
Kaki kecil yang nampak lincah berlari kesana kemari dengan tawa Khas suara anak balita memenuhi rumah yang nampak ramai dengan adanya kakek, nenek Oma dan aunty Kevin yang sedang bercengkerama diruang keluarga.
"Kevin.. pelan-pelan nanti jatuh sayang." Balita itu tidak menghiraukan karena dirinya sedang asik mengejar kucing kesayangan nya yang mengajaknya bermain kejar-kejaran.
Kevin sangat menyukai kucing pemberian papanya. Mengingat balita itu menyukai binatang Brayen sengaja membuatkan halaman khusus untuk tempat tinggal hewan peliharaan putranya, meskipun yang mengurus adalah pelayan.
"Apa Abang masih dikamar bersama kakak ma?" Hari ini adalah hari Weekand keluarga Abraham sedang berkumpul.
"Abang mu akan menghabiskan waktunya bersama kakak mu." Ucap Indri dengan perhatian nya selalu tertuju kepada cucu kesayangan keluarga Abraham.
..............
"Sayang kapan kamu akan bangun?" Brayen tidur disamping istrinya dengan tangan menyangga kepalanya. Dirinya mencium tangan kuris istrinya sesekali mengecup seluruh wajah istrinya.
"Apa kamu tau kalau ibu, menyuruhku untuk mencari penggantimu?" Brayen bercerita tentang ibu mertuanya yang memberikan saran agar dirinya menikah lagi, dengan alasan tidak mau membebani kehidupan Brayen dan Kevin juga butuh sosok seorang ibu, Brayen adalah pria normal selama tiga tahun merawat istrinya yang koma dan dirinya pun tidak ada yang merawat, sungguh hal itu membuat Ratna merasa bersalah dan kasihan.
"Ibu bilang, kamu adalah beban hidupku, dan Kevin butuh sosok seorang ibu." Brayen terus berucap,dirinya akan merasa nyaman jika bercerita dengan istrinya, meskipun Zaa tidak bisa menjawab tetapi Brayen yakin jika istrinya mendengarkan semua ucapan nya.
"Apakah aku egois jika akan menikah dengan wanita lain, apa kamu akan ikhlas jika aku duakan?" Brayen seakan bertanya dan meminta izin.
"Jika kamu ikhlas dan mengijinkan aku menikah lagi maka akan aku lakukan." Entahlah rasanya Brayen sudah lelah jika harus terus memotivasi istrinya, mungkin dengan memberi terapi syok akan membuahkan hasil.
Tak terasa mata terpejam Zaa mengeluarkan setitik air mata.
__ADS_1
Brayen yang melihat itu tersenyum haru dirinya yakin istrinya mendengarkan semua perkataan nya.
"Sayang...jika kamu tidak bangun secepatnya, maka dirumah ini akan ada pesta pernikahan aku dan calon Mama baru untuk Kevin." Brayen terus berkata, demi tuhan dirinya menahan tangis melihat jari Zaa bergerak pelan digenggaman nya.
"Mungkin juga Kevin akan segera mempunyai adik lagi, karena aku akan membawa istri baruku pergi berbulan madu." Dirinya tidak bisa membendung air mata yang ingin keluar, Brayen menangis tanpa suara, hanya bicaranya yang terdengar serak.
"Aku janji akan membahagiakan Kevin dan calon ibu barunya, Dan mungkin juga aku akan membagi waktu kebersamaan kita." Ucapan Brayen semakin menjadi karena istrinya merespon dengan ucapan nya dan jari-jari tangan nya pun semakin sering bergerak.
"Jika kamu tidak bangun sekarang, maka besok adalah hari dimana kamu akan menjadi madu." Tersenyum dibalik air mata yang berlinang. Brayen terus menggenggam tangan istrinya dan mengelus pucuk kepala Zaa.
"Aku Bicara serius." Ingin rasanya Brayen berteriak ketika perlahan bulu lentik mata Zaa bergerak. "Semua sudah disiapkan Mama jadi aku tinggal menerima wanita pilihan Mama dan ibu." Semakin ngelantur saja ucapan Brayen.
Niat awal memang ingin bercerita tentang ucapan ibu mertuanya yang menyuruhnya menikah lagi, dirinya merasa marah dan tidak terima jika istrinya digantikan oleh wanita lain, tetapi amarah nya ia tahan, karena menghormati ibu mertuanya. Brayen hanya diam dan tidak menanggapi ataupun mengiyakan, dirinya hanya diam mendengarkan bagi mereka Zaa adalah beban hidupnya, tetapi bagi seorang Brayen Zaa adalah hidupnya, Ia tidak tidak bisa hidup tanpa istrinya dan sekarang ada Kevin ditengah-tengah mereka. Tidak ada alasan bagi Brayen untuk menduakan atau mencari pengganti istrinya. Karena sampai kapan pun Brayen akan tetap hidup untuk anak dan istri tercintanya.
"Jagoan kenapa hey.." Kevin langsung naik keatas ranjang dan duduk dipangkuan Brayen ketika Brayen merentangkan tangan nya.
"Huaaa... Pepo nakal papa, Kevin digigit." Balita itu menangis kencang sampai sesenggukan sehingga ucapan cedalnya terputus-putus.
"Mana yang sakit sini papa lihat." Brayen dengan lembut mengusap kepala putranya.
Balita kecil itu menyodorkan jari telunjuk nya yang sedikit merah terkena gigi kucing kesayangan nya.
"Jagoan papa tidak boleh nangis ya,, harus kuat tidak boleh cengeng." Brayen meniup jari Kevin dengan lembut dan terkadang mencium pucuk kepala putranya itu.
__ADS_1
"Iya papa, Kevin janji tidak akan menangis lagi." ucap Kevin polos dengan wajah menggemaskan.
"Pinter anak papa." Brayen mencium pipi putranya.
"Papa kapan Mama bangun?"
"Mama mu masih betah tidur sayang, besok papa akan kenalkan Kevin dengan Mama baru."
Deg.
Brayen serasa meremang tubuhnya terasa kaku dan tidak percaya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Like..komen..mampir "Pembantuku Canduku" Ke lapak sebelah yaa🥰🥰