Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD52


__ADS_3

Hari yang mereka tunggu-tunggu telah tiba, hari ini Brayen dan Zaa akan melakukan Ijab Kabul.


Acara yang dilakukan disebuah hotel mewah, keluarga Zaa sempat terkejut dan takjub, hanya ijab kabul tapi dekorasinya sangat mewah.


Disebuah kamar hotel Zaa sedang diberi sentuhan akhir dengan menata aksesoris diatas kepalanya.


Dengan tangan ahli para MUA wajah cantik Zaa bertambah kali lipat cantiknya.


"Beres, anda sangat cantik nona.? Ucap seorang perempuan yang merias Zaa.


"Terimakasih." Zaa sendiri dibuat takjub dengan penampilan dirinya didepan cermin, penampilannya sungguh membuat dirinya tak percaya.


"Pantas saja tuan muda Abraham sangat mencintai anda, memang anda sangat cantik dan serasi." Pujian para perias untuk Zaa.


Zaa hanya tersenyum untuk menanggapi mereka, dirinya merasa grogi dan gemetar karena sebentar lagi dirinya akan menjadi istri seorang Brayen Abraham.


"Selamat pagi!" Seruan dari ambang pintu membuat Zaa menoleh ternyata Dian dan ibunya.


"Dian!" Zaa tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangan nya menyambut kedatangan sahabatnya dengan sebuah pelukan.


Para MUA keluar setelah selesai dengan tugasnya.


"Selamat ya, akhirnya loe nikah." Dian terharu sampai matanya berkaca-kaca.


"Makasih, aku rindu sama kamu Di." Zaa juga tidak kuasa menahan laju air matanya. Dirinya sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya karena semua masalah yang dia alami.


"Sudah kalian ini kenapa jadi pada nangis." Ucapan Bu Ratna menyadarkan mereka yang larut dalam haru, mereka melepas pelukan.


"Gila loe cantik banget Zaa." Ucap Dian setelah dirinya menatap Zaa dengan seksama, karena begitu datang melihat Zaa dirinya langsung berhamburan memeluknya.


"Makasih."


"Nak kamu cantik sekali." Bu Ratna mendekati Zaa dan memeluk anak gadisnya yang sebentar lagi akan dinikahi.


"Ibu." Zaa merasa sedih mendengar isakan ibunya yang sedang memeluknya.


Bu Ratna segera melepas pelukan nya, " Hey kenapa kamu jadi ikut menangis? Ibu bahagia sayang, karena kamu akan menikah." Ucap Bu Ratna dengan mengusap pipi Zaa yang basah oleh air mata. "Jangan menangis, ini hari bahagia mu." Bu Ratna mendaratkan kecupan di kening Zaa dengan lembut.


"Terimakasih atas semua yang ibu berikan kepada Zaa, ibu adalah seorang yang sangat Zaa cintai. Maaf Zaa belum bisa membalas kebaikan ibu, dan membahagiakan ibu." Zaa berkata dengan lirih dan menahan tangis agar tidak meledak.


"Ibu sudah bahagia melihat anak-anak ibu juga bahagia, restu ibu selalu bersamamu nak."


Disaat mereka sedang mengharu biru, tiba-tiba pintu kamar diketuk.


"Kak apa sudah siap?" Sherin muncul dengan penampilan tak kalah cantik, gaun kebaya dan riasan yang dipakainya sangat cocok dengan gadis remaja itu.


"Sudah Sher." Jawab Zaa.


"Ayo Kak keluar, acara akan segera dimulai."


Mereka keluar bersama setelah Bu Ratna keluar dahulu, dan sekarang Zaa diapit oleh sahabat dan calon adik iparnya.

__ADS_1


Dibawah sudah banyak anggota keluarga dan para kerabat dan sahabat Brayen. Zaa semakin gugup setelah pandangan nya bertemu dengan mata Brayen yang sedang menatapnya tidak berkedip.


Brayen terpesona dengan penampilan Zaa yang sangat cantik. Dirinya tidak berkedip melihat penampilan Zaa.


Zaa duduk disamping Brayen dengan kepala menunduk karena gugup dan sedikit malu, karena semua orang menatap ke arahnya.


"Kamu sangat cantik sayang." Ucap Brayen berbisik.


Zaa merona malu untung wajahnya merahnya tersamar dengan makeup.


"Baiklah apakah acara bisa kita laksanakan." Tanya penghulu.


"Silahkan pak, nampaknya mempelai pria sudah tidak sabaran." Ucap pak Rudi berkelakar.


Semua tersenyum ketika melihat dua pengantin yang sedang gugup dan malu.


