Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD62


__ADS_3

Hari ini adalah hari Zaa periksa ke dokter kandungan, memasuki usia kehamilan sembilan bulan membuat dirinya tidak leluasa bergerak bahkan setiap malam dirinya merasakan pegal dan panas diarea punggungnya. Beruntung Brayen dengan sigap membantu sang istri ketika ingin melakukan sesuatu, melihat sang istri yang kesusahan jika ingin berdiri dan dirinya selalu mengelus punggung sang istri meskipun Zaa tidak menyuruhnya. Brayen sangat terharu melihat istri tercintanya tidak pernah mengeluh masalah kehamilan nya yang akan menghadirkan buah cinta mereka, maka dari itu dirinya lebih peka dan pengertian tanpa harus istrinya meminta ataupun mengeluh. karena semenjak usia kandungan Zaa sudah memasuki bulan kesembilan Brayen hanya bekerja dirumah, sesekali ke kantor hanya untung rapat penting yang tidak bisa ia tinggalkan. Semua pekerjaan nya ia serahkan kepada Sammy dan sekertaris nya Sendy.


"Sayang sudah siap?" Tanya Brayen ketika dirinya melihat istrinya sudah rapi.


"Sudah Mas." Jawabnya tersenyum seraya berjalan menghampiri suaminya dengan tangan yang memegang punggung.


Brayen yang sedang berdiri diambang pintu segera menghampiri istrinya dan memeluk nya posesif, meskipun terhalang perut yang membuncit tidak mengurangi pelukan mesra nya.


"Jadi berangkat tidak Mas?" Zaa yang merasa suaminya ini makin posesif dan manja.


"Sebentar saja sayang, aku masih kangen." Brayen mencium pipi dan mengendus leher Zaa yang kebetulan rambutnya ia Cepol keatas.


Brayen yang merasa hanya ingin selalu dekat dengan istrinya dan menempel tidak ingin sedikitpun melepaskan, entah kenapa perasaan nya yang tiba-tiba menjadi sedih jika dirinya tidak akan bisa bermanja-manja lagi seperti ini.


"Mas ini aneh, kita setiap hari bersama tapi Mas bilang kangen." Ucap Zaa terkekeh sendiri bahkan ketika dirinya ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil suami nya ini selalu mengikutinya.


"Entahlah aku hanya merasa ingin selalu memelukmu, sepuasnya." Brayen membenamkan wajahnya diceruk leher istrinya menghirup dalam-dalam aroma wangi istrinya yang mungkin akan dirinya rindukan.


Zaa hanya tersenyum seraya mengelus rambut suaminya dengan lembut. "Ayo kita turun, pasti ibu dan nenek sudah menunggu."


Brayen mengurai pelukan nya, dirinya menatap wajah istrinya lekat-lekat. Brayen menangkup kepala istrinya dan memberikan ciuman diwajah cantik Zaa tanpa terlewati. Terakhir dirinya memberikan kecupan lembut dan sedikit lumayan pada bibir yang membuatnya candu itu.


"Aku sangat mencintaimu sayang sangat." Brayen menempelkan kening nya ke kening Zaa, ibu jarinya mengusap bibir manis yang meninggalkan sedikit bengkak karena ulahnya.


"Aku juga mencintaimu Mas, sangat." Zaa menatap suaminya dengan senyum manis yang selalu berhasil membuat Brayen meleleh dan terpesona.


"Bisakah kita tunda kepergian kita hari ini?" Tanya nya yang masih enggan untuk pergi meskipun dirinya sendiri yang akan mengantarkan sang istri.


"Kenapa? aku udah buat janji sama dokter, tidak enak jika harus di cansel."


Brayen menghela napas berat, dirinya juga tidak tahu kenapa perasaannya menjadi tidak enak.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita sarapan dulu."


Brayen menuntun istrinya menuju ruang makan.


"Pagi Bu, nenek." Sapa Zaa ketika sampai dimeja makan dan sudah ada ibu dan nenek nya.


"Pagi Nak." Jawab ibu.


"Sudah rapi, kalian mau kemana?" Tanya nenek yang melihat Zaa menggunakan dres hamil, yang biasanya hanya menggunakan daster ketika berada dirumah.


"Hari ini jatah Zaa kontrol ke dokter kandungan nek." Jawab Brayen dengan menarik kursi untuk istrinya duduk.


"Oh,,, waktunya sudah semakin dekat jadi kalian harus siap." Ucap ibu dengan mengisi nasi dan lauk dipiring nenek.


"Iya Bu, perkiraan tiga Minggu lagi kata dokter." Jawab Zaa.


