
Tok tok tok
"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" Nenek bertanya.
"Mungkin kak Rizki nek." jawab Rian.
"Yasudah biar Zaa yang buka pintunya."
Zaa berjalan menuju pintu depan yang masih saja diketuk dari arah luar.
"Iya sebentar!" Zaa berseru sambil terus berjalan hingga membukakan pintu.
"Mau car_." Ucapan Zaa menggantung karena terkejut melihat pria yang sedang berdiri didepan nya.
"Zaa.. sayang." Brayen tak kuasa membendung rasa rindunya bahkan matanya sampai berkaca-kaca.
Degub jantung Zaa memompa dengan cepat, dirinya tidak menyangka jika Brayen secepat ini akan menemukan nya.
"M-mas Ray." Zaa hanya terpaku dengan mata yang berkaca-kaca dirinya juga merindukan pria yang didepan nya ini. Rasa rindu yang dirasakan kini bertambah sesak ketika melihat Brayen langsung.
"Iya sayang ini aku." Brayen segera memeluk tubuh Zaa dengan erat mencium pucuk kepala Zaa berulang kali. Menyalurkan rasa rindu yang selama ini menyiksa dirinya bahkan membuat dirinya hampir gila karena merasakan kerinduan yang mendalam.
"Aku merindukan mu, sungguh." Brayen semakin mengeratkan pelukannya ketika Zaa membalas pelukan nya.
Brayen melonggarkan pelukan nya karena teringat mungkin saja Zaa beneran hamil.
"Apa disini ada Brayen junior?" Tanyanya seraya mengelus perut Zaa yang sudah sedikit menonjol dengan tangan nya.
Zaa hanya bisa mengganguk dengan air mata yang sudah mengalir. Dirinya tidak menyangka jika Brayen mengetahui dirinya sedang mengandung anak nya.
Brayen berjongkok tatapan matanya menatap perut Zaa yang sedikit membuncit, wajah nya ia dekatkan dan mendaratkan ciuman di permukaan perut Zaa yang terlapisi baju. "Sayang maafkan papa yang baru menyapamu,_ Brayen mengelus perut Zaa dengan lembut__ Papa janji tidak akan jauh darimu dan Mama mu." Brayen masih terus mengelus perut Zaa. Sedangkan Zaa masih terisak karena terharu oleh perlakuan Brayen.
"Sayang jangan menangis." Brayen mengusap airmata diwajah Zaa dengan jarinya.
Cup
Kecupan dikening membuat Zaa kian sesak, apakah ini nyata, jika hanya mimpi tolong jangan biarkan dirinya bangun. Rasanya Zaa tidak bisa lagi menahan gejolak didadanya karena menahan perasaan rindu, apalagi sekarang dirinya dalam keadaan hamil perasaan nya sangat sensitif dan sering menangis hanya gara-gara hal kecil.
__ADS_1
...........
Keadaan cukup hening kini Brayen sedang duduk berhadapan dengan tiga orang berbeda generasi. Rian, Ratna, Nenek. Sedang duduk berhadapan dengan Brayen.
Sedangkan Zaa duduk disamping Brayen dengan Brayen menggenggam tangan Zaa.
"Bu maaf atas semua yang saya lakukan kepada putri anda, dan saya ingin mempertanggung jawabkan semua nya." Ucap Brayen dengan tegas tanpa rasa takut. Padahal sorot mata Rian sudah ingin menerkam nya hidup-hidup.
"Pria Bre*ngsek sepertimu tidak lantas untuk kakak ku!" Rian bicara dengan nada keras dan menggebu-gebu, dirinya sangat kesal dan tidak suka jika Brayen datang hanya untuk menyakiti kakak nya lagi.
"Rian jaga bicara kamu." Tegur sang ibu.
"tapi Bu,_" Ucapan Rian berhenti karena melihat sang nenek menggelengkan kepala.
"Maaf kalau saya terlalu banyak telah menyakiti Zaa, saya menyesal." Brayen berkata dengan menatap wajah Zaa dengan mata berkaca-kaca, entahlah dirinya juga merasa akhir-akhir ini perasaan nya terlalu melankolis dan sedikit sensitif.
Zaa yang mendapat tatapan wajah sayu Brayen hanya tersenyum.
"Apakah nak Ray bisa menjamin tidak akan menyakiti dan membuat kecewa putri ibu lagi?" Ucap Ratna.
