
Mereka berdua kini berada didalam mobil Brayen mengantar Zaa pulang ke rumah nenek nya.
"Dimana Sam?" Tanya Zaa yang tidak melihat Sam, karena dari pagi Sam lah yang mengantar mereka.
"Sam aku suruh kembali ke kota." Ucap Brayen sambil fokus menyetir.
"Ke kota? kapan?"
"Kenapa kamu malah menanyakan Sam sih." Brayen mendengus sebal.
"Memangnya kenapa? biasanya asistenmu itu selalu ada di manapun kamu berada." Jawab Zaa.
"Dia sedang mengurus berkas pernikahan kita. Jadi lusa kita akan kembali ke kota." Ucap Brayen dengan menggenggam tangan Zaa menggunakan sebelah tangan nya.
"Kenapa cepat sekali." Zaa protes karena terlalu mendadak.
"Kenapa? apa kamu tidak mau menikah denganku?, kamu mau kabur lagi dariku!" Brayen menatap Zaa tajam.
"B-bukan begitu, aku bahkan belum mempersiapkan segala sesuatu untuk itu." Ucap Zaa sedikit gugup melihat tatapan tajam Brayen.
Entahlah mungkin Brayen sedikit keras, tapi dirinya tidak mau kejadian diwaktu Zaa meninggalkan nya terulang kembali. Ditambah sekarang wanita itu mengandung anaknya, Brayen tidak akan pernah lagi membiarkan Zaa pergi.
"Tidak perlu, karena Sam sudah mengurusnya kamu hanya tinggal menunggu Minggu depan kita akan melangsungkan pernikahan." Ucap Brayen santai, tapi tidak bagi Zaa yang langsung membulatkan kedua matanya.
"M-minggu depan?" Tanya Zaa terbata-bata.
"Ya, apa terlalu lama?"
"Terlalu lama? bahkan Minggu depan bagiku terlalu cepat Mas." Ucap Zaa sambil menatap Brayen.
"Lebih cepat lebih baik sayang, karena disini, __Brayen mengelus perut Zaa, __ada malaikat kecil yang tumbuh, apa kamu mau menikah setelah perutmu bertambah besar." Tanya Brayen.
Zaa hanya bisa menghela nafas, beginikah jika orang kaya bertindak, semua bisa sesuai keinginan dengan cepat waktu karena ada uang dan kekuasaan. Sungguh mimpi apa Zaa bisa menikah dengan seorang Brayen Abraham.
"Baiklah terserah Mas saja." Akhirnya dirinya pasrah.
"Good girl." Brayen mengusap kepala Zaa dengan lembut.
.................................
Perjalanan dari hotel yang Brayen tempati cukup jauh menuju kediaman desa nenek Zaa, sehingga mereka memakan waktu hingga satu jam untuk sampai dirumah nenek Zaa.
"Mas mau ngapain?" Zaa bertanya karena melihat Brayen yang ingin turun dari mobil.
"Masuklah mau apa lagi?" Tanya Brayen heran.
"Untuk apa?" Zaa masih terus bertanya.
"Kau itu cerewet sekali, __Brayen menarik hidung Zaa, __Tentu saja untuk bilang sama mereka kalau lusa kita semua akan ke kota dan melangsungkan pernikahan." Jawab Brayen seraya tersenyum.
"Se-sekarang?" Tanya Zaa lagi.
"Terus kapan? apa kamu tidak mau aku menikahi mu?" Tanya Brayen penuh selidik.
"B-bukan, baiklah kalau begitu."
Mereka berdua segera masuk menuju rumah. Kedatangan mereka disambut sang ibu yang kebetulan duduk diruang tamu bersama Rian.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, sudah pulang nak?" Tanya ibu.
Brayen dan Zaa menyalami Bu Ratna, sedangkan Rian hanya menatap malas kepada Brayen.
Ibu dan Rian habis membicarakan tentang hubungan Brayen dan Zaa, ibu menasehati dan memberi pengertian kepada Rian. Agar dirinya bisa menerima kehadiran Brayen ditengah-tengah keluarga mereka.
