Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD58


__ADS_3

Hari cepat berlalu kini Zaa beserta keluarganya mengantar Rian ke bandara.


Hari ini Rian terakhir menginjakkan kaki di negeri kelahiran nya. Dirinya akan bertolak ke New York demi meraih impian nya untuk menjadi orang yang berhasil dan bisa membuat keluarganya bangga.


Ibu,nenek beserta kakak dan iparnya ikut mengantarkan dirinya sampai di bandara. Setelah tadi malam menghabiskan waktu dengan Sherin. Mengingat wajah gadis itu membuat dirinya tersenyum. Inikah yang dinamakan jatuh cinta, kenapa rasanya membuat dadanya ingin meledak-ledak ketika melihat gadis manis itu tersenyum kepadanya. Pasti dirinya sangat merindukan gadis manis dan cerewet itu ketika di negara orang. 'Tunggu Abang Sher, Abang pasti pulang masih membawa cinta Abang buat kamu' dirinya tidak perduli jika keluarga akan menentang nanti tapi ia yakin akan mendapatkan gadis itu. Dirinya bertekad untuk sungguh-sungguh belajar dan hanya fokus belajar, tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah menyayanginya dan mempercayainya kecewa.


"Ian hati-hati ya, jaga dirimu baik-baik." Bu Ratna memeluk Rian untuk kesekian kalinya karena merasa tidak rela jika anak bungsunya pergi jauh ke negara orang.


"Iya Bu, ibu doa-in Rian agar Rian berhasil dan bisa bikin bangga kalian semua." Rian memeluk ibu dan nenek bersamaan.


Rian maju dan menghampiri Zaa dan kakak iparnya.


"Kak jaga ibu dan nenek ya, doa-in Rian disana agar Rian bisa lulus dengan baik." Rian memeluk Zaa dengan mata berkaca-kaca mungkin dirinya bisa menyembunyikan kesedihannya didepan ibu nya tapi tidak dengan kakaknya.


Zaa mengelus punggung Rian. "Kakak selalu doain kamu, kamu belajar yang rajin, jangan bikin kakak ipar kamu kecewa." Ucap Zaa dengan mata yang sudah bercucuran air mata. "Kamu tidak usah pikirin ibu dan nenek disini, karena kakak dan Mas Ray akan menjaga mereka."


"Hem, Rian janji tidak akan mengecewakan kalian."


Rian pun melepas pelukan nya dan berpindah pamit kepada Brayen. "Kak jaga kak Zaa dengan baik, Rian hanya punya mereka di dunia ini." Ucap Rian tulus menatap kakak iparnya.


"Kamu tenang saja kakak akan jaga mereka semampu kakak, tugas kamu hanya belajar dan bikin kita semua bangga." Brayen menepuk bahu Rian memberi semangat.


Setelah acara perpisahan yang mengharu karena diiringi dengan air mata, akhirnya Rian sudah berjalan masuk menuju ruang tunggu setelah melakukan cek in.


Dan setelah beberapa menit pesawat yang ditumpangi Rian lepas landas menuju negara yang akan menjadikanya seseorang yang berhasil kelak.


Mereka memutuskan pulang dengan Brayen yang mengemudi, Brayen ingin memberi kejutan setelah mengantar Rian berangkat ke New York.


"Loh Mas inikan bukan arah jalan pulang menuju rumah ibu?" Zaa bingung ketika suaminya malah melewati belokan yang menuju rumah lamanya dan mengambil jalur lain.


"Ada yang ingin aku tunjukan kepadamu, ibu dan nenek sayang." Brayen tersenyum dan mengelus kepala Zaa.

__ADS_1


Ibu dan nenek hanya saling pandang.


Tidak lama mobil Brayen belok dan masuk ketika pintu gerbang dibuka oleh satpam.


Mobilnya berhenti didepan rumah besar dengan tiga lantai. Sam yang sudah menunggu kedatangan bosnya segera membuka pintu mobil untuk Brayen.


"Selamat datang bos." Ucap Sam.


Brayen hanya mengangguk dan membukakan pintu untuk istrinya dan mertuanya.


Mereka bertiga memandang takjub bangunan megah berlantai tiga, disepanjang jalan masuk tampak taman bunga dan tumbuhan hijau.


"Mas ini rumah siapa?" Zaa masih mengedarkan pandangan nya, menyusuri rumah besar yang nampak memanjakan matanya.


"Kita masuk, ayo." Brayen menuntun Zaa dan menyuruh ibu dan nenek berjalan menuju pintu besar nan kokoh itu.


"Rumah siapa ini nak?" Nenek masih sibuk mengedarkan pandangan nya kesegala arah.


"Mas..." Mata Zaa berkaca-kaca dirinya tidak percaya jika suaminya menyiapkan rumah yang sangat besar.


"Ayo kita masuk."


"Welcome to the new house!!" Setelah Brayen membuka pintu, teriakan dari dalam menyambut kedatangan sang pemilik rumah.


Disana sudah berdiri Mama Indri dan papa Rudi, Sherin dan Dian.


Zaa tidak bisa menyembunyikan wajah harunya karena keluarga dan sahabatnya ternyata sudah ada disana.


"Selamat ya Zaa, semoga kamu betah tinggal disini." Dian menghampiri sahabatnya dan memeluknya.


"Terima kasih Di." Zaa membalas pelukan Dian.

__ADS_1


"Sayang selamat datang dirumah baru, semoga kamu betah dan bahagia bersama anak Mama." Mama Indri juga memeluk Zaa dengan sayang.


Pak Rudi bercengkrama dengan Brayen, melihat istri dan anaknya bahagia beserta keluarga menantunya membuat dua pria berbeda usia itu bahagia, karena masih diberi kesempatan untuk bisa membahagiakan orang-orang yang mereka sayangi dan kasihi.


Mereka semua nampak bahagia, kebahagiaan mereka sebentar lagi akan bertambah ketika penerus keluarga Abraham akan lahir.


"Surprise sayang." Brayen berkata dengan memeluk istrinya dari belakang. Kini mereka sudah ada di kamar lantai satu. Karena mengingat kandungan Zaa yang semakin membesar Brayen tidak mau mengambil resiko ketika harus menempati kamar di lantai tiga.


Meskipun ada fasilitas lift untuk akses naik turun dari lantai satu ke lantai tiga. Tapi Brayen tetap memilih kamar di lantai dasar. Ibu dan nenek juga menempati kamar dilantai dasar, jadi ketika sewaktu-waktu Zaa akan melahirkan mereka akan sigap.


"Hadiah pernikahan kita buat istri yang paling aku cintai." Brayen berucap disamping telinga Zaa.


"Mas, terimakasih sudah menjadi suamiku, Aku bahagia." Zaa berbalik dan memeluk suaminya erat.


"Sudah kewajiban ku membahagiakan kamu dan calon anak kita, aku sangat beruntung bisa miliki kamu, Aku mencintaimu sayang." Brayen mengecup kening istrinya.


"Aku juga mencintai Mas." Zaa mengecup bibir suaminya dengan lembut, menyalurkan rasa cinta yang begitu besar pada suaminya.


.


.


.


.


Like


komen


tinggalkan jejak kalian🄰

__ADS_1


__ADS_2