Rian sebagai keluarga laki-laki, dirinya yang akan menjadi wali kakaknya.


Rian terlihat sangat tampan bahkan banyak para sepupu wanita Brayen yang diam-diam membicarakannya dan memotret Rian dari jarak aman.


Sherin yang tahu jika Rian menjadi sorotan para sepupunya memilih pergi degan duduk disamping mamanya.


Sherin juga terpesona dengan penampilan Rian yang berbeda ketika dirinya memakai seragam sekolah. Rian yang menggunakan batik lengan panjang dipadukan celana panjang Cansual membuat aura ketampanan Rian bertambah berkali-kali lipat.


Sedangkan pria yang mereka kagumi juga tak kalah gugup, dirinya yang harus menikahkan kakak nya dan ini adalah sejarah baginya. Sejak tadi sebenarnya dirinya suka curi-curi pandang kepada Sherin. Rian juga terpana melihat penampilan Sherin.


Acara dimulai dengan Rian yang menjadi wali. Dan dengan satu tarikan napas Brayen berucap dengan lancar.


Kini mereka berdua sudah menjadi sepasang suami istri yang sah.


Dengan senyum terus mengembang Brayen tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada para tamu yang memberinya selamat.


Willy, Ramon dan Juan, ketiga sahabat Brayen juga turut hadir, mereka ditemani Sammy.


"Wah bro, selamat loe duluan yang merit." Ucap Ramon.


"Thank Man, udah Dateng di acara gue."


Brayen memperkenalkan Zaa dengan ketiga sahabatnya. Kerena memang baru pertama mereka bertemu.


"Selamat Zaa." Dian memeluk Zaa dan memberikan selamat.


"Terimakasih Dian."


"Pak jaga teman saya, jika bapak menyakitinya maka saya orang pertama yang akan menghajar bapak." Dian berucap dengan nada penuh peringatan seolah-olah sedang bicara dengan musuh.


"Kamu tenang saja, dia akan bahagia bersama saya." Brayen merangkul pundak Zaa dan mengecup pelipis istrinya.


Zaa yang mendapat sebuah kecupan merasa malu, karena Brayen melakukanya didepan Dian dan para tamu.


"Iss dasar bucin, gak tau apa kalau aku jomblo." Dian menggerutu dan segera pergi.

__ADS_1


Semua nampak bahagia dengan pernikahan Brayen dan Zaa.


"Sayang apa kamu lelah." Brayen menggenggam tangan Zaa untuk menyuruh istrinya duduk.


"Sedikit Mas." jawab Zaa dengan lembut.


"Kita masuk saja ya, aku khawatir kamu dan baby kelelahan." Brayen yang hendak berdiri tapi tangan nya ditahan oleh Zaa.


"Tamunya belum pada pulang mas, tidak enak jika kita pergi begitu saja." Ucap Zaa.


"Tidak apa-apa mereka akan memaklumi." Brayen segera berdiri dan menggandeng tangan Zaa.


"Loh Ray mau kemana kamu?" Mama Indri yang sedang mengobrol dengan ibu Zaa bertanya.


"Ray mau bawa Zaa ke kamar mah, untuk beristirahat."


"Yasudah, kasian juga cucu Mama kalau ibunya kelelahan."


"Kami permisi dulu Mah, ibu nenek." Pamit Brayen.


Setelah agak sedikit sepi Brayen segera menggendong Zaa.


"Mas!" Zaa yang terkejut reflek berteriak.


"Mas gak sabar melihat kamu kesusahan berjalan sayang."


"Tapi malu mas, turunin." Zaa menyembunyikan wajahnya didada Brayen ketika berpapasan dengan orang.


"Tidak akan." Brayen terus berjalan sampai dimana kamar hotel yang mewah disulap menjadi kamar pengantin yang sangat indah.


Brayen menurunkan Zaa di pinggiran tempat tidur, dirinya berjongkok untuk melepas sandal yang Zaa kenakan.


"Mas, aku bisa sendiri." Ucap Zaa yang tidak enak dan merasa gugup dengan perlakuan Brayen.


"Tidak apa-apa biar kamu nyaman, sekarang aku bantu lepasin aksesoris dikepalamu."


Brayen dengan hati-hati membantu istrinya. Zaa juga dengan senyum malu, memilih diam.


"Kamu ganti baju kamu sayang, terus mandi dan istirahat. aku akan keluar sebentar menemui teman-teman ku ya." Brayen mengecup kening Zaa dan keluar dari kamar setelah mendapat ijin dari istrinya.


Zaa segera masuk kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah terasa lengket.


Sedangkan Brayen menyapa para sahabatnya dan mengobrol dengan mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2