
Seharian Zaa sibuk dengan pekerjaan nya, hari ini Cafe memang cukup ramai tidak seperti hari biasanya. untuk makan siang saja mereka melakukanya dengan secepat kilat.
Zaa merasa lega karna jam sudah menunjukan pukul 20:30. dan sekarang waktunya para karyawan untuk berkemas dan pulang.
Disaat masih mengambil tas Selempang nya dil loker, tiba-tiba Doni menghampiri Zaa.
"Mau pulang bareng Zaa?"
Zaa yang posisinya membelakangi Doni sedikit terkejut, bahkan sampai mengusap-usap dadanya.
"Bapak ngagetin aja sih." jawabnya dengan jantung berdetak cepat karena kaget.
Doni malah terkekeh melihat raut terkejut gadis itu.
"Maaf, kalo saya mengagetkan mu." masih tersenyum kearah Zaa," aku anterin pulang yaa?" lanjut Doni.
Zaa sedikit heran pasalnya panggilan yang biasanya formal kini menjadi 'aku' .
"Eehh.. tidak usah pak." menolak secara halus,dan mereka sambil berjalan keluar Cafe.
"jam kerja sudah habis, jangan panggil aku bapak lagi." Doni menginterupsi panggilan Zaa.
"hee belum terbiasa Kak."
"Yasudah tunggu disini aku ambil mobil dulu." Doni bergegas mengambil mobil diparkiran dan Zaa menunggu didepan cafe.
"Ohh iya handpone," Zaa menepuk jidatnya karna lupa mengecek handpone seharian ini karena sibuk, biasanya ada pesan ibu nya yang biasa dikirim.
Ketika melihat banyak pesan yang masuk, dari Ibunya,Dian,dan Brayen. tapi Zaa lebih tertarik kepada pesan nomor baru yang mengirim sebuah gambar foto.
Bagai disambar petir disiang bolong, Zaa tidak kuasa menutup mulut nya bahkan airmata nya sudah mengalir deras tak terbendung.kakinya serasa mati rasa,sekujur tubuhnya melemas ketika melihat foto kekasihnya sedang tidur dengan wanita yang ia kenal tanpa busana, karna Monika sengaja mengirim foto yang full naked mereka berdua.
Sungguh hatinya merasa hancur berkeping-keping, ketika Brayen bisa menyembuhkan luka lamanya, dan kini Brayen jugalah yang menambah luka itu. bahkan lebih besar dari luka sebelumnya. sakit dan kecewa itulah yang Zaa rasakan, kenapa perjalanan cintanya tidak bisa semulus orang-orang yang ahirnya bahagia.
Masih dengan keadaan yang sepenuhnya belum sadar dengan keterkejutannya. Doni yang melihat Zaa bersandar didinding Cafe segera menghampiri.
"Zaa kamu baik-baik saja," Doni sedikit panik karena melihat Zaa menangis bahkan tangannya meremat kain kemeja didadanya.
"Zaa ada apa, apa ada masalah." tidak mendapat jawaban ahirnya Doni menarik tubuh Zaa kepelukanya. tidak peduli gadis itu akan berontak dan marah kepadanya, melihat Zaa tidak baik-baik saja membuat Doni tidak tega.
"Kenapa dia tega sekali kak..hiks..hiks..kenapa dia jahat sama aku, apa salah aku kak." tangisan Zaa tumpah di pelukan Doni, bahkan baju kemeja depan Doni sudah basah dengan air mata Zaa.
__ADS_1
Doni hanya mendengar Zaa meluapkan kesedihannya mengelus pucuk kepala dan punggung Zaa agar gadis itu sedikit tenang. meskipun Doni belum tau penyebab gadis itu menangis dia enggan bertanya untuk saat ini.
"Sudah tenangkan dirimu, ku antar kamu pulang yaa."
Doni hendak ingin menghapus airmata dipipi Zaa dengan tangan nya, tapi seseorang lebih dulu memukul wajah pria itu.
Bhugg.
"Sialan..!! apa yang loe lakuin sama cewe gua hah.!!!"
Brayen yang baru datang bersamaan dengan Doni yang hendak ingin menyentuh wajah Zaa, membuat emosi Brayen naik, rasa cemburu dan marah melihat wanitanya disentuh pria lain sudah membuat hatinya panas bukan kepalang.
Bhugg.
Brayen kembali memukul wajah Doni hingga tersungkur bahkan sudut bibir Doni robek dan mengeluarkan darah.
Beruntung keadaan cafe sudah sepi,hanya tinggal mereka bertiga.
"Sudah cukup tuan.!!" Zaa berteriak dan menghampiri Doni yang tersungkur diarea parkiran, "kakak tidak apa-apa.?"
"Sudah tidak apa-apa." Doni mencoba tenang, meskipun ia merasa sedikit sakit dibagian sudut bibirnya.
