Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD29


__ADS_3

Sudah satu Minggu berlalu Zaa yang ikhlas dan berusaha menyakinkan hatinya untuk baik-baik saja. kini ia bisa menjalani hari-hari seperti biasa, bahkan Zaa lebih semangat dan giat lagi untuk bekerja.


Meski kadang bayangan kebersamaanya dengan Brayen melintas dipikirannya, tapi ia segera menepisnya dan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang rumayan mengalihkan pikirannya dan membuat hatinya lebih baik dari hari sebelum-sebelumnya.


Kini ia sedang menata hatinya,menata agar lebih baik lagi. tapi bukan berarti Zaa harus cepat mencari pengganti untuk mengisi hatinya.


Dengan kejadian yang lalu dan bahkan yang sebelumnya membuat Zaa mendapat pelajaran dan pengalaman dalam kehidupan pribadinya.


Bahkan ia bersyukur ketika Tuhan memperlihatkan semuanya sekarang, tidak bisa dibayangkan jika saja hubungannya dengan Brayen sudah ketahap lebih serius dan mendapati kenyataan bahwa kekasihnya telah berkhianat. mungkin hati dan keadaan Zaa akan lebih hancur.


Dan selama seminggu ini Zaa juga tidak pernah mendapat kabar dari Brayen, bahkan pria itu tidak pernah menemuinya, sama sekali tidak menghubungi lewat pesan atau pun telpon.


Mungkin bagi Brayen, Zaa bukanlah orang yang sangat berarti baginya, jadi Zaa berpikir bahwa Brayen mungkin sedang bersenang-senang dengan wanita yang dibilang mantan kekasihnya itu.


Zaa juga tidak akan berlarut memikirkan semua itu, meskipun rasa sesak dan sakit hati terkadang masih merajai didadanya, ketika bayangan foto-foto Brayen dan wanita itu kembali terlintas dipikirannya. tidak dipungkiri bahwa hatinya masih ada nama Brayen.


"Mau pulang aku antar Zaa." tiba-tiba suara Doni membuyarkan lamunan Zaa.


Cafe sudah tutup dan Zaa masih menunggu Rian yang katanya masih ada urusan,jadi telat untuk menjemput.


"Apa tidak apa-apa kak?" Zaa sungkan karna sudah beberapa hari ini Doni sering menawarinya tumpangan.


Doni tersenyum," tidak,aku bahkan senang bisa mengantarmu." Doni menarik tangan Zaa.


"ayo." bahkan ia tidak sungkan menggandeng tangan Zaa untuk masuk ke mobilnya.


Diseberang jalan didepan cafe,sebuah mobil sport hitam pria dibalik kemudi sedari tadi matanya tidak lepas memperhatikan gadis yang berdiri menunggu jemputan sepulang kerja. bahkan setiap hari ia parkir mobilnya disebrang jalan seminggu ini, hanya untuk melihat gadisnya dari kejauhan.

__ADS_1


Setiap kali melihat ada pria yang mencoba mendekati gadis yang ia cintai darahnya pun berdesir, gejolak panas didadanya kian melambung, hatinya kian sesak dan ngilu. Selama seminggu ia menahan untuk tidak menemui gadis yang sangat Ia cintai.


Ia hanya ingin Zaa menenangkan pikirannya dulu, mungkin dengan begitu Zaa bisa menerima penjelasanya nanti.


Tapi selama seminggu ia dibuat panas dan terbakar api cemburu,melihat Zaa semakin dekat dengan bos nya itu. Ray bisa menilai tatapan pria itu menyukai gadisnya, dan Ray tidak suka ketika miliknya diincar orang lain. meskipun Zaa memutuskan hubungan nya berakhir, Ray tetap tidak menggubrisnya.


Yang ia ingin hanya Zaa yang akan menjadi miliknya.


