
Brayen hanya diam ketika Rian menghajarnya ia tidak menghindar atau melawan karena memang ia yang membuat Zaa seperti ini.
"Tuan anda tidak apa-apa?" Sam khawatir melihat keadaan bos nya yang memperihatinkan, kenapa bos nya tidak menghindar ketika adik Zaa menghajarnya.
"Aku tidak apa-apa Sam." Brayen menjawab sambil berjalan menuju sebuah kursi tunggu didekatnya. meskipun sedikit meringis perih diarea pelipis dan sudut bibirnya ketika ia berbicara.
Brayen duduk dikursi tunggu dengan meremas rambutnya dan mendongakkan kepalanya. pikiran nya kacau perasaan nya tidak tenang dan khawatir. tidak tenang karena ia tidak bisa masuk dan melihat keadaan gadis nya, khawatir apakah Zaa sudah sadar atau belum. bahkan ia pun tidak merespon ucapan Sam yang menyuruhnya untuk mengobati lukanya. ia sama sekali tidak peduli dengan luka nya.
"Tuhan, tolong segera buat dia sadar." sudah lebih dari 2jam ia hanya duduk dan memejamkan kedua matanya. hanya menunggu diluar tanpa berani masuk.
Jam sudah menunjukan pukul dini hari tapi Brayen masih tenang duduk dikursi tunggu sedari tadi, bahkan ia sendiri melupakan makan siang hingga malam karena rasa takut, bersalah dan khawatir melihat Zaa yang sedang sakit.
"Tuan sebaik nya anda istirahat dulu." Sam yang masih setia menemani Brayen, duduk disamping Brayen hanya diam dan memperhatikan bosnya yang sangat berantakan dan terlihat lelah.
"Sam apakah dia akan segera sadar?" Brayen berkata dengan masih memejamkan kedua matanya. ia tidak mengantuk bahkan pikirannya tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan gadis nya.
"Tuan tenang saja, nona Zaa pasti akan segera sadar." Sam hanya prihatin dengan keadaan Brayen, meskipun tidak tahu sebab kenapa tuan nya bisa membawa Zaa kerumah sakit, tapi Sam yakin telah terjadi sesuatu diantara mereka.
"Sam besok kau urus semua jadwalku dikantor, karena aku masih ingin disini menunggu Zaa sampai sadar." jelas Brayen, menatap Asistenya yang sudah ia percaya karena Sam adalah tangan kanan Brayen.
"Baik tuan akan saya laksanakan." ucap Sam dengan tegas.
"Sekarang pulanglah waktu sudah hampir pagi." suruh Brayen tanpa bisa dibantah oleh Sam.
"Baiklah tuan kalo ada apa-apa tuan langsung hubungi saya."
"hemm."
__ADS_1
Brayen hanya bergumam, Sam segera pergi karena esok akan banyak pekerjaan yang menunggunya dikantor.
.......
"eng.." lenguhan kecil diiringi dengan Zaa membuka mata nya, nuansa putih dan terlihat asing. Zaa mencoba memperjelas pandangan nya, melihat kesekeliling menatap jam didinding menunjukan pukul 05:25 pagi. Zaa mencoba bergerak tapi tangan nya digenggam oleh seseorang, menunduk ingin melihat siap yang disampingnya dan ternyata Rian yang tidur sambil menggenggam tangan nya.
Melihat seisi ruangan ia yakin dirinya berada dirumah sakit, terakhir ia mengingat dirinya yang akan pingsan ketika ingin ke kamar mandi.
disofa tidak jauh dari tempat tidur nya ia melihat ibu dan sahabatnya Dian tertidur sambil duduk. sungguh melihat wajah ibunya membuat Zaa nyeri dihatinya, apa yang harus ia lakukan ketika ibu nya tau anak gadisnya sudah kotor. Zaa tidak sanggup melihat kekecewaan ibu nya, jika ibunya tahu apa yang menimpa dirinya.
Mencoba lebih tenang dan pura-pura tidak terjadi apa-apa Zaa menghapus air mata yang sudah mengalir di pipinya, meskipun tangan kanan tertancap infus tapi ia perlahan-lahan mengerakkan untuk menghapus air matanya.
