
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaganya karena Brayen terus saja mual dan muntah didalam pesawat bahkan membuat dirinya lemas tak bertenaga.
Sekarang Brayen dan sekertaris Sam sudah tiba di bandara kota S. Sebuah mobil dan sopir sudah menunggu kedatangan mereka berdua di depan pintu keluar bandara.
"Sebaiknya tuan istirahat dulu di Hotel, nanti baru kita ketempat tujuan nona Zaa tinggal." ucap Sam yang melihat keadaan Brayen lemas dan terus memejamkan mata. Sam tidak tega melihat bosnya seperti itu, tapi mau bagaimana lagi sakitnya dikarenakan oleh wanita yang telah dihamilinya dan bosnya yang merasakan yang namanya Morning sickness. Gejala yang seharusnya diderita ibu hamil kini malah bos nya yang mengalaminya.
"Apa tempat nya masih jauh Sam?" Mobil berjalan menuju hotel yang sudah Sam pesan. karena memang dari bandara menuju kediaman Zaa tinggal butuh waktu sekitar hampir 2jam.
"Lumayan tuan kurang lebih hampir 2jam." jawab Sam dengan memperhatikan bosnya lewat kaca kecil didepan.
"Baiklah kita ke Hotel dulu." ucap Brayen yang masih setia menyerder kan kepala dan memejamkan mata.
"Baik tuan."
Mobil yang membawa Brayen dan sekertaris Sam menuju Hotel yang sudah Sam pesan dengan kamar VVIP. Kamar yang paling mewah di hotel itu, karena memang dari kota menuju desa yang Zaa tinggali cukup jauh.
....................
"Ibu, nenek ayo kita pulang Rian sudah capek sungguh." Rian segera mengambil teko yang berisi air minum, dirinya nampak lelah dan capek karena baru pertama membantu panen dikebun sang nenek.
"Baru gitu aja kamu udah capek Ian?" Cibir sang kakak menggoda adiknya, karena memang pagi ini matahari cukup terik. Jadi wajar jika Rian sudah kaya cacing kepanasan.
"Ck. kakak gak ngerasain, kulit aku rasanya terbakar kak.. nanti aku item gak ada lagi cewek- cewek yang ngejar-ngejar Rian paling tampan ini." ucap Rian seraya menaik turunkan alisnya dengan wajah cengengesan.
"Kamu itu narsis nya kebangetan Ian." Bukan Zaa yang menjawab melainkan sang ibu.
"ih ibu gak percaya kalo Rian ini banyak Fens nya cewek-cewek semua." Rian berucap dengan bangganya.
"Nenek percaya deh, karena Rian cucu nenek satu satunya yang paling tampan." ucapan nenek membuat Rian mendekat dan langsung memeluk neneknya mencium pipi nenek nya yang sudah sedikit keriput itu.
__ADS_1
"Nenek memang yang tebaik."
"Seneng dipuji-puji padahal playboy cap kelinci." Ucap Zaa yang suka sekali meledek Rian.
"Nek, sepertinya kak Zaa bukan kakak kandung Rian deh?" Ucapan Rian membuat tiga orang itu menatap Rian bingung.
"Kalau dia kakak kandung Rian, mana mungkin suka meledek dan membuli adik lelakinya yang tampan kek Jeon Jungkook ini." Ucapan Rian sukses membuat Zaa melongo, dan membuat kedua orang tua itu tertawa karena ucapan Rian.
"Narsis mu kebangetan Ian." Ucap Zaa sebal.
"hahaha...." Mereka bertiga tertawa melihat wajah Zaa yang cemberut dan ditekuk karena ulah jahil Rian.
Dari arah jalan setapak Rizki sepertinya sudah selesai dengan mengantarkan pesanan sayuran ke Supermarket yang Rumayan jauh dari desa, dan sebagian di suplay ke toko dan kios sayuran.
"Apa sudah mau pulang nek?" Tanya Rizki yang melihat sudah pada berkemas barang bawaan.
"Alhamdullilah sudah nek, kalau begitu Iki antar pulang.. hari ini cukup panas cuacanya."
"Yasudah ayo, Zaa, Rian, Ratna.. hari sudah mau siang." Ajak song nenek.
"Lesgoo... Ayo Kak." Rian merangkul pundak Rizki mengajaknya berjalan menuju mobil dipinggir jalan.
Bu Ratna menuntun nenek dengan pelan, sedangkan Zaa berjalan dibelakang ibu dan neneknya.
Sebenarnya dirinya merasa lemas dan sedikit pusing, tapi Zaa memaksakan untuk tetap berjalan.
Karena sudah tidak kuat dan kepalanya serasa berputar Zaa berhenti dengan memegang kepalanya melihat kedepan pandangan nya mengabur, Dan akhirnya dirinya sudah tidak kuat dan jatuh pingsan.
Bu Ratna yang kebetulan menengok kebelakang untuk melihat Zaa memastikan putrinya masih kuat berjalan dibawah teriknya matahari, seketika mata nya melotot melihat Zaa yang sudah jatuh di atas rumput hijau.
__ADS_1
"Ya Allah Zaa.!! " Teriakan sang ibu membuat Rian dan Rizki sontak menoleh ke belakang, alangkah terkejutnya kedua pemuda itu, dan segera berlari menghampiri Zaa yang pingsan.
"Kak, kakak..! bangun kak!" Rian mencoba menepuk pipi Zaa, tapi sang empu tidak bereaksi.
"Sebaiknya segera kita bawa ke Klinik terdekat." ucap Rizki yang langsung menggendong tubuh Zaa.
Bu Ratna dan nenek hanya bisa menangis dan cemas melihat Zaa yang tiba-tiba pingsan.
"Ya Allah selamatkanlah cucu dan cicit ku." doa sang nenek dengan berjalan dibelakang Rizki yang menggendong Zaa.
"Zaa dan bayinya akan baik-baik saja Bu, ibu berdoa saja semoga mereka tidak kenapa-kenapa." Ucap Bu Ratna memenangkan nenek, padahal dirinya sendiri merasa cemas dan khawatir bahkan juga menangis.
........
Jam menunjukan pukul 5sore Brayen sudah rapi dengan pakaian Cansual bahkan Sam sampai kembali dibuat geleng kepala, karena lagi-lagi harus menyaksikan drama yang Brayen lakukan.
'Itu jelek Sam, warna nya norak'
'Warnanya terlalu cerah, nanti mata Zaa akan sakit'
'Terlalu formal Sam, kita bukan akan meeting'
Dan masih banyak lagi ***** bengek yang Brayen ucapkan kepada Sam.
Sam sudah lelah namun dirinya tetap sabar menghadapi Bosnya yang semakin aneh saja.
"Begini amat nasib bawahan, selalu salah menghadapi harimau ngidam. apes."
BERSAMBUNG
__ADS_1