Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD60


__ADS_3

Hari cepat berlalu bulan pun sudah berganti kini usia kandungan Zaa memasuki bulan ke Delapan. Selama hamil dirinya tidak seperti ibu hamil kebanyakan, dirinya ingin sekali merasakan yang namanya ngidam dan minta ini itu pada suaminya, meskipun suaminya akan memberikan apa pun yang dia minta tanpa harus menggunakan alasan ngidam. Malah sebaliknya Brayen lah yang sering minta yang aneh-aneh dan harus dituruti. Seperti ketika waktu tengah malam dirinya dibuat kesal karena Brayen meminta dibuatkan Seblak, padahal setahu Zaa Brayen tidak pernah yang namanya mengkonsumsi mie instan apa lagi ini seblak, bahkan Brayen berkata 'Tadi aku tidak sengaja lihat disosial media, ada orang makan yang namanya seblak' Bahkan saat mengatakan itu air liur Brayen ingin menetes, alhasil dirinya bangun tengah malam hanya untuk menuruti permintaan suaminya.


Dan yang membuat dirinya bertambah kesal ketika Brayen hanya memakan tiga suapan dan dirinya bilang sudah kenyang. Sungguh ingin sekali dirinya memukul kepala suaminya jika tindakan itu tidak dosa. Zaa hanya bisa sabar ketika yang mengalami ngidam suaminya dan bukan dirinya.


Mereka kini sedang duduk bersantai disofa kamar menghadap ke tv. Zaa menyandarkan kepalanya didada suaminya sedangkan Brayen fokus melihat Chanel yang menyiarkan perkembagan bisnis terkini.


"Sshhh.." Zaa mendesis tertahan ketika perutnya bergerak, nampaknya baby boy sedang aktif.


"Kenapa sayang?" Brayen segera mengalihkan pandangan nya menatap wajah istrinya yang meringis.


"Em, baby lagi ngajak main Mas." Zaa menarik napas dalam dan mengeluarkan dengan pelan, terkadang perutnya menjadi keras dan kaku ketika bayi didalam kandungan bergerak aktif.


Tangan Brayen mengelus perut buncit istrinya, "Apa sakit?" tanyanya khawatir.


"Hanya sedikit kram dan kaku." Zaa masih terus menarik nafas dalam dan mengeluarkan perlahan.


Brayen menunduk mensejajarkan wajahnya dengan perut istrinya, "Sayang jangan nakal didalam sana,__Brayen mengelus dengan lembut, dirinya menaikan dress yang dikenakan Zaa, agar dirinya bisa menyentuh langsung permukaan kulit istrinya dan melihat mahluk kecil itu bergerak didalam perut, __Jangan buat mama kesakitan sayang, apa mau papa jenguk agar kamu bisa bermain dengan para senior kamu."


Zaa memukul bahu suaminya yang masih asik menciumi perutnya, Brayen akan mencium di setiap bagian dimana mahluk kecil itu menunjukan gerakannya.


"Gak usah ngadi-ngadi Mas." Zaa mendelik kearah Brayen ketika pria itu mendongak.


"Biar dia gak protes terus yang, biar dia anteng bermain dengan para seniornya." Ucapan absur Brayen membuat Zaa merona malu.


"Modus, dasar mesum." Zaa segera menurunkan kain yang disingkap suaminya sebelum memancing terjadinya gempa lokal.

__ADS_1


"Kenapa ditutup sih." Brayen kembali menyingkap kain itu lagi.


"Dingin Mas." Elak nya karena dirinya yang masih sangat sensitif jika mendapat sentuhan lembut diarea perut dan kadang Brayen juga memancing mengelus perut bawah istrinya, apalagi kehamilannya sudah akan memasuki bulan ke sembilan membuat dirinya mudah terangsang.


"Hem, mau aku bikin panas." Tanyanya dengan sebuah senyum penuh arti.


"Tidak." Dengan cepat Zaa menjawab, meskipun dirinya ingin tetapi masih malu jika harus berterus terang.


