
Dirumah besar itu Brayen memperkerjakan pelayan sebanyak empat orang wanita dan tiga orang pria. Mereka semua mendapatkan tugas masing-masing karena Brayen tidak ingin istrinya akan turun tangan sendiri untuk mengerjakan sesuatu.
Pagi ini untuk pertama kali mereka menempati hunian baru, yang bagi Zaa dan keluarganya adalah sebuah rumah Istana. Ibu dan nenek membantu para pelayan semampu yang mereka bisa, Brayen juga menyiapkan lahan berkebun dan taman bunga untuk keluarga istrinya agar mereka tidak bosan.
Brayen yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putih yang melilit bagian pinggangnya, dirinya menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan pakaian kerjanya.
"Kamu ada acara apa hari sayang?" Brayen memeluk Zaa dari belakang dan memberi kecupan dipundak istrinya yang masih menggunakan baju tidur dres bertali satu yang cukup sexy, Karen perut buncitnya.
"Tidak ada Mas." Zaa berbalik dan memberikan pakaian kerja suaminya beserta dalaman, ini sudah menjadi rutinitasnya setiap hari selama dirinya menikah.
"Selama kita menikah, kamu belum pernah datang kekantor ku sayang." Brayen menerima pakaian yang diberikan istrinya.
"Mas!" Zaa memekik membelalakkan matanya ketika tiba-tiba Brayen melepas handuk didepan wajahnya.
"Kenapa? bukankan kamu sudah sering melihat dan merasakan nya." Brayen terkekeh pelan ketika melihat wajah istrinya yang merona malu memalingkan wajah.
"Y-ya gak gitu juga." Zaa terbata dan masih memalingkan wajah.
"Mau memanjakan nya." Brayen sengaja menggoda istrinya dengan menuntun tangan Zaa untuk menyentuh adik kecilnya.
"Mas!" Zaa yang malu langsung balik badan dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
Brayen yang melihat istrinya salah tingkah hanya tertawa, menggemaskan membuat istrinya malu meskipun sudah sering melihat dan merasakan nya.
Setelah selesai membersihkan diri Zaa keluar dengan hanya menggunakan baltrobe, dirinya melihat suaminya yang masih belum selesai berpakaian.
"Kenapa belum selesai Mas?" Zaa bertanya dan menghampiri Brayen yang masih duduk ditepi ranjang dengan kemeja yang belum dikancingkan dan masih menggunakan celana boxer saja.
Brayen yang sedang memegang ponsel segera mendongak ketika istrinya berdiri didepan nya.
"Nungguin kamu sayang." Dirinya berdiri dan Zaa dengan sigap mengancingkan satu persatu kancing kemeja suaminya.
Dan dirinya segera memakai pakaian dan merias diri.
Setelah rapi, Zaa memasangkan dasi suaminya, "Sudah." Zaa mengelus dada suaminya dengan sentuhan terakhir merapikan kemeja suaminya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang." Brayen merangkul pinggang istrinya dan memberikan kecupan dibibir.
Zaa tersenyum dan mengangguk, "Apa Mas hari ini sibuk?" Tanya Zaa dengan membantu Brayen membawakan jas kerjanya menuju ruang makan.
"Tidak sayang, hari ini aku stay dikantor."
"Kenapa?" Tanyanya kemudian.
"Aku akan datang kekantor Mas, mengantar makan siang." Jawab Zaa dengan senyum.
"Baiklah aku akan menunggumu."
"Pagi nek, Ibu." Mereka berdua menyapa setelah sampai dimeja makan, sudah ada nenek dan juga ibu Zaa.
"Pagi nak." jawab ibu
Zaa mengambilakan sandwich untuk suaminya.
"Ibu, nenek jika kalian bosan dibelakang ada kebun dan taman bunga, ibu dan nenek bisa melakukan apa saja dirumah ini, jangan sungkan ya." Brayen berkata dengan tulus kepada dua orang yang sangat berarti untuk istrinya.
"Benarkah nak!" Mata nenek berbinar ketika mendengar kata kebun.
"Terimakasih nak, kami sudah merepotkan kamu." Bu Ratna tersenyum haru, mendapat menantu sebaik Brayen.
"aku yang seharusnya berterima kasih Bu, ibu dan nenek bersedia tinggal disini menemani Zaa, ketika aku sedang bekerja."
"Terimakasih Mas." Zaa menggenggam tangan suaminya.
"Sama-sama sayang." Mengusap tangan Zaa lembut.
"Aku berangkat sayang, hati-hati dirumah." Brayen mengecup kening Zaa.
Mereka kini berada di teras rumah, Zaa mengantarkan Brayen untuk berangkat ke kantor.
"Iya Mas." Zaa menyalimi tangan suaminya.
__ADS_1
"Kalau sudah berangkat telfon aku ya, biar Sam menjemputmu." Ucap Brayen yang ingat istrinya mau datang ke kantor nya.
"Siap bos." Zaa berkata tegas.
Brayen hanya terkekeh, "Gemesin banget sih." Brayen menarik hidung kecil istrinya.
"Iss nyebelin." Zaa memukul dada Brayen.
"Yasudah aku berangkat." Brayen berjalan dan segera masuk kedalam mobilnya.
"Hati-hati Mas." Zaa berkata dengan melambaikan tangan, dan dibalas juga oleh Brayen.
.................................
Dibelahan bumi lain, seorang pria baru saja mendarat di bandara Internasional John F.Kennedy New York atau America Serikat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20jam 30 menit akhirnya Rian sampai.
Dirinya sudah diberi tahu jika dibandara akan ada supir pribadi Brayen yang menjemput, supir itu juga berasal dari negara Indonesia yang menetap di negara America Serikat.
Ketika keluar dari pesawat Rian sudah disambut dengan kertas berlogo nama nya dan dari Indonesia.
Dirinya menghampiri orang itu yang dia tahu namanya Jon. "Paman Jon?" Rian menyapa dan memberi salam, karena memang pria bernama Jon itu lebih tua darinya.
"Tuan Rian." Jon menerima uluran tangan Rian.
"Ah, jangan panggil saya tuan, panggil saja Rian." Rian berkata dengan senyum.
"Baiklah, ayo aku antar ke tempat tinggalmu."
Mereka kini menaiki mobil yang Jon kemudi, menuju Apartemen yang sudah Brayen siapkan, Apartemen yang dulu juga ia pernah tinggali.
"Apa kabar keluarga tuan Brayen disana?" Tanya Jon yang sedang fokus mengemudi.
"Keluarga Abang baik-baik semuanya, mereka semua sedang menanti kelahiran anak pertama Abang." Rian berkata dengan semangat ketika membahas keluarganya di Indonesia.
"Benarkah tuan sudah akan memiliki anak?" Tanya Jon tidak percaya, karena yang dia tahu, selama dua tahun lebih bos nya yang ada di Indonesia itu tidak memiliki kekasih, tapi sekarang malah ia dengar akan segera mempunyai anak.
__ADS_1
"Ya, dan mereka semua sedang menanti kehadiran malaikat kecil itu."
Mereka nampak cepat akrab dan Rian juga tidak sungkan untuk banyak bertanya tentang negara yang baru pertama kali dirinya datangi itu.