Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD21


__ADS_3

Hari demi hari sudah berlalu dengan seiring nya waktu, hubungan Brayen dan Zaa nampak baik-baik saja, bahkan bertambah pula keromantisan mereka.


Seperti biasa kalau hari Minggu, Rian tidak ada dirumah pastilah Zaa yang menggantikan peran sang adik untuk mengantar pesanan kue sang ibu.


"Kue nya mau diantar ketempat siapa Bu?"


"Tempat Bu Indri nak,,, apa kamu mau mengantarnya?"


Mendengar nama Bu Indri yang tak lain adalah rumah orang tua Brayen, membuat Zaa merona bayangannya teringat tempo lalu pria itu yang mengurungnya dikamar sampai berjam-jam. meskipun tidak melakukan apa pun tapi bagi Zaa tetaplah merasa malu.


"Zaa kamu dengar.!" ibu setengah berteriak karna sedari tadi Zaa dipanggil tidak menyahut.


"Ehg..!"


"Kamu melamun?"


"Emm.. heee hanya berpikir sesuatu Bu." sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Yasudah ini pesanan Bu Indri, kamu antar ya."


menyerahkan box berisi kue ke hadapan Zaa.


"Iyaa Bu, Zaa pamit."


"Hati-hati_"


........


"Ma.. apa mama hari ini tidak pesan kue langganan mama?" Ray tiba-tiba berdiri disamping mama Indri.


"Pesan." Sempat melirik_memangnya kenapa?" bau bau mencurigakan, karna tidak biasanya Brayen menanyakan hal tidak penting.


"Egh.."


Menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, karna ditatap sang mama penuh selidik." y-yaa gak papa ma, tanya aja." Sambil tersenyum kikuk.


Karna memang kedua orang tua nya belum tau kalau dia berhubungan dengan gadis yang biasa mengantar kue itu.


Tidak lama kemudian bel rumah berbunyi.


"Biar Ray yang buka pintunya Bi."


"Ehh.." bibi yang hendak bejalan diurungkan niatnya, melihat Brayen yang langsung menuju pintu ruang tamu.


"Ck! anak itu, kena angin apa, sampai kelakuan nya begitu." si mama hanya menggerutu.


.......


Brayen yang melihat seseorang yang dia tunggu-tunggu sudah berdiri didepan matanya seketika senyumnya terbit.


"Ehh," kaget karna kekasihnya yang membukakan pintu.


"Sudah datang." masih dengan senyum manis.


Yang ditanya hanya bengong menatap senyum manis nan menawan itu.


"Terpesona huh." menarik pucuk hidung Zaa.


"Issa...nyebelin tau." menepis tangan Brayen.


"Makanya jangan bengong, akunya memang tampan kan." dengan gaya narsis.


"Ck! pede banget sih." sambil mengulum senyum,karna memang kekasihnya itu sangat tampan.


"Akui saja,tidak usah berbohong."


"Aku pulang nih." mode nagmbek keluar.

__ADS_1


"Ehh, belum juga masuk.." langsung menarik tangan Zaa,masuk kedalam rumah.


"Mas lepas tangan aku, malu kalo dilihat Bu Indri." mencoba melepas tangan nya yang digenggam Ray.


"Kenapa malu, malah aku ingin kenalin kamu sebagai kekasih aku." ucapnya santai.


Berjalan hingga tanpa sadar sudah berada diruang makan keluarga.


"Mas." cicit Zaa tidak enak.


Memberi tatapan dan mengelus punggung tangan Zaa, seolah mengisyaratkan 'akan baik-baik saja'.


"Ma pesenan kue mama." sambil menaruh box kuenya dimeja makan.


"Ternyata nak Zaa yang Dateng." Mama Indri mengulum senyum,karna sempat melihat Brayen menggandeng tangan Zaa.


"I-iyaa Bu.." mencium tangan mama Indri.


"Apa mama terlewat sesuatu Ray." tatapan mengintimidasi mama Indri kepada Ray.


"Hem.." melirik Zaa sekilas


"Ray mau kenalin mama sama kekasih Ray." menggenggam tangan Zaa kembali.


Zaa yang tadinya menunduk langsung mendongakkan kepalanya.


"Gadis didepan mama ini, kekasih Ray." seraya tersenyum kearah Zaa.


"Wahh ternyata mama ketinggalan berita.!" pekik mama Indri girang.


