
"Kamu mau kemana, papa ingin mendengar penjelasan-mu dahulu." pak Rudi menghampiri Brayen yang sedang berdiri diambang pintu ingin pergi.
"ck. nanti saja pah, Ray ada urusan yang lebih penting."
"Urusan apa?" Pak Rudi menautkan kedua alisnya.
"Ray akan menjemput calon istri Ray, dan calon cucu papa." Brayen berkata dengan mata berbinar bahkan disudut matanya sudah menggenang. Brayen tidak kuasa menahan bahagia yang membuncah dihatinya ketika anak buahnya mengetahui dimana gadis nya sekarang.
"Memang nya Zaa dimana, kenapa kamu harus menjemputnya?"
"Zaa sedang kabur dari Ray Pah." Seketika binar bahagia diwajah Brayen berubah menjadi sendu, ketika mengingat gadisnya pergi karena dirinya.
Pak Rudi menyuruh Brayen untuk mengikutinya keruang kerja, dan disana Brayen menceritakan dari awal dia yang menculik Zaa dan sampai melakukan hubungan terlarang. pak Rudi hanya diam dan menyorot tajam kepada Brayen, sungguh dirinya dulu tidak pernah melecehkan wanita tapi sekarang anak laki-lakinya berani melakukan hal dosa itu. bahkan sampai membuat Zaa hamil dan memilih pergi ketimbang harus menerima pernikahan mereka.
"Maafkan Ray Pah." Brayen menunduk dengan rasa penyesalan yang teramat dalam ia rasakan, ketika melakukan dosa Brayen tidak memikirkan kedepan nya, yang dia pikirkan hanya cara untuk mendapatkan dan memiliki gadis nya seutuhnya. tanpa penolakan, tapi hal itu justru membuat Zaa pergi jauh darinya.
"Sekarang dimana gadis itu?" pak Rudi bertanya dengan tenang meskipun dirinya sudah kecewa tapi nasi sudah menjadi bubur, maka sudah tidak bisa diulang kembali. yang ada adalah memperbaiki semua nya kembali.
"Zaa berada di kota S Pah disebuah desa terpencil pinggiran kota." Brayen menghembuskan napas panjang mengingat Zaa kabur ketempat yang terletak jauh dari kota.
"Baiklah papa akan memaafkan kamu jika kamu bisa membawa pulang calon menantu dan juga calon cucu papa." ucap pak Rudi sambil menatap Brayen yang masih menundukkan kepala.
__ADS_1
"Papa tenang saja Brayen akan berusaha membawa calon cucu papa segera kembali." Brayen langsung berdiri dan memeluk papa nya. dirinya merasa lega sudah menceritakan masalah yang selama 2bulan ini ia pendam sendiri.
"Terimakasih Pah."
"Yaa segera bawa pulang calon menantu papa." pak Rudi menepuk punggung Brayen, beliau juga sedih bercampur haru, melihat putranya yang terpuruk karena kehilangan orang yang dicintainya.
.......................
Bu Ratna dan Rian sampai kota S ketika menjelang sore, sekarang mereka berempat berada di meja makan sedang menikmati hidangan makan malam mereka.
"Nenek Rian sungguh kengen sama nenek." Rian berkata sambil mengunyah makanan yang ia suapkan kedalam mulutnya.
"Kamu kebiasaan Rian, kalau makan sambil bicara." ucap Zaa yang melihat adik nya sedari tadi mengoceh sambil makan.
"Kakak gak kangen apa sama Rian?"
"ck. mana ada kakak kangen sama kamu, yang ada bikin rusuh." Zaa ngedumel sambil berdiri membersihkan meja, karena mereka semua sudah selesai.
Nenek yang melihat cucunya yang saling mengejek hanya tersenyum, kebahagian yang ingin nenek rasakan adalah berkumpul dengan anak dan cucunya dimasa tuanya ini.
Jam sudah menunjukan pukul 21:10 malam, Nenek yang ditemani Rian dikamar mengobrol sesekali Rian membuat nenek tertawa karena banyolannya.
__ADS_1
Zaa yang melihat diambang pintu hanya tersenyum haru, melihat nenek diusia yang sudah tua masih bisa melihat anak cucunya, bahkan nenek beberapa bulan lagi akan mendapatkan cicit darinya.
"Belum tidur nak?" Bu Ratna memegang pundak Zaa dari belakang, Karen Zaa hanya berdiri diam diambang pintu.
"Belum Bu." Zaa membalas dengan senyum kearah ibunya.
"Kalau begitu ibu ingin bicara dengan mu." Bu Ratna berjalan menuju ruang tengah, karena sudah malam keadaan rumah sepi.
"Ada apa Bu?" setelah duduk Zaa bertanya karena dirinya juga penasaran.
Bu Ratna menghela napas dengan pelan dan dalam. "Apa kamu akan terus lari dan bersembunyi disini?, sementara disana nak Brayen terus saja mencarimu."
"Maksud ibu apa?" Zaa yang tidak mengerti apa yang dibicarakan ibunya hanya merasa Binggung.
"Mungkin sebentar lagi nak Brayen akan datang kesini, karena ibu yakin dia pasti menyuruh anak buahnya untuk mengikuti kemanapun ibu pergi." Ucapan ibunya barusan membuat dirinya membeku.
Meraih tangan Zaa Bu Ratna berucap. "Jangan lari dari masalah, karena sekarang ada bayi yang butuh kejelasan dan tanggung jawab dari ayahnya. Jadi pikirkan pemintaan nak Ray dengan baik, meskipun awalnya ibu kecewa tapi ibu tidak Setega itu memisahkan anak dari ayahnya." Bu Ratna mengelus kepala Zaa dengan sayang, setelah itu beliau meninggalkan Zaa sendiri, agar dia bisa berfikir apa yang harus dilakukan nya.
Zaa yang masih diam menatap kosong tapi pikiran nya berkecamuk, apakah dirinya harus menerima Brayen, sedangkan hatinya masih dihantui rasa takut jika dirinya mungkin harus berbagi dengan orang lain. Pikiran Zaa berkelana kemana-mana jika dirinya bisa hamil, maka besar kemungkinan Monika juga pasti sedang hamil juga.
"Apa yang harus aku lakukan." Zaa meneteskan air matanya ketika sesak didadanya terasa berdenyut, "Sayang bantu mama menghadapi papamu, mama tidak tahu harus berbuat apa." Zaa mengelus perutnya seakan bayi didalam perutnya bisa memberi solusi kepadanya.
__ADS_1
Tidak dipungkiri bahwa dirinya merindukan sosok pria yang sudah menanamkan benih di rahimnya, tapi rasa takut dan kecewa lebih mendominasi dirinya. ia tidak ingin jauh lebih sakit ketika harus melihat Brayen pria yang dicintainya juga memilih wanita lain.
BERSMBUNG