"Rian?" panggil Zaa dengan suara lirih dan mencoba menggerakkan tangan kirinya agar Rian segera bangun. karena ia merasa haus ingin mengambil gelas diatas meja tapi tangan nya tidak sampai.
Rian yang merasa tangan kakak nya bergerak segera membuka mata. melihat kakak nya sadar ia langsung memeluk kakak nya dengan erat.
"Kakak tidak apa-apa, kakak sudah sadar mana yang sakit kak, aku panggil dokter sekarang?" Rian terus saja berbicara tanpa melihat ekspresi Zaa yang hanya menatap nya kesal.
"Kakak ingin minum?" Rian segera mengambilkan gelas diatas meja nakas setelah melihat anggukan kepala dari kakak nya.
"Sudah." Rian menaruh kembali ketempat semula setelah Zaa memberikan gelasnya.
"Bagaimana kamu tahu kalo kakak ada disini?" Zaa yang masih bingung kenapa ada Rian dan ibu bahkan sahabatnya di ruangan yang sama, menunggunya.
"Sekertaris pria brengsek itu yang memberi tahu jika kakak masuk rumah sakit." Rian sedikit bernada geram jika mengingat wajah Brayen.
"Pria brengsek?" Zaa sedikit mengernyitkan keningnya ketika Rian menyebut pria brengsek. apa Rian sudah tahu kalau dirinya dilecehkan oleh Brayen. pikiran Zaa jadi panik, hatinya resah jika keluarganya sudah tahu apa yang ia alami.
__ADS_1
"ya siapa lagi jika bukan pria kaya raya itu yang membuat kakak seperti ini, karena dialah yang ada disini ketika kita datang." Ucapan Rian membuat Zaa sedikit lega, karena bukan seperti yang ia pikirkan tentang kejadian dirinya yang sudah dilecehkan.
"Emm apa kamu tidak pergi sekolah, kenapa malah menginap disini?" Zaa bertanya mencoba mengalihkan pembicaraan karena ia tidak mau mengingat Brayen apalagi kejadian yang menimpanya. meskipun dalam hati ingin bertanya dimana pria itu sekarang.
"Nanti aku akan ke Sekolah, ibu yang akan menunggu kakak disini selama aku ke sekolah." jelas Rian karena memang ia akan bergiliran menunggu Zaa selama dirumah sakit.
"Kakak sudah tidak apa-apa, sebaiknya kamu bangunkan ibu dan ajak pulang, kasihan ibu pasti capek tidur disofa seperti itu."
Zaa melihat kearah sang ibu dan Dian yang masih terlelap.
"Tidak kakak tidak akan sendirian disini." Rian tidak terima ketika kakak nya malah menyuruh dia dan ibu nya pulang, padahal jelas kakaknya sedang sakit.
Tak lama suara pintu terbuka dari luar, seorang suster masuk untuk mengecek keadaan Zaa.
"Selamat pagi..?" sapa suster dengan ramah.
"Pagi sus." Rian menjawab sedangkan Zaa hanya tersenyum.
"Maaf saya periksa dulu pasien." suster meletakkan sarapan Zaa dan memeriksa Zaa.
"Mbak sudah merasa mendingan?" tanya suster.
"Sudah sus tapi kepala saya masih sedikit pusing, dan perut saya terasa masih agak perih." jawab Zaa jujur dengan apa yang ia rasakan.
"Setelah ini ibu makan sarapan nya ya, kalau sudah segera minum obatnya, biar rasa pusing dan perih diperut segera sembuh." titah sang suster.
"Baik sus." jawab Zaa.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi, jangan lupa makan dan obatnya." suster pun pamit keluar. Dan tanpa mereka sadari diambang pintu kaca luar seorang pria terlihat merasa lega dan senang, bahkan senyum di wajah lelah nya terbit, ketika melihat gadis yang dicintainya sudah sadar dan bisa tersenyum. meskipun senyum itu bukan untuk dirinya tapi itu menandakan kalau gadisnya sudah merasa baikan.
BERSAMBUNG