Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD50


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3jam, pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat.


Mereka semua berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir, dua mobil menunggu kedatangan Brayen sang tuan.


"Selamat datang tuan." Sapa seorang sopir.


"Hm." Brayen hanya mengangguk dan bergumam.


"Ibu, Nenek dan Rian, kalian naiklah mobil ini." Brayen membukakan pintu penumpang agar mereka naik.


"Sopir akan mengantar Ibu dan Nenek kerumah Ibu." Lanjut Brayen yang melihat ada kebingungan diwajah mereka. Mungkin karena pertama kali naik pesawat jadi mereka mengalami jet lag.


"Oh.. iya nak, maaf ibu sedikit pusing jadi belum sadar." Ucap Ibu sambil memegang pelipisnya.


"Ibu dan Nenek tidak apa-apa?" Tanya Zaa khawatir.


"Nenek tidak apa-apa, bahkan Nenek masih sanggup jika naik pesawat lima kali lagi." Ucap nenek sambil tertawa. Bukanya Nenek lebih tua dari ibu, tapi malah daya tahan tubuhnya kuat.


Brayen hanya tersenyum dan menggeleng. "Nanti malam Brayen akan jemput kalian untuk makan malam dirumah, Karena Mama dan Papa sudah tidak sabar ingin bertemu kalian." Ucap Brayen dengan senyum, __Jadi ibu dan Nenek istirahat dulu."


Dan mereka bertiga masuk kedalam mobil dengan supir yang mengendarai.


"Kenapa aku ditinggal Mas?" Tanya Zaa karena dirinya tidak boleh ikut satu mobil dengan keluarganya.


"Kita naik mobil satu lagi sayang." Brayen membukakan pintu yang baru saja berhenti didepan nya, dengan Sam yang menyetir.


"Masuk."


Zaa masuk dan diikuti Brayen, "Kamu capek sayang?" Tanya Brayen dengan menarik tubuh Zaa agar menyandar di dadanya.


"Sedikit Mas." Jawab Zaa sambil menghirup aroma wangi tubuh Brayen, dirinya tidak pernah puas dan bosan saat menghirup aroma wangi tubuh Brayen.


"Hm, sampai dirumah istirahat ya, nanti malam aku jemput."


"Memang ada acara apa Mas?" Tanya Zaa penasaran dan dirinya juga masih ragu dan sedikit takut jika keluarga Brayen tidak menerimanya lantaran dirinya sudah hamil duluan, takut disebut penggoda.


Siapa yang tidak kenal keluarga Abraham yang terkenal di kota besar dan Manca negara.


"Hanya ingin silaturahmi, biar keluarga kita saling kenal dan dekat, sebelum kita melaksanakan pernikahan." Brayen berkata seraya mengelus lengan tangan Zaa.


"Heem, apa keluarga Mas menerima aku dan keluargaku?" Tanya sedikit mendongakan kepalanya melihat wajah Brayen dari bawah.


Brayen menunduk dan sekilas mengecup bibir Zaa dengan lembut, __Tentu saja, mereka pasti bahagia dan senang menyambut keluargamu sayang." Brayen tersenyum melihat wajah Zaa cemberut karena dicium oleh nya.


"Semoga orang tua Mas, mau menerima keluargaku." Zaa kembali merapatkan tubuhnya kepelukkan Brayen.


"Hem." Brayen mengecup kening Zaa sekilas.


Sam yang melihat dari kaca hanya bisa banyak mengelus dada menahan hati yang meronta melihat kemesraan dua sejoli yang sedang kasmaran. 'Nasib jones, Ya Tuhan semoga author baik hati, mengirimkan jodoh untuk ku' Doa Sam yang merasa ngenes.

__ADS_1


...........................


Mereka sampai diperkarangan rumah Zaa, mobil yang membawa keluarga Zaa sudah sampai lebih dulu.


"Sayang aku langsung pulang ya." Ucap Brayen setelah membatu Zaa keluar dari mobil, dan kini mereka sedang berdiri disamping mobil.


"Mas tidak mau mampir?" Tanya Zaa.


"Biar kamu istirahat sayang, kalau aku disini kamu bakalan tidak bisa istirahat." Jawab Brayen dengan senyum menggoda.


"Iss kamu mah pikiran nya mesum Mas." Zaa sebal memukul lengan Brayen.


"Kok mesum sih emang aku ada bicara mesum?" masih dengan senyum menggoda.


"Wajah kamu sudah bisa ditebak Mas." Kesal karena digoda Zaa pun melangkah pergi masuk rumah.


"Hahaha jangan lupa sayang nanti malam aku jemput." Brayen berteriak sambil masuk mobil.


Zaa hanya mengangguk dan melambaikan tangan nya ketika mobil Brayen berjalan pergi.


