Cinta Tak Direstui

Cinta Tak Direstui
CTD 57


__ADS_3

Setelah sampai di bagian taman sekolah yang cukup terang dari pencahayaan lampu, Rian mengajak Sherin duduk dibangku.


Mereka berdua terdiam cukup lama hingga suara Sherin duluan yang memecah keheningan.


"Abang," Sherin menghela napas pelan sebelum melanjutkan ucapanya. "Abang beneran mau sekolah ke New York?" Tanya Sherin menatap wajah Rian dari samping.


"Hm, ya." Entah mengapa mulut nya terasa kelu hanya untuk menjawab pertanyaan Sherin. Sudah lama mereka menghindar satu sama lain dan sekarang mereka bicara berdua. Rian merasa canggung dan dada nya berdebar-debar ketika dekat dengan Sherin.


"Hem, Maaf jika Sher selama ini punya banyak salah sama Abang, Sher hanya merasa sedih Abang tiba-tiba jauhi Sher." Sherin berkata lirih, pandangan nya menunduk menyembunyikan wajah sedihnya. Tangan nya memegang erat tas yang ia kenakan mencoba menghilangkan rasa sedihnya.


Rian hanya memandang wajah gadis disebelahnya yang sedang menunduk, dirinya juga merasa bersalah dengan menjauhi Sherin tanpa alasan, yang dirinya tahu jika dekat Sherin membuat gejolak dihatinya kian berdebar, dirinya tidak mungkin jika memiliki perasaan pada adik ipar kakak nya sendiri, tapi yang namanya perasaan tidak bisa memilih pada siapa kita berlabuh, meskipun dirinya menghindar malah membuatnya gusar dan tersiksa.


"Sher, apa Abang boleh tanya sesuatu?" Setelah diam cukup lama Rian mencoba ingin tahu perasaan gadis itu pada dirinya.


Sherin mendongakkan kepalanya, menatap wajah Rian yang menatapnya.


"Hem," Sherin mengangguk.


"Bagaiman perasaan mu jika dekat sama Abang?" Tanyanya dengan mata menatap mata bening Sherin.


Sherin diam tidak tahu harus menjawab apa, dirinya tidak ingin jika Rian tahu perasaannya, tapi jika dirinya tidak jujur sekarang mungkin sampai kapanpun dirinya tidak bisa jujur.


"Sher, __Dirinya memejamkan mata, mencoba menghirup udara sebanyak mungkin. __Sher merasa nyaman jika dekat Abang, dan jantung Sher merasa berdebar jika dekat Abang, dan Sher juga merasa sedih kalau Abang jauhi dan ngehindari Sher seperti kemaren." Sherin menjawab dengan pandangan mata menatap wajah Rian yang juga menatapnya.


"Maaf jika Sher memiliki perasaan sama Abang." Ucap Sherin dengan wajah sendu.


Deg


Rian membeku mendengar ucapan Sherin, dirinya tidak menyangka jika Sherin juga memiliki perasaan yang sama. Dirinya bingung harus berbuat apa, yang jelas dirinya bahagia mendengan ucapan Sherin.


"Sher, __Rian menatap bola mata Sherin dengan intens seakan memberi tahu jika dirinya juga mempunyai perasaan yang sama. __Abang,_ dirinya tak kuasa untuk berucap, Rian menarik tengkuk Sherin dengan cepat dan membenamkan bibirnya ke bibir tipis Sherin yang manis.


Sherin membeku, darahnya berdesir hebat inikah yang rasanya ciuman, kenapa membuat jantungnya berdebar kian tak terkendali ketika benda kenyal nan lembut itu menyentuh bibirnya.


Rian hanya memberi kecupan, cukup lama dirinya hanya menempel ke bibir Sherin. Mereka memejamkan mata menyalurkan rasa sayang yang tumbuh dihati mereka berdua.


Rian memundurkan wajahnya, melihat mata Sherin yang tertutup perlahan membuka.


Kedua tangan nya memegang sisi kepala Sherin, Rian menatap dalam wajah gadis cantik yang sudah mencuri hatinya.


"Maaf jika belakangan ini Abang ngehindari kamu, Abang hanya ingin memastikan perasaan Abang sama kamu."

__ADS_1


Rian mengusap pipi Sherin dengan kedua ibu jarinya, sedangkan Sherin yang hanya diam menatap nya.


"Abang tidak bisa jauhi kamu dan mengabaikan perasaan Abang ke kamu, Abang sayang sama kamu, tapi Abang tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan kamu adalah adik ipar kakak Abang."


