Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD46


__ADS_3

pagi-pagi sekali Brayen sudah menyambangi kediaman nenek Zaa. Dirinya semalaman sangat bahagia dan bisa tidur dengan nyenyak. karena selama 3bulan terakhir dirinya susah untuk tidur dengan nyenyak.


Dan sekarang mereka berdua sudah berada disebuah danau hiburan di desa itu.


Setelah sarapan bersama Brayen meminta ijin mengajak wanitanya jalan-jalan dan disinilah mereka berdua berada.


"Ternyata disini indah ya mas."


Zaa berdiri sedikit jauh dari danau hijau yang sejuk itu, dirinya menatap takjub dengan pemandangan sekitar. Selama ini dirinya memang jarang keluar karena kesibukan nya yang membuka jasa kue rumahan, terkadang Rizki sering mengajaknya untuk sekedar keliling desa terdekat, tapi Zaa selalu menolak.


"Hm, tapi lebih indah memandang diri mu."


Brayen merangkul Zaa dari belakang, tangannya ia lingkar kan didepan dada gadis itu. Brayen menghirup dalam-dalam aroma tubuh Zaa, wajahnya ia benamkan dipundak gadis itu.


Seketika kulit Zaa meremang Wajahnya bersemu merah, jantungnya sudah berdetak tak beraturan, sapuan halus nafas Brayen yang menerpan leher jenjang nya membuat nya lemas dan kikuk.


"M-mas jangan seperti ini." Zaa sedikit menjauhkan kepalanya agar Brayen berhenti mengendus-endus leher jenjang nya. Selain tidak nyaman malah membuatnya terangsang perlakuan Brayen juga dilakukan ditempat umum, meskipun tidak terlalu banyak orang, tetapi dirinya tetep malu.


"Kenapa hm." Brayen mengangkat wajahnya, dirinya malah mengeratkan rangkulan nya dari tubuh Zaa. Pandangan nya lurus kedepan, melihat danau hijau yang terbentang luas.


"Apa kamu tau, selama kamu pergi aku sudah seperti mayat hidup." Ucap Brayen dengan menatap lurus kedepan, kembali mengingat bagaimana dirinya terpuruk dan Sekacau apa ketika Zaa meninggalkan nya. Waktunya hanya ia habis kan dikantor dengan segala kegiatan pekerjaan disiang hari, dan dimalam hari dirinya hanya menjadi penghuni Club untuk sekedar minum sampai mabuk agar bisa mengalihkan pikirannya dari Zaa.


Zaa yang mendengarkan penuturan Brayen hatinya terenyuh, dirinya tidak tahu jika seorang Brayen Abraham akan sangat terpuruk ketika ia tinggalkan. Zaa pikir Brayen akan hidup dengan normal, meskipun tidak ada dirinya tapi ada Monika sang mantan kekasih pikir Zaa.


"Memang nya apa yang terjadi? aku lihat tubuh Mas sekarang kurusan, dan,__ Zaa meraba rahang tegas Brayen yang ditumbuhi jambang, dan wajah nya terlihat tirus. __"Apa Mas tidak makan teratur dan merawat penampilan Mas?" Mereka kini sedang duduk diatas rerumputan yang hijau, Brayen merebahkan dirinya dan kepalanya ia taruh diatas pangkuan Zaa.


"Jangankan makan Mandi saja hanya pagi hari sayang."


Brayen berkata seraya memandang Zaa yang sedang menundukkan kepalanya, tangan Zaa mengelus rambut Brayen berulang kali.


"Kenapa?" Zaa yang mendengar ucapan Brayen hanya bisa memandang wajah pria yang sedang menatap dirinya dengan pandangan sayu.


"Karena kamu, kamu pergi tanpa kabar, dan itu membuat diriku hilang tanpa arah lagi,__Brayen mengecup tangan Zaa, kemudian ia letakkan didadanya,__Jangan pernah pergi dariku lagi apapun yang terjadi. Jika kamu pergi lagi entah apa yang akan terjadi kepadaku." Brayen mengelus kulit wajah Zaa dengan lembut matanya menatap Zaa dengan penuh cinta.


"Maaf kan aku Mas." Mata nya sudah berkaca-kaca, Zaa meraih tangan Brayen yang ada diwajah nya dan menciumnya dengan lembut.


"Kalian janji jangan pergi dan jauh dari pandanganku lagi." Brayen memiringkan wajahnya kini berhadapan dengan perut Zaa yang sudah terlihat membuncit. Brayen mengelus dengan lembut dan mencium perut Zaa dengan lembut.


Zaa yang mendapat perlakuan Brayen merasa terharu dan membuat hatinya terenyuh, ternyata pria dingin dan arogan yang dulu ia kenal bisa mencintai dirinya dan calon anaknya sedalam ini.

__ADS_1


"Janji padaku sayang, jangan pernah kamu pergi lagi dariku." Brayen menatap Zaa dengan mata berkaca-kaca.


"Aku janji Mas, tidak akan pergi dari Mas lagi."


"Terima kasih sudah mau memaafkan dan menerimaku lagi, kamu dan calon anak kita adalah nyawaku." Brayen duduk menghadap Zaa, dan membenamkan kecupan dikening dengan sayang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sepanjang jalan Sam hanya bisa menghela napas dan menuliskan telinganya ketika bos yang yang biasa dingin dan datar kini malah bermesraan dan bermanja-manja dengan calon istrinya. Padahal yang hamil Zaa, tapi kenapa bos nya yang sepertinya pantas disebut hamil. Entahlah Sam hanya bisa menggerutu dalam hati, dirinya masih ingin hidup tenang, jadi tidak ingin membuat bosnya murka karena ucapan nya.


