Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD53


__ADS_3

Ceklek


Brayen membuka pintu kamar dengan pelan lalu menutupnya. Dirinya berjalan mendekati ranjang dimana istrinya sudah terlelap.


"Kamu pasti capek sayang." Brayen hanya bergumam dengan mendaratkan kecupan di kening istrinya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai Brayen keluar hanya memakai celana boxer dan kaus tipis berwarna putih.


Dirinya langsung merebahkan tubuhnya disamping istrinya, Brayen sedikit mengangkat kepala Zaa agar bersandar dilengan nya sebagai bantalan.


Brayen mencium kening dan dikecup nya bibir istrinya dengan lembut.


"eghh." Zaa mengeliat karena merasa terusik.


"Tidurlah, sayang." Brayen mengelus kepala Zaa agar kembali tidur.


"Mas, kamu sudah selesai." Zaa yang mendengar suara Brayen segera membuka mata.


"Ya, sudah larut mereka sudah pada pulang." Ucap Brayen dengan menatap wajah cantik istrinya.


"Maaf aku ketiduran Mas." Dirinya malah menduselkan wajahnya di dada Brayen, menghirup aroma segar tubuh suaminya membuatnya merasa nyaman.


"Kamu sudah makan?" Tanya Brayen yang mencoba menahan diri, karena istrinya memancing sesuatu dibawah sana.


"Emh sudah." Ketika selesai mandi seorang pelayan hotel mengantarkan makanan untuk dirinya.


"Mau tidur, atau melakukan sesuatu?"


"Melakukan apa Mas?" Tanya Zaa sambil mendongakkan kepala.


"Em, sesuatu yang membuat berkeringat." Ucap Brayen ambigu.


Zaa mengerutkan keningnya, dirinya merasa lelah tapi suaminya mengajaknya melalukan pekerjaan. "Memang apa yang harus aku bantu kerjakan?" Zaa menatap suaminya dengan wajah penasaran.


"Kerjakan?" Sepertinya istri polosnya belum mengerti .


"Iya, Mas bilang sesuatu yang membuat berkeringat, jadi apa yang harus aku kerjakan." Masih belum mengerti arti berkeringat ala suaminya.


"Kamu tidak perlu mengerjakan apa-apa, cukup diam dan nikmati." Brayen menyeringai lebar, setelah istrinya membulatkan matanya.


"M-maksud Mas." Zaa gugup dan merasa malu sampai wajahnya memerah hingga menyebar sampai ke kuping.


"Ya, apa kamu lelah sayang?" Brayen mendekatkan bibirnya berbisik ditelinga Zaa dengan sedikit memberi kecupan.


"Emh." Zaa meremang ketika napas Brayen menerpa kulit sensitifnya dan kecupan lembut telinga nya.

__ADS_1


Brayen semakin melancarkan aksinya ketika melihat istrinya diam dan menikmati sentuhan yang dia berikan.


"Mass." Zaa sudah terbuai oleh perlakuan Brayen yang membuatnya ingin melakukan lebih.


Brayen menyusuri leher jenjang Zaa dengan kecupan basah dan memberikan tanda merah disepanjang leher istrinya.


"Ahh, __Des*han Zaa lolos ketika tangan Brayen mere*mas buah dadanya dengan lembut.


"Aku menginginkan mu sayang." Dengan tatapan sayu dan bola mata penuh ga*irah Brayen meminta ijin.


Zaa yang memang sudah terlena dan ingin melakukan hal yang lebih hanya bisa mengangguk.


Brayen segera menyambar bibir Zaa dengan penuh na*psu, menggigit kecil bibir Zaa dengan lembut. Bibir mereka saling menyesap, Melu*mat dengan penuh nikmat.


Brayen membuka baju tidur tipis yang Zaa kenakan, karena Zaa tidak memakai bra sehingga buah dada Zaa langsung menyembul didepan Brayen, kinitubuh istrinya hanya menyisakan kain segitiga hitam berenda yang hanya menutupi area int*im nya.


Zaa yang ditatap oleh suaminya merasa malu, dirinya menutupi dadanya dengan kedua tangan nya.


"Jangan ditutupi sayang, mereka sangat indah." Brayen berucap dengan memberikan kecupan dikulit area payu*da*ra istrinya.


Mulut nya menyusuri wajah dan leher Zaa hingga sampai di area dada Zaa, tangan nya tidak tinggal diam mencoba melepas kain penutup lembah surgawi yang dirinya inginkan.


Zaa hanya bisa memejamkan matanya tangan nya meremas rambut Brayen, tubuhnya meliuk-liuk karena merasa geli bercampur nikmat.


Mungkin dulu dirinya tidak pernah merasakan percintaan nya dengan Brayen, karena Brayen memaksa dirinya. Hanya rasa sakit yang dirinya dulu rasakan.


