Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD32


__ADS_3

Brayen menggendong Zaa seperti karung beras dipundak nya. tidak peduli gadis itu berteriak dan memukul-mukul punggung nya dari belakang.


Sampai nya didalam kamar Brayen menghempaskan tubuh Zaa di tempat tidur dengan sedikit keras.


Zaa mundur kebelakang hingga punggungnya terbentur kepala ranjang.


"M-mau apa kau Mas." tubuh Zaa gemetar melihat Brayen yang membuka kaos yang dipakai nya.


Setelah membuka bajunya Brayen mendekati Zaa yang masih berusaha untuk menghindar.


Tangan Brayen terulur mengelus wajah pucat gadisnya karena ketakutan.


"Aku bukan orang penyabar sayang," menatap intens mata Zaa yang sudah berkaca-kaca. "Tapi kau masih saja keras kepala dan egois, aku tidak pernah memohon kepada seorang gadis. tapi demi wanita yang sangat aku cintai aku bisa menekan ego ku, mengemis dan memohon untuk diberi kesempatan sekali lagi. tapi sekarang kesabaran ku sudah habis kau ingin aku menunjukan sisi lain ku agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.huh!" Zaa memejamkan matanya ketika tatapan tajam Brayen menghunus ke jantungnya, apakah ini asli sifat dari pria dingin dan Arogan itu, dan pria ini yang berhasil merebut hatinya. tapi mungkin setelah ini dialah pria yang paling ia benci.


Dengan gerakan cepat Brayen segera membungkam bibir Zaa dengan kasar dan rakus, menyentuh apapun yang bisa ia sentuh, Brayen sudah hilang kendali ketika ia harus memohon dan mengemis, tapi gadis keras kepala itu tidak menggubrisnya.


Rasa kesal dan marah sudah ia tahan, tapi memang ia bukan pria penyabar. Brayen terbiasa mendapatkan apapun yang ia inginkan termasuk gadis yang dicintai nya menolak nya kembali.


"j-jangan Mas." Suara Zaa tercekat tubuhnya bergetar hebat ketika Brayen berusaha melepas kasar pakaian yang ia kenakan dan kini Zaa sudah dalam keadaan polos.


Melihat pemandangan didepannya Brayen segera melepas pakaian terakhir yang ia kenakan, bahkan adik kecil nya sudah berdiri tegang sempurna.


Zaa yang melihat itu membuang wajah, kenapa Brayen melakukan ini padanya, apakah ini yang disebut mencintai oleh laki-laki itu.


"R-Ray.. sa_kit." Zaa merintih air matanya kian deras ketika Brayen melesakkan benda tumpul kedalam area sensitifnya.

__ADS_1


Brayen yang melihat Zaa menangis segera ia mengecup kening Zaa lalu turun kedua mata,pipi dan terakhir ******* lembut di bibir gadis itu.


De_sahan dan era*gan yang hanya terdengar didalam kamar Vila itu.


Brayen berkali-kali menumpahkan cairannya kedalam rahim Zaa. tidak peduli jika gadis itu akan hamil, karna itu yang ia inginkan untuk mengikat Zaa bersamanya.


Setelah selesai melepaskan hasrat yang memabukkan Brayen berguling kesamping tubuh Zaa, menarik gadis itu kedalam dekapan nya,membelai kening Zaa yang dibasahi keringat, lalu mengecup nya dengan dalam.


Zaa hanya bisa pasrah merima keganasan Brayen, mungkin ini awal dimulai nya penderitaan yang sesungguh nya ia rasakan, penderitaan ketika barang berharga yang ia jaga selama ini telah direnggut paksa oleh mantan kekasihnya.


Brayen menatap wajah lelah yang sudah terlelap di pelukkannya, ia membelai wajah cantik yang dicintainya.


"Tidak akan aku biarkan kamu dimiliki orang lain sayang, sekarang kamu milik Brayen Abraham." Pandangan Brayen turun menatap perut datar Zaa.