"Sialan.!!!" Brayen berteriak frustasi, lalu menarik tangan Zaa agar menjauh dari pria itu.
"Lepas.!" Zaa meronta,bcekalan tangan Brayen begitu kuat hingga membuat Zaa kesakitan.
"Apa ini yang kau lakukan dibelakangku hah.!!" Brayen berteriak dengan menatap tajam Zaa. Zaa hanya memejamkan matanya mendengar bentakan keras Brayen didepan wajahnya yang masih mengeluarkan air mata. "Jawab aku.!! Sialan.!!" Arrrgghhh!!. Ray prustasi meremat rambut ikal nya dengan kuat,bahkan Wajahnya memerah karna amarahnya meluap-luap, ingin rasanya ia menghabisi seseorang dengan tangannya sendiri.
"Jawab akau wanita Sialan.!!" Brayen mengguncang kedua bahu Zaa dengan kuat.
Plaakkk..!!
Satu tamparan keras mendarat dipipi kiri brayen, bahkan terlihat meninggalkan jejak jari dipipi pria itu.
Bibir Brayen tersungging tipis mendapat tamparan dari kekasihnya untuk yang kedua kali.
Zaa menatap nyalang dan penuh amarah Brayen, dengan bola mata yang memerah bahkan sedari tadi airmata nya tidak berhenti mengalir.
"Sudah cukup tuan." suara bergetar dengan menahan rasa sakit dihatinya, bahkan otak nya sudah tidak bisa lagi mencerna dengan baik. foto itu masih berputar-putar diotaknya. "Mulai sekarang anda bukan siapa-siapa saya lagi, jadi jangan pernah ikut campur urusan saya lagi.!!" ucapan Zaa penuh penekanan. membuat Brayen merasakan dadanya dihujam ribuan banyak jarum
Deg
__ADS_1
Mata Brayen memerah menatap gadis didepan nya yang terus mengeluarkan air matanya tanpa henti.
"M-maksud kamu apa sayang?" Ray mencoba mengontrol emosi yang masih menguasainya, melihat gadis yang ia cintai menagis dengan tatapan kecewa membuat hati nya berdenyut terasa sangat sakit.
"Mulai sekarang."
Zaa menjeda ucapanya menarik napas dalam sebelum berkata lagi.
"Saya mau kita putus.!" dengan sesak dan sakit didada Zaa mengatakan hal yang membuatnya akan kehilangan seseorang yang ia cintai, bahkan orang yang dicintai sangat melukai hatinya dan membuat kecewa.
Brayen yang mendengar Zaa mengucapkan kata'putus' mengertakkan giginya, tidak terima jika Zaa memutuskan hubungan mereka.
Zaa hendak berbalik untuk menghampiri Doni yang hanya berdiri menyaksikan sepasang kekasih yang bertengkar, Doni tidak ingin ikut campur urusan mereka memilih diam dan jadi penonton setia.
Greepp.
Sepasang tangan kekar memeluk tubuh Zaa dengan erat dari belakang.
"Sayang maafin aku, tolong jangan berkata seperti itu, aku..aku..minta maaf sayang, tolong jangan tinggalkan kan aku." suara Brayen bergetar bahkan punggung kokoh itu ikut bergetar, meskipun tidak ada suara tangis, tapi percayalah bahwa air mata nya sudah jatuh ketika Ia memeluk Zaa.
Zaa yang mendapat pelukan erat hanya memejamkan matanya,sedari tadi kenapa airmata sialanya tidak kunjung habis.
Ray menenggelamkan kepalanya diceruk leher Zaa dari belakang, dengan nafas tercekat Brayen berkali-kali minta maaf. bahkan Zaa bisa merasakan baju dipundaknya basah, 'apakah Ray menagis..' batin Zaa.
"Anda sendiri yang membuat saya meninggalkan anda, jadi untuk apa anda minta maaf tuan." suara dingin Zaa menyapa pendengaran Brayen rasanya begitu ngilu dan sesak secara bersamaan dihatinya, tidak ada lagi suara hangat yang gadis itu ucapkan.
Zaa melepas tautan tangan Brayen di tubuhnya. berbalik menatap Brayen dengan wajah datar, meskipun masih ada sisa-sisa air mata yang menempel dipipinya.
Sungguh melihat pemandangan gadis yang didepannya sekarang membuat hatinya berkali-kali merasakan tusukan ribuan jarum menghujam hatinya. 'tuhan apa yang sudah aku lakukan, sayang maafkan aku' Brayen terus saja berperang didalam hatinya, marah kepada diri sendiri yang sudah kedua kalinya membuat wanita yang ia cintai menagis didepan matanya. sungguh ia tidak bisa mengontrol emosi nya.
.
.
.
.
.
bersambung
__ADS_1