
Sam yang akhirnya sampai di Apartemen Brayen segera menekan bel, tak lama sang empu membukakan pintu dengan sumringah dan mata berbinar melihat bungkusan yang dibawa oleh Sam.
Tanpa menunggu Brayen langsung menyambar bungkusan plastik dan berjalan masuk tanpa peduli Sam yang melongo melihat kelakuan bos yang super nyebelin bagi Sam.
Dimeja makan Brayen sudah lahap memakan bebek goreng 2porsi, Sam yang tidak ingin disuruh balik lagi dan karena alasan kurang, jadi dia berinisiatif membelikan 2porsi langsung.
Melihat bosnya yang makan dengan lahap dan hanya menggunakan tangan tanpa sendok membuat Sam geleng-geleng kepala, "Sejak kapan bos dingin dan arogan itu terbiasa memakai tangan langsung tanpa sendok" Sam hanya berani membatin, dirinya cukup senang melihat bos nya makan dengan lahap. berbeda dengan hari-hari sebelum nya Brayen nampa sama sekali tidak napsu makan jika Sam tidak memaksanya maka Brayen akan melupakan makan nya.
"Eeggrr..." tanpa sadar Brayen bersendawa setelah memakan habis 2porsi.
"Kenyang." Brayen menyandarkan punggung nya disandarkan kursi tangan nya mengelus perutnya yang terasa penuh karena kenyang.
Sam hanya diam melihat kelakuan bos nya yang aneh dan bukan gaya cool Brayen pria tampan nan dingin itu.
"Sam besok-besok kau belikan lagi aku nasi seperti ini, ingat penjualnya yang sama. tidak mau yang lain." ucap Brayen dengan berdiri. "Dan jangan menggangguku, karena aku ingin tidur saja hari ini." Brayen berjalan menuju kamar nya, karena ia merasa mengantuk setelah makan dengan kenyang tiba-tiba matanya terasa berat.
__ADS_1
"Hah..!" Sam dibuat melongo kembali oleh bosnya, tidak tahu saja perjuangan Sam sampai bisa mendapatkan pesanan bos nya yang aneh itu. Sam harus mencari rumah penjual pecel lele yang sedikit jauh dari keramaian karena rumahnya terpencil disebuah gang, dan sampai sana pun Sam harus menunggu karena bahan jualan belum siap masak. sungguh penuh perjuangan demi menunggu 2 porsi makanan itu.
"Untung bos kalau tidak sudah aku beri sianida." gerutu Sam sambil keluar untuk kembali menuju ke kantor.
.................
Zaa yang pagi ini disibukkan dengan bahan-bahan kue di dapur, meskipun tidak banyak orderan tapi dirinya tetap bersyukur setidak nya dirinya punya pemasukan untuk menabung membeli keperluan bayinya nanti.
Mengingat bayinya ia teringan dengan Brayen, meskipun dirinya benci tapi hatinya masih menyimpan cinta untuk Brayen, bahkan dirinya sering merindukan laki-laki itu.
Apakah dirinya egois dan jahat ketika ia memutuskan untuk meninggalkan Brayen? apakah dirinya terlalu naif?. tapi ia melakukan itu hanya untuk memberi Brayen kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya dengan mantan kekasihnya yang masih belum bisa move on. Zaa yakin jika Monika tidak akan tinggal diam, apalagi dirinya telah melakukan malam panjang. Zaa yang berfikir pasti Monika akan menuntut Brayen dengan pertanggung jawaban. maka dari itu dirinya lebih memilih menghindar demi menjaga dirinya agar tidak terjadi sesuatu.
"Bik saya pergi dulu untuk antar kue ya." pamit zaa pada bibi yang sedang menyapu halaman depan.
"baik mbak, hati-hati dijalan." ucap bibi.
__ADS_1
"iya bik." Zaa segera mensetater motornya dan melaju dengan kecepatan sedang karena ia sedang membawa Rumayan banyak pesanan.
..............
"Bu Rian sudah libur akhir semester jadi kapan kita kan mengunjungi nenek dan kakak?. ucap Rian ketika dirinya sedang di dapur membantu Bu Ratna menyusun pesanan kue.
"bagaimana kalo lusa Ian, kita perlu siap-siap dan pesan tiket kereta juga." usul sang ibu sambil membenarkan kotak kue.
"Baiklah, Rian hanya menunggu pengumuman kelulusan saja, jadi liburnya agak lama." ujar Rian memberi tahu Bu Ratna.
"Yasudah kamu tolong ibu hantarkan ini kerumah Bu Lia, beliau tidak bisa ambil."
Rian segera mengambil box kue itu, dan segera pergi untuk mengantar pesanan.
Tanpa mereka sadari Brayen menyuruh Sam untuk menempatkan anak buahnya mengikuti kemana Rian,Bu Ratna pergi, bahkan Dian juga ikut di mata-matai.
__ADS_1
Brayen yakin jika di antara mereka akan pergi mengunjungi Zaa, meskipun waktunya sedikit lama tapi Brayen yakin itu.
BERSAMBUNG