Awalnya memang Rian keberatan, tapi setelah berpikir ada bayi yang harus dipertanggung jawabkan membuat Rian bisa menerima. Mungkin jika kakaknya tidak hamil Rian akan menjauhkan Brayen dari kakaknya.
"Ibu ada yang ingin saya sampaikan." Ucap Brayen tenang setelah mereka duduk.
"Ada apa nak Ray?" Tanya ibu penasaran.
"Saya akan menikahi Zaa Minggu depan, dan lusa kita semua akan segera kembali ke kota."
Bu Ratna hanya tersenyum dan matanya nampak berkaca-kaca. Mungkin ini sudah jalan Tuhan untuk anak gadisnya yang sudah menderita dan sekarang waktunya dirinya melepaskan putrinya untuk mendapatkan kebahagiaan.
"Ibu senang mendengarnya nak. Tapi apakah bisa menikah secepat itu, bagaimana dengan surat-suratnya?" Tanya ibu bingung.
"Ibu tenang saja, Sekertaris saya sudah mengurus semua jadi kalian hanya perlu menyiapkan diri kalian untuk pernikahan kami. Saya harap ibu dan Rian juga nenek mau merestui pernikahan kami." Ucapan tulus Brayen mampu membuat Zaa terharu, dan bahkan matanya sudah nampak mengeluarkan cairan bening.
"Tidak ada alsan jika ibu tidak memberi kalian restu, ibu akan merestui kalian." Ucap ibu sambil tersenyum tulus.
"Ehem, __Rian berdehem untuk mengurangi rasa canggungnya, bagaimanapun dirinya pernah membuat seorang Brayen Abraham babak belur. __tapi ingat, jika anda menyakiti dan membuat kakak saya kecewa dan menangis, jangan salahkan saya jika membawa kakak dan ponakan saya pergi sejauh mungkin dari anda." Rian berkata tegas menyorot mata Brayen tajam.
Brayen yang mengerti maksud Rian hanya ingin melindungi kakaknya dirinya tidak mau jika hidup kakaknya mengalami penderitaan. Karena Rian adalah sodara laki-laki yang Zaa miliki. Jika Brayen yang diposisi Rian pasti dirinya juga akan melakukan hal yang sama untuk melindungi Sherin.
"Saya janji akan menjaga dan membahagiakan Zaa dengan semampu saya, karena saya sangat mencintai kakakmu." Ucap Brayen tegas dan mantap.
Dirinya sudah berjanji akan selalu menjaga Zaa dengan sekuat tenaganya, bahkan akan mengorbankan nyawanya jika memang nyawanya diinginkan. Rasa cinta yang besar membuat Brayen ingin menjaga dan melindungi.
"Baiklah, kalau begitu saya percayakan kakak dengan anda." Ucap Rian sambil menatap kakaknya yang sudah menangis.
"Rian." Zaa segera memeluk Rian yang duduk disebelahnya, karena Ibu, Zaa dan Rian duduk disatu sofa panjang. Sedangkan Brayen duduk didepan mereka bertiga.
"Kakak janji akan bahagia, jika kakak bersedih maka Rian selalu ada untuk kakak." Rian berucap sambil mengelus punggung Zaa.
"Terima kasih, kamu memang adik kakak yang baik." Ucap Zaa sambil terisak.
Bu Ratna hanya bisa mengusap air matanya sendiri, melihat kedua anaknya yang saling menyayangi membuat dirinya nampak bahagia.
Brayen yang melihat kedua saudara itu saling berpelukan membuat dirinya terharu, tiba-tiba dirinya mengingat Sherin yang dirinya sayangi dan juga kasihi.
"Nak, apakah nenek juga akan diajak ke kota?" Pasalnya ibu khawatir dengan kondisi nenek yang sudah tua, karena beliau tidak bisa jika harus duduk lama apalagi berada didalam kereta. Begitulah pikiran Bu Ratna yang tidak tahu jika calon menantunya adalah seorang sultan.
"Ibu tenang saja nenek juga akan ikut." Ucap Brayen.
"Tapi nak..Nenek tidak bisa jika harus berlama-lama duduk didalam kereta yang sempit dan banyak penumpang lain." Ucap ibu mengutarakan pikiran nya.
"Ibu benar Bang." Rian menimpali.
Panggilan Rian membuat Brayen tertegun, dirinya merasa sudah diterima dengan ikhlas oleh Rian.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?, __Rian mengernyit heran ditatap Brayen dan Zaa dengan intens__Benarkan kata Ibu, jika nenek tidak bisa terlalu lama duduk. Ada yang salah." Rian masih bingung.
"Tidak, tidak ada yang salah." Jawab Brayen dengan mengulas senyum. Sungguh dirinya merasa bahagia bisa diterima dikeluarga Zaa dengan hangat. Meskipun sempat ada drama aksi pukul.
"Jadi nenek tidak bisa ikut jika kita naik kereta." Ucap Rian lagi. Rian hampir lupa jika Brayen adalah pria terkaya di kotanya.
Brayen yang mendengar hanya tersenyum, jadi mereka tidak tahu jika yang akan menjadi calon menantu adalah seorang Brayen Abraham, seorang pembisnis sukses usaha dan namanya sudah terkenal di manca negara.
__ADS_1
"Kalian tidak usah khawatir, kita akan pulang dengan naik pesawat." Ucap Brayen.
"Pesawat." Rian dibuat melongo, dirinya tidak pernah naik pesawat bahkan tahu pesawat hanya didalam tv, belum pernah melihatnya langsung apalagi menaikinya.
"Baiklah sultan mah bebas." Ucap Rian selanjutnya.
Mereka bertiga hanya terkekeh mendengar ucapan Rian.
Setelah mengutarakan rencana dan tujuan Brayen, kini dirinya sudah berada dihalaman rumah untuk pulang.
"Sayang ikut denganku ke hotel ya?" Brayen menatap Zaa memohon seperti anak kecil merayu ibunya.
"Hem, besok kalau kita sudah menikah, Mas boleh membawaku kemanapun." Ucap Zaa.
"Sayang, aku masih merindukan mu." Brayen mengusap pipi nya dengan jarinya. Seolah dirinya tidak rela jika berpisah dari pujaan hati.
"Besok Mas bisa kesini lagi." Zaa mencoba membujuk agar Brayen segera pulang.
"Huh, baiklah besok aku kesini lagi. Jaga dirimu dan baby baik-baik." Brayen mengecup kening Zaa, dan menunduk mencium perut Zaa yang terhalang oleh baju.
"Hemm, Mas hati-hati ya." Zaa tersenyum mengelus rambut Brayen yang masih mencium perutnya.
"Iya sayang."
Sebenarnya terasa berat dirinya untuk meninggalkan Zaa, tapi mau bagaimana lagi dirinya belum sah menjadi suaminya.
"Masuk sayang sudah malam." Brayen berucap dengan membuka kaca jendela mobilnya.
"Ya, hati-hati."
Setelah melihat Zaa masuk, Brayen segera mengendarai mobilnya menuju hotel.
...............................
Dikediaman Abraham Sam datang menemui tuan Rudi Abraham karena beliau yang meminta.
Sam sudah berdiri didepan pak Rudi yang sedang duduk diruang kerjanya. Beliau menatap Sam yang hanya menundukkan kepala.
"Jadi dimana anak nakal itu sekarang berada?" Tanya pak Rudi.
Sebenernya ekspresi pak Rudi biasa saja hanya saja Sam yang terlalu takut jika harus menghadap pak Rudi sendiri. Apalagi bos nya sudah mewanti-wanti untuk tidak memberi tahu keluarga nya dulu. Karena Brayen sendirilah yang akan mengatakan nya langsung. Dan sekarang Sam bagaikan buah simalakama, mundur Tuan besar Rudi akan mengulitinya, maju maka bosnya sendiri yang akan membunuh nya, serba salah saja menjadi seorang Sam.
"Tuan muda sedang mencari nona Zaa tuan." Jawab Sam setenang mungkin, padahal jantung nya sudah ingin melompat.
"Kau tau jika mulutmu tidak berkata jujur dan malah membela anak nakal itu!" Suara pak Rudi tegas dan mengintimidasi. Membuat Sam tambah gemetar saja.
"Tuan muda sendiri yang akan mengatakan nya langsung kepada anda sendiri tuan." Rupanya Sam masih bisa menjawab dengan tenang.
"Lalu apa rencana nya?" Ucapan penuh penekanan untuk mendapatkan jawaban dari Sam.
"T-tuan."
"Katakan apa rencana nya." Tegas pak Rudi.
Membuat Sam tambah gundah gulana dengan keringat bercucuran dan tampang memelas agar segera dilepaskan.
"T-tuan muda akan menikahi nona Zaa Minggu depan,__jawab Sam dengan cepat, __Dan saya sedang mengurus surat untuk pernikahan tuan dan nona." huh rasanya Sam ingin sembunyi saja dilubang semut jika ditatap tajam dan horor seperti ini. 'Semoga tuan tidak membunuhku, maafkan aku tuan.' Sam berdoa dalam hati agar Brayen bisa memaafkannya.
"Baiklah kau boleh pergi."
"Permisi tuan." Setelah memberi hormat Sam keluar dengan napas lega.
.......................
"Kenapa aku tidak bisa tidur."
Jam menunjukan sudah tengah malam, tapi Brayen tidak bisa memejamkan matanya.
Dirinya hanya bolak-balik diatas ranjang, entah apa yang sedang dirinya pikirkan hingga membuatnya tak kunjung tidur.
Brayen mengambil ponsel nya diatas nakas bermaksud ingin menghubungi Zaa.
"Apa dia belum tidur, __Brayen mengusap wajahnya dengan kasar, __Tapi kalau begini aku yang tidak bisa tidur." Dengan keyakinan Brayen menekan tombol panggilan Vidio kepada Zaa.
Sekali berdering tidak kunjung diangkat, kedua kali sama saja.
"Sayang ayo dong angkat." Dirinya kembali menghubungi Zaa, hingga panggilan kelima baru diangkat.
"Halo Mas."
Suara Zaa terdengar serak, menandakan gadis itu sudah tidur.
"Sayang, apa kamu sudah tidur." Brayen menatap wajah Zaa yang setengah sadar dengan mata yang masih enggan untuk terbuka.
"Hem, ada apa mas?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat wajah mu, karena aku susah sekali memejamkan mata sayang." Ucap Brayen masih setia memandangi wajah cantik itu.
Zaa yang memang sangat mengantuk hanya menaruh ponselnya bersandar disamping bantal tempat nya tidur. Jadi Brayen hanya bisa menatap wajah gadis itu.
"Udah malam mas, sebaiknya mas tidur."
Zaa membuka matanya ketika mendengar Brayen tidak bisa tidur.
"Hem, aku merindukanmu sayang."
"Besok Mas bisa kesini menemuiku."
"Besok masih lama sayang." Ucap Brayen memasang wajah memelas.
Zaa tersenyum melihat wajah memelas Brayen.
"Kenapa kamu seperti anak kecil mas?"
"Entahlah sayang mungkin bawaan anak kita." Dirinya juga tidak mengerti, kenapa jika bersama Zaa dirinya menjadi manja. Seharusnya Zaa lah yang manja kepadanya. __Tidurlah sayang sudah malam, maaf sudah membuatmu bangun."
"Baiklah, mas juga istirahat."
"Ya, Love you." Ucap Brayen.
"Love you to mas."
Brayen senang bukan kepalang mendengar Zaa membalas kata cintanya. Setelah mematikan sambungan telfon dirinya segera tidur terlelap.
.................
Pagi hari menyapa keluarga Abraham sedang duduk dimeja makan untuk sarapan pagi.
"Pah, Ray kemana tidak pernah pulang." Tanya Mama Indri.
__ADS_1
"Iya, Abang udah lama gak ngajak aku berantem." Tambah Sherin.
"Anak nakal Mama akan segera menikah, bahkan tidak memberi tahu kita semua." Ucap papa Rudi.
"Menikah dengan siapa? apa maksud papa." Tanya Mama Indri bingung.
"Siapa lagi kalo bukan ibu dari calon cucu kita, Bahkan Sam sudah mengurus semua keperluan pernikahan mereka, tanpa melibatkan kita."
Sebenar nya pak Rudi juga bahagia jika putranya bisa menikahi gadis yang dicintainya, tapi kenapa anak nakalnya itu tidak memberitahunya untuk melamar gadis pujaan hati putranya itu.
"Maksud papa Zaa, Ray akan menikah dengan Zaa anak Bu Ratna." Mama Indri tersenyum lebar dan bahagia jika memang dirinya mendapatkan menantu seperti Zaa.
"Siapa lagi, jika anak Mama itu menikahi wanita lain, maka papa akan memangkas habis tongkat ajaibnya."
"Jadi Abang akan menikahi kakak cantik." Ucap Sherin agak sendu. Dirinya juga tidak tahu kenapa hatinya merasa beda.
"Ya, dan kamu sebentar lagi akan mempunyai keponakan." Ucap papa Rudi.
"Ponakan?" Alis Sherin mengkerut tanda tidak mengerti.
"Ya, Abang mu sudah menghamili anak orang, dan sekarang wanita itu sedang hamil." Jelas Mama Indri.
Sherin membulatkan kedua matanya, tidak percaya jika Abang yang dia sayangi bisa menghamili anak gadis orang.
"Mama serius!" Sherin tidak sadar berteriak.
"Pelankan suaramu Sher, kita sedang makan." Papa Rudi memperingati.
"Sher hanya terkejut dan tidak percaya Pah, Abang bisa melakukan itu."
"Makanya sekarang Abang mu sedang mengejar cintanya, karena Zaa pergi meninggalkan Abang mu sudah tiga bulan lebih." Tutur Mama Indri memberi tahu Sherin.
Sherin berpikir, ingatan nya kembali dimana selama hampir tiga bulan juga Rian mengacuhkan nya bahkan menghindar dari dirinya. Sherin merasa heran karena sikap Rian berubah, yang awalnya suka mencari gara-gara dengan nya dan menjahilinya perlahan mulai menjauhinya bahkan terkesan enggan berdekatan lagi dengan nya.
"Sherin berangkat dulu mah,Pah."
Dirinya segera berangkat kesekolah karena hari ini adalah ujian kenaikan kelas.
Disepanjang jalan menuju sekolah Sherin hanya duduk diam dan melamun. Pikirannya berkelana mengingat Rian.
"Kenapa perasaanku tidak senang jika Abang akan menikah dengan kak Zaa, padahal dulu aku sangat berharap itu terjadi. Ada apa dengan perasaanku ini."
Sherin hanya bisa berperang dengan pikiran dan perasaan nya, dirinya juga tidak mengerti ada apa dengan hatinya yang merasakan sesuatu yang tidak bisa ia mengerti setelah mendengar kabar Abang nya akan menikahi kakak dari sahabatnya itu.
Apa mungkin dirinya menyukai Rian, tapi itu tidak mungkin karena dirinya juga menganggap Rian seperti abangnya.
Tidak ingin memikirkan hal yang membuat hatinya tidak nyaman, Sherin harus fokus dengan sekolahnya.
.........................
Pagi di desa sang nenek Zaa sudah berjalan kaki keliling, jalanan tetangga yang pagi hari disibukkan rutinitas para petani.
Dipersimpangan jalan Zaa bertemu dengan Rizki yang juga sedang jalan pagi.
"Zaa kamu juga jalan pagi?" Tanya Rizki yang sudah berada didepan Zaa.
"Iki, iya katanya jalan dipagi hari bagus untuk ibu hamil." Jawab Zaa dengan tersenyum.
"Kalau begitu ayo aku temani, kebetulan hari ini aku tidak pergi ke kebun nenek." Rizki memberi tahu berharap Zaa mau menerima ajakan nya.
"Baiklah, aku juga bosan hanya jalan sendiri." Ucap Zaa dengan berjalan menyusuri jalanan kampung.
"Kemarin aku melihatmu pergi dengan seorang pria, apakah itu kekasihmu?"
Ketika Rizki ingin mendatangi nenek Zaa, dirinya melihat Zaa menaiki mobil mewah dan seorang pria membukakan pintu untuk Zaa.
"Ya, dia adalah ayah dari bayi yang aku kandung." Zaa tidak pernah menutupi keadaan nya kepada Rizki karena dirinya mengganggap Rizki sudah seperti keluarganya. Karena selama ini Rizki lah yang juga membantu nenek.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Rizki ragu-ragu.
"Tanyakanlah." Zaa berjalan pelan diikuti Rizki berjalan disampingnya.
"Apakah kamu akan menikah dengan nya?"
Mendengar ucapan Rizki membuat Zaa tersenyum. "Doakan ya Ki, insyaallah Minggu depan aku akan menikah dengan Mas Ray." Jawaban Zaa membuat Rizki diam mematung.
Apakah sudah tidak ada lagi kesempatan dirinya untuk mendapatkan Zaa, bahkan dirinya juga akan menerima anak yang Zaa kandung jika Zaa menerimanya.
"Ki, kamu baik-baik saja." Zaa sedikit heran melihat Rizki yang hanya diam setelah mendengar ucapan nya.
"Hm, tidak apa-apa." Rizki mengajak Zaa untuk berjalan lagi.
"Zaa ada yang ingin aku sampaikan kepada mu?"
"Katakan Iki, kenapa kamu jadi aneh seperti ini." Zaa tertawa melihat wajah Rizki yang serius.
"Aku tidak tahu kapan rasa suka dan sayang itu muncul, tapi aku menyadarinya jika aku telah jatuh cinta kepadamu. Mungkin ini memang tidak akan mengubah sesuatu yang sudah kamu tetapkan. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini aku rasakan. Agar tidak membuatku menyesal tidak pernah menyampaikan nya kepadamu." Ucap Rizki sambil meraih kedua tangan Zaa.
"Iki aku.." Zaa tercekat bingung ingin bicara apa, karena selama ini dirinya sudah menganggap Rizki saudara tidak lebih. Tapi hati siapa yang bisa memilih jika Rizki bisa jatuh cinta kepadanya.
"Kamu tidak perlu menjawab, dan aku juga tidak mengharap jawaban darimu. Cukup hanya kamu tahu perasaanku sebenarnya itu sudah membuatku lega." Rizki mengulas senyum, senyum yang terlihat kesedihan Dimata Zaa.
"Maaf Iki, aku sudah menggapmu saudara. Terimakasih sudah mau menyukai wanita yang sudah tidak pantas untukmu. Kamu bisa mendapatkan wanita yang baik dan pantas untuk bersanding dengan dirimu." Zaa berucap dengan tulus.
"Itu pasti, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Jika dia menyakitimu maka kamu harus bilang kepadaku. Aku akan memberi pelajaran untuk dirinya."
"Tenang saja, jika dia melakukan itu maka aku akan pergi jauh sejauh-jauhnya, agar dia tidak bisa menemukanku lagi."
Mereka berdua terkekeh bersama mendengar ucapan Zaa.
"Bolehkah aku memelukmu untuk yang pertama dan terakhir kali. Maka jika kamu sudah menikah suamimu akan menghajarku jika aku melakukan itu."
"Baiklah, karena kau sudah baik dan mau merawat nenek, maka aku juga tidak bisa menolak." ucapan dengan tersenyum memberi ijin kepada Rizki.
Mereka berdua berpelukan, bukan pelukan sebagai sepasang kekasih lebih tepatnya pelukan sebagai rasa terima kasih telah sama-sama menerima keadaan masing-masing.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap mereka tajam dengan rahang mengeras dan tangan terkepal erat.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1