"Jika anda kembali menyakiti kakak saya jangan harap anda akan bisa bertemu dengan kakak saya lagi!" Rian mengatakan dengan suara penuh penekanan, dan pergi dari hadapan mereka semua. Bagai mana pun Rian adalah laki-laki dikeluargannya, dia yang harus melindungi kakak dan ibunya menggantikan sang ayah.
"Nenek hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kalian berdua, bagaimana pun cucu nenek sekarang sedang mengandung dan butuh pertanggung jawaban." Ucap nenek.
Brayen yang mendengarnya merasa bahagia karena mendapat restu sang nenek.
"Terimakasih nek, saya janji akan menjaga dan menyayangi Zaa." Brayen berkata dengan senyum yang mengembang, inilah yang dirinya tunggu-tunggu. Diluar sana dirinya tidak mengenal mengemis dan memohon, tapi disini demi mendapatkan cintanya separuh jiwanya dirinya rela melakukan hal demikian.
"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Bu Ratna.
"Secepatnya Bu, setelah kita kembali ke kota semua."
"Apakah keluarga nak Ray tidak keberatan?" Bu Ratna belum pernah membicarakan tentang keluarga Brayen.
"Ibu tenang saja, kedua orang tua saya menerima Zaa dan juga menyayanginya." Remasan ditangan Zaa dengan lembut seolah menyakinkan Zaa bahwa keluarganya menerima keluarga Zaa.
"Baiklah ibu akan tunggu keluarga nak Ray berkunjung, setelah kita pulang ke kota." Setelah mengatakan itu Bu Ratna menuntun nenek pergi menuju kamarnya. Karena malam sudah larut.
__ADS_1
"M-mas apa orang tua Mas menerima aku?" Zaa masih tidak yakin padahal Mama Indri senang sekali jika Zaa yang menjadi menantunya.
"Kamu percaya sama aku, kali ini pilihanku tidak akan salah. Kamu adalah segalanya bagi ku sungguh aku sangat tersiksa ketika dirimu pergi tanpa bisa aku lihat lagi, aku sangat mencintaimu sayang." Brayen menarik Zaa dalam pelukan nya dan menciumi pucuk kepala Zaa dengan sayang. "Jangan pernah pergi lagi dariku, aku mohon maafkan semua kesalahan ku, demi anak kita aku menyayangi kalian berdua." Lagi-lagi Brayen meneteskan air matanya. Kali ini air mata bahagia karena dirinya telah mendapatkan cintanya dan restu.
Zaa yang mendengarnya ikut merasa haru dan meneteskan air mata. Tidak menyangka dirinya akan menjadi seorang yang sangat berarti bagi kehidupan Brayen Abraham seorang pria Miliarder.
"Mas?"
"Hm apa sayang?"
Jawaban Brayen membuat pipi Zaa merona, meskipun sering mendengarnya tapi selalu saja dirinya masih malu.
"Kenapa hm." Brayen menatap Zaa dengan lekat, menatap wajah cantik yang sudah 3bulan lebih tidak bisa ia lihat. "Kenapa wajahmu semakin cantik hm." Ucapan Brayen sukses membuat wajah Zaa bertambah panas saja.
"Hmm.. Mas akan menginap dimana?" Bukanya menjawab Brayen tapi malah mencoba mengalihkan.
"Huff pengen nya disini sama kamu, tapi itu tidak mungkin nanti bisa-bisa digorok sama Rian." Karena Brayen yakin jika Rian belum bisa menerima dirinya sepenuhnya. Tidak apalah nanti pelan-pelan dirinya akan mengambil hati calon adik iparnya itu.
"Yasudah sana Mas pergi, sudah malam." Ucap Zaa.
"Kamu mengusirku hm." Brayen memegang dagu Zaa menatap wajah, mata dan berhenti dibibir yang membuatnya candu dan rindu.
Pelan tapi pasti wajah mereka sudah tak berjarak dan kembali bibir itu bertemu.
..........................,.....
PENGUMUMAN
Hay para reader yang author sayangi terimakasih sudah memberi dukungan di Novel receh ini.
Author ingin memperkenalkan Novel karya baru author yang ke2. silahkan mampir dan beri dukungan. jangan lupa Klik Fav yaa..🥰🥰
Judulnya PEMBANTUKU CANDUKU.
Terima kasih😘😘🥰
__ADS_1