Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD31


__ADS_3

Brayen membawa Zaa berjalan menuju gazebo yang terletak dibelakang Vila. Gazebo yang langsung menyuguhkan pemandangan laut lepas yang begitu memanjakan mata.


Sudah 10menit mereka duduk menatap pemandangan laut yang begitu menenangkan, belum ada yang bersuara sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Tuan.."


"Aku bukan majikan mu Zaa,"


"Jangan ulangi panggilan itu lagi." Merasa geram karna panggilan yang Zaa ucapkan.


"Untuk apa anda membawa saya kesini?" tidak mengindahkan protestan Brayen, pandangan nya masih tetap lurus kedepan.


Menghela nafas pelan, " Aku hanya ingin minta maaf, dan kita kembali seperti dulu. aku tidak mau hubungan kita berakhir_ aku sangat mencintaimu Zaa, sangat..kumohon maafkan kesalahan ku." Brayen menatap Zaa dengan tatapan bersalah, menyesal telah menyakiti gadisnya.


"Malam setelah kita bertengkar, aku langsung pergi ke Club malam, dan tanpa sadar keadaanku yang sangat mabuk dimanfaatkan oleh Monika, bahkan sebelum aku datang wanita itu tidak ada di sana. bahkan aku tidak tau kalau Monika membawaku keApartemenya." panjang lebar Brayen menjelaskan kejadian yang membuatnya berakhir bercinta dengan Monika.


"Saya sudah memaafkan anda, jadi anda tidak perlu minta maaf lagi." Zaa tidak mau menatap Brayen, Ia masih tetap membuang pandangan nya ke segala arah, Ia tidak mau hatinya goyah, karna memang bukan Brayen saja yang membenci penghianatan. Ia juga membenci hal itu.


Brayen hanya menghela napas dalam,kenapa gadis ini susah dan keras kepala tidak mau memaafkannya. meskipun kesalahan yang ia perbuat bukan keinginan nya.


"Sayang,_" Brayen meraih tangan Zaa, meremat nya pelan.

__ADS_1


"Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi Zaa, aku berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi, aku mohon maaf aku sayang." suara Brayen terdengar lirih,matanya menatap wajah Zaa yang sedari tadi tidak mau menatap wajahnya. sungguh hatinya terasa diremas sesak dan sakit menjalar ke segala arah, Ia tidak bisa jika harus berakhir seperti ini.


Zaa menghela napas pelan, mendengar suara berat pria itu, sudah membuat hatinya goyah, ingin sekali ia menatap wajah pria yang sedang memohon maaf kepadanya. tapi rasa sakit dan kecewa masih menyisakan luka dihatinya.


Perbuatan yang Brayen lakukan sulit untuk dia terima, mungkin dirinya sudah memaafkan pria itu, tapi hatinya belum bisa menerima perbuatan yang pria itu lakukan. ia hanya takut suatu saat kejadian itu akan terulang, dan itu akan lebih menyakitkan dari yang ia alami sekarang.


Tanpa terasa satu titik air mata Zaa lolos, hanya membayangkan kejadian itu sudah membuat dadanya sesak.


"Sayang," Brayen yang melihat Zaa menangis buru-buru tangan nya mengusap pipi gadis itu, apakah ia menyakiti gadis nya terlalu dalam. apakah perbuatannya tidak bisa dimaafkan.


Brayen menagkupkan kedua tangan nya di wajah Zaa, agar gadis itu mau menatapnya.


"Aku mengaku salah, aku sudah buat kamu kecewa," mata Brayen memerah rasa sakit menguar ke sekujur tubuhnya. Ia mengecup kening Zaa lalu menempelkan keningnya ke kening gadis itu.


"Sayang maaf aku, aku sangat mencintaimu." Suara Brayen tercekat nafasnya terasa sesak, bahkan air mata nya sudah tidak bisa ia tahan lagi. untuk kedua kalinya pria itu mengeluarkan air mata untuk gadis itu lagi.


Zaa yang masih diam membisu tidak tau harus berbuat apa, melihat sorot mata penyesalan pria itu membuat hatinya resah. ingin sekali rasanya menerima pria itu lagi, tapi lagi-lagi rasa takut nya lebih besar dari keinginan nya menerima kembali.


Sejujurnya hatinya juga merasa sakit melihat pria itu memohon dengan tulus untuk wanita seperti dirinya, sebegitu cintanya Brayen kepada dirinya.


Zaa memundurkan wajahnya, menatap wajah pria yang sebenar nya sudah masuk dihatinya yang terlalu dalam. tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya juga sangat mencintai Brayen Abraham.

__ADS_1


"Maaf.." lagi-lagi Brayen mengucapkan kata itu berulang ulang, bahkan air matanya masih terus menetes.


Zaa mengangkat kedua tangannya, mengusap pipi Brayen dengan kedua ibu jarinya.


Brayen yang mendapat sapuan tangan halus dikedua pipinya, hanya bisa memejamkan kedua matanya. merasakan tangan gadis itu menjalar diwajahnya membuat dadanya kian berdesir ngilu. ia memegang kedua tangan Zaa yang masih berada di kedua pipinya. menatap gadis itu dengan nanar.


"Jangan menangis hanya untuk wanita seperti saya tuan." Zaa berkata dengan lirih, matanya sudah berkaca-kaca kembali.


"Saya tidak pantas untuk anda tangisi, Mungkin memang kita hanya bisa bersama sampai disini." suara Zaa tercekat ketika pergelangan tangan nya di cekram Brayen dengan kuat.


"Maksud kamu apa?" menatap tajam Zaa, mendengar ucapan gadis itu seketika emosinya meningkat. kenapa gadis ini susah sekali untuk ia jinakkan, sungguh gadis keras kepala.


"Apa kamu ingin mencoba mempermainkan kesabaran ku..huh.!" bentak pria itu didepan wajah Zaa. "Aku bukan pria yang mau mengalah hanya demi seorang gadis." desis Ray tajam." Bahkan cuma dengan dirimu aku memohon untuk dimaafkan dan menjalin hubungan kita kembali,_ tapi ternyata kau masih saja keras kepala, tidak mau mendengarkan penjelasan ku.!"


Sedetik kemudian tubuh Zaa melayang, Brayen menggendong Zaa seperti karung, tidak peduli gadis itu terus berteriak dan memukuli punggungnya. Ia hanya ingin memberi sedikit pelajaran dengan gadis itu.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian...


Like


komen

__ADS_1


__ADS_2