Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD40


__ADS_3

Hoekk..hoekk..


Di dalam kamar mandi seorang pria terus saja muntah padahal tidak ada sama sekali yang keluar dari mulut nya. Brayen badan nya lemas serasa tak bertenaga padahal sudah hampir satu Minggu dirinya mengalami mual dan muntah.


Pagi ini Brayen berniat akan kekantor, tapi dengan merasakan kondisinya seperti ini ia urungkan dan lebih memilih pulang kerumah kedua orang tua nya, karena jika dirinya sakit mama Indri akan merawatnya.


"huff aku ini kenapa?" Brayen bergegas keluar Apartemenya setelah dirasa kondisinya membaik.


Tiga puluh menit Brayen akhirnya sampai di kediaman orang tuanya, ia segera masuk setiba didalam rumah Brayen mencium bau yang menyengat, gejolak diperutnya kembali mual Brayen segera berlari menuju toilet yang tidak jauh dari dapur.


Hoeekk.. hoeekk..


berkali-kali Brayen memuntahkan isi perutnya, tapi lagi-lagi tidak ada yang keluar.


Mama Indri yang sedang di dapur membantu bibi masak kuah soto segera berlari mendengar suara orang muntah dikamar mandi, beliau kaget melihat Brayen yang sudah lemas didepan wastafel.


"ya ampun Ray, kamu kenapa?" mama Indri panik membantu Brayen memijit tengkuk lehernya karena melihat putranya muntah-muntah.


"Apa kamu sakit Ray?" mama Indri panik ketika Brayen masih saja muntah dan melihat wajah Brayen yang pucat dan lemas.


Brayen menyeka wajahnya setelah muntah nya mereda, dirinya dipapah mama Indri keluar dan duduk disofa ruang tengah.


"Mama panggil dokter dulu." mama Indri berdiri seraya mengambil ponsel tapi Brayen menahan nya.


"Mungkin Ray hanya masuk angin mah, karena kecapekan." Brayen berkata serasa memejamkan matanya, kepalanya ia sandarkan disandarkan sofa, merasakan tubuhnya yang lemas.


"Tapi kamu sakit nak, apa kamu salah makan?" tanya mama Indri dengan menyentuh kening Brayen, tapi suhu badan nya masih normal.

__ADS_1


"Ray gak na*psu makan mah, kalau Ray makan akan mual dan muntah lagi." jawab Brayen dengan menaruh kepala nya dipangkuan sang mama. Beginilah Brayen jika dirinya sedang tidak enak badan maka ia akan bermanja-manja dengan mama Indri. padahal diluar dirinya terkenal kejam dan tidak berperasaan, lain jika dirinya bersama dengan orang-orang yang ia sayangi.


Mama Indri mengelus kepala Brayen dengan lembut. "sebenernya kamu sakit apa nak, sudah periksa ke dokter?" tanya mama Indri.


"Ray tidak mau periksa mah, sekarang Ray pengen mama buatin rujak." jawaban Brayen membuat mama Indri mengerutkan keningnya.


"Sejak kapan kamu suka makan rujak Ray?" mama Indri dibuat heran, pasalnya Brayen sama sekali tidak menyukai buah yang asam.


"Sejak tadi malam Brayen ingin mah."


"Baiklah mama suruh bibi ambil buah dibelakang, kebetulan pohon mangga dibelakang sedang berbuah." ucapan mama Indri sontak mata Brayen berbinar. membayangkan rujak buah yang ia inginkan tak terasa air liurnya ingin menetes.


Setelah hampir tiga puluh menit Brayen menunggu akhirnya rujak buah sudah tersaji diatas meja, Brayen tidak sabar ingin segera melahap nya bahkan tidak menghiraukan mama Indri dan papa Rudi yang melihat nya merasa heran.


"Kamu seperti orang mengidam Ray." celetuk papa Rudi, ketika beliau mengingat dirinya dulu yang suka makan rujak buah saat mama Indri mengandung Brayen.


"Ya sapa tau kamu menghamili anak gadis orang." ucapan papa Rudi seketika menghentikan tangan Brayen yang akan menyuapkan potongan mangga ke dalam mulut nya.


Deg.


Brayen terpaku atas ucapan ayah nya, apa mungkin Zaa hamil, dirinya baru ingat sudah 2blan lebih ketika ia bercinta dengan Zaa.


"Maksud papa apa sih, mana mungkin Ray menghamili anak gadis orang." mama Indri sedikit kesal atas ucapan suaminya.


"Mana papa tau, melihat kelakuan Brayen mengingatkan papa waktu mama hamil Ray dulu." balas papa Rudi dengan santai. tanpa melihat raut wajah Brayen yang awalnya senang sekarang bertambah bahagia, setelah mendengar penuturan papa nya.


"Mah jika papa berkata benar, maka mama dan papa akan segera mendapatkan cucu!"

__ADS_1


"Apaa..?" pekikan keras kedua orang tuanya membuat Brayen menutup kedua telinganya.


"M-maksud kamu apa Ray?" mama Indri syok mendengar ucapan Brayen, dirinya tidak pernah berfikir jika putranya yang ia kenal akan berbuat hal dosa.


"Mah mungkin Zaa sekarang sedang mengandung anak Ray." ucapan Brayen barusan menambah mama Indri tambah syok seperti tersambar petir disiang bolong.


"Apa..??" seketika mama Indri lemas dan sedikit limbung, untung pak Rudi dengan sigap menahan tubuh istrinya.


"Ray papa butuh penjelasan kamu." setelah itu papa Rudi membawa istrinya menuju ke kamar mereka.


Brayen yang masih merasa senang dan bahagia seketika ingatan nya kembali memikirkan gadis nya sekarang ada dimana.


"Sayang kamu Dimana? jika benar kamu sedang mengandung aku harap kamu menjaga bayi kita hingga lahir." Brayen menatap lurus dengan pandangan sendu, ketika ingatan nya kembali memikirkan Zaa yang entah dimana, apa lagi jika benar Zaa sedang mengandung anak nya.


Lamunan Brayen buyar ketika suara ponselnya berdering.


"Sam,___ ada apa Sam?"


"(...)"


"Benarkah!" Brayen seketika berteriak dadanya membuncah bahagia ketika mendapat kabar bahwa anak buah nya menemukan tempat tinggal Zaa.


"Baiklah Sam, saya segera kesana, jangan biarkan dia Kabur lagi." Brayen segera mematikan telponnya dan bergegas keluar menuju mobilnya yang berada diluar.


Belum sampai ambang pintu suara bariton memanggilnya dari arah belakang.


next..

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2