"Semoga Brayen junior segara hadir disini." Brayen mengelus kulit perut Zaa yang polos, merasakan halus nya kulit Zaa membuat adik kecilnya mengeliat kembali.


.................


Zaa mengerjapkan matanya, ingin bergerak tapi merasakan tubuhnya remuk dan terasa sakit diarea bawah, merasakan itu kilasan adegan percintaan nya bersama Brayen tadi menari-nari di otak nya. rasa kecewa,marah dan malu yang ia rasakan malu ketika mulutnya berkata 'jangan' tapi tubuhnya merespon lebih. mengingat itu air matanya kembali luruh, melihat kesamping seorang pria bertelanjang dada masih tertidur lelap.


Zaa berusaha bangun dengan sedikit merintih dan tertatih merasakan kakinya sulit untuk berjalan karna rasa sakit diarea bawahnya.


Sesampainya di dalam kamar mandi Zaa menangis meraung dibawah guyuran air shower, menumpahkan segala kesedihannya meluapkan sesuatu di dadanya yang kian sesak. Zaa tidak pernah berfikir akan seperti ini hubungannya dengan Brayen, pria itu sudah mengecewakannya dan sekarang Brayen lebih menyakiti gadis itu.


Duduk bersandar didinding pembatas kaca, Zaa meremas rambut di kepalanya dengan kasar menangis tersedu-sedu dibawah air dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Ia tidak tau akan seperti apa kedepan nya nanti, apa jadinya ketik ibu nya tau, ketika anak gadis nya sudah tidak suci lagi. sungguh Zaa tidak sanggup melihat kekecewaan ibu terhadapnya.

__ADS_1


Sudah 30 menit Zaa masih setia duduk memeluk kedua kakinya, menyembunyikan wajah di lutut nya. bahkan rasa dingin sudah menyerang tubuhnya tapi ia tak bergeming.


....


Brayen mengerjapkan matanya, tangan nya meraba ke sisi samping sebelahnya kosong dan terasa dingin. buru-buru Brayen membuka matanya dan bangun untuk mencari keberadaan Zaa.


Brayen menuju kamar mandi mungkin saja Zaa sedang didalam, samar-samar Brayen mendengar gemericik air mengalir. mencoba mengetuk pintu dan memanggil nama Zaa, tapi tidak ada sahutan.


"Zaa, sayang apa kamu didalam." Rasa panik menghinggapi Brayen ketika suara kerasnya tidak dihiraukan Zaa.


"Sayang buka pintunya atau aku dobrak." Brayen bertambah panik karena pintu terkunci dari dalam. dengan tidak sabarnya Brayen mendobrak dua kali pintu itu dan akhirnya terbuka.


segera ia melangkahkan kakinya kedalam, betapa terkejutnya Brayen melihat tubuh Zaa yang masih polos duduk diam dibawah air shower yang mengalir.


Segera Brayen berlari kearah Zaa, "Sayang hey sayang." Brayen berulang kali menepuk pipi Zaa, tapi gadis itu tidak merespon. melihat wajah pucat dan bibir membiru ditambah badan Zaa yang gemetar dan terasa dingin, seketika membuat hatinya kebas sungguh kenapa Zaa menghukum dirinya sendiri seperti ini, buru-buru Brayen menggendong Zaa keluar, merebahkan Zaa diatas tempat tidur, menarik selimut tebal hingga menutupi tubuh polos dan dingin itu.


Brayen panik dan khawatir melihat gadisnya dengan keadaan seperti ini karna ulahnya.


"Sayang, Zaa bangun jangan buat aku takut sayang,'' suara Brayen bergetar menahan sesak di dada bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


"Jangan bikin aku takut sayang, tolong bangun..maafkan aku." Brayen berulang kali mengecup kedua tangan Zaa dan menggosok nya.


Segera ia menelfon dokter untuk datang, dan memakaikan baju tebal untuk Zaa. karena tidak mungkin kan dokter datang memeriksa Zaa dengan keadaan polos.


like

__ADS_1


komen


tinggalkan jejak kalian


__ADS_2