"Sayang aku ingin makan bebek goreng." Bukan suara Zaa, melainkan ucapan Brayen yang sukses membuat Zaa melongo.


"Sejak kapan kamu jadi suka makanan seperti itu Mas?" Zaa rasanya tidak percaya dengan permintaan Brayen disiang bolong seperti ini.


"Nona selama tiga bulan terakhir tuan sering meminta menu makanan itu untuk tuan makan,__dan apa nona tau, bahkan saya pagi-pagi harus mencari makanan itu yang dijual dipinggir jalan Xxx?"


"Hah..?" Zaa dibuat heran dan terkejut,___ Apa benar begitu Mas?" Tanya Zaa sambil mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah Brayen, karena Zaa berada didalam dekapan dada bidang Brayen.


"Entahlah rasanya hanya makanan itu yang bisa aku telan, dan tidak aku muntahkan lagi." Brayen masih setia dengan tangan yang memainkan rambut panjang Zaa, dengan mengaitkan jari telunjuk kerambut Zaa mengulungnya berkali-kali hingga membuat rambut Zaa menjadi Curly.


"Muntah?" Zaa bertambah bingung dengan alis saling bertaut.


"Ya aku mengalami Morning Sickness, itu karena aku mengalami Sindrom Couvade." Tutur Brayen.

__ADS_1


"Apa maksudnya? Morning Sickness, Sindrom Couvade?" Zaa menegakan duduk nya di kursi mobil agar dirinya bisa melihat wajah Brayen yang sedang bicara.


"Ck. Kenapa bangun." Brayen menarik tubuh Zaa kembali agar keposisi semula.


"Tidak, jelaskan dulu apa maksudnya tadi?" Zaa mencoba memberontak ingin mendengarkan langsung yang dimaksud ucapan Brayen tadi.


"Apa?,__ Brayen menatap Zaa dengan menaikan sebelah alisnya, __Katakan apa maksud ucapan mu tadi?" Ucap Zaa tegas meminta penjelasan.


"Ya selama tiga bulan terakhir ini aku sering mengalami mual dan muntah pagi hari, siang bahkan terkadang malam hari, dan semua kejadian itu membuat aku lemah tak berdaya hingga membuat aktivitasku terbengkalai karena aku mengalami kehamilan simpatik, Dimana aku yang harus mengalami mual dan muntah pada umumnya hanya untuk wanita hamil. Dan ternyata semua yang ku alami karena kamu yang sedang mengandung darah daging ku." Brayen mengelus purut Zaa dengan lembut, satu kecupan ia berikan dipelipis gadis itu.


Zaa yang mendengar penuturan Brayen malah sudah tidak bisa menahan ketawanya. Dirinya tertawa keras hingga membuat sudut matanya berair. Dengan mengusap matanya Zaa berkata. "Jadi kau yang mengalami yang namanya ngidam?" Zaa masih bisa tertawa dengan renyah.


Brayen yang melihat Zaa tertawa dengan lepas mampu membuat hati nya bergetar, sungguh baru pertama kali dirinya membuat Zaa bisa tertawa lebar dan lepas tanpa beban seperti sekarang ini. Dirinya rela jika harus merasakan sakit dahulu jika bisa membuat gadis nya bisa sebahagia ini.


"Hahahaha sayang sungguh aku tidak menyangka jika kamu yang mengalami itu semua? karena aku sama sekali tidak merasakan ataupun mengalami ngidam seperti ibu hamil pada umumnya." Disela-sela tawanya yang sudah sedikit mereda Zaa berucap.


"Aku bahagia bisa membuat kamu tertawa lepas dan bahagia seperti ini, maaf sudah terlalu banyak aku menyakitimu sayang." Brayen mengelus pipi Zaa dengan sayang.


"Maaf sudah membuatmu mengalami hal seperti ini Mas, pasti sangat menyulitkan mu?" Zaa berkata seraya menangkap pipi Brayen dengan satu tangan nya. Dirinya tidak menyangka bahwa Brayen akan melewati masa-masa ngidam yang sama sekali dirinya tidak pernah rasakan.


"Tidak masalah asalkan buat kalian berdua, aku akan melakukan apapun, meskipun hal itu menyiksa diriku, membuatmu bahagia itu sudah cukup bagiku." Ucapan Brayen membuat Zaa terharu dan tak kuasa menahan air matanya, Zaa langsung memeluk tubuh Brayen dengan erat.


"Terimakasih Mas."


Brayen menerima pelukan Zaa dengan tersenyum berulang kali dirinya memberikan kecupan dipucuk kepala Zaa. "Hm.." Brayen hanya bergumam dan mengeratkan tangannya merengkuh tubuh gadis yang sangat dicintainya.


"Mas?"


"Hmm.."


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Zaa berkata dengan lirih takut jika Brayen akan marah.


"Katakanlah."


"Apakah M-monika juga hamil?" Zaa berucap dengan terbata hatinya terasa nyeri ketika berucap, apalagi jika benar Monika juga tengah hamil seperti dirinya.


"Hmm, benar."


Deg.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2