
Di ruangan kamar Brayen sibuk didepan cermin, semua koleksi baju mahalnya serasa jelek dan sudah tidak pantas untuk nya. Brayen sudah mencoba semua kemeja yang ada di gantungan lemari tapi sama sekali tidak ada yang cocok menurutnya.
"Hah.. kenapa semua koleksi bajuku sudah jelek semua, tidak pantas aku kenakan lagi." Entahlah mungkin sangking bahagia akan bertemu dengan pujaan hatinya tingkah Brayen bak ABG yang lagi kasmaran.
Semua yang ia coba serasa tidak cocok. " Sam, aku harus minta ia belikan yang baru." Brayen segera meraih ponselnya dan menghubungi Asisten pribadinya itu.
"Sam ke kamarku sekarang!"
Tut..
Kebiasaan Brayen tanpa mendengar jawaban Sam, sudah mematikan panggilan.
"Ad_" Tut...Tut.. "Ck. dasar bos lacnut." Sam menggerutu kesal, untung dirinya sudah sampai didepan rumah pak Rudi, karena setelah memberi tahu Brayen kalau Zaa sudah ketemu, dirinya langsung menyusul bos lucnut nya itu.
tok...tok...tok...
"Masuk."
"Ada apa tuan memanggil saya?" Sam nampak heran melihat bosnya berdiri berkacak pinggang didepan cermin dan lihat semua baju telah berserakan diatas ranjang.
"Aku rasa semua koleksi bajuku sudah jelek Sam, tidak ada lagi yang pantas aku kenakan." Brayen berucap masih sambil memilih milih pakaian mana yang akan ia kenakan.
'Ck.apalagi ini, mana ada koleksi baju mahal dibilang sudah jelek,bahkan yang keluaran terbaru belum dipakai. ck menyebalkan.' Sam hanya menghela nafas panjang, dirinya maju memilih baju yang cocok untuk bos nya.
"Pakai yang ini saja tuan, saya rasa cocok." Sam berkata seraya menyerahkan sebuah kemeja kepada Brayen.
"Kau yakin, Zaa ku akan suka aku memakai baju ini?"
'Astaga sudah mau kepala tiga, tapi kelakuan nya bak ABG.' Lagi lagi Sam hanya bisa menggerutu.
"Saya rasa nona Zaa, akan menyukai apa pun yang Anda kenakan tuan." Sudahlah lebih baik lebay sedikit, daripada harus menunggu lebih lama lagi, batin Sam.
Brayen segera mengenakan kemeja biru Dongker yang Sam berikan.
"Ayo kita segera berangkat ke kota S." ucap Brayen setelah selesai memakai baju ia langsung berjalan menuju luar.
__ADS_1
"Lihatlah sudah dibantu tanpa bilang terimakasih, nasib jadi bawahan." Sam menggerutu dibelakang Brayen dengan suara yang hanya bisa ia dengar sendiri.
...............................
Pagi ini di desa nenek Zaa yang sudah selesai mengantarkan pesanan kue nya, ia menyusul ke kebun sang nenek yang sedang memanen sayur sayuran.
"Zaa kamu kesini?" Rizki yang baru menaruh sekarung sayur lobak diatas mobil Pickup melihat Zaa yang sudah berada diarea kebun.
"Iya, Ki dirumah sepi gak ada orang makanya aku kesini." jawab Zaa
"Kamu jalan kaki?" ucap Rizki
"He'um sekalian olah raga biar sehat,_ Yaudah Ki aku ke sana dulu ya."
"Hati-hati, jalannya agak licin Zaa." Pesan Rizki kerena memang tadi malam gerimis yang Rumayan bikin jalan menjadi becek.
Zaa hanya membentuk jari 'OK' tanpa bersuara.
"Kakak kenapa kesini?_gak istirahat dirumah aja." Rian yang masih membantu para pekerja memetik sayuran menegur Zaa ketika melintas di depan nya.
"Bosen dek, dirumah sepi pada ke kebun semua." ucap Zaa sambil menyeka keringat di dahinya, karena pagi ini matahari Rumayan terik ditambah dirinya berjalan kaki yang Rumayan sedikit jauh.
"Gapapa kakak sekalian olahraga, Yaudah kakak kesana dulu." Zaa berjalan mendekati pondok rumah kecil ditengah kebun disana ada nenek dan ibu Ratna yang sedang memilih sayuran.
"Assalamualaikum nek,Bu." ucap Zaa sambil menyakini kedua wanita yang berbeda usia itu.
"Waalaikumsalam nak,_sudah selesai orderan kuenya?" tanya sang ibu.
"Udah Bu, makanya Zaa nyusul kesini."
"Kapan kamu periksa lagi kendungan kamu lagi Zaa?" tanya nenek.
"Jadwal rutin nya sih besok nek." ucap Zaa sambil duduk disamping nenek.
Memang kandungan Zaa sudah memasuki 12 Minggu, bahkan perut rata Zaa sudah kelihatan sedikit membuncit.
__ADS_1
"Besok biar ibu temenin ya, ibu ingin lihat calon cucu ibu." ucap Bu Ratna sembari tersenyum kearah Zaa.
"Iya ibu."
Dan mereka asik dengan kegiatan yang sedang memilih sayuran untuk dimasak dan dibagi-bagikan kepada tetangga yang kurang mampu.
......................
Sedangkan didalam pesawat Brayen yang masih asik memainkan ponselnya tiba-tiba perutnya bergejolak mual dan ingin muntah, karena mencium aroma parfum seorang Pramugari yang barusan melewatinya. Seketika Brayen langsung berlari menuju toilet yang berada di dalam pesawat pribadinya, dirinya muntah mengeluarkan semua yang berada diperutnya.
"Bos tidak apa-apa?" Sam yang melihat bosnya lari terbirit-birit segera mengikuti langkah Brayen menuju toilet.
"Siall..!! parfum apa yang wanita itu pakai, membuat moodku jadi buruk." gerutu Brayen sambil mencuci wajahnya dengan air.
"Sam suruh semua pramugari mengganti pakaian nya, jangan sampai saya mencium bau parfum yang menyengat lagi."
"B_baik tuan." meskipun bingung Sam tetap melaksanakan perintah bosnya.
"Apa kamu menghukum papamu son, sungguh papa tersiksa dengan rasa mual ini." Brayen bergumam sendiri mengingat dirinya yang mengalami Morning Sickness.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih buat para reader yang mau mampir ke karya pertama author yang masih receh ini..
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian..
biar author tambah semangat buat up😘