
Jam didinding menunjukan pukul Sembilan malam, Zaa mengerjapkan mata, melihat kesekeliling kamar ternyata ia masih didalam kamar yang sama.
Mencoba bangun untuk duduk, tangan nya memegang kepalanya yang masih terasa berat, bahkan perutnya terasa perih dan bergejolak.
Mencoba bangun untuk menuju ke kamar mandi, kaki nya melangkah pelan tangan kirinya memegangi kepala dan tangan kanan berusaha mencari pegangan.
"Tuhan kenapa rasanya sakit sekali." Zaa merintih merasakan perut dan kepalanya yang berdenyut, rasanya berat sekali walau hanya untuk membuka mata. memiliki gejala asam lambung dan kondisi badan yang kurang fit membuat imun ditubuhnya menurun.
Belum sempat sampai di pintu kamar mandi, tiba-tiba pandangan nya mengabur dan kepalanya terasa berputar-putar. Zaa yang sudah tidak kuat akhirnya jatuh kelantai.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Brayen yang sengaja mengambil bubur dari dapur, langkahnya terhenti ketika melihat gadisnya terkulai tak berdaya diatas lantai.
Prangg...
"Sayang!" Brayen yang syok dan terkejut berlari dan menjatuhkan nampan yang berisikan bubur dan air. alhasil makanan itu berceceran dilantai.
"Sayang bangun! sayang hey." Brayen langsung menggendong Zaa membawa nya kerumah sakit.
"Pak! Pak Parjo! tolong antar kan kerumah sakit!!"
Brayen yang masih berjalan dengan sedikit berlari berteriak memanggil satpam untuk mengantarnya ke rumah sakit.
"Astagfirullah, si Eneng kenapa tuan." pak Parjo yang juga ikut panik melihat gadis tuan nya tak sadarkan diri segera membukakan pintu mobil penumpang.
"Tolong antar kerumah sakit terdekat." Brayen yang panik dan khawatir tidak bisa konsentrasi jika dirinya yang membawa mobil.
"B-baik tuan."
"Sayang, tolong jangan begini. hukum saja aku, jangan buat aku takut. kumohon sayang bangun." Brayen terus saja berbicara dengan air mata yang mengalir, yaa ia lagi-lagi menangis untuk kesekian kali karena gadisnya. dadanya terasa sesak setiap kali melihat gadisnya sakit karena ulahnya.
"pak lebih cepat pak!"
__ADS_1
"B-baik tuan." entahlah perasaan pak Parjo sudah menambah kecepatan diatas rata-rata tapi kenapa rasanya mobil nya lamban sekali. dia tidak ingin terjadi apa-apa kepada gadisnya.
Setelah menempuh perjalanan yang dirasa singkat oleh pak Parjo, tapi tidak bagi Brayen.
"Dokter! dokter! tolong!" sesampai nya di loby rumah sakit Brayen berteriak memanggil petugas rumah sakit agar segera membantu nya.
Dua orang perawat dengan sigap membawa brankar dan menyuruh Brayen menaruh Zaa.
"Sayang kumohon bertahan." Brayen tak kuasa menahan air matanya ketika para perawat membawa Zaa masuk keruangan UGD.
"Maaf pak, anda harus menunggu diluar, biar pasien ditangani oleh dokter dahulu." seorang perawat menghentikan langkah Brayen ketika ia ingin ikut masuk ke ruangan UGD.
"Sus tolong selamatkan kekasih saya." Brayen memohon dengan air mata yang masih saja mengalir, dirinya sudah tidak perduli ketika sampai dirumah sakit banyak orang yang menatap kearahnya.
"Baiklah pak, bapak berdoa saja." tak lama pintu itu tertutup.
Brayen mondar-mandir beberapakali meluapkan emosinya dengan memukul kepalan tangan ke tembok.
"Sayang maafkan aku." Brayen terus bergumam lirih, sesak didadanya kian menyeruak.
Teringan dengan keadaan Zaa apa yang akan ia katakan kepada ibu gadis itu.
Brayen mengambil ponsel nya, menelfon Sam untuk memberi tahu keadaan gadis itu kepada keluarga Zaa, karena memang Brayen tidak memiliki nomor keluarga Zaa yang bisa dihubungi.
Tak berapa lama pintu ruang UGD terbuka, dokter keluar dengan suster dibelakangnya. Brayen langsung berdiri dan menghampiri sang dokter.