Brayen mengambilkan nasi serta lauk untuk ibu hamil yang sangat ia cintai. Dirinya melarang istrinya melayaninya ketika dimeja makan karena melihat istrinya kesusahan jika bergerak dirinya menjadi tidak tega, alhasil dirinya lah yang melayani sang istri.


"Sebentar aku buatkan susu kamu dulu." Brayen mengelus perut istrinya dan segera pergi kedapur membuatkan susu coklat ibu hamil.


"Nak Ray, sangat mencintaimu nak, ibu sangat bersyukur kamu mendapatkan suami seperti nak Ray." Tutur ibu dengan lembut.


"Iya Bu, Zaa sangat beruntung dicintai dan bisa menjadi istri Mas Ray."


Tak lama Brayen kembali dengan membawa segelas susu coklat.


"Diminum nanti setelah makan." Ucapnya seraya tersenyum dan mengelus kepala istrinya.


"Iya Mas."


Mereka sarapan dengan tenang dan suasana hangat, tapi tidak dengan Brayen yang sejak tadi perasaan nya gelisah meskipun dirinya tidak tahu kenapa perasaannya menjadi gelisah begini. Tapi dirinya sebisa mungkin menutupi raut kegelisahannya didepan istri dan mertuanya karena dirinya tidak ingin membuat mereka khawatir.

__ADS_1


Kini Brayen sudah duduk dibalik kemudi dengan Zaa yang duduk dikursi samping. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit semenjak keluar dari rumah Brayen menggenggam tangan Zaa tanpa mau melepaskan, entahlah dirinya hanya ingin selalu bisa menggenggam tangan istrinya sesekali memberi kecupan dipunggung tangan Zaa.


Zaa sendiri sebenarnya merasa heran dengan sikap suaminya yang sangat posesif dan sangat manja pagi ini, dirinya juga merasa telapak tangan nya basah karena suaminya memegangi tangan nya sedari tadi, dirinya hanya membiarkan saja tanpa mau menolak.


Sesampainya di lampu merah mobil yang Brayen kendarai berhenti karena lampu merah menyala.


Dirinuya menciumi tangan istrinya yang ia genggam, "Sayang aku sangat menyayangimu dan mencintaimu." Ucapnya dengan menatap Zaa penuh cinta.


"Aku tau Mas sangat mencintaiku, aku pun juga begitu." Brayen mengelus pipi mulus istrinya dan mendaratkan kecupan dalam dikening Zaa.


Mereka tersenyum bersama dengan pandangan penuh cinta, cinta yang sama-sama besar keduanya.


Dari arah depan berlawanan jalan seorang wanita melihat itu hanya mengepalkan tangan nya, posisi mobil Brayen yang berada paling depan dan juga mobil wanita itu berada paling depan jadi bisa melihat dengan jelas apa yang dia sejoli itu lakukan lewat kaca mobil.


"Kalian bisa bahagia, tapi tidak dengan diriku, karena kalian hidupku menjadi buruk." Wanita itu terus menatap tajam dua orang lewat kaca mobil, dirinya merasa benci ketika melihat orang yang membuatnya hancur sedang bahagia menanti kelahiran anak mereka.


Andai jika dirinya tidak dibuang oleh Doni karena hamil dan pria itu mau bertanggung jawab maka dirinya tidak akan menggugurkan kandungan nya, karena dirinya tidak ingin melahirkan anak tanpa mempunyai suami.


Brayen segera kembali menjalankan mobilnya karena lampu sudah berwarna hijau. Dari arah depan terlihat mobil yang arahnya berlawanan melaju dengan kencang menuju kearahnya, keadaan cukup padat sehingga Brayen tidak bisa menghindar ketika mobil itu menabrak sisi kiri kemudi yang ada istrinya. Kecelakaan tidak terelakan ketika mobil yang sengaja menabrak kembali menabrakan mobilnya hingga dua kali.


Zaa terpental keluar mobil dengan bersimbah darah dibagian kepala dan kakinya, Zaa sudah tak sadarkan diri diatas aspal jalan.


Brayen yang juga terpental dari dalam mobil, meraih tangan istrinya yang sudah tergeletak diaspal, dirinya merasakan sakit luar biasa dalam dadanya ketika melihat istri tercintanya bersimbah darah tak sadarkan diri.


"Z_zaaa.." Brayen meringis menahan sakit disekujur tubuhnya pandangan nya mengabur setelah dirinya mencapai tangan istrinya untuk dirinya raih. setelahnya hanya mendengar suara sirin mobil ambulans yang mulai menjauh ketika pandangan nya menjadi gelap tak sadarkan diri.


Like


Komen


☘️ Jangan lupa mampir juga di karya author satunya "Pembantuku Canduku" ☘️

__ADS_1


__ADS_2