Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD33


__ADS_3

Terdengar suara ketukan pintu dari luar Brayen segera membukanya.


"Tuan, dokter Rita sudah datang." ternyata si bibi yang mengetuk pintu.


"Aku kira kau yang sakit Ray?" dokter yang bernama Rita bertanya.


"Bukan, dia kekasihku." Brayen menyuruh dokter itu masuk dan mempersilahkan dokter Rita untuk memeriksa keadaan Zaa.


Sedangkan dokter Rita menatap Brayen dengan seksama,wajah pria itu kelihatan sangat khawatir dan matanya memerah menahan tangis.


"Baik akan ku periksa." dokter Rika duduk ditepi ranjang, memeriksa denyut nadi Zaa, mengarahkan alat Stetoskop nya ke bagian dada Zaa.


"Bagai mana keadaan nya." Brayen bertanya dengan menggenggam tangan Zaa dari sebelah kanan, karna dokter Rita duduk disamping kiri.


"Dia kelelahan dan dia punya riwayat pernyakit asam lambung, apa dia telat makan!" tanya dokter Rita sambil menuliskan resep obat untuk Zaa.


"ini resep obat dan vitamin untuk diminum kekasihmu, berikan setelah ia sadar dan pastikan sudah makan." dokter Rita memberikan kertas resep kepada Brayen.


"Tapi dia tidak apa-apakan?, dia akan segera sadarkan?" Brayen bertanya tapi mata nya tidak pernah lepas dari wajah pucat Zaa.


"Tidak apa-apa demam nya akan segera turun, setelah aku kasih suntikan tadi." dokter Rita berkemas karna tugasnya sudah selesai.


"Terimakasih." Brayen beranjak dan mengantar dokter Rita sampai pintu kamar.


"Tidak ku sangka sekarang kau menemukan cinta mu kembali." ujar dokter Rita yang menjadi dokter keluarga Abraham. dokter Rita yang usianya sudah 35th sudah menjadi dokter keluarga Abraham sejak lama, jadi ia juga tau seperti apa Brayen.


"Hem, dia segalanya bagiku setelah keluargaku."


"Baiklah jangan lupa diminumkan obat nya, aku permisi."


"Baiklah, sekali terimakasih dok?"


"Sama-sama." dokter Rita berjalan keluar diantar oleh bibi.


Setelahnya Brayen menyuruh pak Parjo yang menjadi satpam di Vila itu untuk menebus obat ke Apotik.

__ADS_1


Brayen menyuruh bibi membuatkan bubur untuk Zaa ketika gadis itu sadar nanti.


Brayen menatap wajah Zaa yang masih terbaring lemah, wajah nya yang pucat kini sudah terlihat kembali normal. dada nya terasa sesak ini kesalahan nya, Brayen sadar dengan apa yang dia perbuat akan melukai gadis nya, tapi dengan cara begini Zaa tidak akan menghindar dan menolaknya lagi.


"Sayang maafkan aku, aku buat kamu jadi seperti ini tolong jangan hukum dirimu sendiri seperti ini. bangun sayang ayo bangun." Brayen berkata lirih dengan nada penuh penyesalan. dia tidak menyangka bahwa Zaa akan melakukan hal seperti ini dan membuat dirinya bertambah sakit.


.............


Dilain tempat Bu Ratna yang sedang cemas karena sudah 2 hari Zaa tidak pulang, bahkan Dian datang kerumah untuk menemui Zaa padahal Zaa berpamitan ingin menginap dirumah teman nya.


Pikiran Bu Mirna berkelana kemana-mana bahkan perasaan nya sejak semalam sudah tidak enak.


"Bu ibu tenang ya, jangan terlalu dipikirin Zaa pasti baik-baik saja Bu." Dian mencoba menangkan Bu Mirna yang sedari tadi hanya menangis, memikirkan dimana zaa sekarang berada, Dian yang melihat Bu Mirna juga ikut menangis karena sahabat nya sudah hampir 2 malam tidak pulang.


Rian masih saja terus menghubungi nomor kakak perempuan nya, tapi tidak juga tersambung.


"Bu apa kita lapor polisi saja, kakak sudah hampir 2 hari tidak pulang." Rian sudah tidak bisa hanya menunggu, mencari kakaknya juga tidak mungkin ia akan mencari kemana.


