
Disebuah Mall terbesar di kota itu, Brayen menemani istrinya berbelanja keperluan untuk bayi mereka, mengingat sebentar lagi penerus keluarga Abraham akan segera lahir.
"Sayang yang ini lucu." Brayen memperlihatkan baju jumpsuit berwarna coklat yang mempunyai belalai dibagian depan baju itu.
"Ini juga lucu Mas." Zaa juga memperlihatkan setelan baju yang lengkap dengan topi dan sepatu berwarna abu-abu.
"Baiklah semua yang lucu dan bagus harus kita beli." Ucapnya dengan semangat memilih baju, sepatu topi untuk anak mereka nanti.
"Jangan berlebihan Mas, nanti hanya sebentar baby memakainya karena biasanya sudah tidak akan muat lagi." Ucap Zaa memperingati suaminya agar tidak membeli secara berlebihan.
"Tapi semuanya nampak bagus dan lucu sayang."
"Seperlunya saja Mas, tidak baik membeli banyak tetapi tidak terpakai."
"Baiklah, kau memang istriku paling pintar." Brayen tidak sungkan mencium kening istrinya didepan umum bahkan ada pelayan yang mengikuti mereka sedari tadi menjadi malu sendiri.
"Iss Mas malu tau." Zaa merona malu ketika beberapa pasang mata menatap mereka dan berbisik-bisik.
"Biarkan saja, toh kamu istriku bukan selingkuhan ku." Ucapnya cuek.
"Ohh jadi pengen ngajak selingkuhan belanja juga." Zaa sedikit geram mendengar ucapan suaminya, dirinya pura-pura marah. Meskipun tahu suaminya hanya bercanda.
"Ehh, b-bukan begitu sayang." Brayen kebingungan sendiri melihat istrinya berjalan mengabaikan ucapan nya.
"Sayang, maaf aku hanya bercanda..jangan marah ya." Brayen meraih tangan istrinya yang sedang memilih popok dan bedong untuk si bayi.
"Sayang.." Brayen merengek seperti anak kecil bahkan menjadi tontonan orang-orang disekitar. Tidak tahan ingin mengerjai suaminya malah dia sendiri yang malu banyak orang memperhatikan mereka.
"Apa'an sih Mas, malu tau." Zaa bergumam dengan meta melotot memperingati tingkah suaminya.
"Makanya maafin ya." Brayen memohon dengan wajah sememelas mungkin.
"Udah ah, gak lucu Mas." Zaa segera menaruh beberapa barang yang sudah dirinya pilih dan memasukkan kedalam troli yang Brayen pegang dan segera pergi.
"Lah masih ngambek, nih mulut kenapa kelepasan sih." Brayen merutuki dirinya sendiri jika sampai istrinya marah benar, sudah pasti dirinya akan terlantar diluar kamar, membayangkan saja sudah membuat dirinya merinding.
"Sayang tunggu!" Brayen segera mengejar istrinya yang sudah jauh menuju kasir.
__ADS_1
...................
Dibelahan bumi lain seorang pria sedang melakukan Vidio call dengan gadis cantik yang sudah ia rindukan hampir enam bulan ini.
"Abang apa kabar?" Suara yang Rian rindukan menyapanya.
"Abang baik, Sher apa kabar?" Tanyanya kembali memandang wajah cantik yang menghiasi layar ponselnya.
"Sher baik, semua juga baik, bahkan sebentar lagi kakak ipar akan melahirkan." Sherin berkata dengan wajah bahagia menampilkan senyum manisnya.
"Alhamdullah kalau begitu, sekolah bagaiman lancar?"
"Lancar Sher sedang mencari universitas yang bagus, agar nanti Sher gak pusing lagi ketika sudah lulus sekolah." Curhat Sherin.
"Tidak mau menyusul Abang?" Tanya Rian dengan mengulas senyum.
"Pengennya begitu, tapi ngak boleh sama Mama dan Papa, apalagi Abang." Dengan wajah ditekuk Sherin bercerita.
"Kalau kamu pergi jauh, nanti Om dan Tante gak ada yang nemenin, kan Abang udah punya rumah sendiri."
"Yaa tapikan Sher pengen sekolah keluar negeri Abang." Dengan wajah cemberut Sherin merengek seperti anak kecil, membuat Rian tidak tahan dengan wajah menggemaskan itu.
"Iss Abang, Sher kan lagi curhat sedih, kenapa malah diketawain sih." Sherin mengerucutkan bibirnya lucu.
"Iya..iya.. Maaf, abis wajah kamu bikin Abang tambah kangen." Ungkap Rian membuat gadis diseberang sana merona malu.
"Abang iss, bikin Sher malu tau." Malu-malu Sherin menutupi wajahnya dengan bantal.
"Emang kamu gak kangen sama Abang?"
"Ngak lah, ngapain kangen sama cowok tengil kek Abang." Ucapnya bohong. Padahal dirinya juga merindukan pria yang wajahnya memenuhi layar ponselnya.
"Ohh, berarti Abang doang ya yang kangen." Rian pura-pura menampilkan wajah kecewa.
"Ya begitulah." Balasnya cuek.
"Oke, Abang tutup dulu telfonnya." Rian yang nendang mematikan berhenti ketika mendengar teriakan Sherin.
__ADS_1
"Kenapa? katanya gak kangen." Rian menahan tawa ketika melihat wajah Sherin yang cemberut lucu.
"Iss Abang gak peka, biasanya kalo cewek bilang gak kangen malah kebalikan nya." Sherin menggerutu kesal.
"Mana Abang tau, Abang kan bukan cenayang sayang." Ucapan Rian membuat Sherin tambah panas diarea wajahnya.
"Abang.." Sherin menutup wajahnya dengan bantal kembali, menghindari agar Rian tidak melihat wajahnya yang merah karena sangking senangnya.
"Jadi kangen gak nih?" Rian pura-pura menggoda, padahal ia tahu jika Sherin sedang salting karena ucapan 'sayang'nya tadi.
"Kapan Abang pulang?" mengalihkan pembicaraan ketika dirinya sudah bisa mengontrol degub jantung nya yang menggila.
"Sebentar lagi Abang pulang, tunggu Abang ya."
"Sebentar apa nya? masih empat tahun lagi Abang." Ucapnya dengan mer*mas bantal yang ia pegang.
"Empat tahun hanya sebentar sayang, Abang akan belajar dengan giat agar Abang bisa pulang lebih cepat."
"Janji ya, Abang pulang buat Sher, jangan bawa pulang-pulang bawa calon." Ucapnya dengan wajah sendu.
"Mana mungkin Abang pulang bawa calon, Abang disini untuk belajar."
"Siapa tahu Abang kepincut cewek bule disana."
"Calon Abang kan ada disana sedang duduk dikamar menatap wajah Abang sekarang." Goda Rian dengan senyum menggoda nya.
Tak tahan dengan gombalan Rian akhirnya Sherin mengakhiri panggilan itu.
"Sherin juga kangen Abang." Sherin berucap setelah sambungan telfon terputus, merebahkan dirinya dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Cowok yang dulu nyebelin dan tengil kini bisa mengambil hatinya, bahkan mereka adalah sodara iparan.
Entah hubungan seperti apa mereka kedepan nya, yang terpenting biarkan dirinya menikmati kebersamaan mereka sekarang, meskipun LDR'an.
Like
komen
tinggalkan jejak kalian
__ADS_1
mampir juga karya author satunya "Pembantuku Canduku"