"Bagai mana keadaan nya dok? dia baik-baik saja kan, dia tidak apa-apa kan dok?" Brayen dengan cepat memberondong banyak pertanyaan, terlihat jelas raut kekawatiran di wajah nya.
"Pasien sudah saya tangani dengan baik, pasien hanya kelelahan dan stres mungkin yang membuat asam lambung nya menjadi naik. untung saja anda segera membawanya kerumah sakit tuan, kalau tidak mungkin keadaan nya akan fatal." Jelas sang dokter membuat tubuh Brayen berdiri kaku dengan pikiran berkecamuk, mendengar kata fatal. apakah dirinya terlalu egois dan kejam atas tindakan nya terhadap gadisnya.
"Pasien akan segera dipindahkan keruang rawat, karena pasien harus dirawat untuk beberapa hari." Jelas dokter kembali karena Brayen hanya diam, " kalau begitu saya permisi tuan." Setelah dokter menyuruh perawat untuk memindahkan Zaa keruang inap, dokter itupun segera pergi.
Diruang VIP, Brayen duduk disamping tempat Zaa berbaring tangan kirinya terpasang sebuah infus.
__ADS_1
Sedangkan tangan kanan nya Brayen genggam sejak tadi dan selalu ia kecup.
"Sayang maaf kan aku, aku sudah membuatmu seperti ini. bangun sayang hukum aku dengan cara lain tapi jangan seperti ini. aku lebih suka kau memakiku atau memukulku karena aku masih bisa melihat wajah dan matamu, aku tidak sanggup melihatmu menutup mata seperti ini. tolong maafkan aku.. aku minta maaf sayang." Brayen mencium kening Zaa, menundukkan kepalanya di disamping kepala Zaa, sungguh perih dan sakit hatinya ia kembali meneteskan air matanya.
Pintu kamar rawat terbuka dari luar ibu Zaa langsung berlari menghampiri anak gadisnya yang terkulai tak berdaya diatas tempat tidur rumah sakit.
Brayen yang melihat itu sontak ia langsung berdiri dan mundur memberi tempat untuk Bu Ratna.
"Zaa anak ku, kenapa kau tidak pulang nak dan sekarang tahu keadaan mu malah seperti ini." Bu Ratna tidak kuasa membendung air matanya sedari rumah ketika Sam datang dan memberi tahu jika putrinya masuk rumah sakit membuatnya khawatir apa yang terjadi dengan putrinya.
"Zaa apa yang terjadi denganmu, kenapa kau seperti ini. kau memendam masalahmu sendiri tanpa mau bercerita kepadaku lagi." Dian yang kebetulan masih dirumah Zaa ketika Sam datang, ia pun langsung ikut menemani Bu Ratna untuk melihat keadaan sahabatnya.
Rian yang sedari tadi berdiri pandangan nya tidak lepas dari Brayen, Rian yakin jika orang yang membuat kakak nya seperti ini adalah pria itu. sudah tidak kuat menahan emosi, Rian menarik paksa Brayen untuk keluar dari dalam.
Bug bug bug. Rian langsung memukul wajah Brayen ketika sudah sampai diluar kemarahannya tidak bisa ia tahan meskipun sekarang masih didalam rumah sakit.
Rian menarik kerah baju Brayen, " Apa yang loe lakuin sama kakak gua brengsek."
Bug lagi Rian memukul wajah Brayen hingga membuat nya tersungkur.
"Tuan." Sam yang baru datang setelah mengurus administrasi langsung membantu Brayen berdiri.
Rian yang ingin menghajar Brayen lagi ditahan oleh Dian yang tiba-tiba keluar mendengar suara keras Rian.
"Rian stop ini dirumah sakit!" Dian mengingatkan Rian agar tidak membuat keributan.
"Loe, " tunjuk Rian kepada Brayen, " jangan liatin muka loe di depan keluarga gua lagi. loe bukan siapa-siapa di keluarga gua!. dan mulai sakarang jangan pernah loe deketin kakak gua lagi." Rian menatap tajam Brayen dengan napas memburu emosinya belum juga mereda meskipun sudah menghajar Brayen hingga babak belur.
"Sudah Ian, ingat ini dirumah sakit jangan buat keributan." Dian terus saja berbicara agar Rian bisa lebih tenang.
Setelah mengatakan itu Rian meninggalkan Brayen dan masuk keruangan rawat Zaa.
BERSAMBUNG
__ADS_1