
Sore menjelang malam di kediaman Zaa mereka sedang bersiap-siap karena Brayen akan menjemputnya jam tujuh malam.
"Ibu Rian tidak usah ikut ya." Ucap Rian dengan wajah memelas.
"Kenapa?" Tanya ibu.
"Jika kamu tidak ikut itu tandanya kamu tidak menghormati mereka yang mengundang kita Rian?" Sahut sang nenek.
"Tapi nek, Rian masih capek, ingin dirumah saja." Rian terus saja beralasan, entahlah dirinya merasa canggung jika nanti harus bertemu Sherin di acara yang sama.
Dirinya sudah menjaga jarak dengan gadis itu sejak dia tahu jika Abang Sherin telah melukai kakak nya.
Meskipun sebenarnya dirinya tidak membenci Sherin atau marah kepada gadis itu, tapi dekat dengan Sherin membuat dirinya seperti sakit jantung.
Selama ini meskipun dirinya terkenal playboy dan banyak wanita yang mendekatinya tapi dirinya tidak pernah benar-benar menyukai atau mencintai mereka, dirinya hanya memberi kesempatan untuk para cewek bisa menjadi pacarnya karena mereka lah yang mengejarnya bukan dirinya.
"Apa kamu belum bisa memaafkan Mas Ray?" Zaa yang baru keluar kamar menghampiri mereka.
"Bukan begitu kak, tapi_" Rian tidak tahu harus bilang apa, meskipun dirinya juga tidak tahu kenapa jadi bersikap seperti ini.
"Jika begitu tidak ada alasan untuk kamu tidak ikut." Perkataan Zaa tidak bisa Rian bantah, dirinya terpaksa mengiyakan.
........................
"Aku harus pakai baju yang mana?"
Zaa mengeluarkan semua bajunya dalam lemari, dirinya mematut didepan cermin, mencoba pakaian mana yang cocok untuknya, sudah lebih empat kali Zaa mencoba pakaian nya.
Setelah merasa capek dan lelah pilihan Zaa akhirnya jatuh pada dress berwarna hitam, dengan aksesoris Payet di lingkaran leher bagian depan. Dres dengan panjang lengan sampai siku dan panjang dibawah lutut, terlihat anggun dan manis dengan riasan seadanya yang terkesan natural.
"Kak, Abang udah Dateng buruan keluar!" Rian berseru diambang pintu memanggil Zaa.
"Iya sebentar!" Zaa yang sudah siap menyambar tas selempang kecilnya dan keluar dari kamar.
"Wuiihh yang mau ketemu carmer, cantik bener dah." Puji Rian menggoda sang kakak.
"Ck. dasar kamu itu." Zaa kesal tapi juga tersenyum malu.
Brayen yang sedang duduk diruang tamu bersama Ibu dan nenek mengalihkan pandangan nya ketika melihat Zaa berjalan menghampirinya.
__ADS_1
Brayen tidak berkedip melihat penampilan Zaa yang sederhana tapi nampak cantik dan anggun.
"Mas." Zaa berdiri tepat didepan Brayen dengan senyum manis.
"Eh, Sudah siap sayang?" Brayen menjawab dengan gugup dan malu karena ketahuan terpesona oleh penampilan Zaa, meskipun sedikit malu karena ketiga orang di ruangan itu menatapnya dengan senyum menggelikan tapi dirinya dengan cepat menutupi rasa malunya.
"Ayo Ibu, nenek kita berangkat." Ajak Brayen dengan senyum canggung.
"Ayo." Ibu, Nenek dan Rian berjalan didepan menuju mobil yang sudah Brayen siapkan.
"Kamu malam ini sangat cantik sayang." Brayen berbisik di telinga Zaa ketika dirinya berjalan disamping Zaa.
"Makasih Mas." Zaa menjawab dengan sedikit malu karena Brayen memujinya.
"Aku mencintaimu." Brayen dengan cepat mencuri kecupan di pipi Zaa.
"Mas!" Zaa yang kaget langsung mendelik kearah Brayen.
"Heee,, gemes sayang, lihat wajah kamu yang merona seperti itu." Brayen sengaja menggoda Zaa, karena dirinya tahu jika gadisnya sedang malu.
"Nyebelin." Ucap Zaa dengan memalingkan wajah.
....................
"Zaa sayang kamu sudah datang?" Bu Indri yang melihat calon menantu dan besan nya datang segera berdiri dari kursinya dan menyapa mereka.
"Iya Bu." Zaa sedikit malu dan takut karena dirinya masih belum percaya akan menjadi bagian dari keluarga Abraham.
"Bu Ratna, sudah lama kita tidak bertemu." mereka berdua bersalam dan cipika-cipiki.
"Iya Bu, kenalkan ini ibu saya, nenek Warti." Bu Ratna memperkenalkan Nenek.
"Saya Indri ibu, Mama nya Brayen dan ini suami saya." Bu Indri juga memperkenalkan keluarganya.
"Saya Nenek Zaa, senang bisa berkenalan dengan keluarga anda." Ucap nenek dengan tersenyum.
"Jangan sungkan nek, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga."
Bu Indri menyuruh mereka semua untuk duduk dimeja makan untuk menikmati semua hidangan yang ada diatas meja.
__ADS_1
Sedangkan pria remaja semenjak dirinya sampai dirumah calon kakak iparnya hanya mengedarkan pandangannya kesegala arah hanya untuk mencari sosok seseorang yang sudah lama dirinya jauhi, tapi diam-diam juga masih suka curi-curi pandang.
"Assalamualaikum.!" Suara cempreng menggema di ruangan bersamaan dengan seorang gadis remaja melangkah menuju meja makan.
"Waalaikumsalam." Mereka semua menjawab.
"Malam Semuanya." Dengan senyum mengembang Sherin menyalimi para tamu dengan sopan.
"Kakak cantik Sher, kangen udah lama gak ketemu." Sherin memeluk Zaa.
"Hm, kakak juga kangen sama kamu." Zaa tersenyum dan membalas pelukan Sherin.
"Kamu dari mana malam-malam keluyuran?" Tanya Brayen.
"Dari minimarket depan Bang."
"Ayo Sher, sekalian ikut makan." Ajak Mama Indri.
"Iya Mah,"
Sherin melirik Rian sekilas, dirinya berdebar dan sedikit gugup karena tak sengaja mata mereka bertubrukan, sebisa mungkin Sherin bersikap biasa saja karena dirinya paham mungkin Rian membencinya karena perbuatan sang Abang. Cukup agar tidak membuat masalah, agar semua yang Abangnya lakukan berjalan dengan lancar.
Setelah selesai dengan makan malam mereka para keluarga duduk di ruang keluarga untuk membicarakan tentang pernikahan anak mereka. Ibunya Zaa hanya menurut semua yang sudah diatur oleh Brayen. Beliau cukup percaya saja karena semua juga demi kebaikan bersama.
Brayen dan Zaa sudah sepakat dengan acara ijab kabul sederhana hanya kerabat dan keluarga dekat yang datang. Mereka akan melakukan resepsi pernikahan ketika Zaa sudah melahirkan. Karena Brayen tidak mau mengambil resiko dengan Zaa yang bisa kelahan dan membahayakan kandungan nya.
Keputusan sudah disepakati Lusa mereka berdua akan menikah, karena semua surat-surat sudah beres dan siap, karena semua Sam lah yang mengurusnya.
Mereka hanya menunggu Dua hari lagi menuju hari bahagia mereka berdua sepasang manusia yang saling mencintai.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG