
Brayen duduk dengan pikiran lega karena gadisnya sudah sadar dan lebih baik. ia masih menunggu waktu yang tepat ketika keluarga Zaa akan keluar maka dirinya akan masuk menemui Zaa langsung.
Didalam ruangan inap Zaa, gadis itu masih menyuruh ibunya pulang agar beristirahat, khawatir jika ibu nya akan kecapekan dan membuat ibu nya drop.
Bu Ratna memiliki riwayat penyakit darah tinggi maka dari itu Zaa tidak ingin ibu nya kelelahan dan banyak pikiran sehingga membuat beliau sakit.
Rian dan Dian sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu, Rian yang tidak bisa bolos karena ada ulangan dikelasnya, dan Dian yang masih bekerja harus berangkat juga.
"Buu ibu pulang dan istirahat dirumah, Zaa sudah tidak apa-apa Bu." gadis itu masih saja membujuk sang ibu agar mau pulang.
"Ibu hanya ingin menemani anak ibu, percaya ibu akan baik-baik saja." Bu Ratna membelai kepala Zaa dengan sayang. beliau belum tau apa yang terjadi dengan anak nya, karena beliau menunggu Zaa yang akan mengatakan nya langsung.
"Yasudah ibu akan keluar dulu beli sarapan, kamu mau ibu belikan apa?"
"Tidak usah Zaa sudah kenyang." ucap Zaa dengan tersenyum.
"Ibu keluar sebentar, kalau ada apa-apa panggil suster yaa."
__ADS_1
"iya ibuku, hati-hati."
Setelah Bu Ratna keluar Zaa membaringkan tubuh nya, meskipun tidak merasa mengantuk ia hanya ingin memejamkan matanya saja.
Ceklek
Pintu terbuka dari luar, Zaa yang mendengar mata nya langsung terbuka kembali dikiranya sang ibu kembali lagi, mungkin ada yang tertinggal.
Mata Zaa membulat melihat siapa yang berdiri dibalik pintu itu, seketika ia langsung memalingkan wajah nya dan memunggungi dimana sekarang Brayen mendekat dan berdiri disamping gadis yang memunggunginya.
Brayen menatap nanar Zaa yang langsunga memunggunginya, apakah gadis itu tidak mau melihatnya lagi padahal Brayen sangat ingin menatap wajah gadis yang sangat ia rindukan dan khawatirkan semalaman.
Zaa yang memejamkan matanya tidak ingin melihat atau berbicara lagi dengan Brayen, seketika air matanya luruh ketika mendengar suara berat pria yang pernah dicintainya dan kini berubah menjadi pria yang sangat ia benci.
"Sayang," Brayen mendekat dan mengelus kepala Zaa yang masih setia memunggunginya." maaf, aku membuatmu jadi seperti ini, tolong maafkan aku..kita akan segera mengurus pernikahan kita setelah kamu sehat dan keluar dari rumah sakit." Brayen berkata dengan nada tegas, berharap gadis itu terusik dan mau menatapnya.
Zaa tidak bergeming matanya masih terpejam tapi air matanya tidak berhenti mengalir, pelan gadis itu terisak sedikit membuat punggung nya bergetar.
__ADS_1
Brayen yang melihat punggung Zaa bergetar ia yakin bahwa gadis nya sedang menangis. ingin rasanya ia membawa Zaa kedalam pelukan nya menghujani gadis nya dengan ciuman bertubi-tubi, sungguh sangat sakit melihat wanita yang ia cintai menangis karena dirinya. namun Brayen tidak menyesal karena telah melakukan hal itu, karena dengan begitu gadisnya tidak akan menolak nya lagi.
"Sayang kumohon maafkan aku." lagi-lagi Brayen mengucapkan maaf untuk kesekian puluh kali, tapi selalu tidak ada jawaban dari gadisnya.
Merasa sudah tidak bisa bersabar lagi dengan Zaa yang selalu mengacuhkan nya.
"Zaa dengar,! sudah cukup kau selalu acuh dan menggapku tidak ada, maka jangan salahkan aku jika aku melakukan dengan caraku sendiri agar kau tidak bisa menghindari ku lagi!" Brayen menyorot tajam punggung gadis yang masih betah memunggunginya, suara nya yang tegas dan dingin menandakan dirinya sudah hilang kesabaran nya.
"Setelah kau keluar dari sini, kita akan langsung menikah. jadi bersiaplah dan jangan coba-coba menghindar lagi." setelah mengatakan hal itu Brayen segera pergi keluar karena tidak ingin Bu Ratna kembali dan melihat dirinya menemui Zaa, karena semalam ia sudah meminta izin menemui Zaa tapi beliau melarang nya.
Bu Ratna melarang Brayen karena Brayen sudah menjelaskan kalau dirinya yang membawa Zaa pergi selama 2hari dan tentu saja tidak menceritakan kejadian percintaan yang mereka lakukan, tepatnya Brayen yang memaksanya. Bu Ratna yang marah dan kecewa karena Brayen membawa Zaa tanpa meminta izin tapi dan malah membawa Zaa pulang dengan keadaan nya yang berada dirumah sakit.
Zaa hanya diam dalam tangisnya hatinya merasa sakit dadanya sesak ketika mengingat kejadian dimana ia kehilangan barang berharga dalam dirinya. ia tidak mau dan belum siap ketika Brayen akan menikahinya sedangkan bayangan foto-foto mesum Brayen masih berputar diotaknya seperti kaset rusak.
Zaa tidak mau dikemudian hari ketika ia sudah menikah dan wanita itu datang dengan meminta pertanggung jawaban atas perbuatan Brayen, karena Brayen juga pernah melakukan hubungan dengan Monika.
Pikiran Zaa kacau apa yang harus ia lakukan, ia tidak mau jika harus terjebak pernikahan dengan Brayen. tapi memikirkan dirinya yang sudah kotor oleh perbuatan Brayen ia tidak yakin ada pria yang mau menerima semua kekurangan nya.
__ADS_1
Mungkin ia harus menenangkan pikirannya yang kacau, dan biarkan Brayen menyelesaikan masalahnya dengan mantan kekasihnya. jika berjodoh maka mereka akan bertemu dan dipersatukan oleh yang maha kuasa.
BERSAMBUNG