
Setelah keluar dari mobil brayen, Zaa langsung menuju kamar nya, untung keadaan rumah sepi mungkin ibu dan Rian ada keperluan diluar.
Zaa terduduk lemas dibelakang pintu kamarnya. air matanya masih belum bisa ia kendalikan, sesak dan sakit hati yang ia rasakan.
Mengingat perlakuan Brayen barusan, pikiran Zaa berkelana, apakah Brayen hanya menginginkan dirinya untuk melampiaskan napsu. bahkan saat berpacaran dengan Andre tidak pernah menyentuh Zaa selain hanya tangan,dan ciuman dikening.
Isak tangisnya masih sesenggukan,ia berdiri dan menuju kamar mandi. mungkin dengan mengguyur kepalanya dengan air bisa mengurangi rasa yang kian membuat kepalanya ingin pecah.
"Tuhan kenapa rasanya sesakit ini,, hiks..hiks."
.............
Setelah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan bahkan tidak menghiraukan jalanan yang ramai dan para umpatan pengguna jalan lainya. Brayen Tiba disebuah Club ternama di kotanya. Club yang hanya para member saja yang bisa masuk kesitu, karna memang Club itu mengutamakan Privasi pelanggan. Pemilik Club bersahabat dengan brayen. Willy,Juan,Ramon,Sammy. adalah sahabat Brayen dari semasa kuliah di luar negri. bahkan Monika juga termasuk member di Club elite itu. karna mereka berlima adalah sahabat dimasa kuliah. Sammy yang memang Notabenya dari keluarga kurang mampu dibanding keempat sahabat nya,tapi dia memiliki otak cerdas. sehingga mendapatkan biaya siswa hingga ke Perguruan tinggi elite di New York.
Dan sekarang ia menjadi asisten dan sekertaris pribadi Brayen, karna Brayen yang meminta Sammy. Brayen yakin dengan kemapuan Sammy untuk membantunya menjalankan perusahaan yang ia kelola.
"Hay man? tumben loe datang kemari?" Brayen menjabat tangan Willy ala laki-laki. Willy yang melihat Brayen datang lagi, setelah hampir dua bulan ia tidak pernah mendatangi tempat itu. kini pria itu datang dengan penampilan kusut dan mata memerah.
"Ck! apa gua harus tutup ne Club loe, biar loe kagak cerewet!" ketus Ray
"Vodka."
Sang barista memberikan segelas Vodka kepada Brayen.
"Bukan begitu Man? apa loe ada masalah.
?" tanya Willy.
Brayen memberi isyarat tangan nya agar barista laki-laki itu memberinya minum lagi.
"Apa gua harus ada masalah dulu, baru boleh datang kemari." sambil memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Melihat penampilan loe, kek nya loe gak baik-baik saja Ray." Willy menggelengkan kepala melihat penampilan Ray yang terkesan berantakan karna biasanya meskipun Brayen lelah bekerja penampilannya masih tetap rapi.
"Bawel loe.!"
Entah sudah berapa banyak Brayen meneguk minuman beralkohol itu, hingga kesadarannya mulai mengabur.
"Sudah Ray mungkin kau perlu istirahat,kau sudah terlalu mabuk." Willy mencoba mencegah Brayen yang masih ingin meminum alkohol itu lagi.
"Sapa bilang gua mabuk..gua masih sadar." suara Brayen sudah terdengar parau dan sedikit merancau, dia hanya ingin melupakan kejadian yang dia dan Zaa lakukan tadi, dia sadar bahwa perbuatan nya tadi bisa menyakiti wanita yang ia cintai, karna tidak bisa mengendalikan emosinya hanya kecewa dan kemarahan yang mengambil alih logikanya tanpa memikirkan perasaan gadisnya.
"Sayang maafkan aku." Ray sudah merancau tidak jelas,hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya,bahkan kepalanya sudah tumbang diatas meja Bar.
"Ck! ternyata kau sedang patah hati Man."
"Hay Wil?" sapa seorang wanita cantik nan sexy menghampiri Willy dan brayen, tapi wanita itu belum menyadari jika pria yang wajahnya tertelungkup diatas meja adalah seorang Brayen.
"Hay Mon, tumben loe juga datang kemari?" Willy sempat heran karna tiba-tiba Monika datang ke Clubnya bersamaan dengan Brayen, karna memang mereka berdua sudah lama tidak mendatangi Clubnya itu.
"Loe berdua sehati keknya,sama-sama ada masalah." Willy menambahi.
Monika melirik Willy, dan ternyata disebelah Willy ada seorang pria yang sepertinya sudah mabuk berat.
"Siapa?" Monika bertanya.
"Loe gak kenal dia?" kerena Willy tau Brayen cukup lama berpacaran dengan Monika." dia Ray.."
Monika membulatkan matanya, langsung berdiri dari kursinya menghampiri Brayen
"Ray hey Ray." Mencoba menyadarkan Brayen dengan menepuk nepuk punggung Ray.
"Sejak kapan dia disini?" tanya Monika.
__ADS_1
"Sudah satu jam yang lalu."
'Tanpa harus membuang waktu,Ray sudah datang sendiri kepadaku. baguslah mungkin karna ulahku tadi siang mereka bertengkar..'
Monika bersorak dalam hati, karna bisa memanfaatkan keadaan Brayen yang sedang mabuk.
'Tidak akan ada yang bisa memilikimu selain aku Ray..'
" yasudah biar gua yang membawanya pulang Wil."
"loe yakin?" Willy setengah tidak yakin.
"loe tenang aja,gua tau pasword apartemen Ray." Monika mencoba menyakinkan Willy.
"Baiklah..gua bantu sampai kemobil."
Willy memapah Brayen sampai kemobil dan mendudukan Brayen dikursi penumpang.
"Sayang maaf kan aku." gumaman dan rancauan Brayen hanya kata-kata itu yang sedari tadi kelauar dari mulutnya.
Monika duduk dikursi kemudi, melirik kearah Ray yang sudah tidak sadarkan diri. 'kau harus menjadi miliku malam ini Ray,,' batin Monika.
.
.
.
Like
komen
__ADS_1
tinggalkan jejak kalian🤗🤗