Brayen memberikan kecupan basah disepanjang garis perut Zaa dan memberi banyak ciuman lembut di perut Zaa yang sedikit buncit. Hingga ciuman itu sampai di area in*tim Zaa. Brayen menjulurkan lidahnya untuk menggapai sesuatu yang menggoda matanya, menyesap dan men*ji*lat hingga sang empu mengelijang dengan tangan meremas sprei kuat dan mengeluarkan desa*han indah ditelinga Brayen.


"ehhgg, mas... Argh.." Suara er*tis Zaa menggema dikamar hotel yang dingin tapi terasa panas bagi keduanya. tubuhnya bergetar mengalirkan sebuah kehangatan yang keluar dari lembah surgawi nya.


Brayen segera menyesap dan menelan cairan hangat yang disuguhkan oleh lembah surgawi istrinya.


Brayen segera melepas boxer nya dengan cepat hingga menyembuhkan benda keramat yang sejak tadi meronta-ronta ingin dilepaskan.


Zaa yang melihat segera memalingkan wajah merona malu, meskipun sudah sah menjadi suami istri ini kali pertama dirinya benar-benar melihat benda besar nan panjang itu berdiri tegak mengacung. Dulu dirinya enggan untuk melihat bahkan dirinya hanya terus memejamkan mata.


"Dia sudah sangat ingin sayang."


Dengan napas memburu Brayen segera memposisikan dirinya didepan surga yang memberi nya kenikmatan tiada tara.


"Jangan ditahan sayang, egh." Brayen menggeram rendah kala dirinya sulit memasuki dan kejantanannya seperti terjepit dengan cengkraman kuat.


"Eghh, Ahh." Zaa men*de*sah kuat ketika benda tumpul memasuki dirinya dengan kuat.


"Kau nik*mat sayang.. ahhh."

__ADS_1


Mereka bergumul dengan penuh cinta dan napsu menjadi satu, meraih kenikmatan yang memabukkan keduanya, dengan penuh peluh dan keringat Brayen memacu kecepatan hentakan pinggulnya ketika sudah merasa ingin meledakkan sesuatu yang ingin keluar.


"Mas, Aku..ahhh,. __ Zaa meng*gerang dengan kuat ketika pelepasan sudah tak sanggup dirinya tahan.


Dengan cepat Brayen mamacu hentakan nya dengan kuat dan dalam hingga sesuatu yang hangat menyembur dengan deras dan kuat dirahim istrinya.


"Terimakasih sayang." Dengan napas yang masih tersengal, Brayen menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


"Tidurlah." Brayen mengecup kening Zaa. Sedangkan Zaa hanya bisa memejamkan mata dengan napas yang masih belum teratur. Dirinya merasa lemas dan lelah hingga rasanya sekujur tubuhnya lengket oleh keringat.


Mereka yang akhirnya tertidur dengan lelap setelah melakukan hal yang membuat candu dan merasakan nikmat indahnya surga dunia dengan saling merima dan memberi. Lebih indah dan nikmat dibanding sebelumnya hanya ada rasa sakit dan tangis.


.................


Sudah satu bulan Brayen dan Zaa menikah, Brayen sengaja memboyong Zaa ke Apartemennya, karena Brayen akan memberi hadiah istrinya rumah yang sekarang masih direnovasi.


"Sayang kamu dimana." Hari sudah sore Brayen yang baru pulang dari kantor tidak mendapati istrinya di dalam.


"Sayang!" Brayen segera menuju dapur ketika mencium aroma wangi makanan.


"Mas sudah pulang? maaf aku tidak dengar." Zaa menyalami tangan suaminya dibalas dengan ciuman dikening oleh Brayen.


"kamu sedang apa sayang." Brayen sangat suka jika melihat istrinya berkutat di dapur, karena jika Zaa sedang memasak pasti hanya menggunakan kaus kedodoran punya Brayen dan hanya memakai dalaman dibagian bawahnya. Entahlah dirinya merasa nyaman dan leluasa jika hanya memakai kaus suaminya yang kedodoran ditubuhnya.


"Lagi bikin kue Mas." Zaa memasukkan kue yang siap dipanggang ke dalam open.


Brayen memeluk Zaa dari belakang, hidung nya mengendus dan menghirup aroma kulit istrinya.


Tiba-tiba Brayen mengangkat tubuh Zaa berada di gendongan nya. "Akh..Mas!" Zaa yang kaget menjerit dan langsung melingkarkan kedua tangan nya dileher suaminya.


"Kita ke kamar sayang." Brayen segera membawa Zaa kedalam kamar karena dirinya tidak sanggup melihat tubuh istrinya yang terlihat se*xy dimatanya.


Dan akhirnya mereka berdua melakukan kegiatan yang mengahasilkan keringat dan kenikmatan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2