
Sudah satu bulan Bayi tampan yang diberi nama Kevin Abraham itu lahir. Dan kini bayi itu sudah berada dirumah dengan para nenek, kakek dan aunty nya, Rian juga sudah diberi kabar jika keponakan nya sudah lahir dan kakak perempuannya masih belum sadar dari komanya. Rian hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi keluarga nya disana, dirinya ingin sekali pulang dan melihat keadaan kakak nya langsung, tetapi disini sekolahnya tidak bisa ditinggal, dirinya mengingat janji kepada keluarganya, jika ia pulang nanti dirinya sudah mendapatkan gelar terbaik. jadi ia tahan niatnya untuk pulang hingga waktu nya selesai.
Brayen selalu mengurus tubuh kurus istrinya dengan telaten dirinya tidak membiarkan suster melakukan perawatan tubuh istrinya, dirinyalah yang merawat dan membersihkan tubuh istrinya setiap pagi dan sore, sebelum dirinya berangkat bekerja dan setelah pulang bekerja. Kini Brayen kekantor hanya untuk urusan penting, semua ia serahkan kepada Asistenya Sammy.
Kini Zaa dirawat dengan satu suster yang selalu menjaga dan mengecek keadaan Zaa, karena Brayen memutuskan meminta Zaa rawat jalan dirumah sehingga memudahkan para keluarga dekat dengan Zaa ketika ia tinggal pergi kekantor. Dengan konsultasi dokter mengenai rawat jalan Zaa akhirnya dokter mengijinkan mengenai kesehatan Zaa yang sudah stabil normal, namun memang Zaa belum mau bangun dari tidurnya yang sangat nyaman itu.
"Selamat pagi sayang." Brayen duduk di samping ranjang tempat tidur yang mereka tempati dirumah besar itu, dengan box bayi yang berada di pojokan tidak jauh dari tempat tidur itu. Brayen membawa baskom berisikan air hangat dengan handuk lembut untuk membantu menyeka tubuh istrinya.
"Sudah satu bulan kamu tidur, apa tidak lelah." Setiap pagi Brayen melakukan hal ini rutin mengajak istrinya berbicara dengan banyak topik, mulai dari si kecil hingga kegiatannya di kantor, Brayen tidak akan bosan berbicara.
"Apa kamu tidak merindukan aku dan anak kita." Setelah selesai membersihkan tubuh istrinya dan mengganti baju Brayen duduk dan mencium punggung tangan istrinya. "Kamu tau Monika sekarang berada dirumah sakit jiwa, aku tidak bisa membuatnya mendekam dipenjara karena dirinya mengalami gangguan mental." Setelah dirinya sadar dari koma ia teringat sebuah mobil yang dikendarai seorang wanita yang menabrak mobilnya hingga mengalami kecelakaan itu, dan ternyata pelakunya adalah Monika. mendapati Monika yang mengalami gangguan jiwa dirinya cukup terkejut dan alhasil dirinya tidak bisa menuntut wanita itu masuk kedalam penjara. tetapi menjadi penghuni rumah sakit jiwa sudah cukup untuk wanita itu mendekam.
"Sayang pagi ini aku ada metting penting, kamu doa in aku ya, biar metting nya lancar." Brayen mengecup kening, mata, pipi, hidung dan terakhir bibir yang sangat ia rindukan kehangatan bibir itu, tetapi kini bibir itu terasa dingin. meskipun Zaa koma tetapi Brayen selalu memberi perawatan wajah istrinya seperti yang dilakukan Zaa ketika masih sehat.
"Aku merindukan mu sungguh." Mata Brayen berkaca-kaca tatapanya sayu, sesak didadanya tidak pernah hilang ketika melihat keadaan istrinya.
__ADS_1
Dirinya merasa tidak berguna ketika kekuasaan dan uang nya ternyata tidak bisa membangunkan istrinya yang nyaman dalam tidurnya.
Brayen segera berdiri membawa baskom keluar kamar setelah dirinya sudah cukup baik perasaan nya. "Sus tolong jaga istri saya ketika saya tidak ada." Ucap Brayen yang berpapasan dengan suster Lia yang merawat Zaa dirumah itu.
"Baik pak, bapak tenang saja." Suster itu tersenyum dan segera mendekati pasien yang berbaring di ranjang itu. Ketika malam memang hanya Brayen yang menjaga Zaa dan bayi nya, karena Brayen selalu ingin dekat dengan dua orang yang sangat ia cintai itu.
"Nak, sudah mau berangkat?" Tanya Bu Ratna yang sedang menggendong Kevin di ruang keluarga.
"Iya Bu." Brayen segera mengambil alih baby Kevin dari ibu mertuanya itu.
"Nanti, Ray masih ingin bermain dengan Kevin Bu." Brayen menggendong putranya dan menciumi bayi tampan menggemaskan itu.
"Sayang kamu bantu papa buat Mama bangun ya." Brayen berbicara dengan bayi yang mungil itu seolah bayi itu bisa diajaknya bicara. "Biar kita bisa bermain bareng dengan Mama."
Bu Ratna yang mendengar itu menitikan air matanya, dirinya merasa terharu melihat menantunya yang sangat mencintai putrinya itu.
__ADS_1
"Bu sepertinya nanti Ray, akan telat pulang karena ada pertemuan penting dikantor, Ray minta tolong untuk mengantikan Ray membersihkan tubuh Zaa." Brayen menaruh putranya kedalam ayunan yang tersedia di ruangan itu, setelah melihat putranya tertidur didalam gendongan nya.
"Iya nak, ibu akan membantumu." Ya begitulah Brayen ketika dirinya pulang telat makan ia akan meminta tolong kepada ibu mertuanya ketimbang kepada suster yang merawat istrinya. bukan nya dirinya tidak percaya kepada suster itu, tetapi ia lebih tenang jika yang mengurus istrinya adalah orang terdekat nya.
Setelah sarapan Brayen kembali menghampiri ibu mertuanya. "Ray berangkat dulu Bu, titip Kevin dan zaa." Ucap Ray menyalami tangan Bu Ratna. Brayen juga memperkerjakan baby sister untuk putra nya meski setiap hari Mama Indri datang dan membatu merawat baby Kevin.
Brayen kembali masuk ke kamar istrinya, dirinya melihat suster yang sedang memberikan obat lewat suntikan infus.
"Sayang aku berangkat kerja dulu." Brayen mengecup kening Zaa. Meskipun ada suster dirinya tidak merasa terganggu. justru suster itulah yang merasa malu sendiri melihat keromantisan majikan nya itu.
"Titip istri saya sus."
"Baik pak." Brayen hanya mengangguk dan segera pergi keluar.
"Beruntung sekali ibu Zaa mendapatkan suami seperti pak Brayen." Ucap suster itu setelah Brayen tak terlihat.
__ADS_1