dipasang alat untuk mempertahankan kondisi Zaa.
Wajah pucat dan badan yang sudah sedikit kurus Brayen tidak sanggup melihat keadaan istrinya seperti ini.
"Sayang.." Suara serak Brayen diiringi dengan dada nya yang sesak. "Bangun sayang, kamu kuat." Dirinya menggenggam tangan Zaa dan menciumnya dengan lembut.
"Putra kita sudah lahir, dia sangat tampan apa kamu tidak mau melihatnya." Lagi-lagi dadanya kian bergemuruh melihat istrinya hanya diam dengan mata terpejam erat.
"Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku Zaa." Brayen kian terisak hatinya terasa berdenyut ngilu ketika kilasan kecelakaan itu hadir diingatan nya, tubuh Zaa yang tergeletak di atas aspal jalan dan darah yang mengalir banyak melalui kepala dan kaki Zaa, Brayen serasa pasokan udara disekitarnya kian menipis mengingat kecelakaan yang mengakibatkan istri dan dirinya menjadi seperti ini. Hari yang seharusnya menjadi momen kabahagiaan keluarga kecilnya menyambut kelahiran putra pertama mereka dengan penuh kebahagiaan tetapi Tuhan berkehendak lain.
Dirinya yang sudah mempunyai firasat tidak tenang dan gusar ternyata inilah penyebabnya.
Dan ternyata benar dirinya tidak bisa memeluk dan mendapatkan pelukan hangat istrinya lagi, Zaa koma dan entah kapan waktu akan membawanya sadar kembali, karena luka di kepalanya cukup parah.
__ADS_1
"Sayang..Tolong jangan hukum aku seperti ini." Brayen menangis terisak di punggung tangan Zaa.
Dirinya berharap istrinya akan tetap bertahan, dirinya tidak akan bisa jika Zaa meninggalkan dirinya dan bayi yang baru saja lahir ke dunia yang belum sempat melihat wajah cantik ibunya. Brayen hanya bisa berdoa supaya Zaa cepat sadar dan kembali bersama dengan keluarga kecil mereka.