Sherin hanya diam mendengarkan Rian. Dirinya juga sadar bahwa mereka adalah sodara ipar, tapi apakah tidak boleh menjalin kasih meskipun mereka tanpa ada ikatan darah.


"A-abang suka Sher?" Meskipun sudah jelas yang diucapkan Rian tapi Sherin seperti belum yakin.


"Ya, Abang suka dan sayang sama kamu, meskipun Abang belum tahu cinta itu seperti apa, tapi Abang selalu mikirin kamu." Rian berkata seraya mengelus kepala Sherin lembut.


"Mungkin setelah ini kita akan terpisah jarak dan waktu. Abang hanya ingin kamu tahu perasaan Abang sebelum Abang pergi."


Rian yang sebelum nya juga ingin menemui Sherin karena tidak bisa lagi membohongi perasaan nya dan pada akhirnya Sherin dulu yang menghampirinya.


"Apa Abang akan menyuruh Sher untuk menunggu Abang?" Tanya Sherin dengan wajah bertanya, meskipun begitu dirinya berharap Rian akan menyuruhnya menunggu.


"Abang tidak ingin menjanjikan itu, karena Abang juga tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan nya nanti sama kita, jika Abang kembali keadaan masih sama Abang akan mencarimu." Rian menggenggam kedua tangan Sherin. "Abang membebaskan kamu, jika suatu saat kamu bertemu pria yang bisa mengantikan debaran jantung ini dari Abang." Rian membawa tangan Sherin menyentuh dada Sherin sendiri.


Suana nampak haru mereka larut dalam perasaan masing-masing, baru mengungkapkan perasaan tapi mereka harus berpisah karena pendidikan yang menempuh jarak dan waktu.


"Belajar yang pinter, agar Abang bangga sama kamu." Rian menarik hidung kecil Sherin dengan gemas.


..........................


"Mas, apa Mas yakin ingin mengirim Rian sekolah keluar negeri?"


Dirinya duduk diatas ranjang dengan kepala disandarkan dibahu Brayen.


"Ya, karena Mas yakin Rian akan belajar sungguh-sungguh dan tidak akan mengecewakan kita." Brayen bicara dengan mata dan tangan masih fokus pada laptopnya.


"Boleh aku bertanya Mas?" Zaa sedikit memiringkan wajahnya untuk melihat wajah suaminya.


Brayen yang mendengar suara Zaa serius, segera menutup laptopnya dan menaruhnya di nakas samping ranjang.


"Katakan." Brayen merangkul tubuh Zaa dan mencium keningnya.


"Apa Mas melihat jika ada sesuatu diantara Rian dan Sherin?" Tanya nya hati-hati.


"Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Setiap mereka bertemu, mereka sering curi-curi pandang. Meskipun mereka tidak menyapa tapi aku melihat mereka ada sesuatu." Ucap Zaa dengan mengeratkan pelukan nya karena merasa nyaman menghirup aroma tubuh suaminya.

__ADS_1


"Hem, aku juga melihatnya." Brayen mengelus punggung istrinya yang kian membuat sesuatu mengeliat dibawah sana karena Zaa semakin intens mengendus-endus dadanya merambat ke leher.


"Apa mas akan melakukan sesuatu kepada mereka berdua." Tanya Zaa dengan posisi yang masih sama.


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" Brayen bertanya tapi bukan menjurus pertanyaan istrinya.


"Hem.." Zaa hanya bergumam dengan memejamkan matanya.


"Sayang."


"Hem," Zaa bergumam.


"Kau sudah membuatnya memberontak." Ucap Brayen ambigu.


Zaa yang tidak mengerti malah kian menjadi-jadi.


Brayen segera merebahkan tubuh Zaa dengan pelan, dirinya menatap wajah cantik istrinya dengan tatapan penuh cinta.


"Mas, mau apa?" Dirinya belum sadar sudah membangunkan singa yang sedang tidur.


"Hanya mau ini," Brayen mengecup bibir Zaa, lalu turun mengendus dan mengecup basah kulit leher Zaa.


"Masa.." Zaa yang memang semenjak dirinya hamil dan menikah libido gairahnya kian meningkat apa lagi mendapat rangsangan kecil dari suaminya sudah membuat gairahnya terpancing.


"Kamu harus mendapatkan hukuman, sudah membangunkan dia."


Brayen segera menerjang istrinya untuk menyalurkan sesuatu yang membuat keduanya men*des*ah nikmat. Mencari sesuatu yang membuat mereka merasakan indahnya surga dunia.


.


.


.


.


Like


Komen


Tinggalkan jejak kalian..🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2