Suara ketukan pintu dari luar membuat ketiga orang didalam beradu pandang.


Rian dengan tergesa membuka pintu melihat siapa dan ternyata seorang pria.


"Maaf anda mencari siapa?" tanya Rian karena ia memang tidak mengenal pria itu.


"Saya Doni atasan ditempat Zaa bekerja." Doni sengaja mendatangi rumah Zaa, karna ia ada perlu.


Dari arah dalam Bu Mirna dan Dian keluar ingin melihat siapa yang datang.


"Kak Doni, sedang apa disini?" Dian yang memang mengenal Doni karena mereka saudara sepupu.


"Lho, kamu juga disini Di?" Doni malah bertanya.


Bu Ratna menyuruh Doni masuk setelah dia menjelaskan kalo dia adalah pemilik Cafe tempat Zaa bekerja.


"Jadi kakak yang terakhir mengantar Zaa pulang?" Dian menjelaskan kalo sudah hampir 2 hari Zaa tidak pulang, dan hanya mengirim pesan kalo Zaa menginap dirumah teman nya.

__ADS_1


Sedang kan yang Bu Ratna dan Dian sama-sama tahu kalau hanya Dian lah sahabat dekat Zaa.


"Iya, kakak yang antar Zaa pulang. tapi kakak tidak menunggu Zaa sampai masuk rumah." jelas Doni, ada gurat kekhawatiran di wajah Doni, ketika ia tahu kalau Zaa menghilang.


"Terus Zaa pergi kemana kak, gak mungkin kan kalo dia diculik." Dian kembali terisak, Bu Ratna merangkul tubuh Dian, padahal baliau juga sama menangis.


"Apa mungkin Brayen yang membawa Zaa pergi!" Doni tiba-tiba ingat dengan Brayen, karna dalam seminggu ini Zaa menghindar dari Brayen.


"Brayen,?" Dian baru sadar kalo Zaa dan Brayen sudah putus, meskipun itu hanya Zaa yang memutuskan hubungan mereka.


"Tapi buat apa kak, pak Brayen membawa Zaa, mereka kan sudah tidak ada hubungan."


"Maksud nak Dian apa, mereka tidak ada hubungan. bukankan mereka baik-baik saja?" Bu Ratna menatap Dian dengan heran, pasalnya putrinya itu pernah bilang hubungan nya dengan Brayen baik-baik saja.


Rian hanya menyimak pembicaraan mereka, ia tidak tahu harus bicara apa. setahunya kakak nya itu sedang berhubungan dengan saudara si gadis cerewet dan bar-bar disekolah nya.


"Ibu tidak tahu kalo Zaa sudah memutuskan hubungan nya dengan Brayen?" Dian malah balik bertanya.


"Ibu tidak tahu nak." Bu Ratna menjawab jujur karna ia sama sekali tidak tahu.


"Zaa memutuskan hubungannya dengan Brayen karna Brayen sudah menghianati Zaa Bu, Brayen telah tidur dengan mantan kekasihnya." jelas Dian membuat ibu Ratna syok. bahkan beliau sampai menutup mulut nya, karna terkejut.


Sungguh malang sekali nasib putrinya, setelah dihina oleh ibu dari mantan kekasihnya dan kini Brayen yang dikenal baik ibu Ratna ternyata juga sama bejat nya seperti pria di luaran sana.


Doni yang sudah tau hanya menyimak, ia juga tau kalau Monika yang sudah memanfaatkan keadaan Brayen yang sedang mabuk.


"Bagai mana kita tunggu sampai besok kalau memang Zaa belum pulang, kita lapor polisi saja." usul Doni kepada ketiga orang yang berada disitu.


"Bagai mana Bu?" tanya Dian pada Bu Ratna.


"Baiklah kita tunggu sampai besok, kalau Zaa tidak juga pulang kalian boleh lapor polisi."


Bu Ratna hanya bisa berdoa semoga besok putrinya pulang dengan keadaan selamat. sungguh baru kali ini Zaa pergi tanpa kabar. selama ini Zaa tidak pernah meninggalkan rumah dengan tidak pamitan seperti ini. tentu saja sebagai seorang ibu beliau sangat menghawatirkan anak gadis nya.


J**angan lupa pencet jempol nya, tinggalkan jejak kalian🤗🤗**

__ADS_1


__ADS_2