
Monika membawa mobil Ray kesebuah Apartemen yang Monika tinggali. Monika ingin membuat hubungan Brayen dan Zaa berakhir.
Setelah sampai diparkiran Apartemen, Monika memapah Brayen menuju lift.
didalam lift Monika mencoba memancing Brayen dengan sentuhan jarinya di wajah Brayen, turun hingga membelai dada Brayen yang kancing kemejanya sudah terlepas dua. nampak sedikit bagian dada bidang yang menggoda bagi Monika.
"Sayang aku merindukanmu." suara manja Monika menyapa pendengaran Brayen yang sudah mengabur kesadarannya.
Brayen membuka matanya degan lebar-lebar, menatap wanita didepan nya dengan mata sayu nya. Brayen melihat Zaa tersenyum manis kepadanya, bahkan senyum manis itu menular ke bibir Brayen.
"Sayang kau ada disini." Ray membelai pipi monika. yang ada dipikiran Brayen Monika adalah Zaa, "sayang maafkan perlakuanku tadi." Ray mengecup bibir Monika dengan lembut. menyalurkan betapa ia menyesali perbuatanya tadi.
Monika hanya diam dan menikmati perlakuan yang Brayen berikan. meskipun hatinya memanas, karna Brayen masih mengingat kekasihnya, meskipun keadaan nya mabuk berat.
"Yaa.. sayang aku disini bersamamu."
Monika hanya ingin memuluskan rencananya, sehingga dia tidak perduli jika Brayen menganggapnya adalah Zaa.
Setelah sampai dikamar, Monika merebahkan Ray di kasurnya. dengan perlahan Monika melepas sepatu dan kemeja yang Brayen kenakan.
"Mungkin ini adalah kesempatan emas bagiku,tanpa susah-susah untuk memancing mu, Ray." ucap Monika seraya mengusap wajah tampan Brayen.
Brayen yang mendapat usapan halus disekitar wajahnya merasa terusik, membuka matanya yang dia lihat adalah Zaa dihadapanya.
Tanpa menunggu lama, Brayen langsung menarik tengkuk Zaa dengan paksa.
Karna efek alkohol yang ia minum, dia tidak sadar bahwa wanita yang di c***u adalah mantan kekasihnya yang ia benci. dipikiran dan hatinya Brayen, membayangkan Monika adalah Zaa, karna Brayen sangat mencintai gadisnya itu. kalo tidak ada Zaa akan Sehancur apa hatinya, bahkan ia tidak sanggup menjauh dari gadis itu.
Dengan kecerobohannya sekarang, ketakutan yang Brayen pikirkan mungkin akan segera ia alami, karna sekarang dia sedang bermain dengan kehancuran hubungan yang baru ia jalani dengan Zaa.
Monika membalas ciuman bibir Brayen tak kalah ganas, jujur karna selama ia bercinta dengan banyak pria, tapi hanya Brayen yang mampu membuatnya puas.
Dan pada ahirnya,mereka melewati malam panjang dengan penuh gairah.
...............
Pagi mentari menyapa penduduk di dunia dengan cahaya hangatnya.
Seorang gadis sudah bersiap untuk menjalani rutinitasnya untuk mencari penghasilan. Zaa sudah bersiap untuk bekerja, Ia mencoba melupakan kejadian kemaren dengan Brayen. bahkan Brayen sama sekali tidak menghubunginya, biasanya Brayen selalu memberinya kabar walaupun hanya lewat pesan. meskipun Zaa jarang membalasnya tapi Brayen selalu perhatian kepadanya.
Sesampai diCafe,Zaa melihat bos nya sudah ada dicafe, tumben biasanya bosnya itu datang diwaktu menjelang sore.
"Pagi pak."sapa Zaa dengan senyum.
Senyum yang membuat Doni selalu terpesona oleh gadis yang memiliki senyum manis dan tulus itu.
"Pagi Zaa, kau sudah datang." karna memang jam waktu bekerja kurang sedikit lagi, jadi Cafe baru sedikit karyawan yang datang.
"Iya pak, " jawab Zaa canggung karna sedari tadi Doni menatapnya.
__ADS_1
"Ahh baiklah,apa kau sudah sarapan Zaa,?" sadar tatapanya membuat Zaa kurang nyaman, Doni mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Emm..kebetulan belum pak." Zaa menjawab dengan jujur,karna memang ia tidak semangat untuk sarapan pagi ini. meskipun hatinya mencoba baik-baik saja, tapi tetap mempengaruhi mood makanya.
"kalo begitu temani saya makan, karna kebetulan saya juga belum makan?" Doni menawarkan.
"Emm. " Zaa sedikit sungkan menerima ajakan bosnya ini, tapi menolak juga tidak enak." baiklah pak."
Doni dan Zaa keluar cafe mencari makanan yang buka pagi disekitaran dekat cafe,
"kamu mau makan apa Zaa?" Doni bertanya ,karna memang Doni tidak tau makanan yang Zaa suka.
"Emm..boleh kita makan di tenda depan sana pak," tanya Zaa hati-hati karna mungkin Doni tidak menyukai makan-makanan yang dijual dipinggir jalan.
"Baiklah, kebetulan juga saya ingin makan nasi uduk." jawab Doni tersenyum sekilas menatap Zaa.
"Bapak sering makan yang dijual dipingir jalan juga?" Zaa sempat heran, pasalnya bos nya ini juga orang kaya, bahkan punya banyak cabang Cafe, tapi masih mau makan dipinggir jalan.