"Mulutmu berkata tidak, tapi tubuhmu ingin sayang." Brayen mendaratkan kecupan basah diatas perut buncit Zaa, wajahnya naik dan mensejajarkan dengan wajah Zaa, memangut dan mencecap bibir manis yang membuatnya selalu candu. Brayen segera mengangkat tubuh istrinya menuju ranjang dan menidurkannya dengan pelan.


Zaa hanya pasrah dirinya tidak bisa menolak ketika bibir suaminya menjelajah di setiap jengkal tubuh nya. Rasanya memabukkan dan membuat candu menghadirkan Des*han hingga erangan dari mulutnya.


Kini Brayen sudah melepas kaus nya dan menyisakan boxer hitam, dirinya segera melepas dres tipis yang istrinya kenakan dirinya sangat senang ketika membuka baju Zaa langsung disuguhkan pemandangan yang sangat dirinya sukai, dua buah tanpa pohon menggantung indah dan pucuk merah muda kian mencuat, dirinya yang sudah terbakar gairah segera melahap, meremas bahkan menggigit kecil pucuk merah muda yang mencuat keras itu.


Zaa yang merasakan dirinya sudah tidak tahan ketika Mulut Brayen menyentuh area sensitifnya untuk bermain lidah disana membuat tubuhnya mengejang merasakan ledakan yang membuat dirinya lemas.


Zaa hanya menatap sayu nafasnya masih tersengal-sengal, melihat Brayen menyapu bibir nya sendiri dengan lidah nya, adalah pemandangan yang paling mendebarkan jantungnya, karena ia tau jika Brayen melakukan itu untuk membersihkan sisa cairan yang tertinggal disudut bibirnya.


Ketika Brayen sudah melepas kain penutup terakhirnya dirinya menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang dengan posisi setengah duduk.


"Naiklah sayang." Tangan nya menuntun tubuh istrinya agar naik diatas tubuhnya.


Zaa menurut, posisi inilah yang paling nyaman ketika dirinya sedang mengandung, Women on top. Meskipun tidak hanya wanita hamil, tapi posisi ini cukup digemari para wanita untuk melakukan gaya se*x.


Perlahan tangan Zaa menuntun benda besar keras nan berurat itu untuk memasuki rumah ternyaman diarea pribadinya.

__ADS_1


"Egh." Mereka meleguh bersama ketika kelamin mereka menyatu dengan sempurna.


Perlahan dirinya menggerakkan pinggulnya naik turun, dibantu tangan Brayen yang berada di pinggangnya, erangan dan de*ahan memenuhi kamar yang luas itu, Zaa semakin cepat bergerak diatas tubuh Brayen mengejar gelombang yang akan menghantam dinding pertahanan nya.


Brayen mendesis tertahan ketika batang kejantanannya dijepit kuat oleh dinding licin dan basah Zaa, tangannya bergerak meremat buah tanpa pohon itu.


"Egh, shh." Tangan Brayen mencekram pinggang Zaa ketika merasakan akan segera orgasme, dirinya menghentak dari bawah dengan cepat namun tetap ingat ada baby diperut Zaa.


Hentakan terakhir dengan keras menghantarkan mereka melepas ledakan yang membuat kedua nya bernapas dengan terengah-engah, Brayen menggeser tubuh istrinya yang sudah lemas tak bertenaga kesamping, kakinya meraih selimut hingga tangannya menggapai dan menutupi tubuh polos mereka berdua.


"Terima kasih sayang." Brayen mengecup kening Zaa, dan membawanya kedalam dekapan nya, Zaa sudah lelah hingga tak merespon suaminya.


"Baik-baik disini sayang, bulan depan kita akan bertemu." Brayen mengelus perut buncit istrinya yang polos dari dalam selimut.


"Sialan ternyata mereka sudah menikah dan akan mempunyai anak." Geram seorang wanita yang melihat sepasang suami istri sedang belanja keperluan bayi disebuah Mall.


"Heh, bersenang-senang lah kalian sekarang, sebentar lagi kesedihan lah yang akan menghampiri kalian." Wanita itu menatap dengan amarah dan dendam, dirinya pergi dengan segudang rencana licik.


**Like


komen


tinggalkan jejak kalian.


Mampir juga karya author satunya

__ADS_1


"Pembantuku Canduku"


terimakasih🥰🥰**


__ADS_2