Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD56


__ADS_3

Sesudah Brayen berangkat kekantor Zaa segera membereskan meja makan, dan bersiap-siap untuk pergi ke dokter kandungan yang sudah membuat janji.


Masih ada waktu satu jam untuk suaminya datang menjemput, Zaa masuk kamar mandi dan mengisi bathtub dengar air hangat dan sedikit memberi cairan sabun aroma terapi.


Dirinya sengaja berendam untuk membuat tubuhnya lebih fresh karena belakangan ini tubuhnya sudah merasa cepat lelah dan capek, apalagi suaminya yang selalu meminta jatah.


30menit Zaa berendam, dirinya segera keluar dari kamar mandi, membuka lemari pakaian, mengambil dres berwarna putih bermotif bunga.


setelah memakai nya dirinya menuju meja rias, melihat ponselnya yang bergetar menandakan ada pesan masuk.


my husband 💖


'Sayang aku sudah keluar kantor, bersiaplah aku jemput.' Begitulah isi pesan Brayen.


"Iya Mas."


Zaa segera merias wajahnya dengan natural, hanya menambahkan lipstin agar bibirnya sedikit berwarna, meskipun memang warna bibirnya sudah merah alami seperti Cherry.


Dirinya keluar kamar dan menunggu Brayen diruang tamu.


Ting


tong


ting


tong


Terdengar suara bel pintu, Zaa pun segera membukanya.


"Mas.." Zaa yang kaget hanya bisa diam, ketika membuka pintu buket bunga lah yang menjadi pemandangan pertamanya.


"Buat istri tersayang." Wajah Brayen muncul dibalik buket bunga.


"Mas bunganya indah sekali." Zaa mencium kelopak bunga yang Brayen berikan dengan mata berbinar dan bahagia, bunga jenis Juliet Rose. bunga yang terkenal paling mahal di dunia.


"Lebih indah kamu dari pada bunganya sayang." Brayen merangkul pinggang Zaa agar lebih mendekat kearahnya.


"Aku baru lihat bunga mawar seperti ini mas?" Tanya nya yang memang belum pernah melihat jenis bunga seperti itu di toko bunga.


"Hm, tidak sembarang toko bunga yang menjual bunga seperti itu sayang."


"Masa sih? Sebentar aku taruh didalam dulu, nanti layu kalo tidak ditaruh di vas." Zaa segera masuk dan menaruh bunga Juliet Rose ke dalam vas bunga yang sudah ia beri air.


Brayen hanya tersenyum melihat istrinya sangat bahagia meskipun hanya diberi bunga.


(Yaelah Bang bunga nya bukan sembarang bunga yang dikasih) batin author.


"Sudah?" Tanya Brayen ketika Zaa sudah muncul kembali.


"Sudah, terima kasih bunganya Mas, aku suka." Zaa langsung memberi satu kecupan dipipi Brayen.


Brayen yang mendapat ciuman pipi merasa senang. "Kok cuma pipi sebelah yank, sebelahnya belum?" Dikasih satu malah minta dua hadeehh.


"Ntar telat Mas, ayo kita berangkat." Zaa merasa malu, pipinya merona karena sudah mencium suaminya duluan. Biasanya dirinya hanya menerima ciuman dari sang suami.


"Ck. yang lain pada ngiri yank, berat sebelah ini." Ucap Brayen dengan tampang melas, agar diberi ciuman lagi.

__ADS_1


Cup


Zaa mengecup bibir Brayen dengan cepat dan dirinya segera balik badan berjalan cepat menuju lift.


Brayen mematung, tidak disangka istrinya kini sudah berani menciumnya, mungkin harus di kasih hadiah dulu agar istrinya dengan suka rela memberi dirinya ciuman. "Sayang jangan lari! tunggu aku!" Brayen segera sadar dan menyusul istrinya yang sudah menjauh.


Didalam ruangan dokter kandungan, Zaa sedang berbaring dengan dokter yang menggerakkan alat USG ke permukaan kulit perut Zaa.


Brayen berdiri disamping ranjang dengan tangan memegang tangan istrinya dan matanya fokus melihat layar komputer yang memperlihatkan mahluk mungil.


"Detak jantung nya sehat, dan berat badan bayi nya juga stabil, semua sudah terbentuk lengkap ya pak." Jelas seorang dokter wanita yang menangani Zaa.


Zaa tersenyum haru menatap layar komputer yang menampilkan calon anak mereka berdua.


"Sayang lihat junior sangat lucu." Mata Brayen berbinar melihat pemandangan yang menakjubkan.


"Anda ingin mengetahui jenis kelamin nya?" Tanya dokter.


"Apa sudah bisa terlihat dok?" Tanya Zaa.


"Sekarang sudah Bu," Dokter pun mengarahkan alatnya agak kebawah dan sedikit menekan.


"Lihat ada Monas nya." Ucap dokter dengan tersenyum lebar.