"bisa tidak jangan panggil saya bapak,ketika kita diluar Zaa, saya kan hanya bos kamu ketika diCafe."
"ehh.. saya akan coba,pak-eh maksud saya kak Doni." ucap Zaa sedikit gugup.
"Hem, kakak lebih baik dari pada pak."
Setelah sampai didepan tenda yang menjual bubur dan nasi uduk lengkap dengan segala toping tambahan. mereka masuk ketenda dan mencari tempat duduk.
"Bap- eh maksud saya kak Doni, mau pesan apa?" Zaa sedikit kikuk menyebut Doni dengan tambahan kakak. karna lidahnya belum terbiasa.
"Nasi uduk saja dengan tambahan telur balado." jawab Doni.
Setelah memesan makanan, mereka makan diselingi obrolan yang membuat mereka tambah akrab.
.......
Ditempat lain,dimana dua orang yang masih bergelung selimut,meski waktu sudah menunjukan pukul tujuh lewat Brayen masih belum bangun.
"Emmh." Brayen mengerjapkan matanya, tangan nya mengusap kasar wajah nya,sisa-sisa pengaruh alkohol masih sedikit membuat kepalanya pusing.
Ketika ingin turun dari ranjang, Brayen baru sadar kalo dia sedang N***d. 'Si*L' Ray menengok kesamping, ingin melihat ia memakai J****g siapa.
Dan alangkah terkejutnya melihat siapa wanita yang tidur bersamanya.
Sungguh Ia tidak ingat kejadian yang mereka berdua lalui tadi malam. tapi melihat tubuh nya yang tanpa sehelai benang, sudah membuat Brayen paham.
"Si*Al!! bodoh kau Ray." Ray meremat rambutnya dengan kasar lalu bergegas masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat Monika membuka kedua matanya, melirik kearah samping tapi Brayen sudah tidak ada,'Apa dia sudah pergi' baru akan beranjak bangun,suara pintu kamar mandi terbuka.
"Sayang kau sudah bangun," suara manja nan sexy Monika, membuat Brayen tambah muak, merasa jijik jika ia harus berhubungan dengan mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini.!" suara dingin dan tatapan tajam Brayen, tidak membuat Monika gentar.
"Tentu saja aku disini, karna ini Apartemenku." jawab Monika santai, lalu berdiri dengan tubuhnya yang masih polos menghampiri Brayen.
"Diam disitu!"
"Kenapa, bahkan tadi malam kau selalu ingin aku sentuh sayang." Monika tersenyum menggoda.
"Menjijikan.!"
"Apa kau tidak ingin mengulangi percintaan kita lagi sayang." Monika tidak gentar ia tetap mendekati Brayen, dan membelai wajah pria dingin nan tampan itu.
"Singkirkan tanganmu B**h.!" Ray mencekam leher Monika dengan kuat, sampai Monika kesulitan bernafas.
"R-Ray le-lepas." wajah Monika pucat pasi,karna kehabisan napas.
"J****g sepertimu memang harus diberi pelajaran.!" tatapan tajam penuh amarah,membuat nyali Monika menciut, bahkan Brayen tega menyakiti nya.
"Jangan pernah muncul dihadapanku lagi,jika kau ingin hidup lebih lama B**h!"
Ray menghempaskan tubuh Monika hingga tersungkur kelantai dengan tubuh polosnya,Monika yang masih ngos-ngosan karna kehabisan napas hanya bisa memegangi lehernya yang terasa sakit, akibat cengkraman tangan Brayen.
Brayen berlalu keluar dari apartemen Monika,ia menuju parkiran mencari mobilnya.
"Aarrgghhh!!!, Sial..sial.!!!" Brayen berteriak dan memukul stir kemudi dengan keras untuk meluapkan kemarahan yang ia rasakan.
Kemarahan atas tindakan bodohnya, yang tidak sadar sudah berhubungan dengan mantan kekasihnya.
"Zaa maafkan aku." pikirannya membayangkan gadis yang ia cintai, gadis yang secara tidak langsung sudah ia hianati. "Aku bodoh Zaa, maafkan aku." tanpa sadar Brayen menjatuhkan airmata nya, mata yang biasa menatap tajam dan menusuk lawan nya, bahkan Brayen lupa kapan ia terahir menjatuhkan air matanya. dan kini air mata itu jatuh oleh rasa penyeslan yang ia perbuat. sungguh kalau Zaa sampai tau ia berhubungan dengan Monika, dia tidak bisa membayangkan jika Zaa meninggalkanya.
Brayen melajukan mobilnya kejalan menuju Apartemennya. tidak mungkin ia pulang kerumah orang tuanya dengan keadaan seperti ini.yang ada Ray malah mendapat pertanyaan dari mama nya.
Didalam kamar meskipun sakit dilehernya meninggalkan bercak merah bekas cekikan tangan Brayen, Monika mengembangkan senyumnya ketika melihat hasil foto yang ia ambil ketika Brayen tidur bersamanya.
"Selamat menikmati kehancuranmu wanita miskin." Monika tersenyum sinis,setelah mengirim foto in**m nya ke nomor Zaa, karna Monika sempat menyalin nomor Zaa dari handpone Brayen. tak lama tawanya menggelegar, membuat siapa saja yang mendengarnya merinding.
.
.
.
.
.Like
.Komen
.Tinggalkan jejak kalianš¤
__ADS_1
Bersambung...