"Kita pulang kemana bos?" Sam bertanya setelah mobil bejalan.


"Pulang kerumah Papa."


"Baik bos."


"Masih ingat pulang kerumah kamu Ray?" Suara Bariton menyambut pendengaran Brayen ketika baru sampai ruang tamu.


Pak Rudi dan Mama Indri sedang duduk santai diruang tamu ditemani Sherin yang masih pakai seragam sekolah.


Brayen menghampiri Mamanya, duduk disebelah dan langsung memeluk Mama nya.


"Kamu dari mana Ray?" Tanya Mama Indri yang mengelus kepala Brayen.


"Jemput calon mantu Mama." Brayen masih betah memeluk Mama nya manja.


"Dasar anak durhaka ditanya bukanya menjawab malah peluk-peluk istriku." Gerutu pak Rudi yang masih bisa didengar mereka semua.


"Papa Sher peluk aja sini, kasian kan gak ada yang peluk." Sherin yang memang sedang bermanjaan dengan papanya, langsung memeluk pak Rudi.


"Kamu udah besar Sher, gak malu apa masih manja sama papa?" Tanya pak Rudi, dengan mengelus rambut Sherin.


"Lah Abang aja yang udah mau punya anak masih sembunyi di ketiak mama, berarti Sherin masih wajar dong." Cerocos Sherin karena tidak terima dibilang manja.


"Idih, kenapa bawa-bawa Abang segala." Brayen duduk menegakkan badan nya.


"Lah gak nyadar." Sherin mencibir.


"Sudah kalian ini suka gak akur kalau ketemu." Tegur Mama Indri.

__ADS_1


"Mah, Pah, ada yang Brayen mau bicarakan." Ucap Brayen serius.


"Nanti malam Brayen mengundang keluarga Zaa kerumah, agar kita bisa saling kenal dan silaturahmi." Brayen bicara dengan menatap pak Rudi yang nampak biasa saja. Berbeda dengan Mama Indri yang terkejut.


"Apa!, kenapa kamu bilangnya baru sekarang sih Ray!." Mama Indri memekik keras.


"Mah, gak usah teriak bisa sih, memangnya kenapa kalau Ray baru bilang?" Tanya Brayen menatap Mama nya penuh selidik.


"Mamakan belum punya persiapan, mau masak apa buat tamu calon besan. Dasar anak nakal." Mama Indri menarik telinga Brayen hingga sang empu kesakitan.


"aawww, mah sakit! lepas mah ampun!." Brayen mengusap telinganya yang terasa panas.


"Itu hukuman buat anak nakal kaya kamu." Ucap Mama Indri kesal.


"Ya maaf, yaudah gih Mama masak, kalau gak pesen aja dari Restoran kan gampang Mah." Usul Brayen.


"Iya mah, Sher gak mau bantuin Mama Sher capek." Sherin ngacir masuk kamar.


"Dasar punya anak dua sama saja kelakuan nya, nyebelin." Gerutu Mama Indri.


"Pah kenapa diam saja." Tanya Brayen karena heran melihat papanya hanya diam tidak merespon.


"Papa mau bilang apa, papa serahkan semua sama kamu Ray." Ucap pak Rudi yang berdiri menghampiri Brayen, lalu menepuk bahunya. __Asal itu yang terbaik untuk mu dan kelurga kita papa selalu mendukung, toh papa juga akan mendapatkan cucu." Pak Rudi tersenyum lebar ketika mengingat dirinya akan mendapatkan seorang cucu.


"Ya, tidak lama lagi kalian akan mendapatkan cucu." Brayen pun tak kalah bahagia ketika mengingat dirinya juga akan segera menjadi seorang ayah.


"Mama gak sabar gendong cucu." Mama Indri juga merasa bahagia ketika membayangkan dirinya akan memiliki cucu. __Tapi Ray kapan kamu akan menikahi Zaa?"


"Minggu depan mah, Mama tidak usah ikut menyiapkan keperluan, karena semua aku percayakan pada Sam dan Sandy sekertaris aku." Jelas Brayen.


"Apa!, Mana bisa begitu Ray." Mama Indri tak terima.


"Mama sudah ya, Brayen hanya ngadain acara ijab kabul saja mah.__Jelas Brayen __ Resepsinya nanti jika Zaa sudah melahirkan, aku gak mau jika Zaa kelelahan dan membahayakan kandungan nya jika aku langsung ngadain resepsi." Brayen berkata panjang lebar.


"Brayen benar Mah, kita adakan dulu acara ijab kabul, yang penting mereka punya ikatan sah dulu." Pak Rudi ikut memberi pengertian pada Mama Indri.


"Baiklah jika itu demi kebaikan calon mantu Mama." Mama Indri akhirnya menuruti kemauan. Kedua pria yang dicintainya.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2