"Monas?" Brayen yang belum mengerti hanya membeo.


Zaa hanya tersenyum geli melihat reaksi suaminya yang tidak mengerti apa kata Monas.


"Maksud saya, Monas adalah Calon anak bapak laki-laki." Jelas sang dokter yang tersenyum ketika melihat senyum lebar diwajah Brayen.


"Benar dokter! Anda tidak salah kan." Tanya Brayen dengan mata berbinar dan raut wajah sangat senang.


"Sayang kamu dengar junior kita laki-laki, terima kasih sayang." Brayen menghujani wajah Zaa dengan banyak ciuman meskipun ada dokter dan suster yang sedang membersihkan sisa gel diperut Zaa tidak Brayen hiraukan.


"Sama-sama Mas." Zaa hanya bisa mengucap syukur dan tersenyum bahagia ketika melihat suaminya yang sangat bahagia.


"Sekali lagi selamat pak, atas akan hadirnya penerus keluarga Abraham." Ucap dokter wanita itu memberi selamat.


"Terimakasih dok."


"Jangan lupa selalu minum vitaminya ya Bu." Dokter memberikan resep.


Setelah selesai Brayen dan Zaa keluar dari ruang dokter dan menebus resep obat untuk Zaa.


"Sayang besok setelah Rian berangkat, Ibu dan nenek ajak tinggal bersama kita, biar kamu ada yang nemenin ketika aku ke kantor." Mereka kini sudah berada didalam mobil menuju kediaman Mama Indri, karena Zaa ingin datang kesana.


"Apa tidak apa-apa Mas?"


"Justru aku takut kalau kamu dirumah sendiri, nanti aku juga akan minta pelayan dirumah mamah, agar membantu kamu dirumah." Jelas Brayen.


"Tapi Apartemen kita kecil Mas? Mana cukup untuk menampung mereka semua?" Tanya Zaa bingung jika semua diboyong ke apartemen mereka.


"Kamu tenang saja sayang, aku udah menyiapkan tempat tinggal untuk kalian berdua." Brayen mengelus perut buncit Zaa.


"Terserah Mas."


Zaa belum mengerti apa yang dimaksud Brayen jadi dirinya hanya menurut saja.

__ADS_1


................................


Hari ini sekolah Rian mengadakan perpisahan semua murid hadir untuk menghadiri acara prom night yang diadakan oleh pihak sekolah.


Rian datang bersama kedua teman nya Edo dan Aji.


"Ian loe jadi ambil sekolah keluar negeri?" Tanya Edo dengan serius.


"Iya Ian loe gak kasian sama kita-kita yang bakal kangen loe?" Tambah Aji yang memang orangnya suka lebay.


"Gua pengen jadi anak yang bisa dibanggain dan berhasil sukses kelak, ya meskipun di bantu Abang ipar gua, tapi gua akan buktiin kalau gua bisa berhasil." Jawab Rian dengan serius.


Mereka kini duduk disebuah kursi yang tersedia.


"Enak jadi loe Ian, punya Abang ipar baik dan seorang sultan." Puji Edo.


"Betul kata loe Do, nanti kalo loe udah sukses loe jangan lupa sama kita Ian, gue sih berharap loe cari kita buat bisa kerja sama loe." Ucap Aji yang tiba-tiba Ucapan nya bener.


"Gua gak akan lupa sama kalian, gua juga bakalan kangen sama kalian, doa'in gua semoga berhasil dan tidak mengecewakan kalian semua." Ucap Rian dengan wajah sendu, mengingat dirinya akan segera meninggalkan tanah air.


"Kita bakalan doa-in loe Ian, semoga berhasil dan sukses."


"Amin.." Mereka semua mengamini.


"Abang..!"


Tiba-tiba suara seorang gadis memanggil dari arah belakang Rian.


Rian menoleh kebelakang dan mendapati Sherin yang datang dengan menggunakan dres berwarna putih tulang, yang nampak anggun dan cantik ia kenakan, Rian sampai tidak berkedip melihatnya.


"Abang, boleh Sher bicara sebentar?" Sherin mencoba berani bertanya meskipun dirinya dibuat gugup karena ditatap Rian dengan intens.


"Ehm, Boleh." Rian segera berdehem menutupi rasa kagumnya.


"Wuiihh ada yang bakalan LDR-an nih." Goda Edo dengan tawa meledek.


"Ck, Ba*cot loe." Rian segera pergi mencari tempat yang nyaman untuk bicara berdua dengan Sherin.


Bunga Juliet Rose



Juliet Rose bunga yang disebut termahal di dunia, bunga Juliet Rose Satu tangkainya di bandrol dengan harga 3juta Poundsterling atau seharga RP 57milyar.


.


.


.


.


.


Like


komen

__ADS_1


tinggalkan jejak kalian


terimakasih atas dukungan nya🥰


__ADS_2