
Suasana malam yang dingin serta tiupan angin yang sedikit kencang, tapi tidak mendinginkan pikiran kedua insan yang sedang dilanda amarah,kecewa dan sakit hati secara bersamaan.
"Tuan.. anda yang berkata tidak ada penghianatan diantara kita, tapi_" suara Zaa tercekat dadanya masih merasakan sesak yang kian merayap disekujur tubuhnya, "Anda sendiri yang membangun penghianatan itu." air mata Zaa yang sudah reda,kini kembali mengalir dikedua pipinya lagi.
Deg
Brayen membeku mendengar kata penghianatan yang Zaa ucapkan. 'apakah Zaa tau sesuatu'
Zaa mengusap kasar pipinya dengan punggung tangan nya, "Jadi untuk apa saya bertahan dengan seseorang yang benci dihianati, tapi malah dialah orang yang menghianati nya sendiri.!" luruh sudah pertahanan Zaa untuk tetap kuat didepan pria yang telah menyakitinya. untuk bernapas saja dadanya serasa sesak. sungguh bukan ini yang dia inginkan didalam hubungan nya dengan Brayen tapi semua sudah diatur oleh yang diatas.
Brayen tidak bergeming tangan nya mengepal erat, untuk mengurangi emosi yang bersarang dikepalanya. dia tidak ingin hubungan nya seperti ini, bukan ini yang dia inginkan. kenapa tuhan memberikan cobaan seperti ini padanya. air mata seorang pria penguasa kerajaan bisnis kini hanya bisa mengalir dalam diam menatap gadis didepannya.
Lidah nya terasa kelu, untuk banyak kata yang ingin dia ucapkan, bahkan hanya kata maaf yang keluar sedari tadi dari bibirnya.
"Sayang maksud k-kamu, penghianat apa?" tatapan nanar dan suara tercekat, otak nya menyangkal bahwa Zaa tahu tentang hubungannya dengan Monika.
Zaa yang masih menatap Brayen dengan tatapan kecewanya begitu besar dan hati terluka, ia memberikan foto di ponselnya kepada Brayen.
Brayen yang disodorkan ponsel Zaa, dadanya bergejolak tangan nya bergetar yang ingin mengambil ponsel Zaa, ia tidak sanggup jika itu hal yang menyangkut kesalahnnya dengan Monika.
Mata Brayen memanas, jantungnya kian berdetak kuat serasa ingin meledak, melihat foto-fotonya yang sedang naked terpampang jelas diponsel Zaa, sejenak mata nya terpejam merasakan hantaman keras seakan menghimpit dadanya yang kian sesak.
Remasan tangan Brayen diponsel Zaa, membuat darah nya berdesir hebat. 'Wanita j***** sialan..' Ray merutuki kebodohannya yang sedang mabuk bahkan bercinta dengan wanita siluman dia tidak sadar.
Brayen mendekat, menyentuh tangan Zaa untuk digenggam," sayang aku bisa jelasin, aku..aku waktu it_" ucapanya terpotong ketika Zaa melepas genggaman tangan nya dan mengangkat tangan, betanda agar Brayen berhenti berkata.
"Sudah cukup tuan,aku tidak ingin mendengar penjelasan anda, jadi saya mohon anda jangan lagi menemui saya." suara dingin penuh penekanan dan peringatan, membuat sekujur tubuh brayen meremang terasa kaku, beginilah rasanya ketika kita tidak dianggap oleh orang yang kita cintai. sungguh rasanya ini sakit sekali.
Setelah mengatakan itu, Zaa pergi dan langsung masuk kemobil Doni, dengan sigap Doni langsung ikut memasuki mobilnya. dan berlalu pergi keluar dari area cafe itu.
"Sayang dengerin aku.!!! sayang aku sangat mencintaimu, kumohon maafkan aku,sayang.!"
__ADS_1
Brayen terus saja menggedor pintu mobil,dan mengejar mobil Doni, yang perlahan pergi menjauhinya.
Brayen yang masih berdiri mamatung menatap kepergian mobil yang membawa gadisnya pergi hanya menatap nanar dan sesak di dadanya.
"aaarrrggghhhhh!!!!!!!!!!" Brayen berteriak sekuat tenaga, tubuhnya luruh ke tanah dengan kedua lutut kaki yang menumpunya, meremas rambutnya dengan kuat, menyalurkan perasaan sesak yang sedari tadi menggerogoti hatinya, serasa udara diparu-paru nya kian menipis.
Pria yang ditakuti oleh kalangan pembisnis sainganya.pria yang terkenal dingin dan tanpa belas kasihan kepada orang-orang yang melakukan kesalahan dan kecurangan. pria dingin dan orogan itu kini telah merasakan hancur tak bersisa.
Ditinggalkan gadis yang sangat ia cintai tidak pernah ia bayangkan,bahkan ia ingin segera melamar gadis pujaan hatinya itu. tapi sekarang apa yang bisa ia perbuat, untuk menebus kesalahannya. karna ia sendiri benci dengan penghianatan dan tidak akan pernah memaafkan orang yang telah berkhianat.
"Zaa maafkan aku..maafkan aku sayang..aarrgghh.!!!!.
"Aku mencintaimu Zaa " gumam nya lirih terdengar pilu.
Berkali- kali ia menyebut nama kekasihnya dan meminta maaf,dengan berteriak. tapi semuanya hanya sia-sia. harapan yang ia bayangkan kedepanya untuk menjadikan Zaa istri dan ibu dari anak-anaknya kelak semuanya sirna. semua hilang hingga membekas dihatinya yang kian sesak dan sakit.
Meskipun tidak sengaja melakukan nya karna ia mabuk, tapi wanita mana yang tidak sakit hati ketika orang yang kita cintai melakukan hal yang membuatnya kecewa dan sakit hati karna dihianati.
Disamping pintu mobil Brayen mendongakkan kepalanya,menatap langit malam yang semakin gelap, gumpalan awan hitam siap menjatuhkan laharnya. Brayen tersenyum miris menatap awan hitam dilangit, seakan mewakili perasaan nya kali ini.
Dan sedetik kemudian hujan deras mengguyur kota dimalam itu.
"Zaa maaf, aku mencintaimu sangat, tolong maafkan aku." bersaam dengan air hujan yang ikut mengguyur tubuh pria itu.
...........
Didalam mobil Doni, meskipun suara isak tangis Zaa sudah tidak terdengar, tapi mata gadis itu masih setia mengeluarkan cairan bening.
Doni yang sedari tadi hanya diam,tidak mau mengganggu Zaa dengan banyak pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikirannya. mungkin saat ini Zaa butuh waktu untuk menenangkan hatinya.
"Sudah sampai Zaa.!" Doni berkata agak sedikit keras, karna sedari tadi gadis itu melamun dengan pandangan kosong.
__ADS_1
"Eehh... m-maaf kak."
"tidak apa-apa,masuklah sudah malam,dan istirahat."
"Trimakasih kak sudah mau mengantar aku pulang.?" jawab Zaa sambil tersenyum, senyum yang biasa tulus Doni lihat kini senyum itu terlihat penuh dengan kesedihan.
"it's oke, besok tidak usah bekerja, aku berikan kau cuti, agar hatimu lebih baik dari hari ini." ucap Doni dengan tersenyum.
Zaa hanya mampu berterimakasih. lalu keluar dari mobil Doni.
Setelah melihat Zaa sudah masuk rumah, Doni pun bergegas pergi menuju ke Apartemennya.
.
.
.
.
.
.
.
.
like
komen
__ADS_1
tinggalkan jejak kalian..🤗