Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD24


__ADS_3

"Mas aku ketoilet sebentar ya?" Zaa meminta izin kepada Brayen.


"Yasudah jangan lama-lama sayang."


"Hem.."


Zaa berjalan menuju toilet direstoran itu, setelah selesai menuntaskan hajatnya Zaa yang sedang berdiri didepan wastafel untuk membasuh wajahnya.


Ceklek


Suara pintu terbuka, dan ketika Zaa menatap arah cermin. terlihat seorang wanita menatapnya dengan sinis, lalu wanita itu berjalan mendekati Zaa, dan berdiri disamping Zaa.


Menelisik penampilan Zaa dari atas sampai bawah, Monika terus saja memandang Zaa remeh.


"Ternyata selera Ray gadis miskin seperti kamu huh.!" Monika berkata seraya menampilkan kesan sombong.


Zaa yang masih mengeringkan wajahnya dengan tisu menoleh kearah wanita yang mengajaknya bicara, menatap wanita cantik dan berpakaian sexy yang sedang berdiri menyender wastafel, melipat kedua tangan di dada.


"Maaf maksud anda apa yaa?" Seingat Zaa dia tidak pernah bertemu dengan wanita didepan nya itu. karna Zaa memang tidak mengenal Monika.


"Orang miskin sepertimu memang tidak pantas disamping Ray." bukanya menjawab Monika malah berkata ketus.


Zaa mencoba mencerna ucapan wanita itu, apa mungkin dia mantan Brayen yang belum bisa move on.


"Memang nya siapa yang menurut anda pantas yang harus bersama Mas Ray?"


Sepertinya Zaa mengerti siapa wanita yang ada dihadapanya ini. tidak mungkin kan kalo wanita ini hanya mengenal Brayen saja.


"Saya Monika.! Wanita yang sangat dicintai Brayen Abraham." jawabnya sarkas, dengan tatapan tajamnya. "Bahkan saya wanita satu-satunya yang pernah menjadi penghangat ranjang seorang Brayen." tersenyum meremehkan, karna merasa menjadi wanita yang beruntung bisa menghabiskan malam panjang dengan pria kaya raya dinegara ini.


Deg


Zaa membatu, 'Wanita penghangat ranjang' meskipun Zaa tau brayen pria dewasa tapi mendengar langsung dari mulut seorang partner ranjang Brayen, hatinya serasa sesak kenapa hanya mendengarnya saja sudah membuatnya sakit dihati.


Memejamkan mata sejenak seraya menghirup nafas dengan pelan. Zaa menatap Monika dengan tatapan menilai penampilan Monika dari atas sampai bawah.


"Pantas saja anda wanita penghangat ranjang," tatapan mencibir sambil tersenyum miring "Karna seorang J***** seperti anda memang pantas ditinggalkan.!" lanjutnya dengan penuh penekanan.


"Kamu.!"


Belum sempat tangan Monika menggapai pipi Zaa, tapi tangan nya sudah ditahan duluan oleh Zaa.


Monika yang awalnya mengikuti Zaa ketoilet, niat ingin membuat Zaa panas dah marah kepada brayen. tapi malah sebaliknya, Monika merasa malu dan marah karna gadis miskin itu menghinanya dengan kata J*****. bahkan Zaa menahan tangan nya yang ingin menampar gadis itu.


"Ck jangan dikira saya wanita lemah yang bisa anda tindas." tatapan tajam Zaa, membuat Monika sedikit gusar. "Anda hanya bekas mantas calon suami saya, jadi tidak usah membagakan diri anda yang merasa paling dicintai oleh Mas Ray. karna nyatanya Mas Ray lebih memilih saya ketimbang anda nona Monika." Zaa menekankan diakhir kalimatnya. menyadarkan posisi Monika yang hanya masa lalu, bahkan dicampakan karna ulahnya yang berkhianat itu.


Monika yang mendengar Zaa mengatakan Brayen calon suaminya, hanya menatap Zaa datar. meskipun dalam hatinya merasa sakit dan marah, tapi Monika harus menahan nya untuk sekarang.


"Jika anda ingin merebut Mas Ray dari saya, Silahkan jika mas Ray bersedia menerima wanita Be-kas seperti anda. saya tidak akan mencegahnya."


Ucapan Zaa cukup monohok Monika, bahkan emosi wanita itu sudah memburu ingin memberi pelajaran untuk Zaa. kata Be-Kas, yang yang ucapkan cukup melukai harga dirinya.


"Tapi sebaliknya jika Mas Ray tidak menginginkan anda, saya harap anda sadar diri." setelah berucap Zaa lekas pergi meninggalkan Monika yang menahan amarah.

__ADS_1


"Aarrgghh.. dasar wanita sialan, jangan harap kau akan mendapatkan Brayen.!" mengepalkan kedua tangan nya Monika menatap tajam cermin yang memantulkan dirinya sendiri.


"hanya seorang Monika yang pantas dengan Brayen Abraham."


.....


"Kenapa lama sekali si yang?"


Ray yang merasa menunggu terlalu lama, Zaa yang hanya ijin ketoilet.


"Toiletnya rame mas."


Brayen yang menatap Zaa dengan raut wajah yang terlihat menahan sesuatu mencoba bertanya, karna tadi ketika pergi wajahnya Zaa biasa saja.


"Apa terjadi sesuatu sayang?" Ray bertanya dengan suara lembut dan sambil menggenggam tangan Zaa diatas meja.


"Tidak." jawaban datar terkesan dingin.


Brayen menjadi gusar, tidak biasanya Zaa berkata dengan suara dingin bahkan raut wajahnya terlihat datar, baginya Zaa adalah wanita yang berhati lembut dan tulus. apa mungkin ia belum mengenal sisi Zaa yang lainya.


"Say__"


"Aku sudah selesai mas, aku mau pulang."


Belum sempat Brayen menyelesaikan ucapan nya Zaa sudah memotongnya.


"Baiklah."


Brayen hanya pasrah, tidak ingin menambah kemarahan yang kekasihnya pendam. dengan melihat sorot mata Zaa yang sedikit memerah Brayen tau kalau terjadi sesuatu dengan Zaa.


Didalam mobil Zaa hanya menatap kosong kearah jendela kaca, bahkan sama sekali tidak berucap dari awal menaiki mobil.


"Apa kamu ada masalah sayang?" Brayen mencoba memecah keheningan.


"Tidak." masih fokus dengan posisinya.


Brayen yang melihat sifat aneh Zaa hari ini, dibuat geram. karna merasa tidak membuat suatu kesalahan tapi melihat tingkah Zaa yang terkesan dingin seolah ada benteng yang menghalangi mereka sekarang.


Sejatinya Brayen bukan tipe pria yang penyabar,karna dikehidupanyan untuk menjadi seorang pemimpin harus tegas dan berkomitmen. mendapat perlakuan dingin dari kekasihnya dia jadi emosi sendiri,karna tidak biasanya seorang Brayen diacuhkan atau tidak dihargai kehadirannya.


Mobil Brayen sudah sampai di depan rumah milik Zaa, gadis itu yang sudah ingin membuka pintu mobil tapi dengan cepat Brayen menguncinya kembali.


"Buka mas, aku mau turun.!" tidak sadar Zaa berteriak.


Ucapan Zaa barusan membuat emosi pria itu kian bertambah.


Brayen yang tidak tau apa yang Zaa rasakan menolak keinginan Zaa yang ingin segera turun dari mobil.


Brayen menatap tajam Zaa. tatapan tajam yang mampu membuat hati Zaa sesak, Brayen yang biasanya menatap Zaa dengan tatapan hangat dan penuh cinta kini berubah dingin yang membekukan aura disekitarnya.


Dengan susah payah Zaa menelan salivanya, sungguh ia hanya ingin cepat keluar dari mobil, dan menangkan pikirnya yang sedang kalut oleh ucapan Monika tadi.


Entahlah padahal Brayen putus dengan Monika sudah lama, tapi ucapan yang menjadi 'penghangat ranjang' terus terngiang-ngiang dikepalanya.

__ADS_1


Membayangkan saja Zaa sudah terasa sesak,seakan pasokan udara disekelilingnya habis.


Zaa menatap balik Brayen tajam dengan kedua mata yang memerah menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.


"Tuan..tolong buka pintunya." ucapan penuh penekanan yang dilontarkan cukup membuat hati Brayen berdenyut, meskipun tatapanya masih dingin dan tajam. tapi dalam hatinya ia merasa teriris, ketika orang yang dia cintai memanggilnya kembali seperti orang asing.


Brayen langsung menyambar tengkuk Zaa, menyatukan bibirnya dengan bibir Zaa, memangut benda kenyal nan manis itu dengan kasar, bahkan Brayen tidak merespon ketika Zaa meronta dan memukuli dada pria itu. Ray seakan tuli, hati dan pikiran nya sudah dikuasai amarah, mendengar ucapan gadis itu sudah membuat emosinya sampai keubun-ubun.


Zaa yang pertama kali mendapat perlakuan kasar Ray, tidak terasa ia menjatuhkan air matanya dipipi. selama ini meskipun Brayen sering menyerang Zaa dengan ciuman, tapi Brayen masih bermain dengan lembut dan penuh perasaan.


Ray masih rakus m*****t dan menyesap bibir Zaa dengan kasar, bahkan kabut gairah dikedua mata brayen sudah berkilat menahan hasrat.


Brayen yang tidak bisa mengontrol emosinya, tangan nya sudah beranjak meremas buah dada Zaa yang masih terhalang pakaian.


Merasa Brayen sudah kelewat batas Zaa mencoba melawan. dan satu tamparan ia layangkan kepipi kiri Brayen.


Plakk.


Suara tamparan sangat keras menggema didalam mobil mereka berdua. Zaa dengan napas yang masih memburu naik turun. menatap brayen dengan air mata yang berderai deras dipipinya.


Menghapus air matanya dengan punggung tangan nya zaa yang masih mencoba menormalkan nafasnya berucap.


"To-long tuan, saya ingin turun.


." pintanya dengan napas tercekat dan Isak tangis.


Begitu kunci terbuka,Zaa langsung keluar dan membanting pintu dengan sngat keras, ia berlari dengan masih mengusap air matanya yang terus mengalir, dia merasa Brayen memperlakukannya seperti wanita j****g diluaran sana.


Bahkan Brayen tidak menghiraukan tangisan Zaa yang dilihatnya, telinganya seakan tuli dan matanya tertutup oleh emosi dan kemarahan yang meluap-luap.


Perasaan kecewa, marah bercampur sesak dihatinya, Brayen merasakan itu semua saat bersamaan.


Belum pernah ia merasakan hatinya sesakit ini, hanya karna dianggap orang asing lagi oleh kekasihnya.


Brayen yang masih menetralkan deru nafasnya yang masih memburu,bahkan pikirannya masih dikuasai emosi, mecoba menahan gejolak gairahnya.


Menghidupkan mesin mobilnya menuju kesuatu tempat.


Tempat yang mungkin akan bertambah membuat hubungannya dengan Zaa akan semakin jauh.


.


.


.


.


.


like


komen

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian🄰


__ADS_2