Zaa yang melihat expresi mama Indri meringis dengan sedikit malu.


Meraih tangan Zaa, lalu menariknya ke ruang keluarga.


bahkan Brayen hanya melongo, melihat mamanya membawa kabur kekasihnya. "CK! gak dianggap nih gue." gumamnya sambil mengikuti mereka keruang keluarga.


"Sayang sejak kapan kalian berhubungan.?!" tanya mama Indri antusias.


"Emm d-dua bulanan Bu." cicitnya sambil menunduk.


"ternyata kalian sudah lama berhubungan."


"Baru dua bulan mah," Brayen datang dan langsung duduk disamping Zaa.


"Kenapa kamu baru kasih tau mama sih Ray," mendelik kearah Ray.


"Mama gak pernah tanya geh." ucapnya santai.


"Anak nakal..! Sayang kalo Ray nakal bilang sama Mama yaa." menggenggam tangan Zaa.


"ck! apaan sih mah.!" mendengus kesal.


"Emm..iya Bu."


"Panggil mama kan mau jadi mantu mama,"


"B-baik mah."


Brayen berdiri dan menarik tangan Zaa, berniat membawa Zaa pergi.


"Ehh mau kamu bawa kemana Ray."


Zaa yang tiba-tiba ditarik menjadi glagapan. "Mas.."


"Ray mau berduaan sama Zaa, disini mama ganggu.!" berjalan tidak menghiraukan mama nya yang memanggilnya.


"Dasar anak gak ada ahlak." tak urung juga tersenyum 'Semoga kamu bahagia nak,,mama senang kamu mendapatkan gadis yang baik'. batin mama Indri.

__ADS_1


.........


"Wahh indah banget." Zaa menatap takjub, melihat banyak bunga mawar yang baru merekah dengan banyak berbeda warna.


Ray membawa Zaa ketaman belakang,taman buatan sang mama, karna mama Indri menyukai berkebun seperti menanam bunga mawar segala rupa, bunga kesukaan mamanya.


"Suka sayang?" Brayen memeluk Zaa dari belakang, memiringkan wajahnya kesamping membuat hidungnya menempel di pipi Zaa, bahkan kalo Zaa menengok bibir mereka akan bertemu.


"S-suka.." gugup membuat jantung nya jedag-jeduk.


"Hem.." Brayen bergumam sambil menghirup dalam-dalam aroma manis yang menguar disekitaran leher gadisnya.


"M-mas jangan seperti ini."


Terlalu dekat dan intim tidak sehat bagi jantung Zaa. 'jantung gue, deg degan gini sih' .


"Kenapa hm"


"Nanti ada yang liat mas." cicit Zaa,


"Biarin " masih setia mengendus bahkan memberi sedikit kecupan dileher Zaa.


"Emh.." memejam kan mata merasakan sapuan halus bibir Ray yang mengecupi lehernya.


"Awwssh.."


"kenapa digigit sih". mendelik karna tiba-tiba leher nya digigit.


"Gemes sayang" sambil terkekeh tanpa dosa.


"Yaa tapi gak digigit juga, nyebelin.." mengerucutkan bibir nya karna kesal.


"Jangan ngambek lah,,tambah cantik tau." menoel hidung Zaa.


"issa auk ahh.!" sambil mendudukkan bokongnya dikursi taman.


"Sayang.. maaf deh.." masih mencoba merayu.


Melengos menghindari tatapan Ray. bibirnya terus komat Kamit.


Ray yang merasa gemas dicueki, tanpa aba-aba langsung memegang tengkuk Zaa. menyatukan benda kenyal nan hangat kebibir tipis gadisnya. kecupan lembut dan memabukan membuat Zaa memejamkan matanya. bersama Ray, Zaa baru merasakan yang namanya ciuman dibibir tangan Zaa tanpa sadar mengalung dileher Brayen.


Brayen segera sadar, meskipun kobaran gairah yang meluap luap,hingga membuat bagian bawah tubuhnya sudah menegang kuat. Zaa bisa merasakan sesuatu dibawah perutnya ada yang mengganjal, mencoba menetralisir napas dan degub jantung nya.


Dengan napas yang masih memburu Ray menyatukan kening mereka. "Maaf sayang.." suara serak nan parau menahan gejolak gairah yang menguasai dirinya.


"Kita menikah saja sayang?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Like

__ADS_1


komen


Jan lupa🥰🥰


__ADS_2