Setiap hari selama berjarak jauh dengan Zaa, yang Brayen lalukan hanya, bekerja dan menguntit Zaa bekerja, memastikan gadisnya baik-baik saja, meskipun tidak bisa melampiaskan rasa rindu yang kian menyiksa dihatinya,Brayen sudah merasa lebih baik bisa melihat kekasihnya hanya dari kejauhan.


Setelah melihat mobil Doni melintas keluar Cafe, Brayen segera mengikuti mobil didepanya itu. biasanya setelah memastikan Zaa pulang dengan selamat, ia akan langsung pergi ke Club, yaa selama seminggu ini malamnya ia hanya habiskan untuk minum di Club, minum sampai mabuk dengan cara itulah ia bisa melupakan Zaa di pikirannya, karna jika Brayen membuka mata bayangan wajah Zaa tidak pernah lepas dari ingatannya, membuatnya tidak bisa memejamkan matanya barang sebentar.


Dengan cara pergi ke Club dan menghabiska beberapa botol alkohol mampu membuat Brayen mabuk berat dan berakhir ia akan tidak sadarkan diri.


Willy yang selalu mengantar Brayen ke Apartemenya, karna Brayen sudah berpesan padanya. tidak mau jika keadaanya yang mabuk ia dimanfaatkan oleh Monika lagi.


Seperti biasa Brayen akan berhenti agak jauh dari mobil Doni yang mengantar Zaa sampai dihalaman rumah gadis itu. Brayen masih menunggu mobil Doni pergi.


Brayen segera menggendong tubuh Zaa dan membawanya masuk kemobil, beruntung disekitaran rumah Zaa sepi jadi dia bisa bernafas lega.


Brayen segera melajukan mobilnya menuju suatu tempat yang ia sudah persiapkan sebelumnya.


Didalam mobil Zaa yang tidak sadarkan diri,karna Brayen menaruh sedikit obat bius disapu tangan untuk membekap Zaa tadi.


"Maafin aku sayang, pasti kamu akan menghindar jika aku menemuimu langsung."


Brayen membelai wajah cantik Zaa, wajah yang sangat ia rindukan kini Brayen bisa menyentuh wajah gadisnya itu lagi.

__ADS_1


"Seminggu kau membuatku gila Zaa." Brayen sedari tadi berucap seolah-olah sedang bicara dengan Zaa.


Brayen membawa Zaa ke Vila pribadinya, karna besok weekend Brayen sengaja ingin bicara dengan suasana yang sepi dan nyaman. tidak lupa Brayen mengirim pesan kepada ibu Zaa, Brayen menggunakan ponsel Zaa beralasan sedang menginap dirumah temanya.


Entahlah Brayen cukup nekat untuk kali ini, dia tidak pernah berbuat nekat oleh seorang gadis. tapi sekarang Brayen menjadi penculik seorang gadis.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam mobil Brayen memasuki gerbang Vila setelah satpam membuka gerbang, Brayen memakirkan mobilnya didepan halaman.


Brayen langsung turun dan membuka pintu mobil sebelah yang diduduki Zaa lalu Brayen menggendong Zaa ala bridal memasuki Vila yang sudah dibukakan pintunya oleh bibi.


"selamat datang den." sapa bibi sambil menunduk hormat.


"Sudah disiapkan kamarnya bi?" Brayen bertanya sambil berjalan menaiki tangga dilantai dua.


"Sudah den." bibi menjawab sambil mengikuti dibelakang Brayen dan membukakan pintu kamar utama diVila itu.


"Terimakasih Bi,bibi boleh istirahat."


"Baiklah den,bibi permisi." bibi pun pergi setelah menutup pintu kamar yang Brayen dan Zaa tempati.


Brayen berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan Zaa dengan pelan-pelan, karna Zaa belum juga sadar.


Brayen menaikan selimut sapai batas dada gadis itu. Ia memandangi dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah gadis itu.


"Tidurlah yang nyenyak sayang, goodnigh." Brayen mengecup kening Zaa dengan lembut, setelahnya Brayen berdiri dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


like

__ADS_1


komen


tinggalkan jejak kalian


__ADS_2